Sunday, December 11, 2011

[cerpen] Let Me Find Mine


Sejak pagi ini harapan besar itu telah sirna. Kamu yang selama ini kupuja, kini telah bersanding dengan pria lain, saling mengucapkan janji sakral itu berdua. Tahukah kamu seperti apa perasaanku saat ini? Ah iya, bukankah perasaan ini tidak terlalu penting untuk kamu tahu. Lantas tahukah kamu bahwa saat ini aku sedang berupaya tegar duduk di barisan saksi-saksi proses akad nikahmu? Sekali pun kamu tahu, sudah barang tentu kamu anggap ini sebuah kewajaran sebagai kehadiran sahabatmu.

Saat ini kamu begitu cantik dengan kebaya itu. Benarkah aku harus tetap di sini hingga berakhirnya semua prosesi pernikahanmu. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi. Setelah ini aku harus mengatakan sesuatu padamu. Setelah itu, dengan atau tanpa seijinmu, aku akan pergi sebelum mata ini meleleh lusuh di hadapanmu, juga suamimu.

********

Yang aku ingat, pagi selalu nampak cerah semenjak setelah hari pernikahanmu delapan tahun yang lalu. Tapi ini berbeda dengan kondisiku, kesehatanku tidak secerah pagi setiap harinya. Sejak saat aku menghilang dari hadapanmu, kesehatanku drop. Tahukah kamu, aku di sini terbaring lemah tidak berdaya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, semua serba hambar. Pekerjaanku terbengkalai meski nyatanya sudah ada orang kepercayaanku yang menggantikan posisiku sementara ini. Dokter yang menanganiku bilang aku stroke. Bisa kupastikan dokter itu benar, bahkan sangat benar. Ini bukan stroke biasa, karena penyakit ini bermula dari hatiku yang telah patah—hancur berkeping-keping dan terserak ke mana-mana. Hingga menekan batinku, tekanan darahku naik, akhirnya stroke itu tiba.

Sekarang penyakitku semakin parah. Tangan sebelah kananku tidak berfungsi dengan baik, mulutku juga sedikit peot ke sudut kiri. Belum ada obat atau penanganan medis yang mampu menanganinya. Kamu tahu? Sepertinya hanya kamu yang mampu menyembuhkan penyakitku ini. Apa kamu benar-benar tidak tahu tentang perkara ini? Jelas saja iya, sejak saat itu aku juga yang salah—sebut saja begitu. Aku terlalu sok yakin akan bisa hidup tanpamu—tanpa suaramu—tanpa ocehanmu. Aku yang melarikan diri darimu—mengiyakan tawaran menikah dengan wanita pilihan orang tuaku. Lalu pindah ke kota istriku. Kamu tidak salah, sepenuhnya ini salahku. Aku terlalu lemah untuk mempertahankanmu, sekali pun hanya sebatas sahabat. Lantas sekarang aku merindumu, tetap memujimu meski sakit menyerang hebat setiap bayangmu merayap dalam memoriku. Zihan, meski aku tahu kamu telah menjadi milik orang lain, setidaknya aku masih sangat ingin bertemu denganmu. Menatap matamu yang kerap kali membuat bibirku tersungging—penuh kedamaian. Aku sangat inginkan pertemuan itu.

“Ayah, kok obatnya belum diminum?”

Tentu kamu masih ingat Ratih, kan? Wanita pilihan orang tuaku. Dia memang wanita tersabar yang pernah kukenal. Banyak orang bilang, aku beruntung kalau bisa mendapatkan istri seperti dia. Diantara banyak orang itu, kamu salah satu komentatornya. Tapi apa kamu pernah berpikir? Bagiku, menikahinya adalah kesalahan. Karena dia, aku harus menghapus perasaanku untukmu. Dia juga yang membuatku tidak bisa membalas hatimu. Padahal sudah sangat jelas sebelum pernikahanmu, kamu terlebih dulu mengungkap isi hatimu untukku. Tapi nyatanya aku memang terlalu lemah menolak paksaan orang tuaku—meski terbilang kami masih saudara sepupu.

“Ayah nggak butuh obat itu, Bun.”

Jawabku datar tanpa sedetik pun menoleh ke arah Ratih yang tengah duduk di tepian tempat tidurku—mengusap lembut tanganku serta memijit pelan-pelan tubuhku yang masih terbaring di atas kasur.

