#Tawang Alun Rambipuji-Jember
“Septa…”
Suara seorang
pria membuatku terpaksa harus menghentikan langkah kaki yang hendak menaiki
sisi tangga naik bus bagian depan—jurusan Denpasar. Aku melengos cepat ke arah
suara itu. Ternyata ada Shandy yang terseok-seok berlari menuju ke arahku memboyong
tas plastik merah berukuran sedang—yang nampaknya berat sekali isinya.
“Rencananya aku
mau ngajak kamu malming-an, tapi ternyata kamu malah ada di terminal. Mau ke Bali kok nggak ngajak-ngajak, pelit.” Ujarnya sembari
terus berusaha mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
“Lain kali masih
bisa buat malming-an. Tahu dari mana aku di sini?” aku tidak begitu
menghiraukannya meski sedikit tersentak juga ketika melihatnya ada di terminal
ini. Aku melanjutkan langkahku—menaiki anak tangga bus—mataku berkeliaran
mencari bangku terdepan yang masih kosong.
“Bontotan kamu
ketinggalan. Veni cemas banget kalau kardus isi bontotan ini nggak kamu bawa,
dia nyimpulin kamu bakal kelaparan selama di perjalanan. Makanya dia telepon
aku dan minta tolong aku buat nganterin ini ke kamu.” Shandy menjelaskan
sembari terus mengikuti jejakku yang masih sibuk meletakkan tas punggungku ke
loker bus yang ada di atas tempat duduk penumpang.
Veni—adikku
memang terlalu perhatian padaku. Semenjak orang tua kami meninggal karena
kecelakaan lima
tahun yang lalu, ia memang satu-satunya wanita yang bisa kuandalakan dalam
urusan masak memasak, juga mengatur segala keperluanku. Hingga kesannya, ia
lebih pantas jadi kakakku ketimbang jadi adikku. But I can do what she can’t do—nekad.
Got it. Syukurlah masih ada bangku
kosong di deretan depan—belakang sopir. Aku tidak bisa bayangkan betapa
lusuhnya wajahku nantinya kalau aku harus duduk di deretan kursi tengah atau
belakang atau bahkan paling belakang sendiri. Bisa dipastikan perutku akan
mual, kepalaku akan pusing karena melihat pepohonan di sepanjang pinggir jalan—yang
kesannya seperti berbalapan dengan laju bus. Akhirnya aku akan meluapkan semua
isi perut—memalukan. Memang bukan tidak pernah aku mengalami hal semacam itu,
tapi setidaknya kalau masih bisa dicegah, kenapa tidak!
“Bawa pulang
aja, bilang sama Veni, kakaknya akan baik-baik aja walau tanpa makanan itu.”
Aku meluruskan kedua kaki ke depan sambil menyandarkan punggung ini ke kursi
empuk yang sepertinya baru dimodifikasi.
“Jangan bikin
Veni makin cemas. Dibawa aja, mau kamu buang kek, dimakan kek, atau dikasihkan
pak sopir kek, itu urusanmu deh. Asal kamu ambil dulu barang ini.” Shandy mulai
bawel.
“Kamu mau ikut
ke Bali?” aku basa-basi menawarinya.
“Sekali pun
pacarku ini ceroboh dan aneh, tapi aku percaya dia bisa jaga diri meski tanpa
aku. Buktinya dia sengaja nggak pamit biar…,”
“Sorry! Rencanya
aku mau sms kamu kalau busnya udah berangkat. Tapi kamunya tahu duluan dari Veni,”
aku berusaha keras menjeda kalimatnya sebelum ending kalimat itu terasa
menyudutkanku. Buktinya dia sengaja nggak
pamit biar aku nggak cemas dengan kenekatannya. Biasanya begitulah kalimat
lengkapnya. Meski terkadang aku juga tidak paham dengan kalimat itu sepenuhnya,
tapi telingaku sering mengartikannya sebagai ironi.
