Monday, December 12, 2011

[cerpen] Ceritaku Berakhir Pada Pagi Milikmu


Aku tengah duduk di bangku deretan paling depan di kelas sambil melakukan ritual senggang yang kusebut sebagai hobiku ‘membaca novel’—ketika Anggun menyeloroh masuk mendekatiku.

Perhatianku beralih pada kedatangannya. Tidak salah lagi, ia memang Anggun si pemilik bangku yang sekarang sedang aku duduki ini. Dengan sedikit terheran mataku terus mengikuti tingkah Anggun yang mondar-mandir dengan wajah kusutnya. Biasanya ia segera merebut novelku, lalu mengusir keberadaanku—ketika ia tahu aku tengah mengambil alih bangkunya untuk melangsungkan ritual senggang. Tapi, kali ini tidak seperti biasa. Ia malah seliweran di depanku, berulang kali mendesis sambil menggigit bibir bawahnya, sesekali menghela napas panjang. Lalu akhirnya, yup, ia memusatkan perhatiannya padaku. Aku terbelalak, sudah barang tentu ia akan berlaku sadis seperti biasanya untuk mengusirku.

“Ervin… ” kali ini desiran suaranya memang berbeda. Sesuai namanya, nada suara yang ia hembuskan sedikit lebih anggun dari biasanya. Aku merespon hanya dengan mengangkat kedua alis saja—heran.
“Menurutmu apa yang akan terjadi kalau aku mundur dari jabatan ketua OSIS?” sungguh sangat santai ia mengajukan pertanyaan itu padaku. Aku tercekat!

Bukankah dulu sewaktu kampanye kamu rela melakukan segala cara agar diloloskan sebagai kandidat tunggal dari kelas satu? Tapi sekarang belum genap sebulan, kenapa kamu ingin mengundurkan diri? Apa iya sekarang yang ada dihadapanku ini memang si Anggun yang keras kepala itu? Atau mungkin perempuan ini hanya jiplakan sosok Anggun saja.

“Brugh…” Anggun memukul meja yang masih kekeuh terbentang di antara kami berdua.
“Ayo jawab!” hemmm sifat aslinya mulai muncul—menyebalkan—suka memaksa. Aku mendengus lelah sebelum akhirnya memberi jawaban.
“Kenapa mendadak kepekiran itu? Kamu nggak sanggup lagi menjalankan tugasmu, Ibu ketua?” aku menjawabnya sembari terus melanjutkan ritualku.
“Aku cuma minta pendapatmu tentang reaksi apa yang akan terjadi kalau aku mengundurkan diri, bukan malah sindiran norak kayak gitu. Ayo gimana menurutmu?” ia mengambil paksa novelku—berhasil—novelku ada di genggamannya.

Matanya ter-setting sok sayu—dengan santainya ia berkacak pinggang sambil sedikit mendongakkan kepalanya—mungkin sebagai dalih untuk menggertakku. Kuhela napas sepanjang sungai Musi, aku harus pastikan ada banyak stok napas dalam paru-paruku ketika nantinya bercengkrama menanggapi semua tingkah Anggun—perempuan sengak itu.

“Biasa aja. Malah akan ada banyak pihak yang menyeringai senang menyambutnya,” jawabku santai. Lalu berdiri bermaksud pindah tempat duduk di deretan belakang agar posisi kami tidak terlalu dekat.
“Termasuk kamu?” ia menghadang langkahku dengan pertanyaan yang terdengar sadis di telingaku. Aku hanya menyeringai tipis untuknya.

Nggak tahu apa, mana mungkin aku senang melihat kamu mundur. Sekali pun kamu orangnya bengis, setidaknya kamu lebih kreatif, pintar, dan bertanggung jawab dibandingkan kandidat-kandidat lain yang cuma ingin nangkring nama doang.

Aku menerobos tubuhnya pelan. Malas menjawab pertanyaannya karena sudah bisa dipastikan akan berujung pada perdebatan. Aku kembali ke bangku—jatah tempat dudukku. Alih-alih aku mengambil buku dalam tas, menyobek sehelai kertas dari buku itu. Lalu kugoreskan beberapa kata di atasnya.
Sepertinya hanya pagi yang mampu mengusikku.
Membuat mataku bergeming, lalu dada bergemuruh.
Meski aku sempat merasa terusik,
Aku tetap menantinya lagi.
Pagi terlalu cepat menghilang.
Ketika pagi kembali datang,
Aku tak sempat bilang tentang satu perkara.
Dayaku lenyap untuk mengungkap.
Pagi hanya milikmu.
Tanpa kau sadari, kau membaginya untukku.
Mungkin,  ceritaku akan berakhir pada pagi milikmu.

Setelahnya, aku berniat melipat kertas itu menjadi kapal kertas yang nantinya akan kuterbangkan di jalanan ketika pulang sekolah. Tapi, Anggun terlalu gesit menyambarnya. Lagi-lagi ia mengambil sesuatu yang kupunya. Tadi novel, sekarang puisi. Setelah ini apa lagi?

