Sejak pagi ini
harapan besar itu telah sirna. Kamu yang selama ini kupuja, kini telah
bersanding dengan pria lain, saling mengucapkan janji sakral itu berdua.
Tahukah kamu seperti apa perasaanku saat ini? Ah iya, bukankah perasaan ini
tidak terlalu penting untuk kamu tahu. Lantas tahukah kamu bahwa saat ini aku
sedang berupaya tegar duduk di barisan saksi-saksi proses akad nikahmu? Sekali
pun kamu tahu, sudah barang tentu kamu anggap ini sebuah kewajaran sebagai
kehadiran sahabatmu.
Saat ini kamu
begitu cantik dengan kebaya itu. Benarkah aku harus tetap di sini hingga
berakhirnya semua prosesi pernikahanmu. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi.
Setelah ini aku harus mengatakan sesuatu padamu. Setelah itu, dengan atau tanpa
seijinmu, aku akan pergi sebelum mata ini meleleh lusuh di hadapanmu, juga
suamimu.
********
Yang aku ingat,
pagi selalu nampak cerah semenjak setelah hari pernikahanmu delapan tahun yang
lalu. Tapi ini berbeda dengan kondisiku, kesehatanku tidak secerah pagi setiap
harinya. Sejak saat aku menghilang dari hadapanmu, kesehatanku drop. Tahukah kamu, aku di sini
terbaring lemah tidak berdaya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, semua
serba hambar. Pekerjaanku terbengkalai meski nyatanya sudah ada orang
kepercayaanku yang menggantikan posisiku sementara ini. Dokter yang menanganiku
bilang aku stroke. Bisa kupastikan
dokter itu benar, bahkan sangat benar. Ini bukan stroke biasa, karena penyakit ini bermula dari hatiku yang telah
patah—hancur berkeping-keping dan terserak ke mana-mana. Hingga menekan
batinku, tekanan darahku naik, akhirnya stroke
itu tiba.
Sekarang
penyakitku semakin parah. Tangan sebelah kananku tidak berfungsi dengan baik,
mulutku juga sedikit peot ke sudut kiri. Belum ada obat atau penanganan medis
yang mampu menanganinya. Kamu tahu? Sepertinya hanya kamu yang mampu
menyembuhkan penyakitku ini. Apa kamu benar-benar tidak tahu tentang perkara
ini? Jelas saja iya, sejak saat itu aku juga yang salah—sebut saja begitu. Aku
terlalu sok yakin akan bisa hidup tanpamu—tanpa suaramu—tanpa ocehanmu. Aku yang
melarikan diri darimu—mengiyakan tawaran menikah dengan wanita pilihan orang
tuaku. Lalu pindah ke kota
istriku. Kamu tidak salah, sepenuhnya ini salahku. Aku terlalu lemah untuk
mempertahankanmu, sekali pun hanya sebatas sahabat. Lantas sekarang aku
merindumu, tetap memujimu meski sakit menyerang hebat setiap bayangmu merayap
dalam memoriku. Zihan, meski aku tahu kamu telah menjadi milik orang lain,
setidaknya aku masih sangat ingin bertemu denganmu. Menatap matamu yang kerap
kali membuat bibirku tersungging—penuh kedamaian. Aku sangat inginkan pertemuan
itu.
“Ayah, kok
obatnya belum diminum?”
Tentu kamu masih
ingat Ratih, kan?
Wanita pilihan orang tuaku. Dia memang wanita tersabar yang pernah kukenal.
Banyak orang bilang, aku beruntung kalau bisa mendapatkan istri seperti dia.
Diantara banyak orang itu, kamu salah satu komentatornya. Tapi apa kamu pernah
berpikir? Bagiku, menikahinya adalah kesalahan. Karena dia, aku harus menghapus
perasaanku untukmu. Dia juga yang membuatku tidak bisa membalas hatimu. Padahal
sudah sangat jelas sebelum pernikahanmu, kamu terlebih dulu mengungkap isi
hatimu untukku. Tapi nyatanya aku memang terlalu lemah menolak paksaan orang
tuaku—meski terbilang kami masih saudara sepupu.
“Ayah nggak
butuh obat itu, Bun.”
Jawabku datar
tanpa sedetik pun menoleh ke arah Ratih yang tengah duduk di tepian tempat
tidurku—mengusap lembut tanganku serta memijit pelan-pelan tubuhku yang masih
terbaring di atas kasur.
“Kapan Ayah akan
membutuhkannya? Udah delapan tahun lho Ayah selalu bilang seperti itu. Tamu
kesembuhan udah ada di depan pintu, tapi Ayah malah menutup pintunya terus.”
