Pagi tadi teman saya bercerita tentang sepenggal kisah tahun barunya
di hadapan saya yang pada waktu itu masih sedang asyik tiduran sambil
menikmati sayupnya mendung melalui lubang ventilasi rumah. Teman saya
bercerita dengan semangat yang menggebu-gebu diiringi dengan tawa
mencurigakan yang sulit saya gambarkan, tawa antara senang dan sesal.
“Rul,
aku udah pernah cerita ke kamu belum ya tentang pedagang durian yang
menyebalkan itu?” Ujarnya sambil menggaruk-garuk kepala.
“Sepertinya sih belum, lah kenopo karo pedagang itu?” responku masih santai.
“Kejadiannya baru-baru ini aja, kalo nggak salah pas awal Januari kemarin…,”
“Hemm…,” responku datar sambil mengangguk-anggukan kepala—tanda mulai penasaran.
“Aku
belum cerita ya?” Ia mengulangi pertanyaan yang sama. Perlu saya
beritahu, ada beberapa hal dari teman saya itu yang sering membuat saya
sebal ketika mendengar cerita atau curhatannya—suka mengulang pertanyaan
yang sudah ditanyakan dan sudah juga saya jawab. Itu masih salah satu
hal, dan masih banyak lagi hal lain yang membuat saya mendadak geram,
lihat saja nanti.
“Kamu ini niat cerita atau sekedar main tanya jawab toh? Aku belum dengar cerita itu, ayo kenopo, Dulur?” Rasanya saya memang mulai sebal.
“Hehehehe… iya iya, yo wes sekarang kamu dengarkan ya!”
Saya mulai memperhatikan sikapnya yang pada waktu itu tertawa sarat
makna, seperti yang sudah saya bilang sejak awal—tawa antara senang dan
sesal.
“Kapan mau ceritanya?” Penasaran ini sudah memuncak, sementara ia masih saja asyik tertawa.
“Kapan
hari aku benar-benar jadi orang brutal, Rul. Pemarah iya, egois iya,
songong juga iya.” Ia menelakupkan kedua tangan di wajahnya.
“Memangnya kenapa sih?” Responku agak memaksa.
“Pas
tahun baru kemarin, mendadak aku pengen banget makan durian. Akhirnya
aku pergi ke tempat penjualan durian. Waktu itu berbagai jenis durian
dengan varian harga berbeda-beda ditawarkan ke aku. Akhirnya aku
memutuskan untuk membeli tiga buah durian seharga empat puluh ribu
rupiah. Pedagangnya itu ibu-ibu separuh baya. Dia bilang duriannya itu
bagus, enaknya nggak kalah dengan yang harga lima puluh ribu…,”
“Terus?” Penggal saya sekilas sebagai tanda saya masih mendengar ceritanya.
“Ucapannya yang muluk itu membuatku berani menanyakan sesuatu pada orang itu. Aku tanya, beneran Buk durian ini bagus?”
“Terus ibu itu jawab apa?”
“Dia bilang, iya nduk, durian ini bagus, rasanya enak… manis-manis pahit.”
Reflek saya bangkit dari tiduran. Rasanya manis-manis pahit,
kalimat itu sempat membuat saya terpingkal kecil. Mengingat pengakuan
bahwa durian itu bagus, tapi kok rasanya manin-manis pahit. Pahitnya itu
lho yang membuat telinga saya tergelitik. Untung saja kata-kata
manisnya terbilang dua kali ‘manis-manis pahit’, sehingga cukup
meyakinkan pembeli bahwa rasa durian itu lebih banyak manisnya
dibanding dengan pahitnya. Coba saja jika pedagang itu bilang ‘pahit-pahit manis’, sudah barang tentu tidak ada orang yang mau membeli duriannya.
Teman saya juga ikutan terpingkal, ia juga merasa ada humor yang perlu dinikmati dalam kalimat itu.
“Batinku, mana ada durian enak berasa manis-manis pahit,” imbuhnya sambil menamatkan tawanya.
“Terus apa reaksimu?”
“Ya
aku geli sekaligus kaget aja. Akhirnya aku bertanya lagi, sekedar ingin
memastikan kalo durian itu beneran bagus dan rasanya enak.”
“Terus?” Tukas saya sambil membatin emang pada dasarnya kamu itu orangnya suka mengulang pertanyaan, mekso.
“Terus jawaban ibu itu masih sama, bahkan lebih meyakinkan kalo aku nggak akan rugi membeli duriannya.”
“Akhirnya kamu beli?” Saya mengambil posisi bersila, dan duduk lurus menghadapnya.
“Karena aku udah mulai yakin, akhirnya aku beli.”
“Terus rasanya beneran enak?” Saya semakin tidak sabar mendengar kesimpulan ceritanya.
“Bentar dulu, ceritaku belum selesai. Kamu harus sabar, ceritanya masih panjang dan penuh kejutan nih.”
