Sunday, December 11, 2011

[Fiksi] DECIDED

#Tawang Alun Rambipuji-Jember


“Septa…”

Suara seorang pria membuatku terpaksa harus menghentikan langkah kaki yang hendak menaiki sisi tangga naik bus bagian depan—jurusan Denpasar. Aku melengos cepat ke arah suara itu. Ternyata ada Shandy yang terseok-seok berlari menuju ke arahku memboyong tas plastik merah berukuran sedang—yang nampaknya berat sekali isinya.

“Rencananya aku mau ngajak kamu malming-an, tapi ternyata kamu malah ada di terminal. Mau ke Bali kok nggak ngajak-ngajak, pelit.” Ujarnya sembari terus berusaha mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
“Lain kali masih bisa buat malming-an. Tahu dari mana aku di sini?” aku tidak begitu menghiraukannya meski sedikit tersentak juga ketika melihatnya ada di terminal ini. Aku melanjutkan langkahku—menaiki anak tangga bus—mataku berkeliaran mencari bangku terdepan yang masih kosong.
“Bontotan kamu ketinggalan. Veni cemas banget kalau kardus isi bontotan ini nggak kamu bawa, dia nyimpulin kamu bakal kelaparan selama di perjalanan. Makanya dia telepon aku dan minta tolong aku buat nganterin ini ke kamu.” Shandy menjelaskan sembari terus mengikuti jejakku yang masih sibuk meletakkan tas punggungku ke loker bus yang ada di atas tempat duduk penumpang.

Veni—adikku memang terlalu perhatian padaku. Semenjak orang tua kami meninggal karena kecelakaan lima tahun yang lalu, ia memang satu-satunya wanita yang bisa kuandalakan dalam urusan masak memasak, juga mengatur segala keperluanku. Hingga kesannya, ia lebih pantas jadi kakakku ketimbang jadi adikku. But I can do what she can’t do—nekad.

Got it. Syukurlah masih ada bangku kosong di deretan depan—belakang sopir. Aku tidak bisa bayangkan betapa lusuhnya wajahku nantinya kalau aku harus duduk di deretan kursi tengah atau belakang atau bahkan paling belakang sendiri. Bisa dipastikan perutku akan mual, kepalaku akan pusing karena melihat pepohonan di sepanjang pinggir jalan—yang kesannya seperti berbalapan dengan laju bus. Akhirnya aku akan meluapkan semua isi perut—memalukan. Memang bukan tidak pernah aku mengalami hal semacam itu, tapi setidaknya kalau masih bisa dicegah, kenapa tidak!

“Bawa pulang aja, bilang sama Veni, kakaknya akan baik-baik aja walau tanpa makanan itu.” Aku meluruskan kedua kaki ke depan sambil menyandarkan punggung ini ke kursi empuk yang sepertinya baru dimodifikasi.
“Jangan bikin Veni makin cemas. Dibawa aja, mau kamu buang kek, dimakan kek, atau dikasihkan pak sopir kek, itu urusanmu deh. Asal kamu ambil dulu barang ini.” Shandy mulai bawel.
“Kamu mau ikut ke Bali?” aku basa-basi menawarinya.
“Sekali pun pacarku ini ceroboh dan aneh, tapi aku percaya dia bisa jaga diri meski tanpa aku. Buktinya dia sengaja nggak pamit biar…,”
“Sorry! Rencanya aku mau sms kamu kalau busnya udah berangkat. Tapi kamunya tahu duluan dari Veni,” aku berusaha keras menjeda kalimatnya sebelum ending kalimat itu terasa menyudutkanku. Buktinya dia sengaja nggak pamit biar aku nggak cemas dengan kenekatannya. Biasanya begitulah kalimat lengkapnya. Meski terkadang aku juga tidak paham dengan kalimat itu sepenuhnya, tapi telingaku sering mengartikannya sebagai ironi.

