Saturday, October 29, 2011

[puisi] Oh Rasa…


Oh… rasa, kau datang merapat tanpa celah.
Sajikan makna, dalam hati menderu mesra.
Oh… rasa, kau hadir hempaskan lara.
Mengisi jiwa, raga menguat, perkasa tiba.

Rasa, kau hadir mencumbu jiwa.
Membelai nyawa, mengurai lelah.
Penantian kini mereda.
Ruang kosong dalam raga, kau jamah seutuhnya.

Oh rasa, tetaplah bertahan.
Seperti ini, tempati jiwa, tinggallah lebih lama.
Setiap sudut raga berkilau cerah.
Pun jiwa mulai bercahaya.
Sekali lagi, bertahanlah lebih lama.

Oh rasa, ilalang dalam jiwa mulai berhamburan.
Menyambutmu ramah, agar kau enggan menghilang.
Bunganya berterbangan.
Mengitarimu, sematkan sebongkah harapan.

Oh rasa, biarkan saja.
Ilalang itu menjarah, menjerat pekat keberadaanmu yang tak terlihat.
Oh rasa, tetaplah tinggal.
Di setiap ruang, dalam jiwa separuh nyawa.
Oh rasa, kaulah cinta.
Menerkam gundah, hadirkan bahagia.


Samsi Arpanurhi
Jember, 28 Oktober 2011

Friday, October 28, 2011

[cerpen] Tanpa Kekasih


Bagiku, kamu selalu bisa diandalkan. Seperti kakak yang selalu menjaga adiknya, seperti orang tua yang tak pernah berhenti melindungi anaknya. Terlebih, kamu seperti suami yang senantiasa membahagiakan istrinya. Selalu begitu caramu menjagaku, melindungi dari apa saja yang membahayakan raga dan batinku, bahagiakanku sepanjang waktu. Kamu selalu mengerti aku, memahamiku hingga terkadang tanpa sadar kamu mengorbankan hakmu demi mengalah untukku.

**********
Malam itu hampir larut—setelah memastikan kesiapan gedung untuk acara resepsi pernikahan kita, kamu dan aku segera keluar dari gedung itu. Buru-buru memasuki mobil sebelum langit benar-benar menitihkan air langitnya.

“Gimana kalau kita bagi tugas aja, Dra?”
“Kayaknya nggak perlu deh, Yas. Kita masih bisa pergi bareng ke mana-mana selama seminggu ini.”
“Tapi, kita juga harus ngikut adat keluarga kita, Dra.”
“Tiyas, jatah kita dipingit kan baru akan dimulai  minggu depan. Jadi seminggu ini kita masih bisa nyiapin kekurangan itu bareng-bareng.”
“Andra, ada baiknya kalau kita ikuti saja saran keluarga kita. Kurangi jatah ketemuan mulai sekarang. Hemmm bukan apa sih, biar kangennya bisa doble.”
“Tapi cincin yang kemarin itu masih kegedean di jari kamu, Yas. Jadi kita harus balik lagi buat ngepasin. Aku antar kamu aja, ya.”
“Biar Bunda aja yang nganter aku. Nah kamu ke butik aja, cek baju pernikahan kita sekali lagi. Sekalian dibawa pulang aja kalau semua udah beres.”
“Tapi…,”
“Bunda nggak akan ngebiarin anaknya kelimpungan, Dra. Apa kamu masih nggak percaya kalau bunda bisa ngejaga aku?”
“…”

Kamu menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menyetujui saranku. Setelahnya, kamu hidupakn mesin mobil yang tengah kita tumpangi—bergegas menjalankannya. Sepanjang jalan, hampir tak ada obrolan lain selain pembahasan tentang pernikahan kita yang akan berlangsung dua minggu lagi. Kita saling berbagi pendapat dan angan-angan kehidupan dalam rumah tangga kita nantinya. Mendung yang bergelantungan di langit masih terus mengendap-endap, seolah hendak menguping pembicaraan kita melalui tetesan air hujannya.

“Andra, pas kita udah jadi suami istri nanti, kamu pengennya aku masak apa tiap harinya?”
“Hemhemhem… apa aja deh. Yang penting masaknya pakai cinta, ya.”
“Ooo so pasti dong! Any way, kita akan bulan madu ke mana hayo?”
“Kalau aku sih pengennya ke daerah yang dingin-dingin kayak pegunungan gitu. Biar kita bisa saling menghangatkan. Hehehehe… gimana kalau bulan madunya ke Bromo aja?”
“Hemmm… boleh juga sih. Tapi, aku pengennya ke daerah pantai. Ke Lombok aja, ya?”
“Coba deh bayangin dulu! Lombok itu cuacanya lumayan panas lho, meski nggak sepanas Surabaya. Tapi, kalau dibandingin sama Bromo…. Wuih lebih seger Bromo lho. Suasananya juga ngedukung banget buat pasangan baru.”
“Tapi kan kita udah pernah ke sana, Dra.”
“Iya. Dulu, bareng keluarga besar pula. Nggak puas berduaannya.”
“Lombok emang panas sih, tapi kita nanti tinggalnya di daerah deket pantai aja. Kayaknya sih bakal ngedukung banget suasananya. Ayolah… Lombok aja, ya. Plisss!”
“…”

Helaan napasmu berat, aku tahu kamu berat untuk mengiyakannya. Tapi, kamu tak pernah menyangkal keinginanku. Kamu selalu mengorbankan keinginanmu demi meloloskan keinginanku.

“Ya udah. Asal kamu seneng, apa sih yang nggak buat wanita si pencuri hatiku ini.”
“Huaaaaa Andra… I’m crazy in love to you, boy.

Aku merangkul lengan kirimu, seolah memaksamu untuk melepas satu lenganmu dalam keseriusannya menyetir mobil yang kita tumpangi. Aku merebahkan kepalaku di sebelah pundakmu sembari tetap merangkul lengan kirimu. Sesekali kamu mengusap lembut kepalaku, lalu membiarkan lenganmu dalam rangkulanku lagi.

“Kamu udah mikirin target ke depan belum?”
“Hemft… misalnya?”
Baby dan…,”
“Huaaaa… nggak apa kan kalau aku pengen punya anak kembar?”
“Weits… boleh banget lah. Kira-kira nyonya Tiyas pengennya berapa banyak?”
“Nggak perlu banyak-banyak, Dra. Sebagai warga Indonesia yang baik, cukup dua aja. Hamil kembar, laki-laki dan perempuan sekaligus. Hehehe... ”
“Hehehehe… dan sebagai hamba Tuhan, sebaiknya kita serahkan saja berapa rejeki yang akan Dia berikan buat kita. Iya, nggak?”
“He’eghem…”

Kamu dan aku semakin terbuai dalam suasana bahagia pra pernikahan kita. Kamu melajukan mobil dengan sedikit berbeda dari biasanya—lebih pelan, hingga aku bisa dengan puas menikmati waktu terkahir bersamamu sebelum akhirnya kita dipingit untuk menyambut prosesi pernikahan kita. Aku bisa merasakan, bukan aku saja yang ingin menikmati suasana ini. Bahkan nampaknya, keinginanmu jauh lebih besar dari keinginanku itu. Andra—kamu selalu memberiku ketenangan. Sepertinya Tuhan memang telah mempercayaimu untuk menyampaikan semua kebahagiaanku melalui sosokmu.

