Wednesday, October 26, 2011

[cerpen] Cukup Hati Kita Saja

 
Tak perduli siapa yang menawarkan hati.
Tak perduli siapa yang siap menjadi pelabuhan cinta ini.
Aku hanya mengenal hatimu.
Hanya hatimu, bukan hatinya, bukan pula lainnya.

“Kok belum berangkat?”
“Aku sedang menunggu istriku yang sekarang sedang bertanya konyol padaku. Hari ini kita berangkat bareng, kan?”
“Hari ini nggak. Bukannya kamu juga udah tahu?”
“…”

Aku tak tahu persisnya perasaan apa yang sedang kurasakan selama kurang lebih satu setengah tahun ini. Mungkin benar aku terlalu mencintaimu. Hingga aku hanya bisa termangu setiap kali mendengar kalimat penegasanmu—yang kerap kali tak mendamaikanku.

Selang beberapa menit ketermanguanku, kudengar suara klakson mobil dari arah depan rumah tempat tinggalku bersama istriku, Rina. Kecemasanku mulai tercecer. Ternyata benar, suara klakson mobil itu—milik pria yang selama ini membuat istriku selalu melewatkanku.

“Hari ini aku berangkat sama Fandi. Itu dia udah datang.”
 “…”
“Malam ini kamu juga nggak perlu menungguku makan malam di rumah. Aku akan dinner bareng Fandi di rumahnya.”
“Hati-hati ya, istriku. Kamu harus pulang dengan tetap membawa hatimu untukku.”
“…”
“Kalau begitu, aku berangkat dulu. Ajak Fandi sarapan sebelum kalian berangkat. Aku nggak mau istriku pergi dengan perut kosong.”

Sebenarnya nyiluh telah menyerang tulang-tulangku, bahkan jiwaku. Tapi entahlah, aku selalu tak bisa menunjukkannya padamu. Karena aku ingin kamu tahu, aku tak selemah itu untuk mempertahankanmu. Sebelum aku benar-benar menghilang dari hadapanmu—tepat ketika langkahku tersendat di ambang pintu utama rumah—kamu berpesan manis untukku. Apa aku memang terlalu tulalit, hingga kalimat sesederhana itu saja, aku anggap sebagai perhatian lebihmu.

“Pergilah jalan-jalan. Kamu butuh me-refresh pikiranmu biar tetap dingin menanganiku.”
“Aku nggak pernah gerah menangani perlakuanmu. Tenanglah, aku bisa diandalkan kok.”

Setelah itu, aku benar-benar pergi dari hadapan Rina. Aku berpapasan dengan Fandi yang masih santai berdiri—menyandarkan tubuhnya di daun pintu mobilnya yang tengah terbuka—sepertinya sengaja ia buka untuk Rina—untuk istriku.

“Masuk dulu, Bro! Gue nggak akan ngebiarin istri gue pergi sebelum sarapan.”

Fandi melempar senyumnya sesaat sebelum menutup pintu mobilnya--ia lalu melangkah menapaki pafling-pafling halaman rumah kami—rumahku bersama Rina. Mungkin aku terlalu sok paham dengan perasaan mereka. Hingga tak sedikit pun ada kecemasan yang hinggap di otakku tentang hal-hal buruk yang mungkin akan mereka lakukan. Atau? Aku terlalu mudah mempercayai seseorang. Entahlah. Aku percaya pada istriku seutuhnya, meskipun pernah beberapa kali aku tak bisa mempercayai Fandi—lelakinya itu.