Got it. Aku nggak jadi ngundurin diri, karena aku udah punya bayangan agenda untuk mengisi aktivitas harian OSIS.” Tanpa rasa berdosa sedikit pun, Anggun melesatkan senyum simpulnya lalu pergi meninggalkanku—entah menuju ke mana.

Seorang Anggun—perempuan keras kepala dan sengak, ternyata bisa patah semangat juga ketika idenya buntu. OSIS atau apalah itu, aku tidak begitu paham tentang idenya yang masih tersembunyi di balik senyumnya tadi. Sepertinya ceritaku memang akan berakhir pada pagi…

“Ervin… thanks ya buat idenya.” Anggun ternyata beum pergi jauh, ia masih ada di sekitar kelas dan kembali sejenak hanya untuk mengucapkan kalimat itu padaku. Meski terbilang tidak biasanya ia mengucapkan terimakasih selembut itu, bibirku ini tetap tidak bisa diam saja merespon senyumnya yang terkembang—sepertinya tulus untukku. Sebut saja aku ke-GR-an. Kini ia benar-benar telah menghilang. Bel tanda usai istirahat telah berdenting. Pagi akan segera menghilang bersama kejenuhanku menerima pelajaran Kimia setelah ini.

**********

Sejak saat setelah Anggun merebut puisiku, ia berhasil menjalankan roda organisasi dengan cara yang cukup menarik. Sebagai bukti eksistensi kepengurusannya, ia membuat agenda ‘creative writing class’ setiap hari Jum’at sore. Kelas ini terbuka untuk semua warga sekaloh kami—SMA Pattimura, juga untuk warga umum yang ingin berkarya. Sering ia mengundang para penulis-penulis muda lokal yang memang sudah tidak bisa diragukan lagi esensisal tulisannya. Dalam waktu lebih kurang 5 bulan, ia juga berhasil bekerja sama dengan salah satu penerbit indie ‘Retas Publisher’ yang ada di kota ini. Tentunya semua pencapaiannya tidak lepas dari bantuan kepala sekolah—putra pertamanya adalah pimpinan sekaligus pemilik perushaan penerbitan itu.

Setiap bulan anggun mentarget harus ada tulisan yang dibukukan, sekali pun itu hanya antologi puisi atau satu buku tipis—asalkan berjenis sastra atau fiksi. Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana—meski terbilang targetnya itu sangat memaksa. Selain itu, creative writing class ini juga bekerja sama dengan komunitas seni yang ada di sekolah, serta komunitas seni dari kalangan mahasiswa. Sedangkan aktivitas harian creative writing class diaplikasikan pada jejaring sosial semacam facebook dan blogger.

Anggun memang cukup gesit dalam urusan bersosialisasi. Usahanya ini membuat ia terpilih menjadi ketua OSIS periode berikutnya. Hal ini berbeda denganku yang hampir tidak pernah mempunyai keberanian untuk tampil di muka umum. Terlebih lagi mengungkap satu perkara di hadapan Anggun. Kerjaanku hanya memperhatikannya dari sudut yang tidak ia ketahui. Selama ini aku tidak pernah keberatan jika Anggun menganggapku tidak ada. Karena dengan begitu, aku bisa lebih bebas memperhatikannya.

Tapi kali ini tidak demikian. Sejauh ini aku masih bisa santai melihat kesibukan Anggun sebagai ketua OSIS yang kerap kali membuatku kehilangan pagi miliknya—untuk sekedar mengusirku dari tempat duduknya, mengusik ritual senggangku, merebut paksa sesuatu yang ada di genggamanku. Iya, aku masih bisa memaklumi kesibukannya itu.

Pagi ini berbeda. Darahku mendadak memanas ketika melihatnya berjalan bersisihan dengan Ringga—melewati keberadaanku yang tengah berada di ambang pintu toilet yang ada di sebelah kelas. Nampaknya mereka berdua tidak melihat keberadaanku. Pikiranku mulai menerawang jauh—bisa jadi perubahannya selama ini bukan karena aktivitas OSIS, melainkan karena Ringga—pacar barunya.

Lantas apa hubungannya denganku? Ada, banyak hubungannya. Hanya Anggun yang masih peduli dengan ritualku, setidaknya ia tidak menganggapku lelaki cengeng karena kesukaannya membaca novel melankolis. Di sisi lain, ini erat hubungannya dengan perasaanku. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi, aku menyukai Anggun. Ia seperti pagi yang hadir sebagai waktu kebebasanku menjalani ritual senggang itu. tanpa kehadirannya, aku merasa pagiku hambar. Novel sebagus apa pun tetap tidak bisa membuatku meleleh jika tidak ada perebutan paksa dari seorang Anggun—yang harus membacanya terlebih dulu sebelum aku.

