Sunday, January 8, 2012

Pedagang Durian vs Pembeli Brutal

           Pagi tadi teman saya bercerita tentang sepenggal kisah tahun barunya di hadapan saya yang pada waktu itu masih sedang asyik tiduran sambil menikmati sayupnya mendung melalui lubang ventilasi rumah. Teman saya bercerita dengan semangat yang menggebu-gebu diiringi dengan tawa mencurigakan yang sulit saya gambarkan, tawa antara senang dan sesal.
“Rul, aku udah pernah cerita ke kamu belum ya tentang pedagang durian yang menyebalkan itu?” Ujarnya sambil menggaruk-garuk kepala.
“Sepertinya sih belum, lah kenopo karo pedagang itu?” responku masih santai.
“Kejadiannya baru-baru ini aja, kalo nggak salah pas awal Januari kemarin…,”
“Hemm…,” responku datar sambil mengangguk-anggukan kepala—tanda mulai penasaran.
“Aku belum cerita ya?” Ia mengulangi pertanyaan yang sama. Perlu saya beritahu, ada beberapa hal dari teman saya itu yang sering membuat saya sebal ketika mendengar cerita atau curhatannya—suka mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakan dan sudah juga saya jawab. Itu masih salah satu hal, dan masih banyak lagi hal lain yang membuat saya mendadak geram, lihat saja nanti.
“Kamu ini niat cerita atau sekedar main tanya jawab toh? Aku belum dengar cerita itu, ayo kenopo, Dulur?” Rasanya saya memang mulai sebal.
“Hehehehe… iya iya, yo wes sekarang kamu dengarkan ya!”
            Saya mulai memperhatikan sikapnya yang pada waktu itu tertawa sarat makna, seperti yang sudah saya bilang sejak awal—tawa antara senang dan sesal.
“Kapan mau ceritanya?” Penasaran ini sudah memuncak, sementara ia masih saja asyik tertawa.
“Kapan hari aku benar-benar jadi orang brutal, Rul. Pemarah iya, egois iya, songong juga iya.” Ia menelakupkan kedua tangan di wajahnya.
“Memangnya kenapa sih?” Responku agak memaksa.
“Pas tahun baru kemarin, mendadak aku pengen banget makan durian. Akhirnya aku pergi ke tempat penjualan durian. Waktu itu berbagai jenis durian dengan varian harga berbeda-beda ditawarkan ke aku. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiga buah durian seharga empat puluh ribu rupiah. Pedagangnya itu ibu-ibu separuh baya. Dia bilang duriannya itu bagus, enaknya nggak kalah dengan yang harga lima puluh ribu…,”
“Terus?” Penggal saya sekilas sebagai tanda saya masih mendengar ceritanya.
“Ucapannya yang muluk itu membuatku berani menanyakan sesuatu pada orang itu. Aku tanya, beneran Buk durian ini bagus?
“Terus ibu itu jawab apa?”
“Dia bilang, iya nduk, durian ini bagus, rasanya enak… manis-manis pahit.
            Reflek saya bangkit dari tiduran. Rasanya manis-manis pahit, kalimat itu sempat membuat saya terpingkal kecil. Mengingat pengakuan bahwa durian itu bagus, tapi kok rasanya manin-manis pahit. Pahitnya itu lho yang membuat telinga saya tergelitik. Untung saja kata-kata manisnya terbilang dua kali ‘manis-manis pahit’, sehingga cukup meyakinkan pembeli bahwa rasa durian itu lebih banyak manisnya dibanding dengan pahitnya. Coba saja jika pedagang itu bilang ‘pahit-pahit manis’, sudah barang tentu tidak ada orang yang mau membeli duriannya.
            Teman saya juga ikutan terpingkal, ia juga merasa ada humor yang perlu dinikmati dalam kalimat itu.
“Batinku, mana ada durian enak berasa manis-manis pahit,” imbuhnya sambil menamatkan tawanya.
“Terus apa reaksimu?”
“Ya aku geli sekaligus kaget aja. Akhirnya aku bertanya lagi, sekedar ingin memastikan kalo durian itu beneran bagus dan rasanya enak.”
“Terus?” Tukas saya sambil membatin emang pada dasarnya kamu itu orangnya suka mengulang pertanyaan, mekso.
“Terus jawaban ibu itu masih sama, bahkan lebih meyakinkan kalo aku nggak akan rugi membeli duriannya.”
“Akhirnya kamu beli?” Saya mengambil posisi bersila, dan duduk lurus menghadapnya.
“Karena aku udah mulai yakin, akhirnya aku beli.”
“Terus rasanya beneran enak?” Saya semakin tidak sabar mendengar kesimpulan ceritanya.
