Aku nggak pernah merencanakan perasaan ini. Semua perasaan ini hadir begitu saja, menyelinap diam-diam dalam hatiku. Hingga aku diam-diam pula memberikan rasa ini untukmu. Aku, begitu rela menghabiskan waktuku untuk sekadar melihat aktivitasmu, memperhatikan canda tawamu. Bahkan aku selalu setia mengawasi kondisi lahir batinmu bersama perempuanmu itu—yang sejatinya adik kandungku. Aku selalu memperhatikan ketika ia mengecup keningmu—membalas pelukmu—menggandeng tanganmu—membalas perasaanmu dengan segala perasaan palsunya.
Apa pernah terlintas dalam pikiranmu tentang ia yang telah mencurangimu? Ah… sepertinya kamu nggak pernah mau peduli dengan segala kecurangan itu. Aku bisa pastikan sebenarnya kamu sudah tahu, tapi sepertinya kamu begitu membutuhkannya. Hingga sesakit apapun efek kecurangan itu, kamu tetap mengumpulkan puing-puing kesakitanmu sebagai sebongkah kekuatanmu untuk tetap bertahan di samping adikku.
Melalui sudut yang tersembunyi, diam-diam aku menggerutu. Kamu—seharusnya memilih aku, memberikan rasa-rasamu untukku—yang sejatinya menyayangimu lebih dari adikku yang selama ini memberikan sayang palsu itu. Seharusnya kamu tahu! Kamu nggak pantas bersamanya, harusnya kamu meninggalkannya dan berpaling padaku. Tapi nampaknya begitu sulit kamu melakukannya. Karena hatimu telah terikat oleh pemikiranmu sendiri bahwa nggak ada orang yang sanggup menyayangimu melebihi adikku. Kamu salah! Masih ada orang lain. Orang itu adalah aku, kakak dari kekasihmu. Tapi—benarkan saja. Aku memang terlalu penakut, aku nggak punya keberanian lebih untuk mendekatimu. Aku nggak punya kekuatan untuk menunjukkan semua rasa yang aku miliki ini untukmu.
Akhirnya aku hanya bisa memperhatikanmu. Dari jarak dekat—diam-diam aku menyanyangimu. Memperhatikan benar-benar bagaimana cara adikku—perempuanmu itu mencurangimu dan kamu hanya diam—pura-pura bisu. Aku di sudut ini, ingin rasanya membongkar perasaanmu untuk adikku. Lalu menatanya lagi untukku. Tapi nyatanya aku nggak bisa. Aku hanya bisa diam-diam menyukaimu—menyayangimu melebihi adikku.
*****
“Tumben Dili ngajak kamu pergi malam-malam? Biasanya dia selalu sibuk lembur, kan?”
“Siapa bilang aku akan pergi sama Dili? Aku ada janji nonton bareng sama Fizal, Kak.”
“Fizal! Kamu masih berhubungan dengan dia? Resti, Dili itu jauh lebih baik dari Fizal. Kamu tahu itu, kan?”
“Aku tahu, Kak. Dili lebih mapan, dewasa, masa depan cerah kalau jadi pasangannya. Tapi sepertinya semua itu lebih cenderung cocok buat kakak. Aku bosan jadi pacar pria super sibuk macam Dili, Kak. Aku jenuh, aku butuh hiburan, bukan malah selalu mengalah, selalu rela membiarkan dia bermesraan dengan kerjaannya terus. Aku butuh have fun, Kak.”
“Lalu kenapa kamu tetap mempertahankan Dili selama ini?”
“Bukan aku yang mempertahakan dia. Tapi dia yang nggak bisa tahan ketika aku putuskan. Dia lemah tanpa aku, Kak.”
“Oleh karena itu kamu punya kebebasan mencurangi perasaannya?”
“Aku nggak pernah mencuranginya, dia tahu hubunganku dengan Fizal. Tapi dia enjoy aja kok.”
“Tapi kamu nggak punya hak buat nyakitin dia, Resti.”