Kamu begitu mempesonaku. Terlebih lagi ketika kamu harus tetap fokus mengemudikan mobil ini, kamu masih menyempatkan waktu untuk sekedar melempar senyum manismu padaku. Rasanya, aku tak ingin waktu cepat berlalu. Aku rela berlama-lama dalam laju mobil bersamamu. Aku sangat ingin berada di sisimu terus. Berdua berbagi senyum, berbagi bahagia, berbagi kemesraan.

Langit yang awalnya mendung. Perlahan menitihkan airnya. Gerimis itu berangsur menjadi hujan—deras—sangat lebat. Tak bisa dielak lagi, kita berada dalam satu mobil yang sedang terguyur hujan lebat. Ditambah lagi, angin begitu kencang menerpa pepohonan di sekitar jalan juga mobil kita. Sungguh, aku menjadi sangat takut. Aku semakin mengeratkan rangkulanku. Kamu menghentikan mobil ke sisi tepi jalan—mendekati bahu jalan. Sekedar ingin membalas rangkulanku dengan pelukan hangatmu yang begitu erat—meyakinkanku bahwa aku akan baik-baik saja.

Pikiranku mulai tak beraturan. Segala hal yang aneh-aneh mulai merasuki benakku. Mengerikan—aku takut. Jantungku mulai berdentum keras. Mungkin kamu pun bisa dengan mudah merasakannya, karena aku memang telah pasrah dalam dekapan hangatmu.

“Percayalah, hujan ini akan segera reda. Kamu tenang, ya!”
“Angin, hujan deras banget, Dra.”
“Iya. Kita berhenti di sini dulu aja sampai hujannya reda. Biar kamu nggak cemas lagi.”
“Berhenti bukan berarti bisa lolos dari…,”
“Tiyas… udah. Jangan mikir yang aneh-aneh. Kita akan baik-baik aja. Kita akan sampai rumah, segera setelah hujannya reda.”
“Kamu harus janji sama aku, Dra.”
“He’ghem…. Janji apa?”
“Kamu harus janji, kita akan baik-baik aja. Tetap berdua.”
“Tiyas… please! Kamu harus tenang!”

Kamu harus tahu, Dra. Wanita punya hati yang cukup sensitif. Feeling yang tak pernah ingin kurasakan itu terlalu menguasai pikiranku. Aku seolah tak punya hati ketika sebuah truck besar itu menerobos kencang keberadaan mobil yang kita tumpangi berdua.

**********

“Suster, apa Tiyas sudah minum obat untuk malam ini?”
“Sudah, Dok.”
“Bantu dia untuk istirahat secepatnya. Jangan biarkan dia begadang terus setiap malam.”

Suster dan dokter di tempat ini tak sepenuhnya memahamiku, Dra. Mereka beda dengamu yang selama ini setia menjagaku, melindungiku dan membuatku bahagia. Mereka hanya menganggapku butuh penyembuhan jiwa. Mereka masih saja menganggapku gila. Sama halnya dengan keluargaku. Apa memang sudah menjadi kewajaran jika aku butuh mereparasi jiwaku yang sudah kamu tinggalkan sejak tragedi naas itu? Atau, mereka memang terlalu memahamiku hingga mereka tahu di mana aku harus ditempatkan untuk mengobati jiwaku yang sudah hancur karena kepergianmu?

Aku bisa mendengar bisikanmu, Dra. Kamu benar, mereka tak berniat sedikit pun untuk mengasingkanku. Aku hanya butuh waktu untuk memulihkan jiwa hingga aku bisa terbiasa menjalani hidup tanpamu. Mungkin aku memang sudah tak memperdulikan perasaan Bunda. Tapi tempat ini—sekali pun aku harus dianggap gila—aku rela tinggal di tempat ini. Karena kupikir, hanya dengan cara tinggal di sini—jauh dari Bunda dan semua hal tentangmu, aku bisa dengan mudah melupakanmu. Melupakan kenangan yang tak ingin kulupakan. Setidaknya, setelah ini aku harus berani hidup tanpamu. Menjaga—melindungi diri sendiri, dan berbahagia lagi.

Kamu benar, Dra. Hanya aku yang bisa menjaga diriku sendiri, hanya aku yang bisa membahagiakan diriku sendiri. Karena, hanya aku yang paling memahami diriku sendiri. Bukan kamu, bukan keluargaku, bukan juga orang lain.

TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 28 Oktober 2011

#cerpen yg muncul gara2 denger lagunya Agnes Monica---->Tanpa Kekasih ^_^

Thursday, October 27, 2011

[cerpen] Pagi Bergemuruh


Di pagi itu, kali pertamanya aku bertemu denganmu. Mungkin terlalu cepat jika akhirnya, saat itu aku menjabat tanganmu. Bermodal ramah, pun aku bisa dengan mudah mengetahui nama dan nomor ponselmu. Pagi itu, aku dan kamu bertemu di sebuah taman kota. Kita berpapasan—lengan kita saling beradu dalam ketidak sengajaan. Tubuhku sempat sempoyongan kala itu, lantas kamu berusaha menopangnya dengan lengan kirimu—ketika kamu menyadari tubuhkuu hendak terjatuh.

Aku tak pernah keberatan jika di pagi-pagi berikutnya Tuhan mempertemukanku lagi denganmu. Bahkan jika perlu, aku ingin Tuhan mempertemukan kita berdua setiap waktu. Pandu—kamu pria pertama yang membuat isi di dadaku kembali bergemuruh setelah sekian lama membeku. Ternyata, keingananku memang bukan sekedar angan. Tuhan benar-benar meluruskan apa yang menjadi kemauanku. Setelah pagi itu, seperti sudah menjadi takdir—hubungan kita semakin akrab dan mengalir. Hingga sekarang kita begitu dekat, saling mengenal lebih dalam satu sama lain.

“Niar, mendadak hari ini aku nggak bisa menjemputmu. Kamu bisa pulang sendiri, kan?”
“Astaga, Pandu. Selama ini kamu terlalu memanjakanku. Seandainya setiap hari kamu membiarkanku pulang sendiri, pun aku juga pasti bisa menjalaninya kok.”
“Hehehe iya juga sih. Tapi kamu nggak pernah merasa terikat kan dengan perlakuanku itu?”
“Tenang saja, kamu sudah kenal aku, kan. Kalau memang aku merasa terikat, tanpa pikir panjang akan segera kugunting saja pengikatnya. Bukankah komitmen itu sudah ada, dan kita juga saling menyepakatinya. Iya, kan?”
“Heeemmm… kamu ini. Kamu memang paling bisa membuatku merasa nyaman.”
“Sudahlah, ya. Rayuannya ditunda dulu, aku masih harus fokus merampungkan pekerjaanku ini. Aku nggak mau kalau harus lembur gara-gara menghabiskan waktu kerjaku buat mendengar rayuanmu.”
“Hahaha… okelah kalau begitu. Selamat bersibuk, Niar. See you tomorrow! Besok pagi, jangan lupa bawa jus Apel buat kita berdua.”
“Siap, Komandan!”

Kita selalu meluangkan waktu untuk sekedar jogging berdua setiap pagi. Rumah kita juga tidak begitu jauh dari taman kota—kita menyebutnya alun-alun kota. Kita mempunyai kesepakatan yang telah didiskusikan sejak sebelum kita menjalin status berpacaran. Salah satunya, harus selalu ada jus buah yang berbeda setiap harinya sebagai penghilang dahaga setiap pagi setelah jogging berdua.