“Kapan Ayah akan membutuhkannya? Udah delapan tahun lho Ayah selalu bilang seperti itu. Tamu kesembuhan udah ada di depan pintu, tapi Ayah malah menutup pintunya terus.” Ratih selalu berusaha membujukku.
“Tamu kesembuhan itu nggak pernah ada di depan pintu, dia udah punya tempat sendiri. Jadi nggak mungkin dia keluyuran ke rumah orang lain.”
“Rumahnya kan ada di hati Ayah,” ucapan Ratih membuatku tercekat kuat menatapnya.
“Jadi kalau hati Ayah rusak, dia akan kebingungan nyari tempat bersinggah. Bunda tahu, Ayah masih belum bisa melupakannya. Bunda juga tahu, dia pasti akan kecewa melihat sahabatnya terbaring penuh putus asa seperti ini.” Imbuhnya dengan sangat hati-hati.
“Bunda ini membahas apa sih?”

Aku mulai mencium kecanggungan dalam situasi ini. Meski terbilang pernikahan ini mengecewakan, tapi aku tetap harus merawatnya. Itu yang aku yakini selama ini. Memang masih begitu sulit untuk menghapus jejak Zihan, tapi aku harus tetap melakukannya.

“Udah waktunya Gendis pulang sekolah, siapa yang menjemputnya hari ini?”
“Ayah tenang aja, mulai hari ini Gendis ikut bu. Gurunya yang kebetulan berangkat dan pulangnya lewat jalanan depan rumah kita.”
“Tapi nggak enak juga kan, nanti jadi ngerepotin lho.”
“Beliau yang maksa menawarkannya, pastinya beliau nggak keberatan sama sekali.”
“Syukurlah, baik juga Ibu guru si Gendis itu.”

Zihan, aku sudah punya anak, namanya Gendis. Ia gadis mungil yang usianya baru 7 tahun, ia sudah sekolah SD—baru masuk kelas 1. Bukankah dulu kaMu ingin jadi guru SD? Apa kamu sekarang sudah menjadi guru? Sayangnya, aku telah menghilangkan semua identitasmu. Hingga aku kehilangan jejakmu selama delapan tahun ini.

********

Hari ini seperti ada yang memaksaku untuk menelan obat-obatan pahit ini. Setelah sarapan, aku berusaha keras menyobek satu tablet vitamin rasa jeruk sebagai alih-alih pemancing nafsu ketertarikanku meminum obat yang rasanya pahit. Setelahnya, aku berusaha untuk bangkit dari tempat tidur yang hampir selama delapan tahun ini setia menampung tubuh kurus keringku. Ya, aku ingin menikmati udara luar rumah, terlebih lagi menjembur kulitku di halaman belakang rumah. Sepertinya setelah ini Ratih tidak perlu susah payah membujukku hidup sehat, karena sejak hari ini aku sudah mulai bergairah untuk melakukannya.

Dengan sedikit sempoyongan, aku menguatkan diri berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama rumahku—di sana ada Ratih dan Gendis yang sedang berbincang dengan seseorang di balik pintu itu. Sepertinya itu ibu guru si Gendis yang katanya siap mengantar-jemputnya. Aku menyegerakan langkah, berharap bisa menemui guru itu untuk mengucapkan terimakasih atas kebaikannya. Tapi sayang, langkahku terlalu lamban. Aku telat.

“Ayah, mau keluar kok nggak bilang-bilang. Kan bisa bunda bantu jalannya,” Ratih segera memegangi lenganku ketika ia menyadari keberadaanku di belakangnya.
“Aku ingin berusaha sendiri, Bun. Itu tadi Ibu gurunya si Gendis?”
“Iya.”
“Udah bilang terimakasih ke dia?” mataku masih berhamburan ke jalanan depan rumah—memastikan kepergian mereka.
“Udah. Bunda juga ngundang dia buat makan siang di rumah kita hari ini. Dia juga setuju.”
“Baguslah kalau begitu. Biar Ayah juga bisa berterima kasih langsung.”

Ratih membantuku berjalan memasuki rumah. Ia membawaku duduk di dipan belakang rumah—di balik dapur rumahku. Di sini, sinar matahari bisa langsung bebas menyentuh kulitku. Ratih bilang, sinar matahari ini bagus untuk proses penyembuhanku sesuai dengan saran dokter. Meski aku tidak terlalu menghiraukannya, setidaknya tubuhku memang sedikit lebih segar oleh sentuhan sinar matahari ini.