Entah apa yang mendorongku untuk mengikuti jejak langkah Anggun dan Ringga yang berjalan memasuki kelas—kelasku juga Anggun. Wajah mereka nampak sedikit tegang. Kelas memang masih sepi, maklum ini masih terlalu pagi bagi mereka yang sukanya datang mepet di saat bel masuk berbunyi. Anggun menghempaskan tubuhnya ke tempat duduk deretan depan—tempat duduknya. Ringga nampak kebingungan, matanya seliweran ke sana ke mari. Tapi tidak ke arahku. Tanpa banyak basi-basi, mereka mulai perbincangan. Lalu aku—berusaha menguping di balik pintu kelas.

“Pokoknya aku nggak mau tahu, Ga. Kamu harus tetap tanggung jawab.” Anggun beringsut dalam duduknya.
“Iya, aku tahu. Tapi kita masih sekolah. Sebentar lagi aku ujian, kamu juga masih kelas dua. Nggak ada jalan lain kecuali… ”
“Aku nggak mau ngelakuin itu.  Sebelumnya  kita udah ngelakuin kesalahan besar, aku nggak mau nambah kesalahan lagi. Aku cuma mau kamu tanggung jawab.” Anggun menyela dengan ketus. Wajahnya begitu lusuh.
“Kamu juga sih, makanya jadi perempuan jangan murahan. Aku curiga, jangan-jangan kamu ngelakuin itu nggak cuma sama aku aja.”

Plak… ” tangan kanan Anggun melesat cepat ke arah Rinnga—cukup keras.
“Aku hanya melakukannya sama kamu. Itu pun karena aku termakan bualanmu.” Telunjuk Anggun melesat lurus ke wajah Ringga.
“Dan sekarang aku hamil. Kamu sukses menghancurkan hidupku, Ringga.” Imbuhnya pelan—sepertinya mulai ada air yang mengalir dari kelopak mata Anggun.

Dalam waktu yang bersamaan, isi dadaku bergejolak. Membuatku bingung harus bersikap apa. Aku bermaksud menjauhi kelas, nyatanya lulutku terbentur pintu ketika hendak melangkah. Tas yang sedari tadi bertengger di sebelah pundakku, pun terjatuh.  Pandangan Anggun dan Ringga meluncur cepat ke arahku.

Sorry… ” hanya itu yang bisa kukatakan, lantas aku pergi. Sepertinya mereka tidak berniat mengejarku. Baguslah, karena aku harus menenangkan diri—meyakinkan diri sendiri bahwa apa yang aku dengar tadi adalah salah.

Aku berjalan melewati gerbang sekolah—sepertinya lebih baik aku pulang saja. Aku tidak sanggup lagi menatap mata Anggun. Aku tidak sanggup melihat matanya yang tidak sesadis dulu—berubah penuh genangan air di dalamnya. Aku juga tidak sanggup ketika nantinya harus melihatnya salah tingkah menutupi rasa malu di hadapanku. Percakapan tadi masih menggema dalam memoriku. Penglihatanku mulai tidak jelas, jalanku juga sempoyongan. Aku belum sarapan, mungkin penyakit magh-ku kambuh. Aku harus pulang—cepat sampai rumah—lalu istirahat.

Ternyata pagi memang hanya milikmu.
Tanpa kau sadari, kau membaginya untukku.
Lantas karena pagimu pula, kau dan aku kini jauh.
Pagi memang hanya milikmu.
Dan ceritaku berakhir pada pagi milikmu.

Aku terkesiap—kulihat banyak orang menggerumuni rumahku. Hampir semua orang yang aku kenal sekarang ada di rumahku. Kulihat di beranda rumah, Anggun berdiri menelakup wajahnya sembari menahan isak tangis. Ringga berdiri di sampingnya—merangkul pundak Anggun dengan lembut. Aku tidak suka melihat sikap Ringga, aku cemburu. Ibu dan Ayahku duduk berdampingan di kursi ruang tamu. Ayah dan Mbak Tanti—kakakku saling merangkul ibu yang tengah menangis tersedu. Mereka seolah saling menenangkan. Mbak Tanti memang tegar, selalu ceria, dan bisa menyemangati orang lain. Aku seperti melihat sosok Anggun dalam dirinya. Diantara semua keluargaku—ayah, ibu, mbak Tanti—memang hanya mbak Tanti yang bisa melepas kepergianku tanpa air mata.

Aku belum sempat memberitahu Anggun tentang siapa-siapa saja yang akan menyeringai senang ketika ia mundur dari jabatan ketua OSIS. Aku juga belum sempat memberitahukan tentang satu perkara—persaanku yang selama ini diam-diam menyukainya. Bahkan aku belum sempat menanyakan kebenaran isi percakapannya dengan Ringga. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Dia mengambilku dalam pagi milik Anggun—melalui sapaan mini bus yang menjabat erat tubuhku sewaktu aku hendak menyebrang jalan raya—di depan sekolahku.

TAMAT
Jember, 12 Desember 2011
Samsi Arpanurhi

No comments:

Post a Comment