**********
“Kok cuma bawa satu botol jus?”
“Pandu, sesekali kita butuh belajar berbagi. Right? Sejak pacaran, sepertinya kita terlalu kaku menjalani komitmen dan aturan yang telah kita sepakati berdua.”
“Hahahaha… bukankah itu idemu juga? Kenapa sekarang kamu jadi merasa seperti itu? Bosan? Nggak nyaman, ya?”
“Huft… enggak semuanya. Ingin belajar berbagi saja kok, bukan yang lainnya.”
“Pagi ini agak mendung, udaranya juga nggak serenyah biasanya. Sekarang dinginnya nggak enak banget. Mendingan kita pulang saja. Minum jus di rumahmu akan jauh lebih baik.”
“Di rumah nggak ada orang. Ayah tugas ke luar kota, ibu ke rumah nenek di Surabaya.”
“Oh begitu, ya. Tapi, kita masih bisa menghabiskan pagi di rumahmu, kan?”
“Kenapa enggak!”

Udara memang sedang tak bersahabat. Saranmu memang layak untuk diikuti. Aku juga tak mau jika harus bolos kerja gara-gara masuk angin setelah jogging pagi ini. Rencana awal untuk belajar saling berbagi melalui sebotol jus Apel, belum sempat terlaksana ketika kita beristirahat di taman kota. Kamu hanya memutar-mutar sebotol jus Apel itu, lalu memberikannya lagi padaku. Yang ada di pikiranku, aku tak akan meminumnya sebelum kamu mengawalinya. Pantang bagiku meminum sesuatu sebelum kamu meminumnya lebih dulu. Lancang, begitu aku mengenalnya dalam adat jawa keturunanku.

“Selesai… ada dua gelas jus Apel dan sebotol di tanganmu.”
“Jadi, itu tujuan utamamu ke rumahku? Tanpa permisi masuk ke dapurku, membuat jus Apel dan memakai gelas serta blender tanpa seizin pemiliknya. Nggak…,”
“Nggak sopan banget, kan? Memang! Tapi, ini jauh lebih segar dan memuaskan dibanding sebotol jus itu.”
“Berarti kita nggak jadi belajar berbagi melalui sebotol jus ini?”
“…”

Kamu terpatung sesaat setelah mendengar pertanyaanku itu. Kenapa wajahmu mendadak menegang seperti itu? Padahal pertanyaanku itu sederhana saja. Apa mungkin aku salah melontarkannya padamu. Aku linglung menanggapi reaksimu. Suasana hening dan tegang, aku sangat membenci suasana ini.

Keheningan hanya akan menimbulkan kecanggungan—yang berefek pada ketegangan. Akhirnya semua berujung pada penegasan. Aku trauma, kejadian di masa lalu itu mendadak merasuki pikiranku lagi. Aku tak merasa nyaman dengan suasana ini. Tolonglah Pandu, bukankah kamu juga sudah tahu. Keheningan, ketegangan, juga penegasan yang dulu pernah membuatku kehilangan sesuatu. Kehilangan hati seseorang yang selama kurang lebih empat tahun aku cintai. Aku sangat tak mengharapkan suasana seperti ini. Bicaralah, pudarkan kekakuan di wajahmu itu. Katakana sesuatu agar suasana kita kembali santai.

“Hemft… apa kita ini orangnya sama-sama pelit, ya? Sudah hampir setahun pacaran, tapi kita masih sulit untuk berbagi. Sepertinya kita memang…,”
“Niar, apa kamu benar-benar siap untuk belajar berbagi?”

Syukurlah, akhirnya kamu bicara. Meski masih ada guratan kekakuan dalam wajahmu, tapi aku sudah sedikit lega.

“Ya jelas siap, Komandan. Kan sejak awal tadi aku sudah bilang, aku ingin belajar berbagi.”
“Okelah kalau begitu. Kita muali belajarnya dari mana?”

Kali ini, suasana diantara kita kembali santai. Bahkan lebih santai dari sebelumnya. Hembusan napasku ringan perlahan, menyamarrkan sedikit kecemasan yang sedari tadi telah menguasai pikiranku. Sungguh aneh. Kini, kamu yang membuatku terpatung. Melihatmu menghabiskan dua gelas jus Apel di tanganmu—rakus, saat ini hanya itu sebutan untukmu yang cukup tergumam dalam hatiku.

“Sekarang gelasnya sudah kosong semua. Sini, biar aku yang menuangkan jus dalam botol itu ke dalam masing-masing gelas kosong ini.”

Aku hanya pasrah membiarkanmu menjarah jus Apel dari genggamanku. Kuperhatikan kesibukanmu itu. Kamu sangat berhati-hati menakar jus itu ke masing-masing gelas agar sama volumenya.

“Selesai. Sudah terbagi, dua gelas dan sepersekian mili pada botol. Bagaimana menurutmu?”
“Pandu, kok ada tiga bagian?”
“Yup. Sepertinya memang harus kujelaskan tentang sesuatu padamu.”
“Iya, aku bingung.”

Kamu meletakkan kedua gelas dan botol berisi jus Apel itu di atas meja makan, lalu kamu duduk di hadapnya sembari terus memperhatikan dalam-dalam ketiga benda itu. Aku mengikuti caramu, sesekali kuperhatikan keseriusanmu memandanginya—semakin membuatku bingung.

“Niar, kali ini memang sudah saatnya kamu tahu segalanya. Tentang berbagi jus, juga tentang diriku selebihnya.”
“Ciye… apa selama ini pengetahuanku tentangmu memang masih terbatas, ya?”
“Hemhemhem… sepertinya memang begitu.”
“Lalu, apa hubungannya jus yang terbagi tiga bagian itu dengan dirimu?”

Aku melihat senyum merekah terpaksa dari bibirmu. Kamu menjulurkan segelas untukku, lalu mengambil jus dalam botol untukmu sendiri. Lantas, untuk apa segelas jus yang masih tersisa itu?

“Pandu…. Kamu nggak sedang berniat rakus lagi, kan! Apa segelas jus itu sengaja kamu takar untuk cadangan kehausanmu berikutnya? Hemmm kenapa mendadak kamu jadi rakus begini?”
“Rakus? Apa mungkin selama setahun tinggal di kota ini, keadaan mengubahku menjadi pria yang rakus, ya?”
“Pandu, jangan basa-basi deh!”
“Aku memang rakus, Niar. Karena itulah pagi ini aku mau belajar berbagi, agar nggak ada hati yang nantinya tersakiti karena kerakusanku itu.”
“Hati yang tersakiti? Kamu ini bicara apa sih? Aku nggak paham.”
“Niar, awalnya aku nggak berniat sedikit pun mengajarimu untuk berbagi. Tapi, setelah setiap pagi dan setiap hari kamu memasuki hidupku. Secara nggak sadar, aku sudah memaksamu untuk belajar berbagi sejak setahun kita pacaran.”
“Kamu membahas apa sih, Ndu? Pembahasan jus, tapi kok kesannya jadi serius dan berat begini!”
“Segelas jus untukmu, itulah sebagian hatiku yang sudah kuberikan padamu. Yang ada di botol ini, inilah sebagian hati yang masih kumiliki. Dan segelas lainnya, akan kuberikan untuk wanita yang selama setahun ini sudah kutinggalkan karena pekerjaanku di kota ini. Wanita itu, Meike namanya. Dia istriku yang sekarang sedang mengandung anak pertamaku di kota Magelang sana.”

