Aku tengah duduk
di bangku deretan paling depan di kelas sambil melakukan ritual senggang yang
kusebut sebagai hobiku ‘membaca novel’—ketika Anggun menyeloroh masuk
mendekatiku.
Perhatianku
beralih pada kedatangannya. Tidak salah lagi, ia memang Anggun si pemilik
bangku yang sekarang sedang aku duduki ini. Dengan sedikit terheran mataku
terus mengikuti tingkah Anggun yang mondar-mandir dengan wajah kusutnya.
Biasanya ia segera merebut novelku, lalu mengusir keberadaanku—ketika ia tahu
aku tengah mengambil alih bangkunya untuk melangsungkan ritual senggang. Tapi,
kali ini tidak seperti biasa. Ia malah seliweran di depanku, berulang kali
mendesis sambil menggigit bibir bawahnya, sesekali menghela napas panjang. Lalu
akhirnya, yup, ia memusatkan perhatiannya padaku. Aku terbelalak, sudah barang
tentu ia akan berlaku sadis seperti biasanya untuk mengusirku.
“Ervin… ” kali
ini desiran suaranya memang berbeda. Sesuai namanya, nada suara yang ia
hembuskan sedikit lebih anggun dari biasanya. Aku merespon hanya dengan
mengangkat kedua alis saja—heran.
“Menurutmu apa
yang akan terjadi kalau aku mundur dari jabatan ketua OSIS?” sungguh sangat
santai ia mengajukan pertanyaan itu padaku. Aku tercekat!
Bukankah dulu sewaktu kampanye kamu rela
melakukan segala cara agar diloloskan sebagai kandidat tunggal dari kelas satu?
Tapi sekarang belum genap sebulan, kenapa kamu ingin mengundurkan diri? Apa iya
sekarang yang ada dihadapanku ini memang si Anggun yang keras kepala itu? Atau
mungkin perempuan ini hanya jiplakan sosok Anggun saja.
“Brugh…”
Anggun memukul meja yang masih kekeuh terbentang di antara kami berdua.
“Ayo jawab!”
hemmm sifat aslinya mulai muncul—menyebalkan—suka memaksa. Aku mendengus lelah
sebelum akhirnya memberi jawaban.
“Kenapa mendadak
kepekiran itu? Kamu nggak sanggup lagi menjalankan tugasmu, Ibu ketua?” aku
menjawabnya sembari terus melanjutkan ritualku.
“Aku cuma minta
pendapatmu tentang reaksi apa yang akan terjadi kalau aku mengundurkan diri,
bukan malah sindiran norak kayak gitu. Ayo gimana menurutmu?” ia mengambil
paksa novelku—berhasil—novelku ada di genggamannya.
Matanya ter-setting sok sayu—dengan santainya ia
berkacak pinggang sambil sedikit mendongakkan kepalanya—mungkin sebagai dalih
untuk menggertakku. Kuhela napas sepanjang sungai Musi, aku harus pastikan ada
banyak stok napas dalam paru-paruku ketika nantinya bercengkrama menanggapi
semua tingkah Anggun—perempuan sengak itu.
“Biasa aja.
Malah akan ada banyak pihak yang menyeringai senang menyambutnya,” jawabku
santai. Lalu berdiri bermaksud pindah tempat duduk di deretan belakang agar
posisi kami tidak terlalu dekat.
“Termasuk kamu?”
ia menghadang langkahku dengan pertanyaan yang terdengar sadis di telingaku.
Aku hanya menyeringai tipis untuknya.
Nggak tahu apa, mana mungkin aku senang
melihat kamu mundur. Sekali pun kamu orangnya bengis, setidaknya kamu lebih
kreatif, pintar, dan bertanggung jawab dibandingkan kandidat-kandidat lain yang
cuma ingin nangkring nama doang.
Aku menerobos
tubuhnya pelan. Malas menjawab pertanyaannya karena sudah bisa dipastikan akan
berujung pada perdebatan. Aku kembali ke bangku—jatah tempat dudukku. Alih-alih
aku mengambil buku dalam tas, menyobek sehelai kertas dari buku itu. Lalu
kugoreskan beberapa kata di atasnya.
Sepertinya hanya pagi yang mampu mengusikku.
Membuat mataku bergeming, lalu dada
bergemuruh.
Meski aku sempat merasa terusik,
Aku tetap menantinya lagi.
Pagi terlalu cepat menghilang.
Ketika pagi kembali datang,
Aku tak sempat bilang tentang satu perkara.
Dayaku lenyap untuk mengungkap.
Pagi hanya milikmu.
Tanpa kau sadari, kau membaginya untukku.
Mungkin, ceritaku akan berakhir pada pagi milikmu.
Setelahnya, aku
berniat melipat kertas itu menjadi kapal kertas yang nantinya akan kuterbangkan
di jalanan ketika pulang sekolah. Tapi, Anggun terlalu gesit menyambarnya.
Lagi-lagi ia mengambil sesuatu yang kupunya. Tadi novel, sekarang puisi.
Setelah ini apa lagi?
