Wednesday, October 26, 2011

[cerpen] Ketika Kasih Terjerat Profesi

Menata kata, gagasan bicara.
Mencari sela berseru mudah.
Diam, hati menjerit sendu.
Bicara, terhimpit waktu.
Guratan wajah tampakkan lara.
Kedewasaan terampas, namun tak punah.
Ego terserak, namun tak terjamah.
Kerelaan tertindas, namun tak merana.
Kasih terpatri, alasan tak butuh bukti.
Harapan tersudut rindu.
Keluhan pun menderu, kerap tanpa jeda.
Menata kata, cukup dalam hati saja.

            Astrid bergegas cepat keluar dari kamarnya setelah mendengar dentingan penghitung waktu yang berada di atas pintu kamarnya. Sebuah tas punggung mungil bermotif Batik Pekalongan khas Indonesia telah bertengger di punggungnya. Tangan kanannya sibuk menjelajahi keypad ponselnya. Jemarinya menghentikan penjelajahannya tepat pada kontak bernama Beloved Husband dalam ponselnya.
“Rindu ini begitu indah. Walau tak bisa dipungkiri pahitnya juga ada. Aku berangkat ke kampus dulu ya, Mas.”
“Pengakuan itu menyapu dahagaku, membungkam lidahku, tertunduk haru. Aku selalu merasa damai setiap kali mendengar kilasan kalimatmu. Tapi aku juga merasa resah karena pasti ada jarak yang semakin membentang di dalamnya.”
“Ah… suamiku ini pandai merayu. Berguru pada siapa ya?”
“Berguru pada mantan pacarku yang sekarang menjadi teman hidupku dong.”
“Hemmmmmm so sweet!
“Apa hari ini akan ada waktu buat sekedar dinner bersama?”
“Hemmmm buat kita berdua masih belum ada, Mas. Tapi yang pasti, hari ini aku akan pulang sebelum suamiku jenuh menungguku.”
“Semoga saja begitu. Take care, honey.”
            Ekspresi wajah Astrid menjadi kelabu, sikapnya menjadi setengah gila ketika mendengar kalimat terakhir suaminya. Ia seolah menangkap lantunan kalimat keraguan tentang angan-angan yang tidak akan terjadi sesuai rencana. Begitu percakapan berakhir, ia bergegas cepat ke arah dapur. Sebelum ia benar-benar pergi, menu makan malam untuk suaminya harus ia pastikan sudah siap menanti di meja makan.
            Malam membius sang surya. Awan mendung bergelantungan tanpa celah. Kondisi yang tidak begitu baik untuk menemani kesendirian seseorang di rumah. Astrid termangu dengan senyumnya yang sendu. Sedari tadi kornea matanya menari syahdu memperhatikan makanan–makanan yang sejak sore tadi ia masak sendiri—masakan khusus untuk suaminya—masih utuh sepenuhnya. Senyum sendunya menggambarkan bahwa keraguannya tadi benar-benar terjadi. Entah sudah yang ke berapa kalinya ia mendapati kondisi seperti ini. Terlalu sering, hingga ia tidak bisa membedakan lagi mana rasa yang disebut kecewa atau marah. Yang ia pahami hanya ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan lidah. Cukup hati saja yang bicara.
            Mentari pagi ini tidak tersenyum ramah. Mendung semalam masih tetap bertahan dan semakin membius surya. Astrid nampak sangat lelah. Tidurnya begitu lelap hingga tidak sedetik pun kelopak matanya terbuka ketika suaminya mengecup kening halusnya di pagi yang kelabu ini.
            Seakan ada mimpi yang menakutkan. Astrid terperanjat dari tempat tidurnya. Menghempaskan bedcover yang menghangatkan tubuhnya. Matanya berkeliaran ke segala penjuru kamarnya. Iris matanya terpaku pada sehelai kertas yang terpatri di kaca riasnya—sebelah kanan ranjang tempat tidurnya.