Keindahan berbagi yang sempat bertandang di benakku, perlahan meluruh berubah menjadi bintik-bintik hitam buram yang menggelapkan apa saja yang ada di sekitarku. Begitu polosnya aku, hingga dengan mudahnya kuterima sebagian hatimu—pria milik wanita lain yang selama ini terduakan. Aku yakin, untuk beberapa detik saja—detak jantungku sempat tersendat ketika mendengar pengakuanmu itu. Saat ini, aku berharap tubuhku menjadi lemas. Pingsan, mungkin itu kondisi terbaik yang harusnya datang padaku. Sepertinya aku akan bolos kerja untuk hari ini, mungkin juga untuk beberpa hari berikutnya. Tapi, Tuhan tak menghendaki aku pingsan. Aku cukup terpatung saja, bahkan gelas di genggamanku ini tak terlepas—semakin erat kugenggam.

“Maafkan aku, Niar. Aku sama sekali nggak bermaksud mempermainkanmu. Sungguh, semakin lama aku semakin nggak bisa untuk tidak memberikan hati ini padamu.”
“Tapi kamu juga nggak akan bisa untuk tidak memberikan hatimu pada Meike. Iya, kan?”
“…”
“Asal kamu tahu, Pandu. Saat ini aku nggak tahu seberapa besar kadar kepahitan yang tengah menyebar dalam hatiku. Tapi aku tahu, kadar kepahitan yang Meike rasakan akan jauh lebih besar dariku saat ini, ketika nantinya aku tetap mempertahankan hatimu untukku.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Tolong beritahu aku, Niar!”

Aku tak pernah tahu jawaban terbaik seperti apa yang harus kuberikan padamu, Pandu. Munafikkah aku jika aku mengaku rela melepasmu? Kejamkah aku jika aku tetap mempertahankanmu? Cukup. Ini sudah terlampau pahit untuk diterima oleh hati wanita—hatiku juga hati istrimu.

“Pulanglah, temui istrimu yang sedang menguatkan hatinya untuk tetap mempercayaimu. Dia lebih membutuhkanmu. Sekali pun nggak bisa kupungkiri, aku masih belum siap kehilanganmu.”
“Apa kamu masih ingin berbagi, Niar?”
“Biarkan Tuhan saja yang mengajariku tentang ilmu berbagi itu.”
“Baiklah. Terimakasih sudah pernah ada dalam hidupku.”
“Sama-sama, Pandu.”

Keheningan hanya akan menimbulkan kecanggungan—yang berefek pada ketegangan. Akhirnya semua berujung pada penegasan. Kondisi masa lalu yang menurutku paling kejam—ketika tunanganku dengan tegas memutuskan untuk menggagalkan pernikahannya denganku di detik-detik menjelang pernikahan kami. Aku pikir tak akan ada lagi masa kejam setelahnya. Tapi ternyata, pagi ini bergemuruh. Memberitahuku tentang sesuatu, cermin itu berasal dari masa lalu. Tak seharusnya aku terlalu polos mempercayai sesuatu, apalagi menumpukan harapan besar pada sesuatu selain kehendak Tuhan pemilik hidupku.


TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 27 Oktober 2011

Wednesday, October 26, 2011

[Puisi] Letih Berbisik.

Letih berbisik, sendu.
Bintik kegalauan wajah tersirat beku.
Lelah kian berkelana, haru.
Lidah menjepit kata, bisu.
Tak ada waktu mengeluh, hanya tersisa piluh karena terayu.

Letih berbisik, luruh.
Bintik kegalauan wajah terhempas jauh.
Cuku[ lama letih terbelenggu, dalam jiwa termangu jenuh.

Letih kembali berbisik, riuh.
Membalut asa tanpa arah.
Galau terhambur, jengah tak terlebur.
Sendu, luruh, riuh, seolah enggan menjauh.

Letih semakin kerap berbisik.
Melodi jiwa kian terusik.
Letih tak henti berbisik
Pun jiwa kini tercekik.
Betapa letih terus berbisik.
Menjerat senggang, bernapas pun pekik.

Panti, 16 Oktober 2011
Samsi Arpanurhi

[Puisi] Tiga Jiwa, Tiga Rasa

Aku terbius tiga rasa.
Mengeja tiga nama tanpa jeda.
Lidahku kelu, akalku terus berseru,
Pun hati tak henti menderu.

Aku terhimpit tiga jiwa.
Erat, enggan terlepas.
Jiwaku mendengus, lelah.
Waktuku terampas.

Tiga jiwa, tiga rasa.
Aku menyerah, tersipu manja.
Sudut jiwaku mulai bersua.
Nampaknya bukan cinta yang mereka bawa.

Panti, 15 Oktober 2011
Samsi Arpanurhi

[Puisi] Terjerat Kemunafikan

Angin pilu mulai mengharuKemunafikan memburu,
Akal, hati, dijerat erat tanpa malu.
Saya masih termangu.
Tertunduk bisu.
Memandang kemunafikan, saling menuduh.

Angin pilu semakin menderu.
Sandangkan nama tanpa keluh.
Saya bergeming.
Sudut pertikaian bermuara.
Saling berebut kemunafikan.
Sadar tanpa akal, khilaf tanpa jiwa.
Kemunafikan dibenarkan adanya.

Angin pilu kini melagu.
Kemunafikan enggan meluruh.
Saya melirik, licik mengulum jenuh.
Dada bergemuruh.
Kemunafikan membaur riuh.

Saya bergeming.
Lagi – lagi hanya bergeming.
Angin pilu tetap menderu.
Terasa bosan, terusik sungguh.

Bebaslah orang – orang munafik,
Termasuk saya.
Gelakkan tawa,
Sisikan salah.
Benarkan saja, kemunafikan memang nyata.
Hai…orang – orang munafik,
Termasuk saya.
Akui saja, kemunafikan menjerat manja.

Angin pilu lelah mengharu
Pun saya letih membisu.
Terjerat kemunafikan.
Saya hanya tertunduk,
Termangu lugu.

Jember, 24 September 2011
Samsi Arpanurhi

[Puisi] Terjerat Kemunafikan

Angin pilu mulai mengharuKemunafikan memburu,
Akal, hati, dijerat erat tanpa malu.
Saya masih termangu.
Tertunduk bisu.
Memandang kemunafikan, saling menuduh.

Angin pilu semakin menderu.
Sandangkan nama tanpa keluh.
Saya bergeming.
Sudut pertikaian bermuara.
Saling berebut kemunafikan.
Sadar tanpa akal, khilaf tanpa jiwa.
Kemunafikan dibenarkan adanya.

Angin pilu kini melagu.
Kemunafikan enggan meluruh.
Saya melirik, licik mengulum jenuh.
Dada bergemuruh.
Kemunafikan membaur riuh.

Saya bergeming.
Lagi – lagi hanya bergeming.
Angin pilu tetap menderu.
Terasa bosan, terusik sungguh.

Bebaslah orang – orang munafik,
Termasuk saya.
Gelakkan tawa,
Sisikan salah.
Benarkan saja, kemunafikan memang nyata.
Hai…orang – orang munafik,
Termasuk saya.
Akui saja, kemunafikan menjerat manja.