*********
“Aku nggak bisa menikah sama kamu, karena selama ini aku terlanjur mengenal hati lain di balik sepengetahuanmu.”
“Apa? Jadi selama ini kamu selingkuh, padahal jelas-jelas kita udah tunangan, Rin. Aku nggak percaya. Kamu mundur dari pernikahan ini bukan karena alasan itu, kan. Kamu mundur karena sekarang aku udah miskin. Iya, pasti itu alasannya. Iya, kan?”
“Aku benar-benar nggak bisa mencintaimu lebih, Adim. Bukan karena harta, tapi ini masalah hati.”
“…”
“Aku minta maaf! Aku benar-benar nggak bisa mencintaimu lagi. Pria lain udah berhasil membuatku berpaling darimu. Mengertilah. Aku nggak bisa nyakitin kamu terus.”
“…”
“Aku tersiksa kalau harus hidup bersamamu… aku tersiksa kalau harus nyakitin kamu, Adim.”
“Tersiksa? Seharusnya aku yang tersiksa, bukan kamu. Kamu udah bohong.”
“Aku siap nerima hukumanmu. Asal kamu memaafkanku.”
“Kamu siap?”
“Iya, aku siap demi mendapat maafmu.”
“Baiklah. Menikahlah denganku. Hanya itu hukuman yang pantas buat kamu yang udah membohongiku.”
“…….”
“Bukannya kamu siap dengan hukuman apa saja dariku?”
“Aku nggak bisa menikah dengan kamu. Aku….”
“Aku nggak perduli. Apapun itu, kamu harus menepati janjimu—siap menerima hukuman apapun. Termasuk hukuman menikah denganku.”
“Menikah denganku hanya akan membuatmu semakin sakit, Dim.”
“Aku tahu mana yang baik dan buruk untuk diriku. Menikahlah denganku. Setidaknya aku bisa hidup bersamamu.”
“Tapi percuma kalau kamu hanya memiliki ragaku.”
“Aku nggak perduli. Sekali pun mungkin benar hatimu udah berpaling, aku tetap ingin hidup bersamamu. Aku mohon.”

************

Cinta yang aku jaga untuk Rina—sejak dua tahun sebelum pernikahanku dengannya, benar-benar telah membuatku gila. Begitu gampangnya aku memutuskan hukuman yang mungkin memang benar akan menyakitkan. Dua tahun sebelum pernikahan kami—aku tak tahu berapa lama menit-menit yang Rina miliki untuk mencintaiku. Tapi jelasnya, selama itu hingga saat ini, aku tak pernah lelah mencintainya. Selalu mencintainya.

Malam di wilayahku kali ini terasa berbeda. Biasanya, awan tak seramah ini mempersilahkan bintang berhamburan memberi kilaunya—mendung tebal hingga pagi—bahkan kerap kali hujan lebat tanpa henti. Tapi malam ini memang berbeda dengan malam-malam yang biasanya itu. Aku lebih memilih menghabiskan waktu di halaman belakang rumah—duduk di pinggiran kolam renang sembari merendamkan separuh kakiku.

Malam ini—malam Kamis. Aku ingin membebaskan pikiranku dari segala jenis deadline pekerjaanku sebagai Psikiater. Sementara saja, kusisihkan dulu tentang para pasienku yang sedari tadi sepertinya bingung mencariku—meneleponku—sms—bahkan sempat beberapa diantaranya sengaja datang ke rumah. Tapi tak satu pun kuhiraukan. Aku menenggelamkan ponselku ke dalam tas kerjaku yang sejak tadi siang kuletakkan di atas meja kerja—di ruang kerjaku—di ruangan pojok kanan depan yang ada di rumahku.

Kebebasan ini sengaja kupersiapkan untuk Rina—istriku. Tepatnya, untuk membicarakan sesuatu dengannya. Keterdiamanku di pinggir kolam sejak setengan jam lalu, berhasil menarik perhatian istriku untuk menegurku sembari membawa dua cangkir kopi hitan panas di tangannya.

“Kopi. Cukup asik minum kopi di suasana penuh bintang seperti malam ini? Apa nggak ada kebiasaan lain yang lebih nyaman selain merendam kaki di malam hari? Kamu terbiasa melakukannya setiap malam. Kamu bisa masuk angin, Dim.”

Aku tak berpindah dari posisiku. Aku hanya melempar senyum simpul untuk perhatian Rina yang mendadak terdengar sederhana di telingaku. Ia mengikuti caraku, duduk di sebelah kananku dengan membuat sedikit jarak dari posisi dudukku.