Shandy adalah pacarku. Selama ini aku kenal dia sebagai pria yang baik. Setidaknya selama hampir setahun kami berpacaran, dia tidak pernah mengatur-atur hidupku. Dia bisa mengahargai semua kebiasaanku dan mad everything dalam hidupku, termasuk me-refresh pikiran dengan cara tidur dalam bus di sepanjang perjalanan Jember-Denpasar lalu pulang lagi ke Jember dengan melakukan hal yang sama. I need a long trip to refresh my mind and make it free for long.

“Ya udah, jaga diri baik-baik. Kalau pulangnya butuh kujemput, sms aja seperti biasanya. Aku nggak perlu nunggu di sini sampai busnya berangkat, kan?” ujarnya santai. Mungkin karena memang dia sudah terbiasa dengan kebiasaanku yang satu ini. Aku melempar senyum simpul padanya. Shandy mulai membalikkan badannya, hendak melangkah turun dari bus.
“Ah iya, tugasku yang mata kuliah bu. Ajeng udah kukirim ke e-mail kamu. Aku titip ya, asdos bu. Ajeng.” Cetusku sembari menyeringai sok manis pada Shandy yang kini langkahnya terhenti mendadak di ambang pintu. Kaki kananya telah berada di luar bus, sedang kaki kirinya tercekat sejenak demi menopang tubuhnya yang merespon kalimatku.
Ready to serve in love to you!” setelah melempar kalimat yang terdengar maut itu, ia segera beranjak pergi dari hadapanku.

Shandy memang selalu sok manis menanganiku. Tapi bagiku saat ini, tidak ada sesuatu yang lebih manis dibandingkan perjalananku nantinya. Lima menit berlalu, bus yang aku tumpangi kini mulai melaju. Aku duduk dengan ibu separoh baya, berkacamata, dengan rambut ikalnya yang disanggul kecil ke bagian belakang kepalanya. Sesekali si ibu melesatkan senyumannya padaku, lantas ia sibuk mengatur barang bawaannya yang ternyata menghabiskan satu jatah kursi di sebelahnya.

Harusnya deretan kursi yang aku duduki ini cukup untuk tiga orang penumpang, tapi kali ini, hanya ada dua orang dan kardus besar milik ibu separoh baya ini. Sempat tadi si ibu beradu argument dengan kenek bus terkait bawaannya. Harusnya bawaannya terbungkus rapi dalam bagasi, tapi si ibu tetap kekeuh maksa pak kenek agar bawaannya di taruh di bangku penumpang. Bahkan ia rela menambah harga asalkan keinginannya dipenuhi. Sepertinya isi kardus itu sangat berharga—emas atau mungkin berlian. Whatever, yang jelas aku ingin segera memejamkan mata—memburu ketenangan sepanjangan jalan.



#In a half tripJember-Denpasar

Terasa benturan ringan ketika kepalaku melayang ke arah sebelah kiriku. Benturan itu spontan membuatku membuka mata. Dengan sejurus pandangan datar, kuperhatikan sesuatu yang tadinya membentur kepalaku—tepatnya menjadi tempat bersandar sementaranya kepalaku.

Astaga, ke mana ibu-ibu tadi? Kok bisa ada pria setampan ini di sebelahku? Astaga, senyumnya…bikin hatiku drop!

“Kalo masih ngantuk, dilanjut aja tidurnya. Bahuku sama sekali nggak merasa terganggu kok buat sandaran kepalamu.” Pria itu menawarkan kesediaannya sambil melesatkan senyum yang semakin membuat hatiku drop. Jangankan membalas ucapannya, bergumam saja aku tidak sanggup. Sepertinya aku terpesona, ia memesonaku.

Tanpa pikir panjang, aku menerima tawaran itu—kembali menyandarkan kepala ke bahunya. Mataku terpejam sembari berusaha mencari sisi ternyaman dari bahu pria itu. Berulang kali kusandarkan, namun sejauh ini aku masih belum menemukan sisi ternyaman itu. Yang ada aku mulai terganggu oleh sedikit dorongan yang seolah menjauhkan kepalaku dari bahu pria itu. Dorongan itu terasa semakin kuat, kepalaku terlempar ringan—aku terpaksa membuka mata.