Angin pilu lelah mengharu
Pun saya letih membisu.
Terjerat kemunafikan.
Saya hanya tertunduk,
Termangu lugu.

Jember, 24 September 2011
Samsi Arpanurhi

[cerpen] Cinta itu milik siapa?


Setiap sudut ruang ini, menjadi saksi bisu pengintaianku. Cincin yang ada di jari manis kananmu—milik siapakah itu? Lidahku kelu, hati ini hanya bisa bergumam setiap melihat cincin itu selalu bertengger di jari manismu. Salahkah aku, ketika aku selalu tak kuasa menanyakan hal itu padamu. Mungkin benar, aku terlalu takut mendengar jawabanmu.

“Aku udah minta tolong Anto buat antar jemput kamu. Selama seminggu kepergianku, aku harap kamu tetap baik-baik aja.”
“Nggak usah terlalu khawatir gitu. Apa selama ini aku pernah kenapa-kenapa ketika kamu nggak ada di rumah? Enggak, kan!”
“Iya iya, bagaimana pun juga kamu tetap istri terbaik dalam hidupku yang harus terlindungi setiap saat.”
“Ngerayu nih? Nggak mempan.”
“Minta oleh-oleh apa?”
“Hemhemhem… seperti biasa…,”
“Siap, nyonya. Suamimu ini akan tetap memboyong cintanya utuh, cuma buat istri tercintanya—nyonya Okta.”

*********

Aku selalu yakin pada suamiku. Tak pernah sedetik pun ragu, apalagi mencurigainya. Tapi itu dulu—sebelum ia mengenakan cincin yang hingga sekarang melingkar erat di jari manisnya. Kini, aku tak mampu mengusir keraguan dari hatiku. Aku selalu mencurigai kepergiannya, selalu berpikir yang tak sepatutnya aku pikirkan. Benarkan saja jika kali ini aku cemburu buta pada cincin itu.

“Ta, kali ini aku pergi agak lama. Sekitar dua bulan, aku butuh waktu panjang buat membereskan novel ini. Anto akan tetap mengantar jemputmu.”
“Aku bisa pergi kemana aja sendirian kok. Biarin Anto menikmati masa remaja seperti para remaja lain pada umumnya. Kasian dia kalau masa remajanya terampas cuma buat nganter jemput aku.”
“Nggak masalah kok. Dia pasti juga ingin melindungimu, melindungi kakak iparnya selama aku nggak ada di rumah.”
“Tapi aku juga bisa naik motor sendiri kok.”
“Iya, tapi Anto nggak pernah keberatan juga kok.”
“Gimana enaknya aja deh. Aku ikut alur.”

Suamiku, namanya Ringga—seorang penulis novel yang selalu membutuhkan tempat sepi untuk memancing ide-idenya. Itu sebabnya ia sering meninggalkanku—pergi ke tempat yang ia rasa pas untuk menggagas idenya. Kali ini, ia hanya mengecup keningku sebelum akhirnya ia melangkah keluar dari kamar kami berdua. Ada yang janggal dari kebiasaannya beberapa waktu ini. Pertanyaan tentang oleh-oleh yang kuinginkan—telah lama tak pernah ia tawarkan lagi setiap sebelum ia pergi. Apa ia sedang lupa menanyakannya? Atau ia hendak menggantinya dengan pertanyaan lainnya? Aku tetap menguatkan hati agar kecurigaan yang sempat mampir dalam benakku tak menguasai hati dan pikiranku terlalu jauh.

Aku berjalan bersisihan dengannya—lalu menggandeng lengan kirinya. Ia hanya melempar senyum simpul ketika sejenak memandang tingkahku itu. Entah kenapa, aku semakin merasa ada yang beda darinya. Biasanya, ia membalas gandengan itu dengan rangkulan manis sebelah tangannya di sekitar pinggulku. Tapi, kali ini hanya kekakuan yang tergurat di wajahnya.

“Buat beberapa hari dalam minggu ini, handphone­-ku akan kumatikan. Aku bener-bener butuh ketenangan karena deadline novel ini cukup rumit.”
“Hanya beberapa hari aja, kan?”
“Mungkin juga lebih, beberapa minggu atau dua bulan penuh. Kamu…,”
“Aku bisa maklum kok.”

Sebenarnya aku sangat benci pada diriku sendiri ketika aku hanya bisa melempar senyum tenang padanya. Bukan, bukan senyum tenang. Tapi, senyum kegelisahan yang sepertinya memang sengaja kusembunyikan di balik sikap sok tenangku. Berlagak baik-baik saja, padahal sebaliknya. Tapi aku tak bisa mengeluhkan hal itu di hadapannya. Aku selalu bisu merespon kalimat-kalimatnya.

**********

Hari ini ia mengirimkan kabar yang tak pernah kuduga sebelumnya. Belum genap sebulan kepergiannya, ia telah berhasil merampungkan tulisannya—novel romance ke – 13 miliknya. Ia bilang akan sampai di rumah sebelum senja. Sebelum matahari benar-benar tenggelam, ia ingin memberitahuku tentang sesuatu. Selama ini aku tak pernah luluh dengan rayuannya—aku selalu bisa menetralisir rayuannya. Sekali pun tak bisa kupungkiri, setiap kalimat dalam rayuannya itu begitu indah dan romantis. Tapi, hari ini sangat berbeda. Aku merasa sangat terperangkap dalam rayuannya—hingga keraguan itu enggan sedetik pun mampir ke dalam benakku.

“Aku punya banyak waktu untuk memanjakan ide-ideku, tapi tidak untuk istriku. Begitu kejam kah aku? Hingga aku tak menyadari ketermanguan yang sering menyerang istriku di saat ragaku semakin menjauh.”
“Novel ini yang sudah menjarah waktuku beberapa minggu terkahir, kudedikasikan khusus untuk istri tercintaku. Okta, kamu harus tahu! Betapa sulitnya aku menjabarkan segala perasaanku di hadapanmu. Karena kamu memang beda, kamu bukanlah wanita yang bisa terayu dengan mudah.”
“Aku pikir dua bulan tak akan cukup untuk menjabarkan semua perasaanku melalui novel ini. Tapi ternyata, Tuhan mempercepat dead line pengakuanku hingga aku cuma butuh waktu tak lebih dari sebulan untuk mengemasnya.”
“Sebelum matahari benar-benar tenggelam, sore ini aku akan memperlihatkan novel ini padamu. Isi hatiku, dan segala hal tentang kecurigaan yang mungkin selama ini bertandang dalam benakmu.”
“Aku merindukanmu, sangat merindumu. Aku mohon jangan menghukumku dengan keraguanmu. Karena sungguh, aku tak punya daya untuk mengembannya.”

Rangkaian kalimat itu terlalu membiusku—datangnya bertubi-tubi masuk ke dalam layar message dalam ponselku.

Matahari terus bergeser ke barat. Perputaran waktu semakin mengantarkanku dekat dengan detik-detik kedatangan suamiku. Aku duduk di teras rumah—berdandan ala kesukaan Ringga. Make up sederhana—rambut terurai dengan sedikit poni—mengenakan pakaian apa saja asalkan berwarna biru atau hijau muda. Ia suka melihatku berpenampilan seperti itu—nampak cantik, katanya.

