Judul : Tulisan di atas Pasir
Penulis : Robin Bie Wijaya
Penerbit : LeutikaPrio, Yogyakarta (Cetakan Pertama, Januari 2011)
Tebal buku : 132 hlm
“Karena cinta tak pernah lengkap tanpa kerinduan”
“Karena kebersamaan tak pernah lengkap tanpa kehilangan”
Kumpulan 15 kisah yang bercerita tentang rindu dan kehilangan. Buku ini memberiku pelajaran-pelajaran menarik tentang hal-hal sederhana (pelajaran tentang kehilangan, rindu, kasih sayang). Bahkan buku ini pun memberikan pelajaran menarik tentang karya tulis itu sendiri, lebih tepatnya lagi aku menyebutnya “sense of literary”. Aku belajar tentang bagaimana cara mengusung kisah sederhana menjadi kisah yang luar biasa, belajar tentang mengolah alur agar tidak terasa klise, belajar mengolah konflik agar memikat para pembaca, dan masih banyak lagi yang lainnya. Wah kalau ditulis semua bisa-bisa aku dapat sebutan “Samsi cerewet”. Hehehehe... ^_^
Lima belas kisah, bercerita tentang rindu dan kehilangan, aku memahaminya sebagai tema dari semua kisah yang akan diulas di dalamnya. Nah, sesuai dengan temanya, di sinilah aku mendapatkan penggalan-penggalan keadaan yang ternyata sempat terlewatkan begitu saja “khususnya dalam kehidupanku”. Selain itu, buku ini juga menceritakan kisah yang beraneka ragam dan dikemas dengan alur yang tidak membosankan. Sehingga membuatku betah berlama-lama mengeja setiap kalimat-kalimat menawan dengan gaya penuturan yang mengalir pula.
Dari 15 kisah yang disajikan, ada beberapa kisah yang memberi kontribusi wawasan yang sangat baru “Surprise” buatku. Diantaranya kisah yang berjudul Aku Saja. Tuing tuing! Aku sangat terpesona dengan kisah ini. Aku Saja menyuguhkan arti kehilangan dari sudut pandang yang berbeda. Kehilangan yang biasanya digambarkan dengan ratapan tangis, suasana sendu, mengharu biru, dan keputusasaan, di sini disajikan dengan penuh semangat dan ketegaran. Hal ini terlihat jelas dari beberapa penggalan paragraf terakhir, berisi tentang penjabaran perasaan si tokoh utama “yang mengalami kehilangan”. Memang, sekilas pemaparannya terkesan seperti “si tokoh utama” itu pendendam tapi, penulis mampu menyadarkanku bahwa sebenarnya itu adalah semangat dan ketegaran. Selain itu konflik yang muncul dalam kisah ini cukup menantang.
Berlanjut ke kisah yang berjudul Gaun. Ini dia! Aku baru pertama kali ini bertemu dengan gaya penceritaan yang menggunakan dialog penuh di sepanjang pemaparan kisahnya. Luar biasa! Bahkan dengan melalui dialog pun, penulis sukses membuatku bisa menerima pesan dan menemukan makna tulisan itu dengan baik. Humhumhum ada yang penasaran pesan dan makna yang seperti apakah itu? Makanya...buruan cari bukunya, pinjam ke teman atau mungkin beli, terseralah bagaimana caranya. Lalu temukan jawabannya! Hehehe...
Next...kisah dengan judul Cakes dan Father’s Heart. Dalam kisah ini aku menemukan pelajaran “tentang hidup” yang sempat terlewatkan. Kedua kisah ini menggambarkan betapa hebatnya kasih sayang Ibu dan Ayah yang memang terkesan sederhana tapi sesungguhnya luar biasa. Cakes menyajikan tentang betapa besarnya kasih sayang seorang Ibu, sedangkan Father’s Heart menyajikan betapa besarnya kasih sayang Ayah yang sesungguhnya tidak kalah hebatnya dengan Ibu. Benar benar menunjukkan bahwa “Setiap orang punya cara masing-masing untuk membagi kasih sayang dan cintanya”
Dan yang satu ini…Tulisan diatas Pasir. Wau! Penggambaran tentang kehilangan dan kerinduan, dikemas dengan alur yang anggun, karakter tokoh utamanya juga mampu memikat hatiku, dan kisahnya membuat perasaanku mengharu biru (membaca ditemani dengan tetesan air mata).
Setelah membaca tuntas buku ini, aku menemukan sedikit kesimpulan dari sudut pandangku: semua kisah dalam buku ini mengajarkan tentang seperti apakah rindu dan kehilangan itu. Serta seperti apakah cara terjitu yang dilakukan oleh orang-orang yang mengalaminya agar rindu dan kehilangan itu tetap berkesan dan berarti dalam hidup mereka.