“Rin, sebenarnya aku nggak pernah lelah mengulur layang-layang itu. Bahkan aku masih punya banyak stok senar untuk setiap saat mengulurnya. Tapi sepertinya, layang-layang itu mulai berlubang. Apa mungkin layang-layang itu akan segera rusak?”
“Kamu udah tahu jawabannya sejak sebelum kita hidup bersama. Tapi toh kamu tetap bersih keras mengulur layang-layang itu. Kenapa sekarang kamu jadi cemas seperti ini?”
“Dulu, aku masih nggak bisa percaya dengan pengakuanmu tentang hati pria lain itu. Saat itu, yang ada di otakku hanya kamu yang mencoba pergi karena aku udah jatuh miskin. Saking besarnya cintaku untukmu. Aku bisa kuat bejuang lagi, hingga aku benar-benar bisa mencukupi kebutuhan lahirmu. Bahkan semua ini lebih dari yang kupunya sebelumnya. Meski aku tahu, ini masih nggak sepenuhnya mencukupi kebutuhan batinmu. Sekarang aku semakin paham. Ternyata, aku memang salah menilaimu. Harta memang bukan tujuan utamamu. Buktinya, akmu tetap nggak bisa mencintaiku lagi sekali pun hartaku udah lebih dari cukup.”
“Hahahahahaha…..ternyata kamu orangnya picik juga ya. Dodol.”
“Aku nggak pernah merasa tersiksa dengan perlakuanmu selama ini. Aku bahagia, Rin. Hidup bersama orang yang aku cintai, sekali pun sulit bagiku untuk mendapat balasannya. Tapi, dari situlah aku belajar rela.”
“Weits…kamu nggak bermaksud menghukumku lagi, kan?”
“Nggak kok. Bahkan sepertinya udah saatnya hukumanmu berakhir.”
“Maksudmu?”
“Kamu siapkan saja segala keperluan perceraian kita.”
“………”
“Fandi memang pria yang baik, sekali pun aku nggak yakin dia bisa membuatmu bahagia. Tapi dia nggak kalah baikknya sama aku.”
“Dalam kondisi yang seperti ini, kamu masih saja narsis. Baik? Seenaknya ngasih hukuman, seenaknya mau melepaskan hukumannya, tanpa kompromi dengan pasal-pasal lainnya atau terdakwanya. Itu yang disebut baik? Kamu yakin, kamu ini orang yang baik?”
“May be…”
“Kalau kamu nggak yakin Fandi bisa membahagiakanku, lalu kenapa kamu ingin menghentikan hukuman ini? Bukankah menurutmu, memilikiku adalah salah satu caramu untuk melindungiku?”
“Entahlah.”
“Lalu…”
“Aku siap melepasmu, Rin.”
“……”

Satu yang nggak bisa aku lakukan selama ini—memeluk, menyentuh hangat tubuh Rina—istriku sendiri. Aku bisa dengan mudah mencium keningnya ketika ia lelap dalam tidur panjangnya. Tak lebih dari sekedar cium kening saja. Tapi kali ini, aku harus melakukannya sebelum nantinya aku benar-benar tak bisa menyentuhnya.

“Biarkan aku memelukmu untuk yang pertama dan yang terakhir dalam pernikahan kita.”

Hangat sekali. Aku merasa damai dalam pelukannya saat ini. Terasa semakin hangat, damai, dan nyaman ketika ia membalasnya. Aku berharap pagi esok hari malas untuk menyapa wilayahku. Sehingga aku bisa dengan puas memeluk istriku—yang sebentar lagi akan menjadi mantan istriku.

“Adim, aku ingin kamu berjanji sesuatu sama aku.”
“Tolong jangan minta apapun yang membuatmu melepas pelukan ini, Rin.”
“Berjanjilah….”
“Tolong jangan katakana, Rin!”
“Berjanjilah kamu…..”
“Aku mohon jangan, Rin!”
“Berjanjilah kamu nggak akan pernah melepasku sampai kapan pun. Begitu banyak hati yang kutemui, hanya hatimu yang terbaik untuk cintaku ini, Suamiku.”

Hampir pingsan aku dibuatnya. Kalimatnya itu membuat tulangku remuk. Aliran darahku seakan hendak terhenti, tapi jangan. Aku tak akan membiarkan darahku berhenti mengalir karena aku masih ingin menikamati hidup bersamanya—bersama istriku—hanya bersama Rina dan cintanya.


TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 24 Oktober 2011

No comments:

Post a Comment