Saya menghela napas panjang dan dalam, batin saya mulai menggerutu
kesal. Ini adalah hal lain darinya yang membuat saya geram ketika
mendengar ceritanya, panjang lebar sebelum mencapai inti
cerita—sekaligus agak khawatir ceritanya akan berujung menyebalkan.
“Pas
sampai rumah, aku langsung membawanya ke dapur. Ada ibuku di sana,
bapak belum datang, adikku langsung berangkat kerja pakai motor yang
baru saja kubawa.”
Batin saya mendengus kesal, apa hubungannya ya bapak, ibu, adik, dan motor dengan cerita durian ini? Sepertinya rasa penasaran saya mulai tidak terkontrol. Ini juga merupakan unsur cerita yang sempat membuat saya geram.
“Hemmm…,” dengusan saya ringan sambil menyanggah dagu lemas.
“Aku
belah durian pertama, kumakan juga, pedagang itu benar. Ras durian itu
memuaskan. Manis manis manis, pokoknya enak, ibuku cuma memperhatikan
aja. Belum habis durian pertama, perasaanku jadi penasaran dengan durian
lainnya. Buru-buru kubelah keduanya, coba tebak apa yang kulihat?”
“Hemm… ya durian lah…,” jawabku enteng.
“Iya, durian bosok.
Dua-duanya busuk dan nggak bisa dimakan sama sekali,” matanya melotot
lurus ke arah saya. Reflek saya memalingkan wajah, lalu segera
membaringkan tubuh kembali ke kasur.
Diantara beberapa
hal yang membuat saya geram, nyatanya memang masih ada hal darinya yang
membuat saya betah mendengar cerita panjang lebar darinya. Hal itu
adalah semangat bercerita serta berbagai macam gesture yang ia terapkan untuk menghidupkan ceritanya—semisal pelototan matanya itu.
“Langsung
aku jadi brutal, Rul. Waktu itu juga, yang ada di pikiranku adalah aku
harus mendatangi pedagang itu, melempar duriannya ke orang itu sambil
marah-marah.” Jelasnya lagi dengan semangat tingkat tinggi sambil
meremas-remas jarinya hingga setiap remasan mengeluarkan bunyi. Saya
tersentak dari rebahan, lalu duduk lagi menatap wajahnya.
“Terus… kamu melakukannya?”
“Iya…,”
jawabannya kali ini membuat saya sebal pangkat kecewa terhadap
tindakannya. Saya mendengus sambil menggeser duduk hingga punggung
menempel di dinding kamar. Mudah marah, emosi, adalah hal lain dari
teman saya yang kerap kali membuat saya geram.
“Puas?” Tanya saya datar.
“Waktu
itu motor udah dibawa adikku, yang tersisa di rumah cuma motor butut,
itu pun rusak. Aku cari ojek ke sana ke mari, nggak nemu juga. Akhirnya
ibuk beraksi. Ibuk ngasih aku uang ganti pembelian durian agar aku nggak
merasa rugi…,”
“Ibu bilang apa?”
“Dia memegang tanganku, memberikan uang seharga durian itu sambil menasehatiku. Ini
ibuk ganti uangmu, tapi nggak usah pergi menemui pedagang itu ya. Pakai
uang itu buat beli durian yang baru. Nggak baik komplain kalo pikiran
masih emosi. Kamu perempuan, harusnya bisa lebih santun.”
“Nah aku lebih sepakat sama ibuk, kamu juga?” Respon saya santai.
“Emosiku sedang memuncak jadi aku nggak setuju sama ibuk.”
“Hemm…,” berdeham lebih damai ketika merespon bait-bait kalimat dalam cerita teman saya itu.
“Sampai
malam aku masih belum menemukan cara untuk pergi menemui pedagang itu.
Besok paginya, aku mengantar ibuk ke pasar, sekalian deh niatku yang
kemarin kulanjutkan. Ternyata pedagang itu belum datang. Ibuk sempat
bilang kalo kondisi seperti itu adalah tanda Tuhan nggak mengijinkan aku
untuk marah-marah ke pedagang menyebalkan itu.”
“Aku juga sepakat sama ibu…,”
Ia hanya tertawa ringan melihat respon saya yang semakin melemas,
sekaligus mungkin terbilang latah—jadi pengikut ibunya. Mungkin ia
merasa senang ketika melihat saya berusaha menyembunyikan sebal dan
geram ketika mendengar ceritanya.
“Pas siangnya, waktu itu hujan deras. Niatku ternyata masih belum berubah…,”
“Kamu berangkat?”
“Iya. Aku kan masih punya jas hujan.”
“Ketemu
sama orangnya?” Entah apa sebabnya, padahal saya hanya mendengarkan
cerita, tapi saya sangat khawatir teman saya akan malakukan tindakan
yang iya iya melalui kemarahannya nanti.
“Ketemu, bahkan waktu itu pas dia melayani pembeli.”
