Saturday, December 10, 2011

Sekadar Coretan Tentang ‘Guru’

25 November—Hari Guru Nasional. Hemhemhem kali ini saya memang melewatkan hari itu ‘baru tahu’. Tepat tanggal itu, saya sibuk berkunjung ke beberapa blog milik teman-teman saya. Di detik-detik menjelang tengah malam, akhirnya mata saya tercekat pada sebuah artikel tentang ‘Guru’ yang diposting pada blog milik teman baru saya. Saya tercenung membacanya, hingga saya hampir tidak punya kata-kata untuk menjabarkan sosok seorang ‘Guru’ itu sendiri. Artikel itu begitu lugas, penuh pesan. Guru! Selama ini saya memang selalu bingung harus menjawab apa jika ada yang bertanya, “Guru itu gunanya apa sih? Guru itu tugasnya apa sih? Guru itu siapa sih?”. Seringnya, sampai detik ini saya hanya bisa menjawab dengan sebetan maut dari bibir saja ‘seutas senyum’ yang setia meredam emosi saya ketika memuncak sewaktu mendengar pertanyaam macam itu. Pertanyaan yang acap kali terkesan meremehkan. Wahwahwah sebut saja saya terlalu sensitip mendengar pertanyaan sok manis itu. Hahahaha…

Baiklah, kali ini saya akan mencoba menjabarkan tentang ‘Guru’. Setahu saya—sebatas saya yang pernah menghabiskan waktu selama empat tahun di kelas FKIP alias Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan bla bla bla lingkungannya. Guru, waktu kecil saya mengenal guru sebagai orang tua saya ketika di sekolah. Layaknya orang tua saya ketika di rumah, maka saya harus mematuhinya, mentaatinya. Saya mengenal penjabaran itu langsung dari kedua orang tua saya. Sederhana sekali, tapi itulah yang menjadi awal perkenalan hangat saya dengan seorang ‘Guru’.

Semakin lama usia saya ‘katanya’ semakin dewasa. Lantas saya mengenal ‘Guru’ lebih dari sebelumnya ‘sedikit lebih’. Saya sedikit lebih tahu bahwa Guru itu juga bisa menjadi seorang sahabat.


Seperti kasus sewaktu saya SMP. Hahahahaha saya masih ingat betul, bagaimana ide kreatif teman-teman sekelas saya mencuat ketika ada woro-woro tentang salam perpisahan kelas tiga—setiap kelas harus memberikan kenang-kenangan unik bagi setiap guru favorit mereka. Waktu itu kami ‘sekelas saya’ memang sepakat menentukan Guru Fisika kami sebagai guru terfavorit. Jelas saja beliau pantas mendapatkan kenang-kenangan unik dari kami—sepaket balsem+sapu tangan. Hadiah itu kami rasa unik untuk beliau karena memang beliau juga punya cara unik untuk menghukum kami. Hahahaha… ambil contoh pada kasus saya. Saya adalah salah satu murid perempuan yang tercatat paling sering mendapat hukuman ‘polesan balsem’ di daun telinga. Terang saja, saya terlampau sering melarikan diri ke kantin untuk beberapa menit awal ketika memasuki jam pelajarannya. Datang telat adalah kebiasaan saya. Hahahaha ujung-ujungnya beliau hapal betul pada tampang saya, polesan balsem melayang nyentrik ke daun telinga saya. Hormat saya, Bapak! Sahabat memang selalu sabar menangani tingkah konyol temannya. Dan begitulah kami, pun Bapak.