“Bentar dulu, ceritaku belum selesai. Kamu harus sabar, ceritanya masih panjang dan penuh kejutan nih.”
            Saya menghela napas panjang dan dalam, batin saya mulai menggerutu kesal. Ini adalah hal lain darinya yang membuat saya geram ketika mendengar ceritanya, panjang lebar sebelum mencapai inti cerita—sekaligus agak khawatir ceritanya akan berujung menyebalkan.
“Pas sampai rumah, aku langsung membawanya ke dapur. Ada ibuku di sana, bapak belum datang, adikku langsung berangkat kerja pakai motor yang baru saja kubawa.”
            Batin saya mendengus kesal, apa hubungannya ya bapak, ibu, adik, dan motor dengan cerita durian ini? Sepertinya rasa penasaran saya mulai tidak terkontrol. Ini juga merupakan unsur cerita yang sempat membuat saya geram.
“Hemmm…,” dengusan saya ringan sambil menyanggah dagu lemas.
“Aku belah durian pertama, kumakan juga, pedagang itu benar. Ras durian itu memuaskan. Manis manis manis, pokoknya enak, ibuku cuma memperhatikan aja. Belum habis durian pertama, perasaanku jadi penasaran dengan durian lainnya. Buru-buru kubelah keduanya, coba tebak apa yang kulihat?”
“Hemm… ya durian lah…,” jawabku enteng.
“Iya, durian bosok. Dua-duanya busuk dan nggak bisa dimakan sama sekali,” matanya melotot lurus ke arah saya. Reflek saya memalingkan wajah, lalu segera membaringkan tubuh kembali ke kasur.
            Diantara beberapa hal yang membuat saya geram, nyatanya memang masih ada hal darinya yang membuat saya betah mendengar cerita panjang lebar darinya. Hal itu adalah semangat bercerita serta berbagai macam gesture yang ia terapkan untuk menghidupkan ceritanya—semisal pelototan matanya itu.
“Langsung aku jadi brutal, Rul. Waktu itu juga, yang ada di pikiranku adalah aku harus mendatangi pedagang itu, melempar duriannya ke orang itu sambil marah-marah.” Jelasnya lagi dengan semangat tingkat tinggi sambil meremas-remas jarinya hingga setiap remasan mengeluarkan bunyi. Saya tersentak dari rebahan, lalu duduk lagi menatap wajahnya.
“Terus… kamu melakukannya?”
“Iya…,” jawabannya kali ini membuat saya sebal pangkat kecewa terhadap tindakannya. Saya mendengus sambil menggeser duduk hingga punggung menempel di dinding kamar. Mudah marah, emosi, adalah hal lain dari teman saya yang kerap kali membuat saya geram.
“Puas?” Tanya saya datar.
“Waktu itu motor udah dibawa adikku, yang tersisa di rumah cuma motor butut, itu pun rusak. Aku cari ojek ke sana ke mari, nggak nemu juga. Akhirnya ibuk beraksi. Ibuk ngasih aku uang ganti pembelian durian agar aku nggak merasa rugi…,”
“Ibu bilang apa?”
“Dia memegang tanganku, memberikan uang seharga durian itu sambil menasehatiku. Ini ibuk ganti uangmu, tapi nggak usah pergi menemui pedagang itu ya. Pakai uang itu buat beli durian yang baru. Nggak baik komplain kalo pikiran masih emosi. Kamu perempuan, harusnya bisa lebih santun.
“Nah aku lebih sepakat sama ibuk, kamu juga?” Respon saya santai.
“Emosiku sedang memuncak jadi aku nggak setuju sama ibuk.”
“Hemm…,” berdeham lebih damai ketika merespon bait-bait kalimat dalam cerita teman saya itu.
“Sampai malam aku masih belum menemukan cara untuk pergi menemui pedagang itu. Besok paginya, aku mengantar ibuk ke pasar, sekalian deh niatku yang kemarin kulanjutkan. Ternyata pedagang itu belum datang. Ibuk sempat bilang kalo kondisi seperti itu adalah tanda Tuhan nggak mengijinkan aku untuk marah-marah ke pedagang menyebalkan itu.”
“Aku juga sepakat sama ibu…,”
            Ia hanya tertawa ringan melihat respon saya yang semakin melemas, sekaligus mungkin terbilang latah—jadi pengikut ibunya. Mungkin ia merasa senang ketika melihat saya berusaha menyembunyikan sebal dan geram ketika mendengar ceritanya.
“Pas siangnya, waktu itu hujan deras. Niatku ternyata masih belum berubah…,”
“Kamu berangkat?”
“Iya. Aku kan masih punya jas hujan.”
“Ketemu sama orangnya?” Entah apa sebabnya, padahal saya hanya mendengarkan cerita, tapi saya sangat khawatir teman saya akan malakukan tindakan yang iya iya melalui kemarahannya nanti.