Suara klakson mobil di luar rumah berhasil membuat obrolanku dengan Resti terhenti. Kami berdua saling mendengus kesal mempertahankan pendapat masing-masing yang belum tertuntaskan.
“Aku males debat sama Kakak. Kalau nanti Dili datang, ajak dia ngobrol aja. Kalau dia mau, suruh dia nunggu aku. Bukannya Kakak cocok banget ngobrol sama dia.”
“Resti! Kamu nggak boleh seenaknya seperti ini!”
“Fizal itu cinta pertamaku, Kak. Dili hanya pria yang mendadak muncul ketika Fizal menghilang sesaat. Sekarang Fizal udah kembali, aku lebih memilih mempertahankan cinta pertama daripada cinta dadakan. Harusnya kakak bisa memahami semua ini.”
“…”
“Aku pergi dulu, Kak. Aku nggak mau Fizal menungguku lama di luar sana.”
Resti—itu wanita yang kamu bangga-banggakan selama ini. Selalu seperti itu caranya memperlakukanmu. Ternyata kamu juga sudah tahu. Astaga, kamu tahu tapi kamu seolah nggak mau tahu. Benarkah kamu begitu lemah tanpa Resti—adikku? Dili, kamu nggak pantas disakiti. Kamu lebih pantas dicintai—terlebih lagi dicintai oleh wanita seperti aku yang lebih mampu menyayangimu.
*****
Nggak terlintas sedetik pun semua akan seperti ini. Sekitar dua jam kepergian Resti dan Fizal, terlihat mobil sedan berwarna hitam pekat milikmu tengah diberhentikan di seberang jalan di depan rumahku. Kamu memarkir mobilmu di sana. Kemudian kamu melangkah memasuki halaman rumahku. Lantas menuju keberadaanku di teras rumah yang tengah berdiri santai sembari mendengarkan musik jaz memalui headphone yang masih bertengger di kedua telingaku. Kamu datang dengan wajah kusut, seolah ada sedikit beban yang tergantung di wajahmu. Aku mulai mencemaskanmu, Dili.
“Apa kamu nggak punya kebiasaan lain selain mendengarkan musik di teras rumah. Hampir setiap aku ke sini, kamu selalu melakukan kebiasaan ini.” Kamu menyapaku santai, seolah hendak menciptakan zona saling meledek diantara kita berdua.
“Ada. Selalu berdiam diri di teras rumah ini ketika menunggu kedatanganmu.”
Astaga! Kali ini aku terlalu buru-buru. Kalimat itu melesat cepat dari mulutku hingga membuatmu tertegun dan membuat kedua alismu saling menyatu—heran.
“Harusnya bukan kamu yang menunggu kedatanganku. Hehehehe… apa Resti udah lebih dulu pergi sebelum aku datang?” lagi-lagi kamu begitu santai melontarkan kalimat-kalimatmu yang justru menikam hatimu perlahan.
Aku hanya sanggup melayangkan senyuman datar demi menjaga perasaanmu. Kamu nampak semakin lusuh. Tanpa menunggu tawaranku, kamu melesat cepat merebahkan tubuhmu ke kursi berkayu Jati yang ada di teras rumahku.
“Adikmu terlalu pintar mengambil hatiku, membawanya pergi jalan-jalan. Hingga akhirnya aku terlalu bodoh mengambilnya lagi dari genggamannya.”
Aku lebih memilih diam memperhatikanmu yang semakin lama semakin lusuh—wajahmu kian kusut—bebanmu seolah semakin bertambah. Dili, keluarkan semua keluhamu kepadaku jika memang kamu mempercayaiku untuk menampungnya. Aku rela menjadi tempat penampungan bagi semua keluhanmu.
“Sesakit apapun perasaanku karena adikmu, aku seolah nggak bisa mengakhirinya. Aku terlalu menyayanginya. Hana, apa aku salah jika aku tetap bertahan dalam kondisi ini?”