********

Pesona langit yang semakin siang semakin cerah, membuatku betah berada di luar kamar—terlebih duduk menikmati udara siang di kursi goyang yang ada di teras rumah—sembari menunggu kedatangan Gendis dan ibu gurunya.

Dari berpuluh-puluh kendaraan yang lalu lalang di jalanan depan rumahku, akhirnya sebuah motor matik yang dikemudikan seorang wanita—berpakaian seragam batik dengan rambut sebahunya yang masih tertutup helm, kini memasuki halaman rumahku. Perlahan, sang pengemudi menghentikannya tepat di balik pagar kayu jati yang mengelilingi teras rumah. Kulihat Gendis ada dibalik tubuh wanita pengemudi itu. Sepertinya wanita yang sedari tadi kuamati itu adalah ibu guru Gendis.

Mendadak dadaku bergemuruh, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Mataku bertahan pada satu titik—keberadaan wanita itu. Aku tercenung ketika melihat sosok wanita yang kini wajahnya telah bebas dari balutan helm. Setelah delapan tahun, kini aku kembali melihat sosok itu lagi. Meski aku tidak terlalu memperhatikan Gendis, aku tahu sekarang anakku sudah memasuki rumah—berlari ke dalam sambil memanggil bundanya. Kini tinggal aku yang masih duduk tercenung—tetap memusatkan pandangan pada mata wanita yang berdiri semakin dekat di hadapanku. Aku tidak bisa menahan reaksi bibirku. Kedua sudut bibirku tertarik menyamping—mengguratkan senyuman lebar berbalut hembusan napas panjang. Mata itu belum berubah meski sudah lama aku tidak melihatnya. Mungkin hanya senyumanku yang sedikit berbeda. Selebar apa pun senyumanku, tetap saja bibirku akan membentuk senyuman peot efek penyakit stroke yang kuderita. Ingatanku melesat cepat pada kenangan delapan tahun lalu.

********

“Katanya kamu mencintaiku, tapi kenapa sekarang kamu menikah dengan pria ini? Zihan, apa kamu nggak tahu, hatiku sakit melihat pernikahan ini. Tega kamu ngelakuin ini semua sama aku. Ternyata semua yang kamu katakan waktu itu hanya bualan. Aku sakit, Zihan.” Emosiku meluap ketika mengungkap perasaanku di hadapan Zihan dan suaminya.
“Terus, apa kamu pernah tahu, gimana perasaaku ketika kamu nggak bisa ngebalas perasaanku dan lebih memilih perempuan pilihan orang tuamu? Hatiku jauh lebih sakit dari hatimu. Ternyata, pria yang selama ini jadi sahabatku enggak setegas yang aku pikirkan. Dia lemah, terlalu lemah. Aku kecewa.” Zihan membalas ungkapanku dengan emosi yang meluap-luap juga.

Semua tamu undangan memusatkan perhatiannya pada percecokan kami. Suami Zihan—Nucky hanya terdiam dengan terus menggandeng lengan kanan Zihan. Sepertinya itu cara terbaik untuk membuat Zihan tetap tenang. Nucky berusaha untuk membuat situasi santai agar acaranya tidak buyar. Sudah barang tentu ia sebal padaku, tapi ia bisa menyikapinya dengan santai—lebih bijaksana dari yang kubayangkan.

“Bukankah pilihan ini juga karena saranmu? Kamu bilang, dia baik untukku, dia…”
“Itu cuma komentarku, Rama. Aku nggak bilang kalau aku setuju. Tapi sudahlah, aku juga udah nentuin pilihan. Dan itu bukan kamu.”
“Kamu udah nggak cinta sama aku?”
“Enggak sepantasnya kamu tanya itu sama perempuan yang udah jadi istri orang, Rama.” Zihan melengos cepat dari hadapanku. Lengan kanannya masih berada dalam genggaman Nucky. Mereka berdua berbalik badan, kini Nucky melingkarkan lengan kanannya ke pinggang Zihan. Terlihat sangat lembut, ia membawa Zihan menjauhiku. Setelahnya, tanpa berusaha menahan Zihan lebih jauh, aku segera keluar dari acara mencekam itu. Memalukan! Sebutan itu memang pas untukku. Tapi setidaknya aku lega.