“Bagus deh kalo kamu melek. Ini bukan kamar tidur, Nona. Kamu lagi di dalam bis, ada baiknya kalo kamu melek. Karena kalo kamu tidur, penumpang yang lain bisa terganggu sama tingkah serabutan kamu sewaktu tidur. Salah satunya saya, penumpang yang duduk di sebelah kamu.”

Aku yakin orang yang baru aja menghardikku adalah orang yang sama—pria yang tadi nawarkan bahunya buatku. Tapi kok dia mendadak jadi sengak?

“Bukannya tadi kamu sendiri yang nawarin itu ke aku? Gimana sih?”
“Ah masa sih, kapan, enggak sama sekali. Aku baru duduk di kursi ini, eh malah kepala cewek tragis macam kamu melengos serabutan ke pundakku.” Pria itu berusaha berkilah, aku hanya melonggo—heran. Apa iya barusan aku mimpi? Nggak mungkin, dia ini pria yang sama dengan yang tadi kok.
“Woi… jangan bengong, Nona!” ia melambaikan tangannya di depan wajahku, reaksinya tetap sengak. Aku menatapnya, berusaha mencari jawaban tentang siapa ia sebenarnya.
“Males banget duduk sama cewek macam ini. Kalo aja kursi kosong masih banyak, enggak bakal deh duduk bareng cewek ini.” Aku bisa mendengar bisikan itu dengan jelas, sekali pun ia menggumamkannya pelan.
“Aku nggak pernah minta kamu duduk di sini, aku juga males duduk sama cowok sengak macam kamu. Mengganggu ketenanganku aja. Okay, sori kalo sikapku tadi ngebuatmu eneg.” Akhirnya aku bisa membalas keluhannya dengan keluhan juga, menatap wajahnya dengan sorotan mata elangku—aku melotot tajam kepadanya. Tapi ia sama sekali tidak merespon permintaan maafku, menyebalkan.

Setelahnya, kami berdua saling membuang muka. Beberapa penumpang mencuri-curi pandang memperhatikan tingkah kami, tidak terkecuali dengan pak sopir. Aku bisa melihatnya tersenyum heran melalui kaca spion yang terpasang di bagian depan atas kepalanya. Bibirnya tersungging diiringi gelengan kepala ringan. Hampir semua yang memperhatikan kami, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pak sopir. Seperti sudah ada janji, kami mendengus bersamaan—jengah. Kami kembali saling menatap, lalu segera membuang muka lagi. Menyedihkan, menyebalkan, mengganggu ketengan. Sepanjang perjalanan, hatiku terus mencaci keadaan ini—hanya dalam hati saja.

Perjalanan kali ini tidak senyaman seperti sebelum-sebelumnya. Setelah melakukan ritual basa-basi dengan kenek dan pak sopir, akhirnya ada jawaban tentang si ibu yang duduk di sebelahku—ia sudah turun di kawasan sebelum memasuki area gunung Gumitir. Tepatnya di kawasan pusat penjual nasi pecel, desa Garahan—Jember.

Dalam keadaan semacam ini, perutku terasa lapar. Lapar ini semakin menyengat ketika bis meliuk-liuk mengikuti jalur menikung kanan-kiri dalam sepanjang rute melewati gunung Gumitir. Rasanya ingin turun, kembali ke desa Garahan—menikmati nasi pecel sampai perut kenyang. Stop thinking about that, Septa! Kamu cuma berniat mencari ketenangan dalam perjalanan, bukan untuk wisata kuliner. Stop makan! Badanmu udah terlalu melar. Hatiku berusaha keras melawan keinginan konyol itu.