“Lebih baik aku buatkan teh hangat dulu buat kamu. Kamu butuh bantuan aroma teh untuk melonggarkan urat-urat kelelahanmu itu.”
Semua di luar rencanaku. Kamu menarik lenganku ketika aku berniat menghindarimu—masuk ke dalam rumahku untuk membuatkan secangkir teh untukmu. Genggamanmu begitu sigap membuat jantungku berdentum keras. Lalu kamu memposisikan wajahmu tepat di depan wajahku. Tatapanmu itu, sungguh aku nggak sanggup membalas tatapanmu yang begitu dalam namun begitu lusuh itu. Dili, berhentilah bersikap seperti ini padaku.
“Katakan Hana! Apa aku salah bertahan pada kondisi ini?”
“…” aku hanya terdiam dengan guratan wajah canggung juga cemas.
“Apa yang harus aku lakukan, Hana?”
“…”
“Aku begitu bodoh, Hana. Argh…”
Kamu seolah ingin melepas semua bebanmu—entah beban yang mana. Yang terlihat jelas saat ini, kamu ingin melepas keluhan tentang hubunganmu dengan Resti—adikku yang juga kekasihmu itu.
“Hari ini resmi aku kehilangan pekerjaanku, Na. Perusahan tempatku bekerja sedang terancam kebangkrutan dan terjadi PHK besar-besaran. Entah seperti apa perhitungannya, yang jelas aku termasuk dalam daftar karyawan yang harus di PHK. Kamu tahu, Na? Selama beberapa tahun aku kerja di sana, aku selalu mengabdikan hidupku demi perusahaan itu. Tapi ternyata, aku nggak seberuntung itu untuk tetap dipertahankan dalam perusahan itu. Mobil di seberang sana, hanya itu satu-satunya benda berharga yang aku punya saat ini. Sepertinya ketidak beruntunganku dalam pekerjaanku juga akan berlaku dalam hubunganku dengan adikmu, Na. Aku nggak yakin akan menjadi pria yang pantas untuk Resti pertahankan. Aku… a-ku… ak-u…,”
Ah…semua ini di luar rencanaku. Seperti ada magnet yang menarik tubuhku, aku memeluk tubuhmu dengan beribu kecemasan yang telah bertandang dalam pikiran juga batinku. Aku menyekat keluhanmu dengan sebuah pelukan hangatku pada tubuhmu. Astaga… Dili, kamu membalas pelukanku—sangat erat—lebih erat dan hangat melebihi pelukanku.
“Aku butuh dia, tapi dia nggak ada untukku. Saat ini aku ingin memeluknya, tapi dia terlalu pintar menghindariku. Aku… aku benar-benar pria lemah tanpa…,”
“Dili, aku nggak pernah keberatan melakukan semua ini. Keluarkan semua keluhanmu, aku siap menjadi pendengarmu.”
Bodohnya aku! Nggak seharusnya aku memelukmu—pria yang nyatanya kekasih adikku sendiri. Tapi justru itu, aku begitu menikmati pelukanmu. Aku serasa damai karena bisa memelukmu dalam kondisi yang sepertinya sangat melemahkanmu.
“Hana, tapi apa kamu siap menjadi seseorang yang selalu ada di sampingku?”
“Maksud kamu?”
“Jangan lepas pelukanmu ini hingga nanti semua orang tahu, kamulah yang lebih pantas untuk berada di sampingku. Kamu yang lebih sanggup mendamaikanku. Tolong biarkan pelukan ini lama menghangatkan tubuhku.”
Entah apa yang terlintas dalam benakku. Aku nggak bisa berpikir jernih. Salahkan saja jika aku lebih mengutamakan perasaanku sendiri. Aku lebih memilih mengiyakan permintaan Dili untuk tetap memeluknya dan nggak peduli apapun yang akan terjadi nantinya. Semua ini terjadi diam-diam, aku memberikan rasaku untuknya. Diam-diam aku menikmati suasana ini. Barang tentu kini aku mencurangi Resti—kekasih Dili yang justru adik kandungku sendiri.