Begitu lelapnya tidurmu hingga aku tak kuasa mengusikmu. Lagi-lagi aku harus pergi sebelum sempat melihat senyummu. Happy Anniversary, honey. Malam ini harus ada makan malam di rumah kita, setidaknya untuk saling melempar kata.
            Senyum merona itu kembali tergurat di wajah Astrid. Ia mengatur napasnya yang sempat terengah-engah. Membuka jendela kamarnya, membiarkan udara pagi menyapa ramah kulitnya.
***********
            Kata memang tidak harus terucapkan, karena tertulis saja semua juga sudah bisa tersampaikan. Namun, tetap ada kata yang butuh dilafalkan. Karena keterdiaman cukup melemahkan ketegasan. Begitulah pendapat yang sempat bertandang dalam benak Astrid sembari setia menanti kehadiran pria yang mengharuskan ada makan malam bersama di rumahnya.
            Dering ponselnya memecah ketermanguan Astrid dalam penantiannya. Buru-buru ia memastikan nama penelepon yang tertera di layar ponselnya. Hembusan napasnya berat terasa ketika ia tahu bukan pria—suaminya yang tengah menghubunginya. 
“Ibu benar-benar tidak bisa hadir malam ini?”
“Bukankah saya sudah izin sejak tadi pagi, pak! Saya mohon maaf atas izin dadakan ini. Sungguh, saya siap dengan segala konsekuensi yang akan bapak berikan pada saya.”
“Tapi ini bukan hanya tentang anda, Bu. Ini juga tentang nasib mahasiswa-mahasiswa anda. Ini sidang akhir mereka.  Bukankah ibu paham dengan aturan sidang skripsi di kampus kita?”
“Kali ini saya benar-benar minta maaf, Pak! Saya tetap tidak bisa hadir.”
“Sekalipun mereka yang akan jadi korbannya?”
“Bukankah masih ada waktu lain untuk mereka mempersiapkannya lagi?”
“Tapi, tidak untuk kali ini. Bu Astrid juga sudah tahu hal itu, bukan!”
“…”
“Masih ada waktu untuk bergegas ke kampus. Mohon dipikirkan lagi, Bu. Selamat malam.”
            Langit masih saja tertutup mendung. Membuat malam nampak sangat gelap meski nyatanya jarum pendek penghitung waktu masih terpatri di angka 7. Astrid tetap pada posisinya. Duduk di hadapan hidangan-hidangan khusus untuk hari jadi pernikahannya malam ini.
            Seolah mendapati hujan di musim kemarau. Itulah yang Astrid rasakan ketika melihat sosok pria yang ia nanti telah berdiri tegap—penuh senyuman untuknya.
“Apa malam ini kita benar-benar saling memperhatikan?”
“Rindu ini begitu besar. Sekali pun batu besar menghantam mata ini, kelopak mataku nggak akan terpejam pasrah. Mataku nggak akan rela melewatkan sosokmu begitu saja, Mas.”
            Astrid terpatung dengan senyum kelegaannya. Antara yakin dan tidak, suaminya kali ini benar-benar menepati janjinya. Terlepas dari tanggung jawab yang telah ia sisihkan, wajah para mahasiswanya sempat berhamburan dalam benaknya—sejenak memecah kebahagiannya bersama sang suami malam ini. Sang suami menghampirinya. Melayangkan kecupan lembut pada kening wanita yang sedari tadi setia menantinya. Bukan emas, bukan berlian. Sepasang baju casual trendy bermotif Batik Yogyakarta dengan segala pernak pernik aksesorisnya—sengaja ia siapkan untuk Astrid. Ia memesan baju itu jauh-jauh hari sebelumnya dengan design yang sengaja ia rangkai sendiri untuk hari jadi pernikahannya—sekaligus agar bisa Astrid pakai di persidangan skripsi malam ini. Baju yang sesuai dengan selera Astrid—darah  muda, namun tetap diseimbangkan dengan kondisi formal.