Lama aku menebar senyum penuh harap—mengaharap kedatangan Ringga secepatnya. Aku tahu, Ringga selalu menepati janjinya. Ia juga bukan tipe orang yang suka membuang-buang waktu. Tapi, kenapa kali ini sungguh berbeda. Matahari dan senja mulai hilang—malam kian datang. Tapi, Ringga belum juga pulang. Apa aku terlalu percaya padanya? Salahkah aku jika kini aku kecewa? Tidak! Aku tidak kecewa, karena aku masih yakin Ringga akan datang—sebentar lagi.

Malam semakin menguasai waktu. Empat jam sudah aku menunggunya. Tapi ia belum juga muncul. Kemana Ringga? Perasaanku mulai aneh. Bukan mencurigainya, tapi mencemaskannya.

“Mbak Okta…,”

Anto menegurku yang tengah mondar-mandir di teras rumah dengan kecemasan yang semakin tak menentu.

“Apa mas Ringga udah datang, An?”
“Barusan ada telepon dari rumah sakit. Mas Ringga kecelakaan, mbak.”

Aku tak bisa menjabarkan perasaanku saat ini. Kunang-kunang, aku melihat begitu banyak kunang-kunang yang betaburan di depan mataku. Sepertinya lelah sekali, aku….

***********

“Nggak ada gunanya menangisi keadaan. Lebih baik berdo’a agar dia bisa melewati masa kritisnya.”

Aku hanya bisa menangis dalam rangkulan wanita yang sedari tadi mencoba menenangkanku. Lantas siapa wanita ini, rasanya aku tak pernah mengenalnya. Tapi, sepertinya ia mengenal suamiku. Wajahnya pucat—pakaiannya sedikit kotor dengan bercak darah—ada beberapa perban yang membalut tangan dan keningnya. Ia memberikan sebuah buku. Astaga, aku kenal betul buku itu—buku Ringga yang biasa ia gunakan untuk menulis kerangka novel-novelnya. Aku segera melepas rangkulannya—sedikit menjauhi posisinya sembari mengambil buku yang dimaksud dari tangan wanita itu.

“Maaf. Sebenarnya kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di sini, dan buku ini….,”
“Kenalkan, namaku Fajrin. Tapi maaf, aku udah terlanjur janji sama Ringga untuk nggak ngomong apa-apa. Kamu akan menemukan jawabannya dari mulut suamimu sendiri, atau melalui buku itu. Buku itu memang akan dia berikan sama kamu ketika dia pulang. Tapi ternyata, dia kecelakaan. Lebih baik kamu baca saja buku itu.”

Setelah itu, ia bergegas melangkah meninggalkanku. Sebelum akhirnya ia menghilang, ia sempatkan diri untuk sekali lagi meyakinkanku tentang sesuatu.

“Bersyukurlah. Dia suami yang baik. Dan memang hanya kamu wanita yang pantas mendampinginya. Jangan pernah meragukan cintanya. Karena cintanya selalu menjadi milikmu seutuhnya.”

Entahlah. Aku hanya membisu—terpatung dalam dudukku ketika mendengar kalimat wanita itu. Sedangkan Anto, ia masih tetap fokus pada kegalauannya—duduk di atas lantai di depan pintu ruang ICU.

Tanpa membuang waktu lagi, aku segera membuka buku milik suamiku. Foto—bukankah wanita tadi yang ada dalam foto ini? Kenapa wanita itu mencium pipi kiri Ringga penuh makna seperti ini. Cincin itu? Mereka bertukar cincin? Ah… tidak, aku harus tetap tenang. Aku tak akan membiarkan kecurigaan menguasaiku lagi. Ringga sedang terbaring lemah di dalam sana, tak sepatutnya aku mencurigainya.

Aku memang terlalu lemah mendefinisikan cinta di hadapmu. Hingga acap kali aku terlalu kaku memperlakukannya. Aku memang kurang jeli menjaga hati untuk satu cinta. Tapi, aku tak pernah sedetik pun membiarkan hatiku tak terjaga oleh satu-satunya cinta dari wanita terhebat—yang tak pernah lelah menjaga hatiku juga hatinya. Hingga sekuat apapun cinta lain menerjang hatiku, hatiku tetap bertahan—untuk satu cinta—istriku seorang.
Sesuatu memang sempat mengusik keberadaan cinta dalam hatiku. Sesuatu itu adalah masa lalu—tepatnya cinta  pertamaku di masa lalu. Cinta itu berusaha memanjakan hatiku. Terlalu munafik jika aku mengaku tidak terusik sedikit pun. Cinta itu sempat merasuki hatiku lagi—dalam, namun tak lama lantas menghilang. Hatiku tetap bertahan pada satu cinta. Memang, bukan cinta pertama. Aku menyebutnya cinta terakhir yang akan mengisi hatiku selamanya—tak akan pernah terganti—hatiku ini miliknya. Karena tak ada wanita lain yang berhak memiliki cinta dalam hatiku, selain wanita yang kini menjadi teman hidupku. Hanya istriku, bukan masa lalu.

Munafik? Terlalu munafik juga jika aku mengaku tak ada perih dalam hati ini ketika membaca deretan kalimat itu. Belum tuntas aku membaca seluruh isinya, kunang-kunang nampak bertaburan lagi di mataku. Tapi, aku harus tetap bertahan. Aku tak mau pingsan lagi, aku tak ingin melewatkan informasi yang akan disampaikan oleh dokter yang sekarang telah keluar dari ruang ICU. Tuhan masih memberiku kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju keberadaan dokter yang sekarang tengah berdiri—berhadapan dengan Anto.

“Kalian keluarganya?”
“Iya, Dok. Saya adiknya, dan di sebelah dokter itu istri mas Ringga.”
“Syukurlah. Nona, suami anda sudah melewati masa kritisnya. Kakakmu akan segera sembuh, Nak. Silahkan, kalian boleh menjenguknya—bergantian.”

Begitu kejam kah diriku ketika nantinya ada hukuman yang harus kuberikan pada suamiku—yang telah mendustaiku. Sesakit apapun kenyataan ini—tetap tak akan bisa mengalahkan kesakitanku ketika menghukum orang yang aku cintai. Cukup, aku sudah terlalu lemah merasakan kesakitan ini. Aku tak mau menambahnya lagi. Ruang ICU ini sudah cukup menyakitkan untukku. Menghukumnya, sama halnya menghukum diriku sendiri—itu juga berarti menyakiti diri dan hatiku sendiri.

TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 26 Oktober 2011

[cerpen]Ceroboh


 
Sore itu, aku berangkat dengan segepok kertas bekas revisian skripsiku yang tertata rapi dalam map—di dalam tas punggungku yang berwarna pink. Tanpa pikir panjang—dengan percaya diri, aku mengibaskan gas motor—bergegas cepat meningalkan rumah menuju ke kampusku—sekedar mengahdiri technical meeting sidang skripsiku saja. Mataku nggak ada lelahnya memperhatikan langit yang semakin lama semakin gelap. Dugaanku, sepertinya akan ada hujan yang siap menghadang perjalan ala racing-ku nantinya.

Weits, dugaanku didukung kehendak Tuhan, hujan menyerang deras—kerap tanpa spasi. Tanpa mencoba melawan arus sedetik pun, aku langsung saja berteduh di warung nasi kosong yang kondisinya cukup bisa disebut warung nggak layak pakai. Ternyata bukan aku saja yang tertarik berteduh di tempat itu. Sedikit kaget ketika ada suara bapak-bapak menyapaku sok ramah. Ups… maksudnya bukan sok ramah, bapak itu memang ramah. Bapak itu sudah datang lebih dulu disbanding dengan kedatanganku.

