Friday, October 28, 2011

[cerpen] Tanpa Kekasih


Bagiku, kamu selalu bisa diandalkan. Seperti kakak yang selalu menjaga adiknya, seperti orang tua yang tak pernah berhenti melindungi anaknya. Terlebih, kamu seperti suami yang senantiasa membahagiakan istrinya. Selalu begitu caramu menjagaku, melindungi dari apa saja yang membahayakan raga dan batinku, bahagiakanku sepanjang waktu. Kamu selalu mengerti aku, memahamiku hingga terkadang tanpa sadar kamu mengorbankan hakmu demi mengalah untukku.

**********
Malam itu hampir larut—setelah memastikan kesiapan gedung untuk acara resepsi pernikahan kita, kamu dan aku segera keluar dari gedung itu. Buru-buru memasuki mobil sebelum langit benar-benar menitihkan air langitnya.

“Gimana kalau kita bagi tugas aja, Dra?”
“Kayaknya nggak perlu deh, Yas. Kita masih bisa pergi bareng ke mana-mana selama seminggu ini.”
“Tapi, kita juga harus ngikut adat keluarga kita, Dra.”
“Tiyas, jatah kita dipingit kan baru akan dimulai  minggu depan. Jadi seminggu ini kita masih bisa nyiapin kekurangan itu bareng-bareng.”
“Andra, ada baiknya kalau kita ikuti saja saran keluarga kita. Kurangi jatah ketemuan mulai sekarang. Hemmm bukan apa sih, biar kangennya bisa doble.”
“Tapi cincin yang kemarin itu masih kegedean di jari kamu, Yas. Jadi kita harus balik lagi buat ngepasin. Aku antar kamu aja, ya.”
“Biar Bunda aja yang nganter aku. Nah kamu ke butik aja, cek baju pernikahan kita sekali lagi. Sekalian dibawa pulang aja kalau semua udah beres.”
“Tapi…,”
“Bunda nggak akan ngebiarin anaknya kelimpungan, Dra. Apa kamu masih nggak percaya kalau bunda bisa ngejaga aku?”
“…”

Kamu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menyetujui saranku. Setelahnya, kamu hidupakn mesin mobil yang tengah kita tumpangi—bergegas menjalankannya. Sepanjang jalan, hampir tak ada obrolan lain selain pembahasan tentang pernikahan kita yang akan berlangsung dua minggu lagi. Kita saling berbagi pendapat dan angan-angan kehidupan dalam rumah tangga kita nantinya. Mendung yang bergelantungan di langit masih terus mengendap-endap, seolah hendak menguping pembicaraan kita melalui tetesan air hujannya.

“Andra, pas kita udah jadi suami istri nanti, kamu pengennya aku masak apa tiap harinya?”
“Hemhemhem… apa aja deh. Yang penting masaknya pakai cinta, ya.”
“Ooo so pasti dong! Any way, kita akan bulan madu ke mana hayo?”
“Kalau aku sih pengennya ke daerah yang dingin-dingin kayak pegunungan gitu. Biar kita bisa saling menghangatkan. Hehehehe… gimana kalau bulan madunya ke Bromo aja?”
“Hemmm… boleh juga sih. Tapi, aku pengennya ke daerah pantai. Ke Lombok aja, ya?”
“Coba deh bayangin dulu! Lombok itu cuacanya lumayan panas lho, meski nggak sepanas Surabaya. Tapi, kalau dibandingin sama Bromo…. Wuih lebih seger Bromo lho. Suasananya juga ngedukung banget buat pasangan baru.”
“Tapi kan kita udah pernah ke sana, Dra.”
“Iya. Dulu, bareng keluarga besar pula. Nggak puas berduaannya.”
“Lombok emang panas sih, tapi kita nanti tinggalnya di daerah deket pantai aja. Kayaknya sih bakal ngedukung banget suasananya. Ayolah… Lombok aja, ya. Plisss!”
“…”

Helaan napasmu berat, aku tahu kamu berat untuk mengiyakannya. Tapi, kamu tak pernah menyangkal keinginanku. Kamu selalu mengorbankan keinginanmu demi meloloskan keinginanku.

“Ya udah. Asal kamu seneng, apa sih yang nggak buat wanita si pencuri hatiku ini.”
“Huaaaaa Andra… I’m crazy in love to you, boy.

Aku merangkul lengan kirimu, seolah memaksamu untuk melepas satu lenganmu dalam keseriusannya menyetir mobil yang kita tumpangi. Aku merebahkan kepalaku di sebelah pundakmu sembari tetap merangkul lengan kirimu. Sesekali kamu mengusap lembut kepalaku, lalu membiarkan lenganmu dalam rangkulanku lagi.