Tikungan Gumitir semakin keras mengocok perutku, lapar berubah jadi mual. Ditambah lagi kepalaku mulai pusing. Jangan sampai kebiasaan kecilku kambuh setelah hampir dua puluh tahun menghilang. Mules, kepala puyeng selama melewati tikungan Gumitir—mabuk dalam bis. Ah… aku benci kebiasaan itu, memalukan saja kalau itu terjadi sekarang. Umur sudah puluhan tahun masih mabuk kendaraan, disaksikan pria sengak pula—bisa drop kepercayaan diriku nantinya.

Brushhhhhhh……

Astaga… susah payah aku menahan mual, berusaha keras menahan guncangan perut agar tidak mengeluarkan sesuatu yang tidak di inginkan. Aku berhasil melakukannya, tapi tidak untuk pria sengak ini. Ia berusaha meneguk sari buah dalam botol yang ada di genggaman tangan kanannya,. Sebelum mulutnya menguasai tegukan itu, sopir bis membanting setirnya ke arah kanan sebagai usaha menguasai tikungan. Pria itu terjerembab ke tubuhku, menumpahkan air dalam mulut juga dalam botolnya. Lengan bajuku basah, baju warna putih milikku kini berubah menjadi merah jambu sesuai warna sari buah itu—menyebalkan.

Spontan tubuhku menghadap ke arahnya. Aku tidak tahu perasaan apa persisnya yang sekarang kurasakan, aku lebih suka duduk berkacak pinggang sambil memelototinya.

“Puas? Ini caramu membalas tingkahku tadi?”
“Sori,” wajahnya datar ketika mencetuskan kalimat bernada enteng itu.
“Sori, sori… emangnya kamu doang yang bisa sengak, aku juga bisa jauh lebih sengak menanggapi kata sori itu.” Adrenalinku terpacu tidak beraturan, rasanya ingin ngomel-ngomel terus. Melihat wajahnya menjadi datar adalah suasana yang spontan membuat mualku hilang. Tingkahnya menyebalkan tapi membantu juga.
“Terserah kamu aja, yang penting aku udah minta maaf. Cewek menyebalkan,” umpatnya lagi, tetap santai seperti tidak ada guratan sesal dalam wajahnya. Lagi-lagi aku yang terpojok.

Beberapa orang kembali memperhatikan kami, mereka menyeringai pelan—seolah mendapat hiburan lucu, gratis, dari kami. Apa-apaan ini? Pria ini juga ikutan ketawa ketiwi, ya mbok nawarin tisue ato sapu tangan kek. Bung, saya ini basah kuyup karena ulah anda. Kulipat wajah kusutku sembari membuang muka darinya. Dengan sisa sehelai tisu yang ada di kantong sweater, kuseka lengan baju bekas semburan air. Setelahnya aku melengos ke samping kanan, menyandarkan kepala di jendela kaca bis—kembali memburu ketenangan. Awalnya ingin mencaci-caci, tapi niat itu menciut—malu.

Berulang kali aku mencoba memejamkan mata, tetap saja gagal. Bahkan hingga bis ini sekarang mulai memasuki pelabuhan Ketapang, mataku menjadi secerah langit biru tanpa awan, pikirku melesat ke suasana sebelum tragedi menyebalkan itu terjadi—seorang pria tampan dengan kebaikannya menawarkan pundak untuk sandaranku. Apa iya, pria itu sama dengan pria yang sedang duduk di sampingku ini? Tapi sial, mereka adalah dua pria dengan karakter yang berbeda. Baiklah, sebut saja tadi aku sedang bermimpi. Kalau bisa memilih, aku lebih memilih pria ini yang tadi muncul dalam mimpiku, dan pria dalam mimpi tadi muncul dalam nyataku. Atau mungkin, andai saja mereka sama, mungkin hatiku akan benar-benar berpaling dari Shandy. Hust…ngomong apa kamu, Septa? Stop, pikiranmu terlalu dangkal. Jangan sampai kamu menyesal karena kehilangan pria sabar macam Shandy.


Bersambung……………

No comments:

Post a Comment