“Mau kuliah, ya? Masukkan sepedanya ke teras sini biar nggak basah.”

Aku cukup melempar senyum sembari setengah menundukkan kepala—berlagak sopan, sedikit saja. Hehehehe…

“Bapak dari arah kota atau desa sini saja, Pak?”
“Oh saya dari arah kota.”
“Di kota deras ya, Pak?”
“Masih gerimis, Nak. Tapi kalau sekarang, dipaksa jalan basah kuyup juga.”
“Bapak nggak pengen tahu tentang kondisi hujan di desa utara? Bapak mau ke arah utara, kan?”
“Mendung di utara sangat hitam, nggak perlu ditanya lagi.”

Aku sempat terkekeh mendengar ungkapan bapak itu, sedikit nyentrik didengar telinga. Menarik kesimpulan dengan PD tingkat siluman. Hehehehehe…

“Mohon maaf nih, Pak. Apa bapak punya tas plastik lebih?”

Astaga, nggak tahu diri banget. Kalimat tanya itu melesat cepat dari mulutku ketika melihat si bapak membuka tasnya, dan mengeluarkan beberapa buntelan—terbungkus plastik—dalam tasnya. Sepertinya aku memang terlalu gagap berbasa-basi sopan.

“Butuh plastik buat sepatunya, ya?”
“Hehehehe… injih, Pak.”

Aku benar-benar bingung harus bersikap sopan seperti apalagi. Yang ada di otakku, aku harus melawan hujan karena sudah bisa dipastikan acara technical meeting di kampus sudah di mulai sejak setengah jam sebelum itu.

“Kalau mantel, punya?”
“Oh… Alhamdulillah ada, Pak.”
“Apa plastik kecil ini cukup untuk sepatu kamu?”
“Waduh… lebih dari cukup ini, Pak.”

Wouuuu kali ini, sebutan sok ramah itu berbalik menyerangku. Sudahlah ya, nggak ada rotan, akar pun jadi. Nggak bisa basa-basi sopan sepenuhnya, setengah sopan campur ngawur pun jadi. Plastik sudah di tangan, mantel juga sudah menutupi tubuhku. Siap menancap gas lagi.

“Terima kasih banyak lho, Pak. Plastik ini sangat membantu saya. Kalau begitu, saya berangkat duluan ya, Pak. Monggo, permisi.”
“Hati-hati, pelan-pelan saja, nggak usah ngebut. Kampusnya nggak mungkin pindah ke mana-mana kok.”

Untuk yang kedua kalinya si bapak mengeluarkan kalimat nyentrik, unik dan menggelitik. Nggak nyangka, suka ndagel juga bapak ini.

Langit sepertinya masih punya banyak stok air untuk dimuntahkan. Ckckckck lumayan juga, hujan bisa dijadikan alasan keterlambatan. Dasar tukang menimbun alasan, benarkah? Hahahaha sebut saja begitu. Aneh, sepanjang perjalanan, aku terus teringat dengan obrolan bersama bapak itu. Mengingat begitu mudahnya aku melemparkan pertanyaan sekaligus permintaan konyol tentang plastik padanya. Sampai-sampai si bapak harus rela mengeluarkan beberapa benda yang awalnya terbungkus dalam plastik itu. Ia melakukannya, demi membantuku. Ternyata masih banyak orang baik di dunia ini.

Entah sejak kapan hujan itu mulai reda. Saking terpukaunya aku mengingat obrolan itu di sepanjang jalan, aku sampai nggak sadar kalau hujan sudah benar-benar berhenti. Bahkan langit sudah mempersilahkan matahari merona lagi sebelum nantinya tenggelam menyambut malam. Aku menggeser ke atas penuh kaca helm yang tengah kupakai. Menghela napas panjang sembari menginjak rem kuat-kuat karena mendapati lampu merah yang baru saja terpancar di pertigaan memasuki awal wilayah kota Jember Barat.

“Hujannya udah reda lho mbak, nggak pengen buka mantel.”

Weits, hari itu mendadak banyak orang yang sok ramah. Bukan. Lebih tepatnya sok mau tahu keinginan orang—hehehe termasuk aku juga sih.

“Aneh aja mbak kalau nggak dilepas.”

Astaga, ini orang usil banget ya! Mau aneh atau enggak, itu kan urusanku toh. Aku yang makai, aku juga yang tahu rasanya. Lagian asik kok makai mantel biarpun nggak ada hujan. Anggap saja sebagai pengganti jaket. Hangat Bung.

“Kakinya juga tuh mbak, awas lecet-lecet lho kalau nggak dipakai sepatunya.”

Idih… pokoknya menyebalkan tingkat siluman orang itu. Huft… antara males dan sebel. Lebih baik diam saja daripada membuat ribut di lapak orang—lapak DISHUB maksudnya. Untung saja jalanan itu milik umum. Kalau saja milik bapakku, udah kuremukkan mulut orang itu. Aih… lagi-lagi aku menimbun alasan. Bilang saja penakut. Hahahaha mungkin!

********
“Hujan deres ya, mbak?”
“Kira-kira?”
“Kalau dilihat pakai mantel, berarti jawaban iya.”
“Nah itu udah tahu. Ngapain nanya sesuatu yang emang udah kamu tahu jawabannya.”
“Jiah… mbak Samsi ketus amat hari ini. Biasanya…,”
“Biasanya jauh lebih ketus dari hari ini?”
“Yaelah, mbak. Kenapa toh ya hari ini sewot banget. Udah ditunggu tuh daritadi sama pak Sekdek—di kelas FKIP pojok atas barat. Tumben biang kerok datangnya telat—bilangnya sih gitu.”
“Yakin… pak Arip bilang gitu? Pak Arip atau… kamu?”
“Nah… kalau santai gini kan enak ngobrolnya. Hehehehe awalnya sih emang aku yang bilang gitu, tapi tadi pak Arip nyumbang senyum. Berarti beliau setuju dong dengan sebutan itu.”
“Dasar! Ya udah, makasih ya buat infonya.”
“Sami sami mbakyu.”

Sekilas biar nggak ada yang penasaran. Pria itu, adik tingkatku. Sebut saja Amseh, begitu sebutan akrabnya. Cukup sedikit saja tentangnya. Karena memang nggak ada penjelasan lebih yang butuh dijelaskan tentang pria centil bin usil itu.

*********
Aku masuk ruangan technical meeting ketika pembahasan hampir punah seutuhnya. Nggak ada hukuman bagi yang telat, syukurlah. Jelas saja aman, dosen yang mengisi rapat itu sudah terlampau sering medapat ulah seperti itu dariku. Sepertinya mereka sudah maklum, atau bisa jadi—bosan. Hanya saja mereka memang sempat memperhatikanku aneh sesaat—nggak lebih dari hitungan detik. Hahahaha…

“Syi, kita bagi tugas.”

Teman sekelasku yang sering kusebut kang Filo, bergerak cepat menyambar perhatianku yang masih kelimpungan beradaptasi dengan pembahasan yang sudah kulewatkan.