“Got it. Aku nggak jadi ngundurin diri,
karena aku udah punya bayangan agenda untuk mengisi aktivitas harian OSIS.”
Tanpa rasa berdosa sedikit pun, Anggun melesatkan senyum simpulnya lalu pergi
meninggalkanku—entah menuju ke mana.
Seorang
Anggun—perempuan keras kepala dan sengak, ternyata bisa patah semangat juga
ketika idenya buntu. OSIS atau apalah itu, aku tidak begitu paham tentang
idenya yang masih tersembunyi di balik senyumnya tadi. Sepertinya ceritaku memang akan berakhir pada pagi…
“Ervin… thanks ya buat idenya.” Anggun ternyata
beum pergi jauh, ia masih ada di sekitar kelas dan kembali sejenak hanya untuk
mengucapkan kalimat itu padaku. Meski terbilang tidak biasanya ia mengucapkan
terimakasih selembut itu, bibirku ini tetap tidak bisa diam saja merespon
senyumnya yang terkembang—sepertinya tulus untukku. Sebut saja aku ke-GR-an.
Kini ia benar-benar telah menghilang. Bel tanda usai istirahat telah
berdenting. Pagi akan segera menghilang bersama kejenuhanku menerima pelajaran
Kimia setelah ini.
**********
Sejak saat
setelah Anggun merebut puisiku, ia berhasil menjalankan roda organisasi dengan
cara yang cukup menarik. Sebagai bukti eksistensi kepengurusannya, ia membuat
agenda ‘creative writing class’
setiap hari Jum’at sore. Kelas ini terbuka untuk semua warga sekaloh kami—SMA
Pattimura, juga untuk warga umum yang ingin berkarya. Sering ia mengundang para
penulis-penulis muda lokal yang memang sudah tidak bisa diragukan lagi
esensisal tulisannya. Dalam waktu lebih kurang 5 bulan, ia juga berhasil
bekerja sama dengan salah satu penerbit indie ‘Retas Publisher’ yang ada di kota
ini. Tentunya semua pencapaiannya tidak lepas dari bantuan kepala sekolah—putra
pertamanya adalah pimpinan sekaligus pemilik perushaan penerbitan itu.
Setiap bulan
anggun mentarget harus ada tulisan yang dibukukan, sekali pun itu hanya
antologi puisi atau satu buku tipis—asalkan berjenis sastra atau fiksi. Sejauh
ini semua berjalan sesuai rencana—meski terbilang targetnya itu sangat memaksa.
Selain itu, creative writing class ini
juga bekerja sama dengan komunitas seni yang ada di sekolah, serta komunitas
seni dari kalangan mahasiswa. Sedangkan aktivitas harian creative writing class diaplikasikan pada jejaring sosial semacam facebook dan blogger.
Anggun memang
cukup gesit dalam urusan bersosialisasi. Usahanya ini membuat ia terpilih
menjadi ketua OSIS periode berikutnya. Hal ini berbeda denganku yang hampir
tidak pernah mempunyai keberanian untuk tampil di muka umum. Terlebih lagi
mengungkap satu perkara di hadapan Anggun. Kerjaanku hanya memperhatikannya
dari sudut yang tidak ia ketahui. Selama ini aku tidak pernah keberatan jika
Anggun menganggapku tidak ada. Karena dengan begitu, aku bisa lebih bebas
memperhatikannya.
Tapi kali ini
tidak demikian. Sejauh ini aku masih bisa santai melihat kesibukan Anggun
sebagai ketua OSIS yang kerap kali membuatku kehilangan pagi miliknya—untuk
sekedar mengusirku dari tempat duduknya, mengusik ritual senggangku, merebut
paksa sesuatu yang ada di genggamanku. Iya, aku masih bisa memaklumi kesibukannya
itu.
Pagi ini
berbeda. Darahku mendadak memanas ketika melihatnya berjalan bersisihan dengan
Ringga—melewati keberadaanku yang tengah berada di ambang pintu toilet yang ada
di sebelah kelas. Nampaknya mereka berdua tidak melihat keberadaanku. Pikiranku
mulai menerawang jauh—bisa jadi perubahannya selama ini bukan karena aktivitas
OSIS, melainkan karena Ringga—pacar barunya.
Lantas apa
hubungannya denganku? Ada,
banyak hubungannya. Hanya Anggun yang masih peduli dengan ritualku, setidaknya
ia tidak menganggapku lelaki cengeng karena kesukaannya membaca novel
melankolis. Di sisi lain, ini erat hubungannya dengan perasaanku. Sudah tidak
bisa dipungkiri lagi, aku menyukai Anggun. Ia seperti pagi yang hadir sebagai
waktu kebebasanku menjalani ritual senggang itu. tanpa kehadirannya, aku merasa
pagiku hambar. Novel sebagus apa pun tetap tidak bisa membuatku meleleh jika
tidak ada perebutan paksa dari seorang Anggun—yang harus membacanya terlebih
dulu sebelum aku.