Jember, 14 Nopember 2011
Samsi Arpanurhi
*Ide yang mucul gara-gara Efek komplikasi menikmati lagunya Terry-->Harusnya Kau Pilih Aku.Hehehehe semangad membaca semuanya ^_~
Apa pernah terlintas dalam pikiranmu tentang ia yang telah mencurangimu? Ah… sepertinya kamu nggak pernah mau peduli dengan segala kecurangan itu. Aku bisa pastikan sebenarnya kamu sudah tahu, tapi sepertinya kamu begitu membutuhkannya. Hingga sesakit apapun efek kecurangan itu, kamu tetap mengumpulkan puing-puing kesakitanmu sebagai sebongkah kekuatanmu untuk tetap bertahan di samping adikku.
Melalui sudut yang tersembunyi, diam-diam aku menggerutu. Kamu—seharusnya memilih aku, memberikan rasa-rasamu untukku—yang sejatinya menyayangimu lebih dari adikku yang selama ini memberikan sayang palsu itu. Seharusnya kamu tahu! Kamu nggak pantas bersamanya, harusnya kamu meninggalkannya dan berpaling padaku. Tapi nampaknya begitu sulit kamu melakukannya. Karena hatimu telah terikat oleh pemikiranmu sendiri bahwa nggak ada orang yang sanggup menyayangimu melebihi adikku. Kamu salah! Masih ada orang lain. Orang itu adalah aku, kakak dari kekasihmu. Tapi—benarkan saja. Aku memang terlalu penakut, aku nggak punya keberanian lebih untuk mendekatimu. Aku nggak punya kekuatan untuk menunjukkan semua rasa yang aku miliki ini untukmu.
Akhirnya aku hanya bisa memperhatikanmu. Dari jarak dekat—diam-diam aku menyanyangimu. Memperhatikan benar-benar bagaimana cara adikku—perempuanmu itu mencurangimu dan kamu hanya diam—pura-pura bisu. Aku di sudut ini, ingin rasanya membongkar perasaanmu untuk adikku. Lalu menatanya lagi untukku. Tapi nyatanya aku nggak bisa. Aku hanya bisa diam-diam menyukaimu—menyayangimu melebihi adikku.
*****
“Tumben Dili ngajak kamu pergi malam-malam? Biasanya dia selalu sibuk lembur, kan?”
“Siapa bilang aku akan pergi sama Dili? Aku ada janji nonton bareng sama Fizal, Kak.”
“Fizal! Kamu masih berhubungan dengan dia? Resti, Dili itu jauh lebih baik dari Fizal. Kamu tahu itu, kan?”
“Aku tahu, Kak. Dili lebih mapan, dewasa, masa depan cerah kalau jadi pasangannya. Tapi sepertinya semua itu lebih cenderung cocok buat kakak. Aku bosan jadi pacar pria super sibuk macam Dili, Kak. Aku jenuh, aku butuh hiburan, bukan malah selalu mengalah, selalu rela membiarkan dia bermesraan dengan kerjaannya terus. Aku butuh have fun, Kak.”
“Lalu kenapa kamu tetap mempertahankan Dili selama ini?”
“Bukan aku yang mempertahakan dia. Tapi dia yang nggak bisa tahan ketika aku putuskan. Dia lemah tanpa aku, Kak.”
“Oleh karena itu kamu punya kebebasan mencurangi perasaannya?”
“Aku nggak pernah mencuranginya, dia tahu hubunganku dengan Fizal. Tapi dia enjoy aja kok.”
“Tapi kamu nggak punya hak buat nyakitin dia, Resti.”
Suara klakson mobil di luar rumah berhasil membuat obrolanku dengan Resti terhenti. Kami berdua saling mendengus kesal mempertahankan pendapat masing-masing yang belum tertuntaskan.
“Aku males debat sama Kakak. Kalau nanti Dili datang, ajak dia ngobrol aja. Kalau dia mau, suruh dia nunggu aku. Bukannya Kakak cocok banget ngobrol sama dia.”
