Wednesday, October 26, 2011

[cerpen]Ceroboh


 
Sore itu, aku berangkat dengan segepok kertas bekas revisian skripsiku yang tertata rapi dalam map—di dalam tas punggungku yang berwarna pink. Tanpa pikir panjang—dengan percaya diri, aku mengibaskan gas motor—bergegas cepat meningalkan rumah menuju ke kampusku—sekedar mengahdiri technical meeting sidang skripsiku saja. Mataku nggak ada lelahnya memperhatikan langit yang semakin lama semakin gelap. Dugaanku, sepertinya akan ada hujan yang siap menghadang perjalan ala racing-ku nantinya.

Weits, dugaanku didukung kehendak Tuhan, hujan menyerang deras—kerap tanpa spasi. Tanpa mencoba melawan arus sedetik pun, aku langsung saja berteduh di warung nasi kosong yang kondisinya cukup bisa disebut warung nggak layak pakai. Ternyata bukan aku saja yang tertarik berteduh di tempat itu. Sedikit kaget ketika ada suara bapak-bapak menyapaku sok ramah. Ups… maksudnya bukan sok ramah, bapak itu memang ramah. Bapak itu sudah datang lebih dulu disbanding dengan kedatanganku.

“Mau kuliah, ya? Masukkan sepedanya ke teras sini biar nggak basah.”

Aku cukup melempar senyum sembari setengah menundukkan kepala—berlagak sopan, sedikit saja. Hehehehe…

“Bapak dari arah kota atau desa sini saja, Pak?”
“Oh saya dari arah kota.”
“Di kota deras ya, Pak?”
“Masih gerimis, Nak. Tapi kalau sekarang, dipaksa jalan basah kuyup juga.”
“Bapak nggak pengen tahu tentang kondisi hujan di desa utara? Bapak mau ke arah utara, kan?”
“Mendung di utara sangat hitam, nggak perlu ditanya lagi.”

Aku sempat terkekeh mendengar ungkapan bapak itu, sedikit nyentrik didengar telinga. Menarik kesimpulan dengan PD tingkat siluman. Hehehehehe…

“Mohon maaf nih, Pak. Apa bapak punya tas plastik lebih?”

Astaga, nggak tahu diri banget. Kalimat tanya itu melesat cepat dari mulutku ketika melihat si bapak membuka tasnya, dan mengeluarkan beberapa buntelan—terbungkus plastik—dalam tasnya. Sepertinya aku memang terlalu gagap berbasa-basi sopan.

“Butuh plastik buat sepatunya, ya?”
“Hehehehe… injih, Pak.”

Aku benar-benar bingung harus bersikap sopan seperti apalagi. Yang ada di otakku, aku harus melawan hujan karena sudah bisa dipastikan acara technical meeting di kampus sudah di mulai sejak setengah jam sebelum itu.

“Kalau mantel, punya?”
“Oh… Alhamdulillah ada, Pak.”
“Apa plastik kecil ini cukup untuk sepatu kamu?”
“Waduh… lebih dari cukup ini, Pak.”

Wouuuu kali ini, sebutan sok ramah itu berbalik menyerangku. Sudahlah ya, nggak ada rotan, akar pun jadi. Nggak bisa basa-basi sopan sepenuhnya, setengah sopan campur ngawur pun jadi. Plastik sudah di tangan, mantel juga sudah menutupi tubuhku. Siap menancap gas lagi.

“Terima kasih banyak lho, Pak. Plastik ini sangat membantu saya. Kalau begitu, saya berangkat duluan ya, Pak. Monggo, permisi.”
“Hati-hati, pelan-pelan saja, nggak usah ngebut. Kampusnya nggak mungkin pindah ke mana-mana kok.”

Untuk yang kedua kalinya si bapak mengeluarkan kalimat nyentrik, unik dan menggelitik. Nggak nyangka, suka ndagel juga bapak ini.

Langit sepertinya masih punya banyak stok air untuk dimuntahkan. Ckckckck lumayan juga, hujan bisa dijadikan alasan keterlambatan. Dasar tukang menimbun alasan, benarkah? Hahahaha sebut saja begitu. Aneh, sepanjang perjalanan, aku terus teringat dengan obrolan bersama bapak itu. Mengingat begitu mudahnya aku melemparkan pertanyaan sekaligus permintaan konyol tentang plastik padanya. Sampai-sampai si bapak harus rela mengeluarkan beberapa benda yang awalnya terbungkus dalam plastik itu. Ia melakukannya, demi membantuku. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini.

Entah sejak kapan hujan itu mulai reda. Saking terpukaunya aku mengingat obrolan itu di sepanjang jalan, aku sampai nggak sadar kalau hujan sudah benar-benar berhenti. Bahkan langit sudah mempersilahkan matahari merona lagi sebelum nantinya tenggelam menyambut malam. Aku menggeser ke atas penuh kaca helm yang tengah kupakai. Menghela napas panjang sembari menginjak rem kuat-kuat karena mendapati lampu merah yang baru saja terpancar di pertigaan memasuki awal wilayah kota Jember Barat.

“Hujannya udah reda lho mbak, nggak pengen buka mantel.”