Ratih selalu berusaha membujukku.
“Tamu kesembuhan
itu nggak pernah ada di depan pintu, dia udah punya tempat sendiri. Jadi nggak
mungkin dia keluyuran ke rumah orang lain.”
“Rumahnya kan ada di hati Ayah,”
ucapan Ratih membuatku tercekat kuat menatapnya.
“Jadi kalau hati
Ayah rusak, dia akan kebingungan nyari tempat bersinggah. Bunda tahu, Ayah
masih belum bisa melupakannya. Bunda juga tahu, dia pasti akan kecewa melihat
sahabatnya terbaring penuh putus asa seperti ini.” Imbuhnya dengan sangat
hati-hati.
“Bunda ini
membahas apa sih?”
Aku mulai
mencium kecanggungan dalam situasi ini. Meski terbilang pernikahan ini
mengecewakan, tapi aku tetap harus merawatnya. Itu yang aku yakini selama ini. Memang masih begitu sulit untuk menghapus jejak Zihan, tapi aku harus tetap
melakukannya.
“Udah waktunya
Gendis pulang sekolah, siapa yang menjemputnya hari ini?”
“Ayah tenang aja,
mulai hari ini Gendis ikut bu. Gurunya yang kebetulan berangkat dan pulangnya
lewat jalanan depan rumah kita.”
“Tapi nggak enak
juga kan,
nanti jadi ngerepotin lho.”
“Beliau yang maksa
menawarkannya, pastinya beliau nggak keberatan sama sekali.”
“Syukurlah, baik
juga Ibu guru si Gendis itu.”
Zihan, aku sudah
punya anak, namanya Gendis. Ia gadis mungil yang usianya baru 7 tahun, ia sudah sekolah
SD—baru masuk kelas 1. Bukankah dulu kaMu ingin jadi guru SD? Apa kamu sekarang
sudah menjadi guru? Sayangnya, aku telah menghilangkan semua identitasmu. Hingga
aku kehilangan jejakmu selama delapan tahun ini.
********
Hari ini seperti
ada yang memaksaku untuk menelan obat-obatan pahit ini. Setelah sarapan, aku
berusaha keras menyobek satu tablet vitamin rasa jeruk sebagai alih-alih
pemancing nafsu ketertarikanku meminum obat yang rasanya pahit. Setelahnya, aku
berusaha untuk bangkit dari tempat tidur yang hampir selama delapan tahun ini
setia menampung tubuh kurus keringku. Ya, aku ingin menikmati udara luar rumah,
terlebih lagi menjembur kulitku di halaman belakang rumah. Sepertinya setelah
ini Ratih tidak perlu susah payah membujukku hidup sehat, karena sejak hari ini
aku sudah mulai bergairah untuk melakukannya.
Dengan sedikit
sempoyongan, aku menguatkan diri berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama
rumahku—di sana
ada Ratih dan Gendis yang sedang berbincang dengan seseorang di balik pintu
itu. Sepertinya itu ibu guru si Gendis yang katanya siap mengantar-jemputnya.
Aku menyegerakan langkah, berharap bisa menemui guru itu untuk mengucapkan
terimakasih atas kebaikannya. Tapi sayang, langkahku terlalu lamban. Aku telat.
“Ayah, mau
keluar kok nggak bilang-bilang. Kan
bisa bunda bantu jalannya,” Ratih segera memegangi lenganku ketika ia menyadari
keberadaanku di belakangnya.
“Aku ingin
berusaha sendiri, Bun. Itu tadi Ibu gurunya si Gendis?”
“Iya.”
“Udah bilang
terimakasih ke dia?” mataku masih berhamburan ke jalanan depan rumah—memastikan
kepergian mereka.
“Udah. Bunda
juga ngundang dia buat makan siang di rumah kita hari ini. Dia juga setuju.”
“Baguslah kalau
begitu. Biar Ayah juga bisa berterima kasih langsung.”
Ratih membantuku
berjalan memasuki rumah. Ia membawaku duduk di dipan belakang rumah—di balik
dapur rumahku. Di sini, sinar matahari bisa langsung bebas menyentuh kulitku. Ratih
bilang, sinar matahari ini bagus untuk proses penyembuhanku sesuai dengan saran
dokter. Meski aku tidak terlalu menghiraukannya, setidaknya tubuhku memang
sedikit lebih segar oleh sentuhan sinar matahari ini.
********
Pesona langit
yang semakin siang semakin cerah, membuatku betah berada di luar kamar—terlebih
duduk menikmati udara siang di kursi goyang yang ada di teras rumah—sembari menunggu
kedatangan Gendis dan ibu gurunya.