Entah apa yang
mendorongku untuk mengikuti jejak langkah Anggun dan Ringga yang berjalan
memasuki kelas—kelasku juga Anggun. Wajah mereka nampak sedikit tegang. Kelas
memang masih sepi, maklum ini masih terlalu pagi bagi mereka yang sukanya
datang mepet di saat bel masuk berbunyi. Anggun menghempaskan tubuhnya ke
tempat duduk deretan depan—tempat duduknya. Ringga nampak kebingungan, matanya
seliweran ke sana
ke mari. Tapi tidak ke arahku. Tanpa banyak basi-basi, mereka mulai
perbincangan. Lalu aku—berusaha menguping di balik pintu kelas.
“Pokoknya aku nggak
mau tahu, Ga. Kamu harus tetap tanggung jawab.” Anggun beringsut dalam duduknya.
“Iya, aku tahu.
Tapi kita masih sekolah. Sebentar lagi aku ujian, kamu juga masih kelas dua.
Nggak ada jalan lain kecuali… ”
“Aku nggak mau
ngelakuin itu. Sebelumnya kita udah ngelakuin kesalahan besar, aku
nggak mau nambah kesalahan lagi. Aku cuma mau kamu tanggung jawab.” Anggun
menyela dengan ketus. Wajahnya begitu lusuh.
“Kamu juga sih,
makanya jadi perempuan jangan murahan. Aku curiga, jangan-jangan kamu ngelakuin
itu nggak cuma sama aku aja.”
“Plak…
” tangan kanan Anggun melesat cepat ke arah Rinnga—cukup keras.
“Aku hanya
melakukannya sama kamu. Itu pun karena aku termakan bualanmu.” Telunjuk Anggun
melesat lurus ke wajah Ringga.
“Dan sekarang
aku hamil. Kamu sukses menghancurkan hidupku, Ringga.” Imbuhnya
pelan—sepertinya mulai ada air yang mengalir dari kelopak mata Anggun.
Dalam waktu yang
bersamaan, isi dadaku bergejolak. Membuatku bingung harus bersikap apa. Aku
bermaksud menjauhi kelas, nyatanya lulutku terbentur pintu ketika hendak
melangkah. Tas yang sedari tadi bertengger di sebelah pundakku, pun terjatuh. Pandangan Anggun dan Ringga meluncur cepat ke
arahku.
“Sorry… ” hanya itu yang bisa kukatakan,
lantas aku pergi. Sepertinya mereka tidak berniat mengejarku. Baguslah, karena
aku harus menenangkan diri—meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang aku dengar
tadi adalah salah.
Aku berjalan
melewati gerbang sekolah—sepertinya lebih baik aku pulang saja. Aku tidak
sanggup lagi menatap mata Anggun. Aku tidak sanggup melihat matanya yang tidak
sesadis dulu—berubah penuh genangan air di dalamnya. Aku juga tidak sanggup
ketika nantinya harus melihatnya salah tingkah menutupi rasa malu di hadapanku.
Percakapan tadi masih menggema dalam memoriku. Penglihatanku mulai tidak jelas,
jalanku juga sempoyongan. Aku belum sarapan, mungkin penyakit magh-ku kambuh.
Aku harus pulang—cepat sampai rumah—lalu istirahat.
Ternyata pagi memang hanya milikmu.
Tanpa kau sadari, kau membaginya untukku.
Lantas karena pagimu pula, kau dan aku kini
jauh.
Pagi memang hanya milikmu.
Dan ceritaku berakhir pada pagi milikmu.
Aku
terkesiap—kulihat banyak orang menggerumuni rumahku. Hampir semua orang yang
aku kenal sekarang ada di rumahku. Kulihat di beranda rumah, Anggun berdiri
menelakup wajahnya sembari menahan isak tangis. Ringga berdiri di
sampingnya—merangkul pundak Anggun dengan lembut. Aku tidak suka melihat sikap
Ringga, aku cemburu. Ibu dan Ayahku duduk berdampingan di kursi ruang tamu.
Ayah dan Mbak Tanti—kakakku saling merangkul ibu yang tengah menangis tersedu.
Mereka seolah saling menenangkan. Mbak Tanti memang tegar, selalu ceria, dan
bisa menyemangati orang lain. Aku seperti melihat sosok Anggun dalam dirinya.
Diantara semua keluargaku—ayah, ibu, mbak Tanti—memang hanya mbak Tanti yang
bisa melepas kepergianku tanpa air mata.
Aku belum sempat
memberitahu Anggun tentang siapa-siapa saja yang akan menyeringai senang ketika
ia mundur dari jabatan ketua OSIS. Aku juga belum sempat memberitahukan tentang
satu perkara—persaanku yang selama ini diam-diam menyukainya. Bahkan aku belum
sempat menanyakan kebenaran isi percakapannya dengan Ringga. Tapi ternyata
Tuhan berkehendak lain. Dia mengambilku dalam pagi milik Anggun—melalui sapaan mini bus yang menjabat erat tubuhku
sewaktu aku hendak menyebrang jalan raya—di depan sekolahku.
TAMAT
Jember, 12 Desember 2011
Samsi Arpanurhi
No comments:
Post a Comment