“Ketemu, bahkan waktu itu pas dia melayani pembeli.”
“Kamu jadi marah-marah sama dia?” Saya berharap ia memberi jawaban ‘tidak’.
“Jelasnya begitu,” jawabnya santai.
            Saya mendengus sambil memukul kening pelan. Gelengan kepala saya reflek membuat ia menyeringai lebar. Sepertinya ada kelucuan dari reaksi saya yang perlu ia tertawakan.
“Kamu asli sinting, Dulur. Apa respon pedagangnya?”
“Waktu itu aku komplain ringan, Buk, kok ternyata durian jualan ibuk luput dengan penjelasannya ibuk ya. Dari tiga durian yang kemarin saya beli, cuma satu yang berasa enak, yang lainnya busuk nggak karuan. Eh ibu itu malah sok melempar kesalahan, Oalah nduk, itu bukan durian saya, itu duriannya pak Holil. Iya, nanti saya bilangkan ke orangnya. Aku semakin emosi, kulemparkan durian busuk itu ke arahnya. Waduh Buk, saya nggak peduli itu duriannya pak Holil kek, pak presiden kek, pak polisi kek, yang jelas kemarin saya belinya sama Ibuk. Njenengan masih ingat kan, Buk? Ibu itu menunduk, mungkin kesal. Suaminya ada di sebelahnya, kayaknya sih dia pengen marah sama aku. Golok yang dia pegang buat menata-nata durian seolah udah siap dihadapkan ke arahku, Rul.”
“Serius? Apa reaksimu?” Saya benar-benar tidak habis pikir pada teman ini.
“Bermodal emosi, aku menantang suaminya juga. Saya nggak takut sama golok itu, Pak. Kalo mau, cepetan sini lempar golok itu ke wajah saya. Nggak usah ambil ancang-ancang sambil melotot seperti itu. Anehnya si bapak malah ikutan menunduk. Nggak tahu apa sebabnya, mendadak aku mengelus dada, ingat Tuhan.”
“Halah… lagakmu, Nduk.” Saya kembali membuang muka.
“Semua pembelinya pada kabur. Akhirnya ibu itu minta maaf sambil bilang begini, Nduk, kalo mau komplain jangan begitu caranya, apalagi di depan pembeli yang lain. Bisa nggak laku nanti jualan saya. Ya udah, sekarang kamu ambil dua durian sebagai penggantinya, pilih terserah kamu. Kalimat itu yang aku tunggu-tunggu sejak awal, aku pengen tahu seperti apa sih tanggung jawab orang itu.”
“Akhirnya kamu puas?” Pertanyaan saya bernada paksa agar ia segera menyimpulkan perasaannya.
“Puas, karena akhirnya ibu itu juga merasakan sakit hati seperti apa yang aku rasakan pas mendapat durian busuknya. Tapi…,”
“Tapi…?
“Aku menyesal, aku nggak habis pikir kenapa aku bisa melakukan semua itu. Aku nggak suka sikap masa laluku muncul lagi, aku nggak suka dikendalikan emosi. Kalo dipikir-pikir semua kan masih bisa diomongkan baik-baik juga sih.”
“Hahaha selama aku kenal kamu, nggak tahu udah berapa lama, yang jelas sikapmu yang seperti itu selalu jadi penutup setiap cerita yang kamu suguhkan ke aku. Aku udah biasa dengar pengakuan sesal itu, tapi ya… tetap kamu ulangi kan, lagi dan lagi.” Sebenarnya ingin sekali saya mengumpat habis-habisan pada teman saya itu, tapi percuma juga, ia sudah terlanjur kebal dengan apapun ucapan saya.
“Menurutmu aku jahat ya?” Tanyanya dengan mimik polos.
“Kira-kira?”
“Aku cuma pengen ngasih pelajaran aja sama mereka-mereka yang seenaknya mengumbar janji, pembohong, dan curang. Dan ibu itu salah satunya” Masih saja ia berusaha membela diri.
            Saya hanya menyeringai tanpa kata menanggapi pembelaannya itu. Jujur, saya memang kehabisan amunisi kata untuk menjawab pertanyaannya ‘Menurutmu aku jahat ya?’
            Meskipun demikian, terima kasih banyak buat teman saya yang sudah berbagi kisah menariknya tadi pagi. Gara-gara ceritanya, saya bisa menahan kantuk yang sering menyerang saya di pagi hari. Selebihnya, cerita itu juga memberikan pesan-pesan tersendiri bagi saya yang sepertinya memiliki sikap dan sifat yang hampir mirip dengannya—sebelas dua belas lah. Hahahahahaha


Notes: Kata-kata berikut ini adalah kata bahasa Jawa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari sebagian besar warga Jember.
Kenopo = Kenapa
Karo = Dengan
Dulur = Saudara
Nduk = Nak
Njenengan = Anda
Yo wes = Ya sudah
Mekso = Maksa
 Bosok = Busuk

No comments:

Post a Comment