Shandy adalah
pacarku. Selama ini aku kenal dia sebagai pria yang baik. Setidaknya selama
hampir setahun kami berpacaran, dia tidak pernah mengatur-atur hidupku. Dia
bisa mengahargai semua kebiasaanku dan mad
everything dalam hidupku, termasuk me-refresh
pikiran dengan cara tidur dalam bus di sepanjang perjalanan Jember-Denpasar lalu
pulang lagi ke Jember dengan melakukan hal yang sama. I need a long trip to refresh my mind and make it free for long.
“Ya udah, jaga
diri baik-baik. Kalau pulangnya butuh kujemput, sms aja seperti biasanya. Aku
nggak perlu nunggu di sini sampai busnya berangkat, kan?” ujarnya santai. Mungkin karena memang
dia sudah terbiasa dengan kebiasaanku yang satu ini. Aku melempar senyum simpul
padanya. Shandy mulai membalikkan badannya, hendak melangkah turun dari bus.
“Ah iya, tugasku
yang mata kuliah bu. Ajeng udah kukirim ke e-mail kamu. Aku titip ya, asdos bu.
Ajeng.” Cetusku sembari menyeringai sok manis pada Shandy yang kini langkahnya
terhenti mendadak di ambang pintu. Kaki kananya telah berada di luar bus,
sedang kaki kirinya tercekat sejenak demi menopang tubuhnya yang merespon
kalimatku.
“Ready to serve in love to you!” setelah
melempar kalimat yang terdengar maut itu, ia segera beranjak pergi dari
hadapanku.
Shandy memang
selalu sok manis menanganiku. Tapi bagiku saat ini, tidak ada sesuatu yang
lebih manis dibandingkan perjalananku nantinya. Lima menit berlalu, bus yang aku tumpangi
kini mulai melaju. Aku duduk dengan ibu separoh baya, berkacamata, dengan
rambut ikalnya yang disanggul kecil ke bagian belakang kepalanya. Sesekali si
ibu melesatkan senyumannya padaku, lantas ia sibuk mengatur barang bawaannya
yang ternyata menghabiskan satu jatah kursi di sebelahnya.
Harusnya deretan
kursi yang aku duduki ini cukup untuk tiga orang penumpang, tapi kali ini,
hanya ada dua orang dan kardus besar milik ibu separoh baya ini. Sempat tadi si
ibu beradu argument dengan kenek bus terkait bawaannya. Harusnya bawaannya
terbungkus rapi dalam bagasi, tapi si ibu tetap kekeuh maksa pak kenek agar
bawaannya di taruh di bangku penumpang. Bahkan ia rela menambah harga asalkan
keinginannya dipenuhi. Sepertinya isi kardus itu sangat berharga—emas atau
mungkin berlian. Whatever, yang jelas
aku ingin segera memejamkan mata—memburu ketenangan sepanjangan jalan.
#In a half trip ‘Jember-Denpasar’
Terasa benturan
ringan ketika kepalaku melayang ke arah sebelah kiriku. Benturan itu spontan
membuatku membuka mata. Dengan sejurus pandangan datar, kuperhatikan sesuatu
yang tadinya membentur kepalaku—tepatnya menjadi tempat bersandar sementaranya
kepalaku.
Astaga, ke mana ibu-ibu tadi? Kok bisa ada
pria setampan ini di sebelahku? Astaga, senyumnya…bikin hatiku drop!
“Kalo masih
ngantuk, dilanjut aja tidurnya. Bahuku sama sekali nggak merasa terganggu kok
buat sandaran kepalamu.” Pria itu menawarkan kesediaannya sambil melesatkan
senyum yang semakin membuat hatiku drop.
Jangankan membalas ucapannya, bergumam saja aku tidak sanggup. Sepertinya aku
terpesona, ia memesonaku.
Tanpa pikir panjang,
aku menerima tawaran itu—kembali menyandarkan kepala ke bahunya. Mataku
terpejam sembari berusaha mencari sisi ternyaman dari bahu pria itu. Berulang
kali kusandarkan, namun sejauh ini aku masih belum menemukan sisi ternyaman
itu. Yang ada aku mulai terganggu oleh sedikit dorongan yang seolah menjauhkan
kepalaku dari bahu pria itu. Dorongan itu terasa semakin kuat, kepalaku
terlempar ringan—aku terpaksa membuka mata.
