“Nanti langsung
duduk di kursi paling depan aja, ya. Aku udah nyiapin kursi itu buat kamu.
Okey?”
“Siap boz! Hem…
mas Agam nanti bisa gabung beneran, kan?”
ada sedikit harapan yang tertekan di balik kalimatku itu.
“Su paste.
Kalian kopdar intinya pengen ketemu aku, kan.
Kurang sopan banget aku kalau nggak ikutan gabung.” Cetusnya tanpa malu.
Kebiasaan narsisnya mulai nampak.
“Hahahahaha… itu
cuma salah satu dari sekian banyak inti kopdar ini, Boz. Don’t make your style noisy like that. Jangan ke-GE ER-an broda!”
“Hahahaha… ya
udah, buruan berangkat. Kalo nggak bisa datang on time, setidaknya masih in
time lah. Get it?”
“Yep, got it well.” Jawabku sigap.
Saat ini aku
memang masih sanggup merespon ungkapan narsisnya dengan santai. Terang saja
begitu, semua karena aku tidak berhadapan langsung dengannya. Tapi nanti ketika
kami bertatap muka, bisa dipastikan aku akan salah tingkah. Yang akan terjadi
biarlah terjadi. Sekarang motor sudah siap kutunggangi. Let me find you, mas Agam.
Setelah memarkir
motor, aku bergegas menuju Hunt Cafe
yang ada di pelataran radio Probalingga—tempat kopdar para penikmat Lagu Lawas—program andalan radio
Probalingga. Tadinya aku sudah melewati tempat itu sekilas ketika melajukan
motor menuju tempat parkiran—sepertinya sudah banyak yang berdatangan. Sejak
roda motorku memasuki halaman tempat ini, sejak itu pula isi dalam dadaku mulai
melompat-lompat. Antara penasaran dan takut salah tingkah, kakiku memilih untuk
tetap melangkah ke sana.
Aku berjalan
dengan terus mengatur napas. Pandanganku berkeliaran ke segala arah—mencoba mengakrabkan
diri dengan setiap sudut tempat ini. Sebenarnya tempat ini tidak terlalu asing
bagiku, karena setiap berangkat dan pulang kuliah, aku selalu melewatinya. Tapi
memang ada banyak alasan kenapa aku bilang ini bukan kondisi yang biasa.
Pertama, meski terbilang sering melewati tempat ini, saat ini adalah kali
pertamanya aku datang menjelajahi setiap sudutnya. Kedua, aku benci datang
sendirian. Tidak ada orang dekat yang bisa kuajak ngobrol dalam usahaku
beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan yang ketiga karena aku akan bertemu
dengan orang-orang baru yang selama ini hanya akrab melalui udara saja. Lantas
alasan selanjutnya—ini memang bukan alasan terakhir, tapi cukup bisa mengakhiri
ketenanganku—merubahnya menjadi salah tingkah. Alasanya… karena aku akan bertemu
dengan mas Agam.
Sudah barang
tentu aku akan salah tingkah. Selama ini—sebut saja aku pengagum rahasianya. Ia
adalah penyiar andalan radio Probalingga—penyiar program Lagu Lawas yang selama hampir lima
tahun ini kunikmati. Sejak awal bergabung dalam acara on air-nya, ia memang sudah berhasil memikat hatiku. Suaranya exotic, caranya menghidangkan program
juga sangat luwes. Orangnya rame, bersahabat, pokoknya sangat menarik dalam
anggapanku. I think, I have bit heart for
him.
Program yang
awalnya hanya mengudara melalui indra pendengaran, perlahan sejak setahun lalu
mulai mengepakkan sayapnya melalui jejaring sosial ‘facebook’. Berawal dari situlah, aku bisa saling bertukar nomor
ponsel dengan mas Agam. Aku lupa bagaimana ceritanya hingga aku mendapat
nomornya. Yang jelas, aku yang pertama kali memintanya. Ada yang bilang, wanita butuh aktif sedikit
untuk mempertahankan sesuatu agar tidak terlepas begitu saja. Dan aku adalah
salah satu yang membenarkannya.
“Selamat datang,
Mbak. Harap isi daftar hadir dulu, ya.” Seorang wanita berusia sekitar 25
tahunan—berdiri melempar senyumnya tepat di hadapanku. Sepertinya aku sedikit
mengenali suaranya—mungkin ia salah satu penyiar yang bekerja di radio ini
juga.