“Kamu jadi marah-marah sama dia?” Saya berharap ia memberi jawaban ‘tidak’.
“Jelasnya begitu,” jawabnya santai.
Saya mendengus sambil memukul kening pelan. Gelengan kepala saya reflek
membuat ia menyeringai lebar. Sepertinya ada kelucuan dari reaksi saya
yang perlu ia tertawakan.
“Kamu asli sinting, Dulur. Apa respon pedagangnya?”
“Waktu itu aku komplain ringan, Buk,
kok ternyata durian jualan ibuk luput dengan penjelasannya ibuk ya.
Dari tiga durian yang kemarin saya beli, cuma satu yang berasa enak,
yang lainnya busuk nggak karuan. Eh ibu itu malah sok melempar kesalahan, Oalah nduk, itu bukan durian saya, itu duriannya pak Holil. Iya, nanti saya bilangkan ke orangnya. Aku semakin emosi, kulemparkan durian busuk itu ke arahnya. Waduh
Buk, saya nggak peduli itu duriannya pak Holil kek, pak presiden kek,
pak polisi kek, yang jelas kemarin saya belinya sama Ibuk. Njenengan masih ingat kan, Buk?
Ibu itu menunduk, mungkin kesal. Suaminya ada di sebelahnya, kayaknya
sih dia pengen marah sama aku. Golok yang dia pegang buat menata-nata
durian seolah udah siap dihadapkan ke arahku, Rul.”
“Serius? Apa reaksimu?” Saya benar-benar tidak habis pikir pada teman ini.
“Bermodal emosi, aku menantang suaminya juga. Saya
nggak takut sama golok itu, Pak. Kalo mau, cepetan sini lempar golok
itu ke wajah saya. Nggak usah ambil ancang-ancang sambil melotot seperti
itu. Anehnya si bapak malah ikutan menunduk. Nggak tahu apa sebabnya, mendadak aku mengelus dada, ingat Tuhan.”
“Halah… lagakmu, Nduk.” Saya kembali membuang muka.
“Semua pembelinya pada kabur. Akhirnya ibu itu minta maaf sambil bilang begini, Nduk,
kalo mau komplain jangan begitu caranya, apalagi di depan pembeli yang
lain. Bisa nggak laku nanti jualan saya. Ya udah, sekarang kamu ambil
dua durian sebagai penggantinya, pilih terserah kamu. Kalimat itu yang aku tunggu-tunggu sejak awal, aku pengen tahu seperti apa sih tanggung jawab orang itu.”
“Akhirnya kamu puas?” Pertanyaan saya bernada paksa agar ia segera menyimpulkan perasaannya.
“Puas, karena akhirnya ibu itu juga merasakan sakit hati seperti apa yang aku rasakan pas mendapat durian busuknya. Tapi…,”
“Tapi…?
“Aku
menyesal, aku nggak habis pikir kenapa aku bisa melakukan semua itu.
Aku nggak suka sikap masa laluku muncul lagi, aku nggak suka
dikendalikan emosi. Kalo dipikir-pikir semua kan masih bisa diomongkan
baik-baik juga sih.”
“Hahaha selama aku kenal kamu, nggak tahu
udah berapa lama, yang jelas sikapmu yang seperti itu selalu jadi
penutup setiap cerita yang kamu suguhkan ke aku. Aku udah biasa dengar
pengakuan sesal itu, tapi ya… tetap kamu ulangi kan, lagi dan lagi.”
Sebenarnya ingin sekali saya mengumpat habis-habisan pada teman saya
itu, tapi percuma juga, ia sudah terlanjur kebal dengan apapun ucapan
saya.
“Menurutmu aku jahat ya?” Tanyanya dengan mimik polos.
“Kira-kira?”
“Aku
cuma pengen ngasih pelajaran aja sama mereka-mereka yang seenaknya
mengumbar janji, pembohong, dan curang. Dan ibu itu salah satunya” Masih
saja ia berusaha membela diri.
Saya hanya menyeringai
tanpa kata menanggapi pembelaannya itu. Jujur, saya memang kehabisan
amunisi kata untuk menjawab pertanyaannya ‘Menurutmu aku jahat ya?’
Meskipun demikian, terima kasih banyak buat teman saya yang sudah
berbagi kisah menariknya tadi pagi. Gara-gara ceritanya, saya bisa
menahan kantuk yang sering menyerang saya di pagi hari. Selebihnya,
cerita itu juga memberikan pesan-pesan tersendiri bagi saya yang
sepertinya memiliki sikap dan sifat yang hampir mirip dengannya—sebelas
dua belas lah. Hahahahahaha
Notes: Kata-kata berikut ini adalah kata bahasa Jawa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari sebagian besar warga Jember.
Kenopo = Kenapa
Karo = Dengan
Dulur = Saudara
Nduk = Nak
Njenengan = Anda
Yo wes = Ya sudah
Mekso = Maksa
Bosok = Busuk
No comments:
Post a Comment