“Kamu udah mikirin target ke depan belum?”
“Hemft… misalnya?”
Baby dan…,”
“Huaaaa… nggak apa kan kalau aku pengen punya anak kembar?”
“Weits… boleh banget lah. Kira-kira nyonya Tiyas pengennya berapa banyak?”
“Nggak perlu banyak-banyak, Dra. Sebagai warga Indonesia yang baik, cukup dua aja. Hamil kembar, laki-laki dan perempuan sekaligus. Hehehe... ”
“Hehehehe… dan sebagai hamba Tuhan, sebaiknya kita serahkan saja berapa rejeki yang akan Dia berikan buat kita. Iya, nggak?”
“He’eghem…”

Kamu dan aku semakin terbuai dalam suasana bahagia pra pernikahan kita. Kamu melajukan mobil dengan sedikit berbeda dari biasanya—lebih pelan, hingga aku bisa dengan puas menikmati waktu terkahir bersamamu sebelum akhirnya kita dipingit untuk menyambut prosesi pernikahan kita. Aku bisa merasakan, bukan aku saja yang ingin menikmati suasana ini. Bahkan nampaknya, keinginanmu jauh lebih besar dari keinginanku itu. Andra—kamu selalu memberiku ketenangan. Sepertinya Tuhan memang telah mempercayaimu untuk menyampaikan semua kebahagiaanku melalui sosokmu.

Kamu begitu mempesonaku. Terlebih lagi ketika kamu harus tetap fokus mengemudikan mobil ini, kamu masih menyempatkan waktu untuk sekedar melempar senyum manismu padaku. Rasanya, aku tak ingin waktu cepat berlalu. Aku rela berlama-lama dalam laju mobil bersamamu. Aku sangat ingin berada di sisimu terus. Berdua berbagi senyum, berbagi bahagia, berbagi kemesraan.

Langit yang awalnya mendung. Perlahan menitihkan airnya. Gerimis itu berangsur menjadi hujan—deras—sangat lebat. Tak bisa dielak lagi, kita berada dalam satu mobil yang sedang terguyur hujan lebat. Ditambah lagi, angin begitu kencang menerpa pepohonan di sekitar jalan juga mobil kita. Sungguh, aku menjadi sangat takut. Aku semakin mengeratkan rangkulanku. Kamu menghentikan mobil ke sisi tepi jalan—mendekati bahu jalan. Sekedar ingin membalas rangkulanku dengan pelukan hangatmu yang begitu erat—meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja.

Pikiranku mulai tak beraturan. Segala hal yang aneh-aneh mulai merasuki benakku. Mengerikan—aku takut. Jantungku mulai berdentum keras. Mungkin kamu pun bisa dengan mudah merasakannya, karena aku memang telah pasrah dalam dekapan hangatmu.

“Percayalah, hujan ini akan segera reda. Kamu tenang, ya!”
“Angin, hujan deras banget, Dra.”
“Iya. Kita berhenti di sini dulu aja sampai hujannya reda. Biar kamu nggak cemas lagi.”
“Berhenti bukan berarti bisa lolos dari…,”
“Tiyas… udah. Jangan mikir yang aneh-aneh. Kita akan baik-baik aja. Kita akan sampai rumah, segera setelah hujannya reda.”
“Kamu harus janji sama aku, Dra.”
“He’ghem…. Janji apa?”
“Kamu harus janji, kita akan baik-baik aja. Tetap berdua.”
“Tiyas… please! Kamu harus tenang!”

Kamu harus tahu, Dra. Wanita punya hati yang cukup sensitif. Feeling yang tak pernah ingin kurasakan itu terlalu menguasai pikiranku. Aku seolah tak punya hati ketika sebuah truck besar itu menerobos kencang keberadaan mobil yang kita tumpangi berdua.

**********

“Suster, apa Tiyas sudah minum obat untuk malam ini?”
“Sudah, Dok.”
“Bantu dia untuk istirahat secepatnya. Jangan biarkan dia begadang terus setiap malam.”

Suster dan dokter di tempat ini tak sepenuhnya memahamiku, Dra. Mereka beda dengamu yang selama ini setia menjagaku, melindungiku dan membuatku bahagia. Mereka hanya menganggapku butuh penyembuhan jiwa. Mereka masih saja menganggapku gila. Sama halnya dengan keluargaku. Apa memang sudah menjadi kewajaran jika aku butuh mereparasi jiwaku yang sudah kamu tinggalkan sejak tragedi naas itu? Atau, mereka memang terlalu memahamiku hingga mereka tahu di mana aku harus ditempatkan untuk mengobati jiwaku yang sudah hancur karena kepergianmu?

Aku bisa mendengar bisikanmu, Dra. Kamu benar, mereka tak berniat sedikit pun untuk mengasingkanku. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan jiwa hingga aku bisa terbiasa menjalani hidup tanpamu. Mungkin aku memang sudah tak memperdulikan perasaan Bunda. Tapi tempat ini—sekali pun aku harus dianggap gila—aku rela tinggal di tempat ini. Karena kupikir, hanya dengan cara tinggal di sini—jauh dari Bunda dan semua hal tentangmu, aku bisa dengan mudah melupakanmu. Melupakan kenangan yang tak ingin kulupakan. Setidaknya, setelah ini aku harus berani hidup tanpamu. Menjaga—melindungi diri sendiri, dan berbahagia lagi.

Kamu benar, Dra. Hanya aku yang bisa menjaga diriku sendiri, hanya aku yang bisa membahagiakan diriku sendiri. Karena, hanya aku yang paling memahami diriku sendiri. Bukan kamu, bukan keluargaku, bukan juga orang lain.

TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 28 Oktober 2011

#cerpen yg muncul gara2 denger lagunya Agnes Monica---->Tanpa Kekasih ^_^

No comments:

Post a Comment