Astaga, apa
selama perjalanan tadi aku menghabiskannya dengan melamun. Ternyata aku sudah
ada dalam kerumunan para tamu yang masih sibuk saling sapa satu sama
lain—tepatnya aku berdiri di bagian depan di dekat podium utama pembawa acara.
“Ouegh… i-iya,
Mbak. Makasih udah diingatkan. Maaf, ngisi daftar hadirnya di mana ya, Mbak?”
akhirnya keterkejutanku membuatku semakin salah tingkah.
“Di sana, Mbak.” Wanita itu
menunjuk ke arah meja yang ada di belakangku—dengan jarak sekitar 15 meter dari
posisiku. Terlihat di sana
ada seorang pria tengah berdiri sambil memutar-mutar bulpoin dengan jemarinya.
Ia mengenakan jumper berwarna coklat
susu—dengan bawahan jelana jeans biru
tua press body—hingga terlihat jelas
ia begitu seksi. Rambut panjangnya di ikat ke belakang, menambah pesona elok
fisiknya. Aku cukup terhenyak ketika mendapati pandangannya tertumpu lurus
padaku.
“Mari saya
antar,” ujar wanita tadi ramah.
“Hem makasih.
Ah… ehm biar saya sendiri aja, Mbak.” Jawabku agak gugup—efek dari tragedi
saling memandang itu. Wanita itu melempar senyum tanda setujunya dengan sangat
lembut.
Aku mengerahkan
sisa-sisa kepercayaan diriku. Berharap semua akan baik-baik saja. Satu, dua,
tiga … lantas selesai sudah. Aku harus segera pergi dari meja tamu ini sebelum
aku semakin salah tingkah karena pria itu terus memperhatikanku.
“Soraya Pambudi
alias Aya, bukan?” pria itu menyebut nama lengkapku yang baru saja kutulis di
buku tamu—sekaligus inisialku ketika on
air dalam acara Lagu Lawas. Ia
melesatkan senyumnya padaku. Jangan-jangan
pria ini mas Agam. Oh God! Betapa sempurnanya ciptaan-Mu ini.
“I-i-iya, benar.
Mas ini… Mas… ” aku tidak bisa menyembunyikan kecanggungan ini.
“Mas Agam.
Penyiar Lagu Lawas yang tadi sempat ngobrol sama kamu lewat telepon.” Dengan
santainya ia menyela kalimatku sambil menepuk sebelah pundakku.
Iya iya iya, aku
percaya kalau pria ini memang mas Agam. Segala sesuatu yang ada dalam imajiku
kini terlihat jelas. Ia ramah, bersahabat, rame, satu lagi… mempesona. Ternyata
segala sesuatu tentangnya memang tidak kalah exotic dari suaranya yang selama ini mengudara. Oh God, apa aku salah jika tertarik pada ciptaan-Mu
ini?
“Sendiri?”
tanyanya lagi.
“Ya iyalah, Mas.
Mau sama siapa, singgel singgel bebas gitu lho.”
Ups, kamu terlalu cepat mempromosikan
dirimu, Soraya! Bisa turun image-mu di hadapannya. Ckckckck
“Wou… imajiku
tentang sosokmu selama ini ternyata nggak jauh beda sama kenyataannya. Gokil.
Ya udah, di sana
ada mbak Ajeng, dia tahu di mana kamu harus duduk. Okay!”
“Okay,” aku
membalas senyumnya. Jantungku mendesir, bulu kudukku merinding, sangat
terpesona.
Mbak Ajeng, aku
cukup hapal wajahnya, karena ia sering datang ke kampusku—lebih tepatnya datang
sebagai pemateri di beberapa acara Lembaga Pers Mahasiswa yang ada di kampusku.
Aku tidak segera
menududuki kursiku. Seperti kebanyakan orang yang hadir di sini, aku berkeliling
menjabat satu persatu para pengunjung—yang tidak lain adalah para penikmat lagu
lawas. Aku juga bercengkrama dengan mereka. Saling berbagi cerita tentang sesi ‘sapa
salam’ dalam lagu lawas. Setelah menyimak cerita para penikmat, akhirnya ada
kesimpulan menggemaskan dalam program yang di bawakan Mas Agam ini. Ternyata
bukan aku saja yang mengaku terpesona dengan sang penyiar—baik secara maya atau
pun nyata. Nampaknya akan ada banyak pesaing untuk meraih perhatian mas Agam.