Dari
berpuluh-puluh kendaraan yang lalu lalang di jalanan depan rumahku, akhirnya
sebuah motor matik yang dikemudikan seorang wanita—berpakaian seragam batik
dengan rambut sebahunya yang masih tertutup helm, kini memasuki halaman
rumahku. Perlahan, sang pengemudi menghentikannya tepat di balik pagar kayu jati
yang mengelilingi teras rumah. Kulihat Gendis ada dibalik tubuh wanita
pengemudi itu. Sepertinya wanita yang sedari tadi kuamati itu adalah ibu guru
Gendis.
Mendadak dadaku
bergemuruh, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Mataku bertahan
pada satu titik—keberadaan wanita itu. Aku tercenung ketika melihat sosok
wanita yang kini wajahnya telah bebas dari balutan helm. Setelah delapan tahun,
kini aku kembali melihat sosok itu lagi. Meski aku tidak terlalu memperhatikan
Gendis, aku tahu sekarang anakku sudah memasuki rumah—berlari ke dalam sambil
memanggil bundanya. Kini tinggal aku yang masih duduk tercenung—tetap
memusatkan pandangan pada mata wanita yang berdiri semakin dekat di hadapanku.
Aku tidak bisa menahan reaksi bibirku. Kedua sudut bibirku tertarik
menyamping—mengguratkan senyuman lebar berbalut hembusan napas panjang. Mata
itu belum berubah meski sudah lama aku tidak melihatnya. Mungkin hanya
senyumanku yang sedikit berbeda. Selebar apa pun senyumanku, tetap saja bibirku
akan membentuk senyuman peot efek penyakit stroke
yang kuderita. Ingatanku melesat cepat pada kenangan delapan tahun lalu.
********
“Katanya kamu
mencintaiku, tapi kenapa sekarang kamu menikah dengan pria ini? Zihan, apa kamu
nggak tahu, hatiku sakit melihat pernikahan ini. Tega kamu ngelakuin ini semua
sama aku. Ternyata semua yang kamu katakan waktu itu hanya bualan. Aku sakit,
Zihan.” Emosiku meluap ketika mengungkap perasaanku di hadapan Zihan dan
suaminya.
“Terus, apa kamu
pernah tahu, gimana perasaaku ketika kamu nggak bisa ngebalas perasaanku dan
lebih memilih perempuan pilihan orang tuamu? Hatiku jauh lebih sakit dari
hatimu. Ternyata, pria yang selama ini jadi sahabatku enggak setegas yang aku
pikirkan. Dia lemah, terlalu lemah. Aku kecewa.” Zihan membalas ungkapanku
dengan emosi yang meluap-luap juga.
Semua tamu
undangan memusatkan perhatiannya pada percecokan kami. Suami Zihan—Nucky hanya
terdiam dengan terus menggandeng lengan kanan Zihan. Sepertinya itu cara
terbaik untuk membuat Zihan tetap tenang. Nucky berusaha untuk membuat situasi
santai agar acaranya tidak buyar. Sudah barang tentu ia sebal padaku, tapi ia
bisa menyikapinya dengan santai—lebih bijaksana dari yang kubayangkan.
“Bukankah
pilihan ini juga karena saranmu? Kamu bilang, dia baik untukku, dia…”
“Itu cuma
komentarku, Rama. Aku nggak bilang kalau aku setuju. Tapi sudahlah, aku juga
udah nentuin pilihan. Dan itu bukan kamu.”
“Kamu udah nggak
cinta sama aku?”
“Enggak
sepantasnya kamu tanya itu sama perempuan yang udah jadi istri orang, Rama.”
Zihan melengos cepat dari hadapanku. Lengan kanannya masih berada dalam
genggaman Nucky. Mereka berdua berbalik badan, kini Nucky melingkarkan lengan
kanannya ke pinggang Zihan. Terlihat sangat lembut, ia membawa Zihan
menjauhiku. Setelahnya, tanpa berusaha menahan Zihan lebih jauh, aku segera
keluar dari acara mencekam itu. Memalukan! Sebutan itu memang pas untukku. Tapi
setidaknya aku lega.
********
“Ratih benar,
kamu memang udah berubah. Secara fisik iya. Tapi aku tetap bisa melihat sosok
Rama melalui senyuman itu. Are you ok,
Rama?” wanita itu, Zihan. Ia menjulurkan tangannya padaku. Aku segera
menyambutnya. Perasaanku semakin tidak karuan. Maafkan aku, Ratih. Sepertinya aku
masih belum sepenuhnya bisa menghapus perasaan ini.