“Bagus deh kalo
kamu melek. Ini bukan kamar tidur, Nona. Kamu lagi di dalam bis, ada baiknya
kalo kamu melek. Karena kalo kamu tidur, penumpang yang lain bisa terganggu
sama tingkah serabutan kamu sewaktu tidur. Salah satunya saya, penumpang yang
duduk di sebelah kamu.”
Aku yakin orang yang baru aja menghardikku
adalah orang yang sama—pria yang tadi nawarkan bahunya buatku. Tapi kok dia
mendadak jadi sengak?
“Bukannya tadi
kamu sendiri yang nawarin itu ke aku? Gimana sih?”
“Ah masa sih,
kapan, enggak sama sekali. Aku baru duduk di kursi ini, eh malah kepala cewek
tragis macam kamu melengos serabutan ke pundakku.” Pria itu berusaha berkilah,
aku hanya melonggo—heran. Apa iya barusan
aku mimpi? Nggak mungkin, dia ini
pria yang sama dengan yang tadi kok.
“Woi… jangan
bengong, Nona!” ia melambaikan tangannya di depan wajahku, reaksinya tetap
sengak. Aku menatapnya, berusaha mencari jawaban tentang siapa ia sebenarnya.
“Males banget
duduk sama cewek macam ini. Kalo aja kursi kosong masih banyak, enggak bakal
deh duduk bareng cewek ini.” Aku bisa mendengar bisikan itu dengan jelas,
sekali pun ia menggumamkannya pelan.
“Aku nggak
pernah minta kamu duduk di sini, aku juga males duduk sama cowok sengak macam
kamu. Mengganggu ketenanganku aja. Okay, sori kalo sikapku tadi ngebuatmu
eneg.” Akhirnya aku bisa membalas keluhannya dengan keluhan juga, menatap
wajahnya dengan sorotan mata elangku—aku melotot tajam kepadanya. Tapi ia sama
sekali tidak merespon permintaan maafku, menyebalkan.
Setelahnya, kami
berdua saling membuang muka. Beberapa penumpang mencuri-curi pandang
memperhatikan tingkah kami, tidak terkecuali dengan pak sopir. Aku bisa
melihatnya tersenyum heran melalui kaca spion yang terpasang di bagian depan
atas kepalanya. Bibirnya tersungging diiringi gelengan kepala ringan. Hampir
semua yang memperhatikan kami, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan
pak sopir. Seperti sudah ada janji, kami mendengus bersamaan—jengah. Kami
kembali saling menatap, lalu segera membuang muka lagi. Menyedihkan, menyebalkan, mengganggu ketengan. Sepanjang perjalanan,
hatiku terus mencaci keadaan ini—hanya dalam hati saja.
Perjalanan kali
ini tidak senyaman seperti sebelum-sebelumnya. Setelah melakukan ritual
basa-basi dengan kenek dan pak sopir, akhirnya ada jawaban tentang si ibu yang
duduk di sebelahku—ia sudah turun di kawasan sebelum memasuki area gunung Gumitir.
Tepatnya di kawasan pusat penjual nasi
pecel, desa Garahan—Jember.
Dalam keadaan
semacam ini, perutku terasa lapar. Lapar ini semakin menyengat ketika bis meliuk-liuk
mengikuti jalur menikung kanan-kiri dalam sepanjang rute melewati gunung Gumitir.
Rasanya ingin turun, kembali ke desa Garahan—menikmati nasi pecel sampai perut
kenyang. Stop thinking about that, Septa!
Kamu cuma berniat mencari ketenangan dalam perjalanan, bukan untuk wisata kuliner.
Stop makan! Badanmu udah terlalu melar. Hatiku berusaha keras melawan
keinginan konyol itu.