“Resti! Kamu nggak boleh seenaknya seperti ini!”
“Fizal itu cinta pertamaku, Kak. Dili hanya pria yang mendadak muncul ketika Fizal menghilang sesaat. Sekarang Fizal udah kembali, aku lebih memilih mempertahankan cinta pertama daripada cinta dadakan. Harusnya kakak bisa memahami semua ini.”
“…”
“Aku pergi dulu, Kak. Aku nggak mau Fizal menungguku lama di luar sana.”
Resti—itu wanita yang kamu bangga-banggakan selama ini. Selalu seperti itu caranya memperlakukanmu. Ternyata kamu juga sudah tahu. Astaga, kamu tahu tapi kamu seolah nggak mau tahu. Benarkah kamu begitu lemah tanpa Resti—adikku? Dili, kamu nggak pantas disakiti. Kamu lebih pantas dicintai—terlebih lagi dicintai oleh wanita seperti aku yang lebih mampu menyayangimu.
*****
Nggak terlintas sedetik pun semua akan seperti ini. Sekitar dua jam kepergian Resti dan Fizal, terlihat mobil sedan berwarna hitam pekat milikmu tengah diberhentikan di seberang jalan di depan rumahku. Kamu memarkir mobilmu di sana. Kemudian kamu melangkah memasuki halaman rumahku. Lantas menuju keberadaanku di teras rumah yang tengah berdiri santai sembari mendengarkan musik jaz memalui headphone yang masih bertengger di kedua telingaku. Kamu datang dengan wajah kusut, seolah ada sedikit beban yang tergantung di wajahmu. Aku mulai mencemaskanmu, Dili.
“Apa kamu nggak punya kebiasaan lain selain mendengarkan musik di teras rumah. Hampir setiap aku ke sini, kamu selalu melakukan kebiasaan ini.” Kamu menyapaku santai, seolah hendak menciptakan zona saling meledek diantara kita berdua.
“Ada. Selalu berdiam diri di teras rumah ini ketika menunggu kedatanganmu.”
Astaga! Kali ini aku terlalu buru-buru. Kalimat itu melesat cepat dari mulutku hingga membuatmu tertegun dan membuat kedua alismu saling menyatu—heran.
“Harusnya bukan kamu yang menunggu kedatanganku. Hehehehe… apa Resti udah lebih dulu pergi sebelum aku datang?” lagi-lagi kamu begitu santai melontarkan kalimat-kalimatmu yang justru menikam hatimu perlahan.
Aku hanya sanggup melayangkan senyuman datar demi menjaga perasaanmu. Kamu nampak semakin lusuh. Tanpa menunggu tawaranku, kamu melesat cepat merebahkan tubuhmu ke kursi berkayu Jati yang ada di teras rumahku.
“Adikmu terlalu pintar mengambil hatiku, membawanya pergi jalan-jalan. Hingga akhirnya aku terlalu bodoh mengambilnya lagi dari genggamannya.”
Aku lebih memilih diam memperhatikanmu yang semakin lama semakin lusuh—wajahmu kian kusut—bebanmu seolah semakin bertambah. Dili, keluarkan semua keluhamu kepadaku jika memang kamu mempercayaiku untuk menampungnya. Aku rela menjadi tempat penampungan bagi semua keluhanmu.
“Sesakit apapun perasaanku karena adikmu, aku seolah nggak bisa mengakhirinya. Aku terlalu menyayanginya. Hana, apa aku salah jika aku tetap bertahan dalam kondisi ini?”
“Lebih baik aku buatkan teh hangat dulu buat kamu. Kamu butuh bantuan aroma teh untuk melonggarkan urat-urat kelelahanmu itu.”