“Kamu…enggak
berubah, se-mua masih sama. I’m o k but
not much.” Aku mirip remaja yang kehilangan keseimbangan saat berbicara
dengan orang yang mereka suka. Tapi aku bukan remaja lagi, harusnya aku lebih
bisa mengatur keseimbangan ini. Perasaanku begitu bergejolak, aku kikuk.
Untungnya bibirku memang agak peot, jadi terdengar wajar kalau suaraku agak
terpatah-patah. Padahal biasanya, peot ini tidak menghalangiku untuk bersuara
normal.
“Kamu, ok?”
tulul, aku lupa bagaimana merangkai kalimat tanya yang sempurna. Seharusnya
dalam kekikukan ini aku diam saja.
“Aku udah jadi
guru SD sesuai keinginanku, Ram. Nucky juga nggak melarangnya.” Zihan menjawab
sambil memposisikan dirinya duduk di kursi yang ada di seberang meja—di depan
kursi goyangku.
“By the way, udah punya anak berapa?”
“…” Zihan
tercekat sesaat, lalu melempar senyum simpul padaku. Aku menangkap jawaban yang
cukup diwakilkan dengan gesture saja.
Sepertinya itu bukan pertanyaan bagus untuknya.
“Banyak. Anakmu
salah satunya,” ia berusaha santai menjawabnya.
Bukan jawaban ini
yang aku inginnya. Tapi baiklah, aku tidak harus mengulangnya lagi. Jawabanmu
kuanggap sudah cukup jelas, meski nyatanya masih ambigu.
“Bunda senang,
akhirnya kedua sahabat bisa ketemu lagi. Maaf, bunda nggak bilang sama Ayah
sebelumnya, niatnya sih pengen ngasih kejutan.”
Ratih
mengahampiri kami dengan nampan berisi tiga cangkir teh hangat. Lalu ia
menghidangkan masing-masing cangkir itu di sudut meja kami. Kemudian ia duduk
di kursi yang ada di sebelah kiri posisiku.
“Makasih ya,
Bun.” Senyumanku masih kaku, semoga Ratih tidak sedang memancingku—perasaanku
tepatnya. Tapi aku tahu istriku, ia tulus.
“Aku nggak
peduli apa yang udah terjadi sama kalian berdua sebelumnya. Yang aku tahu,
nggak ada jelek-jeleknya menjaga persahabatan. Zihan, kita semua masih bisa
menjadi sahabat, kan?
Ayah?”
Aku menatap
nanar wajah istriku, begitu juga Zihan. Aku melihat senyum yang terkembang dari
bibir Zihan, reflek aku mengikutinya. Kemudian Gendis hadir di tengah melankoli
kami bertiga.
“Bunda, Ayah,
Gendis boleh kan
manggil bu. Zihan bunda?” pertanyaan polos itu melesat dari mulut anakku.
“Tentu dong
sayang, tapi kalau di sekolah Gendis harus tetap manggil bu. Zihan dengan
sebutan Ibu guru. Ya, nak! Bukan begitu bu. Zihan?” Ratih mengusap kepala
Gendis lalu mengangkat Gendis ke pangkuannya. Zihan tersenyum lebar, ia
menjulurkan tangannya ke arah kepala Gendis, lalu mengusapnya. Kebetulan posisi
duduknya dengan istriku memang cukup dekat.
“Kamu juga bisa
anggap Gendis sebagai anakmu sendiri, Zi.” Kalimat itu seenaknya saja melesat
dari mulutku. Aku sudah tidak kikuk lagi.
Zihan dan Ratih
saling menatapku bersamaan. Apa ada yang salah dengan kalimatku? Aku
kebingungan menanggapi reaksi mereka yang mulai ambigu. Lantas kutemui senyum
sumringah pertama kali dari bibir istriku. Lega, itu tandanya ia setuju dengan
kalimatku. Salahkah aku kalau saat ini aku merasa begitu bahagia? Zihan,
akhirnya aku bisa menatap matanya lagi. Ratih, aku pastikan sejak saat ini aku
tidak akan pernah menyesal menikahimu. Kamu memang pilihan tepat untuk hatiku.
Terimakasih, karena kamu, aku bisa berbagi. Membagi cinta pertamaku untuk
Nuncky, dan membagi Gendis untuk Zihan—sahabatku.
TAMAT
Jember,
11 Desember 2011
Samsi Arpanurhi
So Sweet..
ReplyDeleteMakasih udah mampir ^_^
ReplyDeletesalam kenal,jabat hangat--->jngn kapok untuk mampir lagi ^_~