Wednesday, October 26, 2011

[cerpen] Cinta itu milik siapa?


Setiap sudut ruang ini, menjadi saksi bisu pengintaianku. Cincin yang ada di jari manis kananmu—milik siapakah itu? Lidahku kelu, hati ini hanya bisa bergumam setiap melihat cincin itu selalu bertengger di jari manismu. Salahkah aku, ketika aku selalu tak kuasa menanyakan hal itu padamu. Mungkin benar, aku terlalu takut mendengar jawabanmu.

“Aku udah minta tolong Anto buat antar jemput kamu. Selama seminggu kepergianku, aku harap kamu tetap baik-baik aja.”
“Nggak usah terlalu khawatir gitu. Apa selama ini aku pernah kenapa-kenapa ketika kamu nggak ada di rumah? Enggak, kan!”
“Iya iya, bagaimana pun juga kamu tetap istri terbaik dalam hidupku yang harus terlindungi setiap saat.”
“Ngerayu nih? Nggak mempan.”
“Minta oleh-oleh apa?”
“Hemhemhem… seperti biasa…,”
“Siap, nyonya. Suamimu ini akan tetap memboyong cintanya utuh, cuma buat istri tercintanya—nyonya Okta.”

*********

Aku selalu yakin pada suamiku. Tak pernah sedetik pun ragu, apalagi mencurigainya. Tapi itu dulu—sebelum ia mengenakan cincin yang hingga sekarang melingkar erat di jari manisnya. Kini, aku tak mampu mengusir keraguan dari hatiku. Aku selalu mencurigai kepergiannya, selalu berpikir yang tak sepatutnya aku pikirkan. Benarkan saja jika kali ini aku cemburu buta pada cincin itu.

“Ta, kali ini aku pergi agak lama. Sekitar dua bulan, aku butuh waktu panjang buat membereskan novel ini. Anto akan tetap mengantar jemputmu.”
“Aku bisa pergi kemana aja sendirian kok. Biarin Anto menikmati masa remaja seperti para remaja lain pada umumnya. Kasian dia kalau masa remajanya terampas cuma buat nganter jemput aku.”
“Nggak masalah kok. Dia pasti juga ingin melindungimu, melindungi kakak iparnya selama aku nggak ada di rumah.”
“Tapi aku juga bisa naik motor sendiri kok.”
“Iya, tapi Anto nggak pernah keberatan juga kok.”
“Gimana enaknya aja deh. Aku ikut alur.”

Suamiku, namanya Ringga—seorang penulis novel yang selalu membutuhkan tempat sepi untuk memancing ide-idenya. Itu sebabnya ia sering meninggalkanku—pergi ke tempat yang ia rasa pas untuk menggagas idenya. Kali ini, ia hanya mengecup keningku sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kamar kami berdua. Ada yang janggal dari kebiasaannya beberapa waktu ini. Pertanyaan tentang oleh-oleh yang kuinginkan—telah lama tak pernah ia tawarkan lagi setiap sebelum ia pergi. Apa ia sedang lupa menanyakannya? Atau ia hendak menggantinya dengan pertanyaan lainnya? Aku tetap menguatkan hati agar kecurigaan yang sempat mampir dalam benakku tak menguasai hati dan pikiranku terlalu jauh.

Aku berjalan bersisihan dengannya—lalu menggandeng lengan kirinya. Ia hanya melempar senyum simpul ketika sejenak memandang tingkahku itu. Entah kenapa, aku semakin merasa ada yang beda darinya. Biasanya, ia membalas gandengan itu dengan rangkulan manis sebelah tangannya di sekitar pinggulku. Tapi, kali ini hanya kekakuan yang tergurat di wajahnya.

“Buat beberapa hari dalam minggu ini, handphone­-ku akan kumatikan. Aku bener-bener butuh ketenangan karena deadline novel ini cukup rumit.”
“Hanya beberapa hari aja, kan?”
“Mungkin juga lebih, beberapa minggu atau dua bulan penuh. Kamu…,”
“Aku bisa maklum kok.”

Sebenarnya aku sangat benci pada diriku sendiri ketika aku hanya bisa melempar senyum tenang padanya. Bukan, bukan senyum tenang. Tapi, senyum kegelisahan yang sepertinya memang sengaja kusembunyikan di balik sikap sok tenangku. Berlagak baik-baik saja, padahal sebaliknya. Tapi aku tak bisa mengeluhkan hal itu di hadapannya. Aku selalu bisu merespon kalimat-kalimatnya.