Lantas tanpa basa-basi lagi, ia bergegas ke arah dapur mengambil beberapa rantang. Kemudian memasukkan semua hidangan makan malam ke rantang itu.
“Lho kok… mau diapakan makanan itu, Mas?”
“Kita bawa ke kampus. Setelah sidang selesai. Kita makan malam di lapangan bulu tangkis kampus. Mengenang awal pertemuan kita waktu kuliah dulu sekaligus merayakan Anniversary kita bareng mahasiswa-mahasiswi bimbinganmu. Nggak masalah, kan!”
“Aku pikir kamu nggak pernah memperdulikan profesiku selama ini.”
“Apa aku terlalu datar memperhatikanmu sampai-sampai perhatianku terkesan seperti itu, ya?”
“Entahlah, yang jelas mas Anji sudah membuatku nggak bisa membedakan mana rasa kecewa dan mana rasa marah.”
Really? Please… forgive me more! Please! Terlepas dari itu semua, aku tetap memperhatikanmu dari jauh, istriku. I can’t stop to think about you.”
And I … certaintly. My weakness will be coming if you think me behind me only. Apa setelah ini akan ada banyak waktu untuk kita saling memperhatikan di depan layar kehidupan kita?”
I hope so, we must try. Buruan ganti baju. Apa kau tak memperhatikanku yang sedari tadi sudah siap dengan kostum seleramu ini?”
            Astrid tersenyum genit. Melenggang cepat ke arah kamarnya untuk menyiapkan segala keperluannya. Waktu membawa mereka pada suasana romantis sesuai selera mereka.
Keduanya memiliki kesamaan—pencinta profesi. Astrid mencintai profesinya sebagai Dosen yang kerap kali dituntut selalu ada untuk mahasiswa dan kampusnya. Sedangkan Anji mencintai profesinya sebagai Jurnalist yang tak jarang tertuntut meliput berita di luar kota. Kesenjangan waktu diantara mereka memang cukup membentangkan raga mereka masin-masing. Kasih sayang itu tidak berpembatas. Waktu dan jarak bukanlah alasan untuk membatasi kasih sayang diantara mereka. Begitulah komitmen mereka sejak pertama kali ber – relationship.
Beberapa menit sebelum Astrid turun dari mobil menuju ke ruang sidang—di parkiran depan kantor Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan—Anji sempat menegaskan kalimat yang membuat Astrid semakin mencintai cintanya dan profesinya.
“Aku nggak  pernah keberatan dengan segala aktivitas pilihanmu.”
“Tapi, mas Anji selalu berkosakata ambigu ketika mengijinkanku pergi.”
“Kamu hanya terlalu mendramatisir bahasaku. Bukankah terkadang kita juga sama-sama butuh mengeluh? Ada rasa yang nggak bisa di dalafalkan dengan lidah. Tapi setidaknya hati bisa peka dengan sebuah keluhan yang cukup dalam hati saja.”
“Saling menjaga hati juga butuh diomongkan lho…”
“Bukankah hari ini—malam ini kita sudah membicarakannya? Sadar atau nggak, sejak awal pertemuan kita malam ini kita sudah membicarakannya lho. Bahkan sampai detik ini.”
I just realized that. Kamu cakep banget dengan pakaian itu, Mas.”
“Hemmm… ya jelas dong. Itu semua kan karena istriku yang nggak kalah cantiknya juga malam ini. You look so beautiful tonight.”
            Jika rasa sulit dijabarkan dengan kata-kata , maka hanya tindakan yang mampu menjabarkannya. Wajah merona Astrid mulai terpancar. Bukannya ragu, tapi hanya sedikit malu-malu.  Astrid mencium pipi kiri suaminya, sesaat saja—dalam hitungan detik—cukup tiga detik saja. Lantas ia turun dari mobil—bergegas cepat menuju ruang sidang.
TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 18 Oktober 2011

No comments:

Post a Comment