Kasus lain, sewaktu kelas satu SMA nilai saya paling bobrok pada Matematika. Guru Matematik saya ‘Perempuan’ mungkin saja pernah capek menggiring saya agar paham dengan segala tetek bengek matematik. Argh… waktu itu saya hampir menyerah. Tapi syukurlah di akhir semester dua, Ibu Guru Matematik mampu membuat otak saya bangkit ‘sedikit’ lebih bisa mikir jernih sewaktu menggarap soal Matematik. Hingga akhirnya beliau menjadi wali kelas saya di kelas dua, nilai Matematik saya hampir seluruhnya memuaskan. Terang saja, beliau sepertinya mengawasi perkembangan saya terus ‘jadi risih kalau masih bobrok’, jiahahahahaha ‘GR’. Belum tamat sampai di situ. Ada banyak penjabaran menawan hingga saya berani mengenal Guru sebagai sahabat. Masih tetap sewaktu saya SMA. Si Ibu Guru Matematik yang sewaktu kelas satu sering mengajar dengan emosi bertegangan ‘cukup’ tinggi, sejak setelah beliau menjadi wali kelas saya khususnya—wali kelas 2 IPA 1 umumnya, tegangan emosi beliau menurun drastis—seperti terhipnotis dengan keuletan para siswa-siswanya yang hampir semuanya energik, menarik, dan menyenangkan. Hiks…agak narsis dikiiit, bolehlah. Yummiiii kami semakin dekat dengannya, beberapa dari kami ada yang sering bersilaturrahim saling berbagi tanaman bunga hias, sekadar menghabiskan makanan di rumahnya, bahkan sempat kami memberi kejutan di hari ULTAH-nya. Kejutan itu—kalau tidak salah mengingat—berbarengan pula dengan ULTAH guru Biologi kami—wali kelas 2 IPA 2. Hanya seorang sahabat yang selalu bisa meredam emosi dengan kasih sayang terhadap setiap temannya.

Itu sepenggal cerita waktu saya mulai remaja. Ternyata memang belum tamat, dan sepertinya tidak akan pernah tamat untuk menjabarkan tentang seorang ‘Guru’. Ketika memutuskan ‘Kuliah’, yang berkecamuk dalam otak saya adalah ‘Seorang dosen pasti beda dengan guru’, tulalitnya saya waktu itu (sekarang masih tetap tulalit sih, tapi dikiiiit). Saya pikir, dunia kampus dan segala embel-embel tentang pembelajaran kampus itu akan kejam dan lebih menjenuhkan. Hahahaha syukurlah, ternyata saya memang terlalu tulalit membayangkan kenyamanan pembelajaran di dunia kampus—FKIP khususnya. Entah atmosfer apa yang membuat saya betah berada di fakultas itu. Padahal tidak sedikit teman saya yang memilih pindah fakultas, bahkan ada yang memilih terminal hingga mesin semangatnya malas lagi dihidupkan. Macam-macam tragedi tersaji ketika menghadapi FKIP beserta warganya—dosen serta mata kuliahnya, tapi syukurlah saya masih bisa bertahan hingga keringat terakhir pembelajaran yang telah ditetapkan. Yang bisa saya simpulkan, ada banyak atmosfer hangat dalam FKIP—Pendidikan Bahasa Inggris khususnya—prodi pilihan saya. Di sini saya menemukan banyak penjabaran tentang ‘Dosen’ yang tidak lain juga seorang ‘Guru’. Tapi ternyata oh ternyata, penjabaran itu tidak bisa dengan mudah diungkapkan begitu saja—penjabarannya terlalu ambigu. Jadi lebih baik saya melempar senyuman terlebar saya untuk mewakili penjabaran-penjabaran itu ^____^

Humhumhumhum bukan apa-apa, saya terlalu bangga dengan mereka—para dosen saya. Dari mereka selama empat tahun membimbing saya di persemedian FKIP, begitu banyak hal tentang ‘Guru’ yang akhirnya saya tahu sedikit lebih dalam. Baiklah, kali ini saya akui betapa hebatnya seorang ‘Guru’. Flash back, perlahan saya menyadari bahwa pengalaman-pengalaman saya sewaktu TK hingga SMA merupakan cermin untuk melihat betapa hebat dan luar biasanya seorang ‘Guru’ itu. Ini bukan tentang dihormati, dihargai, bukan juga tentang nominal rupiah. Tapi ini lebih tentang pembelajaran yang nyaman, penerapan strategi belajar mengajar, metode penyampaian pengetahuan, tehknik pengelolaan kelas, juga memahami kebutuhan peserta didik. Sungguh luar biasa hebatnya seorang guru. Demi menyalurkan ilmunya tepat sasaran, mereka rela menghabiskan waktu luangnya untuk memilih dan memilah strategi—metode—tekhnik pengajaran—juga mendesain materi yang pas untuk para anak didiknya berdasarkan syllabus serta Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditetapkan dalam kurikulum atau acuan pembelajaran.

Saya akan memulai dengan pembahasan tentang RPP—Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau yang sering dikenal dengan Lesson Plan dalam prodi saya. Yup… ini mungkin bukanlah tahap awal yang harus dipersiapkan oleh seorang ‘Guru’, tapi menurut saya, di sinilah letak kepiawaian guru nantinya terpusat. Dalam tahap ini guru haruslah merencanakan dulu tentang apa-apa saja materi yang akan disampaikan sesuai dengan jatah waktu pertemuan kelas yang sudah ditetapkan, sebut saja merangkai teori-teori cara mengajar. Ckckckckck ini bukan perkara mudah ‘bagi saya’. Karena, menyiapkan materi yang benar-benar sesuai dengan SK, KD serta sillabus dalam kurikulum itu tidak bisa seenaknya saja (sak karepe dewe—dalam bahasa jawanya). Mendesain materi saja sudah puyeng bukan main, ditambah lagi harus mengatur waktu agar semua materi disetiap pertemuan bisa tersampaikan dengan nyaman dan memuaskan. Nyaman plus memuaskan bagi guru, juga peserta didiknya. Tahap ini akan menguras tenaga ‘Guru’ jika peserta didiknya memiliki sikap sedikit nyentrik alias bandel sedikit. Hahahahaha…

Masih berkaitan dengan desain materi. Sampai sekarang saya bahkan masih tidak habis pikir—sryllabus, RPP, SK, KD dan segala kawan-kawannya yang saya kenal dengan Perangkat Mengajar itu. Masih tervonis njelimet bagi saya. Akhirnya saya berandai-andai—kalau saja seorang Guru tidak disibukkan dengan tetek bengek itu, mungkin saja Guru akan punya banyak waktu untuk sekadar piknik bersama keluarga setiap harinya. Tapi apa boleh buat, perangkat mengajar itu juga penting—saya akui itu semua adalah pondasi awal untuk mewujudkan pembelajaran yang nyaman dan memuaskan. Jadi poin utamanya dalam kasus ini adalah guru tetap tidak akan bisa lari dari perangkat mengajar. Berdamai dengan tetek bengek mengajar akan jauh lebih menyenangkan dibanding menggerutuinya atau sekadar mencibirnya. Hahahahaha masalahnya saya dulu sempat mengeluhkannya. Sekarang??? Hahahahaha sebut saja sudah mulai Falling in love pada hal tersebut but masih saja I love me more ^_^

Ternyata pembahasan tentang perangkat mengajar belum tuntas sampai di sini. Hemft…saya hanya ingin meluberkan kesadaran saya saja. Kesadaran untuk sigap mengacungkan jempol termanis juga senyum terhangat saya bagi para dosen yang sudah berjuang membaiat saya dalam mata kuliah telaah kurikulum, pengelolaan kelas, strategi belajar mengajar, hingga mengevaluasi hasil belajar. Ckckckck semua itu sungguh luar biasa, Ibu. Giving my great thanks to my mom who always guides me to find many points about learning process. Thanks so much, Mom ^_^

Dari segala bekal di bangku kuliah, akhirnya membuat saya sungguh terpukau pada kehebatan para guru saya sebelumnya. Ambil contoh pada kasus guru Matematik, Kimia, Biologi dan Bahasa Inggris. Ibu Matematik SMA selalu kreatif membuat soal yang berbeda-beda setiap ulangan. Jangankan menyontek, melirik milik kawan sebangku saja sudah bisa dipastikan percuma—sudah barang tentu soalnya berbeda. Akhirnya kami masing-masing dituntut harus mandiri. Tidak berbeda jauh dengan bapak Matematik SD saya—selalu setor hafalan perkalian 1-10 setiap hari sebelum memasuki kelas. Lain lagi dengan Ibu Kimia SMA selalu—telaten membimbing murid yang memang masih belum paham betul. Beliau seolah-olah memberikan private learning kepada mereka. Ada lagi bapak Biologi SMP dan Ibu Biologi SMA memiliki kesamaan yang sama dalam menyampaikan ilmunya. Mereka suka menerapkan berbagai warna kapur tulis, media visual, gambar, juga the real media sebagai media pendukung pembelajarannya. Hal terunik lain dari mereka—selalu ada serkong ‘geser bokong’ di setiap ulangan. Berawal terpaksa yang berakhir terbiasa menjalani semua model pembelajaran mereka. Satu lagi, bapak Bahasa Inggris SMA—yang selalu bisa memberi motivasi melalui kaligrafi dalam setiap bentuk huruf catatannya di papan tulis, sukses membuat saya betah berlama-lama menikmati catatan English. Bahkan catatan SMA itu menjadi sangat membantu dalam pembelajaran kuliah saya. Dan catatan terpenting dalam kisah ini… Jujur, tidak bohong, sungguh ketika kini saya berada pada posisi mereka—Sedikit banyak saya memang telah meniru dan memodifikasi semua model pembelajaran yang telah beliau-beliau terapkan itu. Hehehehe… salam hangat selalu Bapak, Ibu ^_^

Talking about ‘Guru’—langsung saja saya tarik benang merahnya ya. Hehehehe…bagi saya, seorang guru yang benar-benar pantas disebut Guru bukanlah sosok yang menuntut untuk selalu dihormati, dihargai, apalagi ditakuti. Dulu saya hanya sempat tahu, dalam bahasa jawa ‘Guru’ itu memiliki makna digugu lan ditiru. Yup, digugu—dipercaya segala ucapannya dan ditiru­—dicontoh segala tindak tanduknya. Hahahaha yayayayaya…memang benar begitu, tapi kini bagi saya lebih dari itu. Guru itu harus bisa menjadi orang tua yang bersahabat—bisa mendamaikan serta berjiwa besar menerima kedamaian dari sahabat-sahabatnya ‘para muridnya’.

Sepertinya saya terlalu banyak cakap dalam coretan ini. Baiklah, ada baiknya jika saya sudahi saja sampai di sini. Bagi yang merasa coretan ini terlalu mengada-ada, mohon sarannya agar isi coretan ini bisa menjadi benar adanya. Ah tapi jangan lah… saya tidak perlu saran terkait isi coretan ini. Bukankah ini hak saya—pendapat saya—sudut pandang saya. Cihuy……! Overall, jika memang ada salah kata dalam coretan saya, mohon sekiranya dimaklumi dan dimaafkan. Punya gagasan lain tentang sosok ‘Guru’? Mariiiiii yuuuk mariii berbagi….

Meski terbilang ‘agak’ telat, sepertinya ucapan ini tetap harus diucapkan. Selamat Hari Guru buat para Guru—pahlawan pejuangku—pahlawan tanpa tanda jasa. Semangat semangat semangat dan tetap semangat, Guru Indonesia!!!
Lantas, “Guru itu gunanya apa sih? Guru itu tugasnya apa sih? Guru itu siapa sih?”

Sampai coretan terakhir ini saya hanya mampu menjawab, “Guru itu berguna untuk saling mendamaikan sesama dengan bertugas membawa ketulusan bagi kedamaian itu sendiri." Lantas, guru itu siapa? Akhirnya, siapa dan apaaaaa saja bisa kok disebut Guru. Hehehehe…


Panti, 26 November 2011
Nurul Hidayatus Syamsiyyah

No comments:

Post a Comment