**********

Hari ini ia mengirimkan kabar yang tak pernah kuduga sebelumnya. Belum genap sebulan kepergiannya, ia telah berhasil merampungkan tulisannya—novel romance ke – 13 miliknya. Ia bilang akan sampai di rumah sebelum senja. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, ia ingin memberitahuku tentang sesuatu. Selama ini aku tak pernah luluh dengan rayuannya—aku selalu bisa menetralisir rayuannya. Sekali pun tak bisa kupungkiri, setiap kalimat dalam rayuannya itu begitu indah dan romantis. Tapi, hari ini sangat berbeda. Aku merasa sangat terperangkap dalam rayuannya—hingga keraguan itu enggan sedetik pun mampir ke dalam benakku.

“Aku punya banyak waktu untuk memanjakan ide-ideku, tapi tidak untuk istriku. Begitu kejam kah aku? Hingga aku tak menyadari ketermanguan yang sering menyerang istriku di saat ragaku semakin menjauh.”
“Novel ini yang sudah menjarah waktuku beberapa minggu terkahir, kudedikasikan khusus untuk istri tercintaku. Okta, kamu harus tahu! Betapa sulitnya aku menjabarkan segala perasaanku di hadapanmu. Karena kamu memang beda, kamu bukanlah wanita yang bisa terayu dengan mudah.”
“Aku pikir dua bulan tak akan cukup untuk menjabarkan semua perasaanku melalui novel ini. Tapi ternyata, Tuhan mempercepat dead line pengakuanku hingga aku cuma butuh waktu tak lebih dari sebulan untuk mengemasnya.”
“Sebelum matahari benar-benar tenggelam, sore ini aku akan memperlihatkan novel ini padamu. Isi hatiku, dan segala hal tentang kecurigaan yang mungkin selama ini bertandang dalam benakmu.”
“Aku merindukanmu, sangat merindumu. Aku mohon jangan menghukumku dengan keraguanmu. Karena sungguh, aku tak punya daya untuk mengembannya.”

Rangkaian kalimat itu terlalu membiusku—datangnya bertubi-tubi masuk ke dalam layar message dalam ponselku.

Matahari terus bergeser ke barat. Perputaran waktu semakin mengantarkanku dekat dengan detik-detik kedatangan suamiku. Aku duduk di teras rumah—berdandan ala kesukaan Ringga. Make up sederhana—rambut terurai dengan sedikit poni—mengenakan pakaian apa saja asalkan berwarna biru atau hijau muda. Ia suka melihatku berpenampilan seperti itu—nampak cantik, katanya.

Lama aku menebar senyum penuh harap—mengaharap kedatangan Ringga secepatnya. Aku tahu, Ringga selalu menepati janjinya. Ia juga bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu. Tapi, kenapa kali ini sungguh berbeda. Matahari dan senja mulai hilang—malam kian datang. Tapi, Ringga belum juga pulang. Apa aku terlalu percaya padanya? Salahkah aku jika kini aku kecewa? Tidak! Aku tidak kecewa, karena aku masih yakin Ringga akan datang—sebentar lagi.

Malam semakin menguasai waktu. Empat jam sudah aku menunggunya. Tapi ia belum juga muncul. Kemana Ringga? Perasaanku mulai aneh. Bukan mencurigainya, tapi mencemaskannya.

“Mbak Okta…,”

Anto menegurku yang tengah mondar-mandir di teras rumah dengan kecemasan yang semakin tak menentu.

“Apa mas Ringga udah datang, An?”
“Barusan ada telepon dari rumah sakit. Mas Ringga kecelakaan, mbak.”

Aku tak bisa menjabarkan perasaanku saat ini. Kunang-kunang, aku melihat begitu banyak kunang-kunang yang betaburan di depan mataku. Sepertinya lelah sekali, aku….

***********

“Nggak ada gunanya menangisi keadaan. Lebih baik berdo’a agar dia bisa melewati masa kritisnya.”

Aku hanya bisa menangis dalam rangkulan wanita yang sedari tadi mencoba menenangkanku. Lantas siapa wanita ini, rasanya aku tak pernah mengenalnya. Tapi, sepertinya ia mengenal suamiku. Wajahnya pucat—pakaiannya sedikit kotor dengan bercak darah—ada beberapa perban yang membalut tangan dan keningnya. Ia memberikan sebuah buku. Astaga, aku kenal betul buku itu—buku Ringga yang biasa ia gunakan untuk menulis kerangka novel-novelnya. Aku segera melepas rangkulannya—sedikit menjauhi posisinya sembari mengambil buku yang dimaksud dari tangan wanita itu.