Semua di luar rencanaku. Kamu menarik lenganku ketika aku berniat menghindarimu—masuk ke dalam rumahku untuk membuatkan secangkir teh untukmu. Genggamanmu begitu sigap membuat jantungku berdentum keras. Lalu kamu memposisikan wajahmu tepat di depan wajahku. Tatapanmu itu, sungguh aku nggak sanggup membalas tatapanmu yang begitu dalam namun begitu lusuh itu. Dili, berhentilah bersikap seperti ini padaku.
“Katakan Hana! Apa aku salah bertahan pada kondisi ini?”
“…” aku hanya terdiam dengan guratan wajah canggung juga cemas.
“Apa yang harus aku lakukan, Hana?”
“…”
“Aku begitu bodoh, Hana. Argh…”
Kamu seolah ingin melepas semua bebanmu—entah beban yang mana. Yang terlihat jelas saat ini, kamu ingin melepas keluhan tentang hubunganmu dengan Resti—adikku yang juga kekasihmu itu.
“Hari ini resmi aku kehilangan pekerjaanku, Na. Perusahan tempatku bekerja sedang terancam kebangkrutan dan terjadi PHK besar-besaran. Entah seperti apa perhitungannya, yang jelas aku termasuk dalam daftar karyawan yang harus di PHK. Kamu tahu, Na? Selama beberapa tahun aku kerja di sana, aku selalu mengabdikan hidupku demi perusahaan itu. Tapi ternyata, aku nggak seberuntung itu untuk tetap dipertahankan dalam perusahan itu. Mobil di seberang sana, hanya itu satu-satunya benda berharga yang aku punya saat ini. Sepertinya ketidak beruntunganku dalam pekerjaanku juga akan berlaku dalam hubunganku dengan adikmu, Na. Aku nggak yakin akan menjadi pria yang pantas untuk Resti pertahankan. Aku… a-ku… ak-u…,”
Ah…semua ini di luar rencanaku. Seperti ada magnet yang menarik tubuhku, aku memeluk tubuhmu dengan beribu kecemasan yang telah bertandang dalam pikiran juga batinku. Aku menyekat keluhanmu dengan sebuah pelukan hangatku pada tubuhmu. Astaga… Dili, kamu membalas pelukanku—sangat erat—lebih erat dan hangat melebihi pelukanku.
“Aku butuh dia, tapi dia nggak ada untukku. Saat ini aku ingin memeluknya, tapi dia terlalu pintar menghindariku. Aku… aku benar-benar pria lemah tanpa…,”
“Dili, aku nggak pernah keberatan melakukan semua ini. Keluarkan semua keluhanmu, aku siap menjadi pendengarmu.”
Bodohnya aku! Nggak seharusnya aku memelukmu—pria yang nyatanya kekasih adikku sendiri. Tapi justru itu, aku begitu menikmati pelukanmu. Aku serasa damai karena bisa memelukmu dalam kondisi yang sepertinya sangat melemahkanmu.
“Hana, tapi apa kamu siap menjadi seseorang yang selalu ada di sampingku?”
“Maksud kamu?”
“Jangan lepas pelukanmu ini hingga nanti semua orang tahu, kamulah yang lebih pantas untuk berada di sampingku. Kamu yang lebih sanggup mendamaikanku. Tolong biarkan pelukan ini lama menghangatkan tubuhku.”
Entah apa yang terlintas dalam benakku. Aku nggak bisa berpikir jernih. Salahkan saja jika aku lebih mengutamakan perasaanku sendiri. Aku lebih memilih mengiyakan permintaan Dili untuk tetap memeluknya dan nggak peduli apapun yang akan terjadi nantinya. Semua ini terjadi diam-diam, aku memberikan rasaku untuknya. Diam-diam aku menikmati suasana ini. Barang tentu kini aku mencurangi Resti—kekasih Dili yang justru adik kandungku sendiri.
*TAMAT*
Jember, 14 Nopember 2011
Samsi Arpanurhi
*Ide yang mucul gara-gara Efek komplikasi menikmati lagunya Terry-->Harusnya Kau Pilih Aku.Hehehehe semangad membaca semuanya ^_~
No comments:
Post a Comment