*Ini kali pertamanya aku bisa menulis resensi.maaf maaf kalo nantinya membingungkan.Pliz...kasih kritik dan saran ya!!!Semoga ini brmanfaat buat semuanya ^_^
*Special pake daging sapi super buat Kak Robin_trpacu dari utang janji berkomentar pada karya kakak,akhirnya aku berani membuat resensi ini.tengkiu banget kak...aku banyak ngdpetin pangalaman baru dr buku ini ^_^

Penulis : Robin Bie Wijaya
Penerbit : LeutikaPrio, Yogyakarta (Cetakan Pertama, Januari 2011)
Tebal buku : 132 hlm
“Karena cinta tak pernah lengkap tanpa kerinduan”
“Karena kebersamaan tak pernah lengkap tanpa kehilangan”
Kumpulan 15 kisah yang bercerita tentang rindu dan kehilangan. Buku ini memberiku pelajaran-pelajaran menarik tentang hal-hal sederhana (pelajaran tentang kehilangan, rindu, kasih sayang). Bahkan buku ini pun memberikan pelajaran menarik tentang karya tulis itu sendiri, lebih tepatnya lagi aku menyebutnya “sense of literary”. Aku belajar tentang bagaimana cara mengusung kisah sederhana menjadi kisah yang luar biasa, belajar tentang mengolah alur agar tidak terasa klise, belajar mengolah konflik agar memikat para pembaca, dan masih banyak lagi yang lainnya. Wah kalau ditulis semua bisa-bisa aku dapat sebutan “Samsi cerewet”. Hehehehe... ^_^
Lima belas kisah, bercerita tentang rindu dan kehilangan, aku memahaminya sebagai tema dari semua kisah yang akan diulas di dalamnya. Nah, sesuai dengan temanya, di sinilah aku mendapatkan penggalan-penggalan keadaan yang ternyata sempat terlewatkan begitu saja “khususnya dalam kehidupanku”. Selain itu, buku ini juga menceritakan kisah yang beraneka ragam dan dikemas dengan alur yang tidak membosankan. Sehingga membuatku betah berlama-lama mengeja setiap kalimat-kalimat menawan dengan gaya penuturan yang mengalir pula.
Dari 15 kisah yang disajikan, ada beberapa kisah yang memberi kontribusi wawasan yang sangat baru “Surprise” buatku. Diantaranya kisah yang berjudul Aku Saja. Tuing tuing! Aku sangat terpesona dengan kisah ini. Aku Saja menyuguhkan arti kehilangan dari sudut pandang yang berbeda. Kehilangan yang biasanya digambarkan dengan ratapan tangis, suasana sendu, mengharu biru, dan keputusasaan, di sini disajikan dengan penuh semangat dan ketegaran. Hal ini terlihat jelas dari beberapa penggalan paragraf terakhir, berisi tentang penjabaran perasaan si tokoh utama “yang mengalami kehilangan”. Memang, sekilas pemaparannya terkesan seperti “si tokoh utama” itu pendendam tapi, penulis mampu menyadarkanku bahwa sebenarnya itu adalah semangat dan ketegaran. Selain itu konflik yang muncul dalam kisah ini cukup menantang.
Berlanjut ke kisah yang berjudul Gaun. Ini dia! Aku baru pertama kali ini bertemu dengan gaya penceritaan yang menggunakan dialog penuh di sepanjang pemaparan kisahnya. Luar biasa! Bahkan dengan melalui dialog pun, penulis sukses membuatku bisa menerima pesan dan menemukan makna tulisan itu dengan baik. Humhumhum ada yang penasaran pesan dan makna yang seperti apakah itu? Makanya...buruan cari bukunya, pinjam ke teman atau mungkin beli, terseralah bagaimana caranya. Lalu temukan jawabannya! Hehehe...
Next...kisah dengan judul Cakes dan Father’s Heart. Dalam kisah ini aku menemukan pelajaran “tentang hidup” yang sempat terlewatkan. Kedua kisah ini menggambarkan betapa hebatnya kasih sayang Ibu dan Ayah yang memang terkesan sederhana tapi sesungguhnya luar biasa. Cakes menyajikan tentang betapa besarnya kasih sayang seorang Ibu, sedangkan Father’s Heart menyajikan betapa besarnya kasih sayang Ayah yang sesungguhnya tidak kalah hebatnya dengan Ibu. Benar benar menunjukkan bahwa “Setiap orang punya cara masing-masing untuk membagi kasih sayang dan cintanya”
Dan yang satu ini…Tulisan diatas Pasir. Wau! Penggambaran tentang kehilangan dan kerinduan, dikemas dengan alur yang anggun, karakter tokoh utamanya juga mampu memikat hatiku, dan kisahnya membuat perasaanku mengharu biru (membaca ditemani dengan tetesan air mata).
Setelah membaca tuntas buku ini, aku menemukan sedikit kesimpulan dari sudut pandangku: semua kisah dalam buku ini mengajarkan tentang seperti apakah rindu dan kehilangan itu. Serta seperti apakah cara terjitu yang dilakukan oleh orang-orang yang mengalaminya agar rindu dan kehilangan itu tetap berkesan dan berarti dalam hidup mereka.
*Ini kali pertamanya aku bisa menulis resensi.maaf maaf kalo nantinya membingungkan.Pliz...kasih kritik dan saran ya!!!Semoga ini brmanfaat buat semuanya ^_^
*Special pake daging sapi super buat Kak Robin_trpacu dari utang janji berkomentar pada karya kakak,akhirnya aku berani membuat resensi ini.tengkiu banget kak...aku banyak ngdpetin pangalaman baru dr buku ini ^_^
No comments:
Post a Comment