“Maaf. Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di sini, dan buku ini….,”
“Kenalkan, namaku Fajrin. Tapi maaf, aku udah terlanjur janji sama Ringga untuk nggak ngomong apa-apa. Kamu akan menemukan jawabannya dari mulut suamimu sendiri, atau melalui buku itu. Buku itu memang akan dia berikan sama kamu ketika dia pulang. Tapi ternyata, dia kecelakaan. Lebih baik kamu baca saja buku itu.”

Setelah itu, ia bergegas melangkah meninggalkanku. Sebelum akhirnya ia menghilang, ia sempatkan diri untuk sekali lagi meyakinkanku tentang sesuatu.

“Bersyukurlah. Dia suami yang baik. Dan memang hanya kamu wanita yang pantas mendampinginya. Jangan pernah meragukan cintanya. Karena cintanya selalu menjadi milikmu seutuhnya.”

Entahlah. Aku hanya membisu—terpatung dalam dudukku ketika mendengar kalimat wanita itu. Sedangkan Anto, ia masih tetap fokus pada kegalauannya—duduk di atas lantai di depan pintu ruang ICU.

Tanpa membuang waktu lagi, aku segera membuka buku milik suamiku. Foto—bukankah wanita tadi yang ada dalam foto ini? Kenapa wanita itu mencium pipi kiri Ringga penuh makna seperti ini. Cincin itu? Mereka bertukar cincin? Ah… tidak, aku harus tetap tenang. Aku tak akan membiarkan kecurigaan menguasaiku lagi. Ringga sedang terbaring lemah di dalam sana, tak sepatutnya aku mencurigainya.

Aku memang terlalu lemah mendefinisikan cinta di hadapmu. Hingga acap kali aku terlalu kaku memperlakukannya. Aku memang kurang jeli menjaga hati untuk satu cinta. Tapi, aku tak pernah sedetik pun membiarkan hatiku tak terjaga oleh satu-satunya cinta dari wanita terhebat—yang tak pernah lelah menjaga hatiku juga hatinya. Hingga sekuat apapun cinta lain menerjang hatiku, hatiku tetap bertahan—untuk satu cinta—istriku seorang.
Sesuatu memang sempat mengusik keberadaan cinta dalam hatiku. Sesuatu itu adalah masa lalu—tepatnya cinta  pertamaku di masa lalu. Cinta itu berusaha memanjakan hatiku. Terlalu munafik jika aku mengaku tidak terusik sedikit pun. Cinta itu sempat merasuki hatiku lagi—dalam, namun tak lama lantas menghilang. Hatiku tetap bertahan pada satu cinta. Memang, bukan cinta pertama. Aku menyebutnya cinta terakhir yang akan mengisi hatiku selamanya—tak akan pernah terganti—hatiku ini miliknya. Karena tak ada wanita lain yang berhak memiliki cinta dalam hatiku, selain wanita yang kini menjadi teman hidupku. Hanya istriku, bukan masa lalu.

Munafik? Terlalu munafik juga jika aku mengaku tak ada perih dalam hati ini ketika membaca deretan kalimat itu. Belum tuntas aku membaca seluruh isinya, kunang-kunang nampak bertaburan lagi di mataku. Tapi, aku harus tetap bertahan. Aku tak mau pingsan lagi, aku tak ingin melewatkan informasi yang akan disampaikan oleh dokter yang sekarang telah keluar dari ruang ICU. Tuhan masih memberiku kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju keberadaan dokter yang sekarang tengah berdiri—berhadapan dengan Anto.

“Kalian keluarganya?”
“Iya, Dok. Saya adiknya, dan di sebelah dokter itu istri mas Ringga.”
“Syukurlah. Nona, suami anda sudah melewati masa kritisnya. Kakakmu akan segera sembuh, Nak. Silahkan, kalian boleh menjenguknya—bergantian.”

Begitu kejam kah diriku ketika nantinya ada hukuman yang harus kuberikan pada suamiku—yang telah mendustaiku. Sesakit apapun kenyataan ini—tetap tak akan bisa mengalahkan kesakitanku ketika menghukum orang yang aku cintai. Cukup, aku sudah terlalu lemah merasakan kesakitan ini. Aku tak mau menambahnya lagi. Ruang ICU ini sudah cukup menyakitkan untukku. Menghukumnya, sama halnya menghukum diriku sendiri—itu juga berarti menyakiti diri dan hatiku sendiri.

TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 26 Oktober 2011

No comments:

Post a Comment