********

“Ratih benar, kamu memang udah berubah. Secara fisik iya. Tapi aku tetap bisa melihat sosok Rama melalui senyuman itu. Are you ok, Rama?” wanita itu, Zihan. Ia menjulurkan tangannya padaku. Aku segera menyambutnya. Perasaanku semakin tidak karuan. Maafkan aku, Ratih. Sepertinya aku masih belum sepenuhnya bisa menghapus perasaan ini.
“Kamu…enggak berubah, se-mua masih sama. I’m o k but not much.” Aku mirip remaja yang kehilangan keseimbangan saat berbicara dengan orang yang mereka suka. Tapi aku bukan remaja lagi, harusnya aku lebih bisa mengatur keseimbangan ini. Perasaanku begitu bergejolak, aku kikuk. Untungnya bibirku memang agak peot, jadi terdengar wajar kalau suaraku agak terpatah-patah. Padahal biasanya, peot ini tidak menghalangiku untuk bersuara normal.
“Kamu, ok?” tulul, aku lupa bagaimana merangkai kalimat tanya yang sempurna. Seharusnya dalam kekikukan ini aku diam saja.
“Aku udah jadi guru SD sesuai keinginanku, Ram. Nucky juga nggak melarangnya.” Zihan menjawab sambil memposisikan dirinya duduk di kursi yang ada di seberang meja—di depan kursi goyangku.
By the way, udah punya anak berapa?”
“…” Zihan tercekat sesaat, lalu melempar senyum simpul padaku. Aku menangkap jawaban yang cukup diwakilkan dengan gesture saja. Sepertinya itu bukan pertanyaan bagus untuknya.
“Banyak. Anakmu salah satunya,” ia berusaha santai menjawabnya.

Bukan jawaban ini yang aku inginnya. Tapi baiklah, aku tidak harus mengulangnya lagi. Jawabanmu kuanggap sudah cukup jelas, meski nyatanya masih ambigu.

“Bunda senang, akhirnya kedua sahabat bisa ketemu lagi. Maaf, bunda nggak bilang sama Ayah sebelumnya, niatnya sih pengen ngasih kejutan.”

Ratih mengahampiri kami dengan nampan berisi tiga cangkir teh hangat. Lalu ia menghidangkan masing-masing cangkir itu di sudut meja kami. Kemudian ia duduk di kursi yang ada di sebelah kiri posisiku.
“Makasih ya, Bun.” Senyumanku masih kaku, semoga Ratih tidak sedang memancingku—perasaanku tepatnya. Tapi aku tahu istriku, ia tulus.
“Aku nggak peduli apa yang udah terjadi sama kalian berdua sebelumnya. Yang aku tahu, nggak ada jelek-jeleknya menjaga persahabatan. Zihan, kita semua masih bisa menjadi sahabat, kan? Ayah?”

Aku menatap nanar wajah istriku, begitu juga Zihan. Aku melihat senyum yang terkembang dari bibir Zihan, reflek aku mengikutinya. Kemudian Gendis hadir di tengah melankoli kami bertiga.
“Bunda, Ayah, Gendis boleh kan manggil bu. Zihan bunda?” pertanyaan polos itu melesat dari mulut anakku.
“Tentu dong sayang, tapi kalau di sekolah Gendis harus tetap manggil bu. Zihan dengan sebutan Ibu guru. Ya, nak! Bukan begitu bu. Zihan?” Ratih mengusap kepala Gendis lalu mengangkat Gendis ke pangkuannya. Zihan tersenyum lebar, ia menjulurkan tangannya ke arah kepala Gendis, lalu mengusapnya. Kebetulan posisi duduknya dengan istriku memang cukup dekat.
“Kamu juga bisa anggap Gendis sebagai anakmu sendiri, Zi.” Kalimat itu seenaknya saja melesat dari mulutku. Aku sudah tidak kikuk lagi.

Zihan dan Ratih saling menatapku bersamaan. Apa ada yang salah dengan kalimatku? Aku kebingungan menanggapi reaksi mereka yang mulai ambigu. Lantas kutemui senyum sumringah pertama kali dari bibir istriku. Lega, itu tandanya ia setuju dengan kalimatku. Salahkah aku kalau saat ini aku merasa begitu bahagia? Zihan, akhirnya aku bisa menatap matanya lagi. Ratih, aku pastikan sejak saat ini aku tidak akan pernah menyesal menikahimu. Kamu memang pilihan tepat untuk hatiku. Terimakasih, karena kamu, aku bisa berbagi. Membagi cinta pertamaku untuk Nuncky, dan membagi Gendis untuk Zihan—sahabatku.


TAMAT
Jember, 11 Desember 2011
Samsi Arpanurhi

2 comments: