Saturday, December 10, 2011

Ini cerita tentang gue…

Ini cerita tentang gue—wanita pendek gemuk berkulit sawo matang mendekati imut alias item mutlak—manis plus murah senyum. Hiks… narsis boleh dong ^_~

Loe semua pasti percaya kalau gue berasal dari desa. Percaya atau enggak, loe tetep harus percaya! Rumah gue di kawasan Gunung Pasang. Ada yang bilang asyik tinggal di dekat gunung yang sudah nonaktif. Tapi buat gue, tetap fifty fifty—asyik udaranya, tapi nggak asyik lagi lingkungannya kalau musim hujan melanda. Banjir lahar dingin jadinya. Hehehehe… bikin was-was pangkat cemas.

Gue Nurul Hidayatus Syamsiyyah, cukup sebut gue Nurul atau Samsi. Tapi apa loe semua tahu? Sejak beberapa tahun lalu, nama sebagus dan semenarik itu terdikte menjadi Rohaye oleh hampir semua orang yang kenal gue di desa Panti kecamatan Panti kabupaten Jember—kabupaten pengolah cemilan suwar-suwir berbahan pokok tape singkong. Maklum, hampir semua orang yang gue kenal di desa ini dulunya sukaaaaa banget nonton sinetron Rohaye—almarhumah Sukma Ayu si pemeran utamanya. Katanya sih, gue mirip sosok Rohaye. Haik... bisa-bisanya mereka saja ngarang cerita…

Nggak ada hal menarik tentang gue, tapi setidaknya masih ada cerita yang bagusnya loe semua simak. Sampai detik ini umur gue masih 22 tahun. Sesuai umur, harusnya sudah ada kisah paling menarik dalam pengembaraan hidup seorang Nurul, sebut saja kisah asmara dalam balutan rumah tangga—kata kawan gue. Ah…tapi buat gue, itu bukan keharusan jika Tuhan belum berkendak. Meski sering juga mendengar pertanyaan ‘Kapan nyusul?’ sewaktu hadir di pernikan kawan, memang bukan sikond yang mengamankan. Tapi syukurlah masih ada kalimat ‘Sedang dalam proses, segera setelah ini. Ditunggu aja tanggal mainnya’ sebagai dalih penguat batin gadis fighter macam gue. Gadis fighter—yang masih tetap berjuang mengupayakan pemantasan jiwa buat seorang pria yang setia menunggunya di seberang kota. Hahahaha…

Hemm… bukan curhat bukan juga dongeng. Gue nggak tahu sebutan apa tepatnya buat tulisan ini. Yang pasti gue harus membagi kisah lama yang selama ini menjadi penyanggah pengembaraan hidup sampai umur ini tercatat harus dewasa. Meski nyatanya masih banyak ketimpangan antara umur dan pemikiran. Hiks…

It's my family

Sewaktu sekolah dasar, gue bukan murid yang pintarnya selangit atau yang patuhnya sejagad raya. Waktu itu gue cuma kenal nilai terbagus berkisar 7-8, itu pun hasil gemblengan buyut Retno—teman sebangku yang otaknya encer luar biasa. Hahahaha herannya dia betah duduk bareng gue—bersahabat. Gue juga cuma kenal nyapu kantor dan ngebawa seceret teh buat para guru, dan sesekali jaga kantin sekolah. Hahahaha ada yang bilang, itu sudah termasuk bukti kepatuhan gue. Tapi buat gue pribadi, itu cuma sekadar tugas piket harian. Nggak lebih.

Cerita ngalir cerita, gue termasuk anak desa dari keluarga pas-pasan. Pas pengen makan enak, bisa. Pas pengen naik mobil mewah, bisa. Pas pengen hidup di rumah gedongan, keturutan. Eits tapi perlu dicatat, makan dapat traktiran, mobil milik tetangga—pas liburan rombongan warga desa ke tempat wisata, rumah gedong juga nyewa. Masa lalu yang berkesan. Hahahahaha…. Tapi beda sama kasus khusus satu ini, ‘Pas pengen uang saku lebih, nelen ludah.’

Seingat gue, semasa SD cuma ada nominal 300-500 rupiah setiap hari di atas tas sekolah. Nggak ada harapan muluk, kecuali jajan ‘mie Krip Krip’ dan ‘mie Lidi’. Enam tahun, kayaknya kisaran nominal itu tetap sama. Semasa SMP nominal itu tetap nggak berubah, bahkan lebih cenderung enggak ada. Haks… sekolahan gue di depan rumah sih. Cuma sekadar melangkah, lapar boleh ijin pulang, pengen nyemil—sudah dapat jatah dari warung bapak/ibu yang ada di depan rumah. Lengkap sudah—gemblengan irit pangkal kaya dari orang tua semasa sekolah. Ckckckckck…

Lulus SMP, masuk ke SMA. Ternyata semua masih sama. Lagi-lagi tentang nominal. Cuma naik 500 perak, jadi berkisar 1000 rupiah saja. Sekitar tahun 2004, nominal itu mungkin cukup besar. Tapi cukup mepet buat gue yang waktu itu harus gonta-ganti dua jenis angkot agar sampai di sekolah. Harusnya ada tambahan, tapi lagi-lagi si bapak dan ibu lebih pandai ngatur segala tetek bengeknya. Bapak selalu siap antar jemput gue sebagai penggantinya. Kasus ini bikin gue mengikuti jejak bapak dan ibu sebagai pedagang—pedagang cemilan dan nasi kuning. Bukan bermaksud menyaingi kantin sekolah, setelah dapat izin dari kepala sekolah sekaligus karena permintaan kawan-kawan—selama setahun lebih, gue resmi menjajakan nasi kuning di waktu istirahat. Syukurlah, dari situ uang jajan bisa bertambah. Sedikit nabung, alhasil bisa beli barang impian Helm. Sekali pun belum diberi kepercayaan nyetir motor sendiri, setidaknya sudah ada helm buat cadangan nantinya. Hahahahaha…

Hingga suatu masa—sebelum usai masa SMA, Tuhan mengambil bapak ke pangkuan-Nya. Hemm…gue nggak bisa nangis waktu itu, tapi mewek sih iya. Hemhemhem gue juga terkagum-kagum melihat kedatangan teman dan para guru yang begitu peduli sama kondisi gue. Nggak nyangka banget, masih banyak orang baik di sekitar gue. Sekali pun bapak sudah pergi, Tuhan tetap ngasih gue banyak pahlawan yang hebat dan menghebatkan. Ibu, kedua kakak gue, teman, pun seorang pria konyol—yang sampai saat ini setia menjaga hatinya cuma buat menjaga hati gue seorang. Katanya sih gitu ^_^

SD,SMP,SMA sudah tersimak. Nggak lengkap rasanya kalau melewatkan kisah semasa nguliah. Lagi-lagi masih terkait dengan nominal. Semakin gede, semakin berkurang jatah uang jajan. Bukan dari bapak/ibu, kali ini my oldest brother yang berposisi sebagai kepala keluarga—dia sedikit lebih jago dari bapak dalam hal ngatur segala tetek bengek keperluan gue. Sampai-sampai gue harus rela mengaplikasikan uang jajan buat keperluan motor gue. Haks… semakin ngirit tapi penuh kejutan di setiap puncak perjuangan. I do love that. Hohoho nggak perlu lah disebutkan berapa nominalnya. Yang jelas, nominal bulanan itu lebih dari cukup—nggak sampai bikin gue berlaku pelit atau geram menjual sawah. Hahaha lagian sawah siapa? Galengan saja nggak punya, apalagi sawah. Overall, many thanks to my oldest brother who always cares to me n guides me to find extraordinary thing through ordinary ways. Believe in me n never let me weak.

Kilasan kisah masa silam yang nggak begitu menarik, kan? Hahahahaha tapi gue senang bisa membaginya buat loe semua. Akhirnya gue simpulkan, hidup memang butuh perjuangan. Buat gue, tanpa perjuangan, hidup kurang berkesan. Begitu juga sebuah pernikahan. Menemukan suami itu perkara mudah. Tapi, menemukan imam yang tepat di waktu yang tepat adalah perjuangan hebat yang hanya bisa diraih oleh jiwa-jiwa hebat bimbingan Tuhan. Semoga gue termasuk dalam kategorinya. Amin Ya Allah…

So now, how’s mine? Just see me in a hide way. Then you’ll meet me as Samsi Arpanurhi. How about you all?  

*Hahahaha mendadak pengen nyoba diksi yg uda lazim bg kebanyakan orang,tp msh kaku bg samsi. Haks... ‘Gue—loe’ n sgala diksi polesannya bikin jari2 kaku menari di atas keyboard about an hour.


Panti, 7 Desember 2011
Samsi Arpanurhi

1 comment:

  1. hehehehehe.......

    hanya berupaya ada tulisan setiap saat ^_^

    SUIP

    ReplyDelete