Weits, hari itu mendadak banyak orang yang sok ramah. Bukan. Lebih tepatnya sok mau tahu keinginan orang—hehehe termasuk aku juga sih.

“Aneh aja mbak kalau nggak dilepas.”

Astaga, ini orang usil banget ya! Mau aneh atau enggak, itu kan urusanku toh. Aku yang makai, aku juga yang tahu rasanya. Lagian asik kok makai mantel biarpun nggak ada hujan. Anggap saja sebagai pengganti jaket. Hangat Bung.

“Kakinya juga tuh mbak, awas lecet-lecet lho kalau nggak dipakai sepatunya.”

Idih… pokoknya menyebalkan tingkat siluman orang itu. Huft… antara males dan sebel. Lebih baik diam saja daripada membuat ribut di lapak orang—lapak DISHUB maksudnya. Untung saja jalanan itu milik umum. Kalau saja milik bapakku, udah kuremukkan mulut orang itu. Aih… lagi-lagi aku menimbun alasan. Bilang saja penakut. Hahahaha mungkin!

********
“Hujan deres ya, mbak?”
“Kira-kira?”
“Kalau dilihat pakai mantel, berarti jawaban iya.”
“Nah itu udah tahu. Ngapain nanya sesuatu yang emang udah kamu tahu jawabannya.”
“Jiah… mbak Samsi ketus amat hari ini. Biasanya…,”
“Biasanya jauh lebih ketus dari hari ini?”
“Yaelah, mbak. Kenapa toh ya hari ini sewot banget. Udah ditunggu tuh daritadi sama pak Sekdek—di kelas FKIP pojok atas barat. Tumben biang kerok datangnya telat—bilangnya sih gitu.”
“Yakin… pak Arip bilang gitu? Pak Arip atau… kamu?”
“Nah… kalau santai gini kan enak ngobrolnya. Hehehehe awalnya sih emang aku yang bilang gitu, tapi tadi pak Arip nyumbang senyum. Berarti beliau setuju dong dengan sebutan itu.”
“Dasar! Ya udah, makasih ya buat infonya.”
“Sami sami mbakyu.”

Sekilas biar nggak ada yang penasaran. Pria itu, adik tingkatku. Sebut saja Amseh, begitu sebutan akrabnya. Cukup sedikit saja tentangnya. Karena memang nggak ada penjelasan lebih yang butuh dijelaskan tentang pria centil bin usil itu.

*********
Aku masuk ruangan technical meeting ketika pembahasan hampir punah seutuhnya. Nggak ada hukuman bagi yang telat, syukurlah. Jelas saja aman, dosen yang mengisi rapat itu sudah terlampau sering medapat ulah seperti itu dariku. Sepertinya mereka sudah maklum, atau bisa jadi—bosan. Hanya saja mereka memang sempat memperhatikanku aneh sesaat—nggak lebih dari hitungan detik. Hahahaha…

“Syi, kita bagi tugas.”

Teman sekelasku yang sering kusebut kang Filo, bergerak cepat menyambar perhatianku yang masih kelimpungan beradaptasi dengan pembahasan yang sudah kulewatkan.

“Bagi tugas piye to, Kang? Aku baru datang, jadi masih nggak nyambung.”
“Kacau, Syi. Transcript study punya kita-kita yang ujian besok malam belum terurus. Maklum lah, pemadaman setiap hari. Nah mumpung sekarang listrik sedang aman, salah satu dari kita harus ke Ka. Prodi ngecek satu persatunya. Belu lagi, kita juga harus nganterin undangan ke dosen pembimbing masing-masing sekaligus nyiapin konsumsi untuk ujian besok.”
“Wealah… banyak banget tugas dadakannya. Apa emang gini ya ribetnya ngurus ujian skripsi itu? Apa emang kita yang harus ribet?”
“Maklum lah, Syi. Simple jawabannya, kalian bukan anak SMA lagi. Apa-apa diurus guru, apa-apa minta instan. Mahasiswa lho ya, calon sarjana pula.”

Mantab. Pak Arip—sekretaris dekan, memang paling pintar mengemas kalimat biar mudah kutelan.

“Apa tugasku, Kang Filo?”

Aku hanya berharap, tugasku nggak menambah daftar tragedi menyebalkan dalam hari itu.

“Cukup nganterin undangan saja.”
“Ke…,”
“Ke rumah pak Mamed.”
“Siap seribu persen, Kang!”
Syukurlah, sekedar menjadi pak pos sementara. Menyenangkan.
“Samsi…,”
“Wonten nopo maleh to, Pak? Apa saya masih terkesan seperti anak SMA?”
“Sepertinya memang begitu.”

Pak Arip menunjuk ke arah kakiku berpijak. Dengan cepat mataku tertumpu pada satu kondisi—telapak kakiku yang masih bugil tanpa sepatu. Ditambah dengan celana pensil kain yang masih sedikit tergulung ke atas hingga ujung betisku nampak terlihat. Astaga… aku lupa membenahi penampilanku. Pantas saja Amseh semakin centil melihat kondisiku sewaktu tadi ia bicara denganku. Begitu pula reaksi para dosen ketika pertama melihatku masuk ke dalam ruangan menggelikan itu.

TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 25 Oktober 2011

No comments:

Post a Comment