Tikungan Gumitir
semakin keras mengocok perutku, lapar berubah jadi mual. Ditambah lagi kepalaku
mulai pusing. Jangan sampai kebiasaan kecilku kambuh setelah hampir dua puluh
tahun menghilang. Mules, kepala puyeng selama melewati tikungan Gumitir—mabuk
dalam bis. Ah… aku benci kebiasaan itu, memalukan saja kalau itu terjadi
sekarang. Umur sudah puluhan tahun masih mabuk kendaraan, disaksikan pria
sengak pula—bisa drop kepercayaan
diriku nantinya.
Brushhhhhhh……
Astaga… susah
payah aku menahan mual, berusaha keras menahan guncangan perut agar tidak
mengeluarkan sesuatu yang tidak di inginkan. Aku berhasil melakukannya, tapi
tidak untuk pria sengak ini. Ia berusaha meneguk sari buah dalam botol yang ada
di genggaman tangan kanannya,. Sebelum mulutnya menguasai tegukan itu, sopir
bis membanting setirnya ke arah kanan sebagai usaha menguasai tikungan. Pria
itu terjerembab ke tubuhku, menumpahkan air dalam mulut juga dalam botolnya.
Lengan bajuku basah, baju warna putih milikku kini berubah menjadi merah jambu
sesuai warna sari buah itu—menyebalkan.
Spontan tubuhku
menghadap ke arahnya. Aku tidak tahu perasaan apa persisnya yang sekarang
kurasakan, aku lebih suka duduk berkacak pinggang sambil memelototinya.
“Puas? Ini
caramu membalas tingkahku tadi?”
“Sori,” wajahnya
datar ketika mencetuskan kalimat bernada enteng itu.
“Sori, sori…
emangnya kamu doang yang bisa sengak, aku juga bisa jauh lebih sengak
menanggapi kata sori itu.” Adrenalinku terpacu tidak beraturan, rasanya ingin
ngomel-ngomel terus. Melihat wajahnya menjadi datar adalah suasana yang spontan
membuat mualku hilang. Tingkahnya menyebalkan tapi membantu juga.
“Terserah kamu
aja, yang penting aku udah minta maaf. Cewek menyebalkan,” umpatnya lagi, tetap
santai seperti tidak ada guratan sesal dalam wajahnya. Lagi-lagi aku yang
terpojok.
Beberapa orang
kembali memperhatikan kami, mereka menyeringai pelan—seolah mendapat hiburan
lucu, gratis, dari kami. Apa-apaan ini?
Pria ini juga ikutan ketawa ketiwi, ya mbok nawarin tisue ato sapu tangan kek.
Bung, saya ini basah kuyup karena ulah anda. Kulipat wajah kusutku sembari
membuang muka darinya. Dengan sisa sehelai tisu yang ada di kantong sweater, kuseka lengan baju bekas
semburan air. Setelahnya aku melengos ke samping kanan, menyandarkan kepala di
jendela kaca bis—kembali memburu ketenangan. Awalnya ingin mencaci-caci, tapi
niat itu menciut—malu.
Berulang kali aku
mencoba memejamkan mata, tetap saja gagal. Bahkan hingga bis ini sekarang mulai
memasuki pelabuhan Ketapang, mataku menjadi secerah langit biru tanpa awan, pikirku
melesat ke suasana sebelum tragedi menyebalkan itu terjadi—seorang pria tampan
dengan kebaikannya menawarkan pundak untuk sandaranku. Apa iya, pria itu sama dengan pria yang sedang duduk di sampingku ini?
Tapi sial, mereka adalah dua pria dengan karakter yang berbeda. Baiklah, sebut saja tadi aku sedang
bermimpi. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih pria ini yang tadi muncul dalam
mimpiku, dan pria dalam mimpi tadi muncul dalam nyataku. Atau mungkin, andai
saja mereka sama, mungkin hatiku akan benar-benar berpaling dari Shandy. Hust…ngomong apa kamu, Septa? Stop,
pikiranmu terlalu dangkal. Jangan sampai kamu menyesal karena kehilangan pria
sabar macam Shandy.
Bersambung……………
No comments:
Post a Comment