Acara kopdar ini
begitu santai. Setelah acara formalitas usai, kami semua dijamu dengan
lagu-lagu dari beberapa indie band
lokal, juga pembacaan puisi dari beberapa penyiar radio Probalingga—termasuk
mas Agam.
Tunggu sebentar,
saat ini mas Agam membacakan puisi di atas podium. Lebih tepatnya ia tidak
tampil sendirian—ia tampil berdua dengan mbak Ajeng. Ah… mereka terlihat
serasi—ditambah lagi dengan ramuan puisi yang mereka bawakan. Mereka sangat
menjiwai pembacaan puisi itu. Ketika mata mereka berdua beradu, seperti ada
makna yang tersirat di dalamnya. Oh God,
mereka bertingkah layaknya sepasang kekasih.
Syukurlah kini
bait-bait puisi mereka telah tamat. Aku tidak perlu menerawang terlalu jauh
tentang setiap ekpresi mereka sewaktu pembacaan puisi. Membawakan puisi dengan
penuh penjiwaan bukanlah perkara sulit bagi mereka. Karena yang sempat kutahu,
mereka berdua sama-sama lulusan fakultas sastra di kampusnya. Meski ada sedikit
perbedaan, mas Agam lulusan sastra Indonesia, sedangkan mbak Ajeng
sastra Inggris.
“Terimakasih
buat semuanya yang udah hadir di sini. Merupakan sebuah kehormatan buat saya
bisa berada di tengah-tengah penikmat lagu lawas. Ini nyata lho ya, akhirnya
saya bisa bertemu dengan penikmat setia lagu lawas khususnya, dan Probalingga
umumnya. Luar biasa, ini adalah kopdar pertama lagu lawas. Saya berharap akan
ada kopdar berikutnya buat menjaga kebersamaan kita. Sekali lagi, terimakasih
banyak.” Keluwesannya tidak berubah, semua terdengar sama seperti suara
mayanya.
“Terima kasih
juga buat Soraya alias Aya, yang selama hampir lima tahun ini nggak ada bosan-bosannya
mengirimkan puisi-puisinya buat semua para penikmat, melalui sms atau facebook. Saya heran, sepertinya idenya
nggak pernah mati dalam merangkai puisi. Sip.” Ia mengacungkan kedua jempol
serta menebar senyum exotic-nya pada
ku.
“Ah iya, di
kesempatan yang luar biasa ini. Saya juga telah meminta ijin pada pimpinan saya
buat menyampaikan kabar sederhana tentang hubungan saya dengan Ajeng. Yaaaa
siapa tahu… luar biasa itu akan menular pada hubungan kami berdua, dari kabar
sederhana menjadi kabar yang luar biasa. Hehehe…”
Wait! Apa maksud kalimat panjang kali lebar
kali tinggi itu? Perasaanku jadi nggak enak.
“Mohon do’anya
juga, rencanya bulan depan kami berdua akan menikah. Merupakan sebuah kehormatan
lagi bagi saya kalau para penikmat sudi hadir dalam pernikahan kami berdua. Tapi
ya gitu deh… karena di bulan kurban ini sapi dan kambing banyak yang di
sembelih, kemungkinan besar bulan depan jatah daging buat acara pernikahan,
saya ganti dengan roti bakar saja. Hehehehe…”
Aku bisa
merasakan gelak tawa semua orang yang ada di tempat ini. Mereka tergeletik
dengan kalimat mas Agam, terkecuali aku. Pandanganku terfokus pada sikap mas
Agam yang terus menggenggam erat tangan mbak Ajeng—di atas podium—tepat lurus
di depanku. Terjawab sudah, sainganku untuk meraih perhatian mas Agam tidak
begitu banyak, cuma satu tapi terlanjur membekukan hati mas Agam. Harapanku
kandas.
Sepertinya
aliran darahku memanas, meluruhakan tulang-tulangku, mengerutkan daging dalam
tubuhku. Hatiku menciut, napasku terengah-engah. Aku jengah dengan kondisi yang
seperti ini. Rasanya waktu berjalan melamban, padahal tadi terasa cukup cepat.
Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Aku tidak tahu, setelah ini apa aku
masih bisa berdiri tegap, berjalan santai melenggang seolah tanpa luka.
Sejak awal aku
sudah salah tingkah karena pesona mas Agam. Lantas bagaimana dengan sekarang?
Sepertinya aku akan semakin salah tingkah, karena hatiku telah terluka. I’m crazy in heart to you, mas Agam.
TAMAT
Jember, 13 Desember 2011
Samsi Arpanurhi
No comments:
Post a Comment