“Bagi tugas piye to, Kang? Aku baru datang, jadi masih nggak nyambung.”
“Kacau, Syi. Transcript study punya kita-kita yang ujian besok malam belum terurus. Maklum lah, pemadaman setiap hari. Nah mumpung sekarang listrik sedang aman, salah satu dari kita harus ke Ka. Prodi ngecek satu persatunya. Belu lagi, kita juga harus nganterin undangan ke dosen pembimbing masing-masing sekaligus nyiapin konsumsi untuk ujian besok.”
“Wealah… banyak banget tugas dadakannya. Apa emang gini ya ribetnya ngurus ujian skripsi itu? Apa emang kita yang harus ribet?”
“Maklum lah, Syi. Simple jawabannya, kalian bukan anak SMA lagi. Apa-apa diurus guru, apa-apa minta instan. Mahasiswa lho ya, calon sarjana pula.”

Mantab. Pak Arip—sekretaris dekan, memang paling pintar mengemas kalimat biar mudah kutelan.

“Apa tugasku, Kang Filo?”

Aku hanya berharap, tugasku nggak menambah daftar tragedi menyebalkan dalam hari itu.

“Cukup nganterin undangan saja.”
“Ke…,”
“Ke rumah pak Mamed.”
“Siap seribu persen, Kang!”
Syukurlah, sekedar menjadi pak pos sementara. Menyenangkan.
“Samsi…,”
“Wonten nopo maleh to, Pak? Apa saya masih terkesan seperti anak SMA?”
“Sepertinya memang begitu.”

Pak Arip menunjuk ke arah kakiku berpijak. Dengan cepat mataku tertumpu pada satu kondisi—telapak kakiku yang masih bugil tanpa sepatu. Ditambah dengan celana pensil kain yang masih sedikit tergulung ke atas hingga ujung betisku nampak terlihat. Astaga… aku lupa membenahi penampilanku. Pantas saja Amseh semakin centil melihat kondisiku sewaktu tadi ia bicara denganku. Begitu pula reaksi para dosen ketika pertama melihatku masuk ke dalam ruangan menggelikan itu.

TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 25 Oktober 2011

[cerpen] Cukup Hati Kita Saja

 
Tak perduli siapa yang menawarkan hati.
Tak perduli siapa yang siap menjadi pelabuhan cinta ini.
Aku hanya mengenal hatimu.
Hanya hatimu, bukan hatinya, bukan pula lainnya.

“Kok belum berangkat?”
“Aku sedang menunggu istriku yang sekarang sedang bertanya konyol padaku. Hari ini kita berangkat bareng, kan?”
“Hari ini nggak. Bukannya kamu juga udah tahu?”
“…”

Aku tak tahu persisnya perasaan apa yang sedang kurasakan selama kurang lebih satu setengah tahun ini. Mungkin benar aku terlalu mencintaimu. Hingga aku hanya bisa termangu setiap kali mendengar kalimat penegasanmu—yang kerap kali tak mendamaikanku.

Selang beberapa menit ketermanguanku, kudengar suara klakson mobil dari arah depan rumah tempat tinggalku bersama istriku, Rina. Kecemasanku mulai tercecer. Ternyata benar, suara klakson mobil itu—milik pria yang selama ini membuat istriku selalu melewatkanku.

“Hari ini aku berangkat sama Fandi. Itu dia udah datang.”
 “…”
“Malam ini kamu juga nggak perlu menungguku makan malam di rumah. Aku akan dinner bareng Fandi di rumahnya.”
“Hati-hati ya, istriku. Kamu harus pulang dengan tetap membawa hatimu untukku.”
“…”
“Kalau begitu, aku berangkat dulu. Ajak Fandi sarapan sebelum kalian berangkat. Aku nggak mau istriku pergi dengan perut kosong.”

Sebenarnya nyiluh telah menyerang tulang-tulangku, bahkan jiwaku. Tapi entahlah, aku selalu tak bisa menunjukkannya padamu. Karena aku ingin kamu tahu, aku tak selemah itu untuk mempertahankanmu. Sebelum aku benar-benar menghilang dari hadapanmu—tepat ketika langkahku tersendat di ambang pintu utama rumah—kamu berpesan manis untukku. Apa aku memang terlalu tulalit, hingga kalimat sesederhana itu saja, aku anggap sebagai perhatian lebihmu.

“Pergilah jalan-jalan. Kamu butuh me-refresh pikiranmu biar tetap dingin menanganiku.”
“Aku nggak pernah gerah menangani perlakuanmu. Tenanglah, aku bisa diandalkan kok.”

Setelah itu, aku benar-benar pergi dari hadapan Rina. Aku berpapasan dengan Fandi yang masih santai berdiri—menyandarkan tubuhnya di daun pintu mobilnya yang tengah terbuka—sepertinya sengaja ia buka untuk Rina—untuk istriku.

“Masuk dulu, Bro! Gue nggak akan ngebiarin istri gue pergi sebelum sarapan.”

Fandi melempar senyumnya sesaat sebelum menutup pintu mobilnya--ia lalu melangkah menapaki pafling-pafling halaman rumah kami—rumahku bersama Rina. Mungkin aku terlalu sok paham dengan perasaan mereka. Hingga tak sedikit pun ada kecemasan yang hinggap di otakku tentang hal-hal buruk yang mungkin akan mereka lakukan. Atau? Aku terlalu mudah mempercayai seseorang. Entahlah. Aku percaya pada istriku seutuhnya, meskipun pernah beberapa kali aku tak bisa mempercayai Fandi—lelakinya itu.

*********
“Aku nggak bisa menikah sama kamu, karena selama ini aku terlanjur mengenal hati lain di balik sepengetahuanmu.”
“Apa? Jadi selama ini kamu selingkuh, padahal jelas-jelas kita udah tunangan, Rin. Aku nggak percaya. Kamu mundur dari pernikahan ini bukan karena alasan itu, kan. Kamu mundur karena sekarang aku udah miskin. Iya, pasti itu alasannya. Iya, kan?”
“Aku benar-benar nggak bisa mencintaimu lebih, Adim. Bukan karena harta, tapi ini masalah hati.”
“…”
“Aku minta maaf! Aku benar-benar nggak bisa mencintaimu lagi. Pria lain udah berhasil membuatku berpaling darimu. Mengertilah. Aku nggak bisa nyakitin kamu terus.”
“…”
“Aku tersiksa kalau harus hidup bersamamu… aku tersiksa kalau harus nyakitin kamu, Adim.”
“Tersiksa? Seharusnya aku yang tersiksa, bukan kamu. Kamu udah bohong.”
“Aku siap nerima hukumanmu. Asal kamu memaafkanku.”
“Kamu siap?”
“Iya, aku siap demi mendapat maafmu.”
“Baiklah. Menikahlah denganku. Hanya itu hukuman yang pantas buat kamu yang udah membohongiku.”
“…….”
“Bukannya kamu siap dengan hukuman apa saja dariku?”
“Aku nggak bisa menikah dengan kamu. Aku….”
“Aku nggak perduli. Apapun itu, kamu harus menepati janjimu—siap menerima hukuman apapun. Termasuk hukuman menikah denganku.”
“Menikah denganku hanya akan membuatmu semakin sakit, Dim.”
“Aku tahu mana yang baik dan buruk untuk diriku. Menikahlah denganku. Setidaknya aku bisa hidup bersamamu.”
“Tapi percuma kalau kamu hanya memiliki ragaku.”
“Aku nggak perduli. Sekali pun mungkin benar hatimu udah berpaling, aku tetap ingin hidup bersamamu. Aku mohon.”

************

Cinta yang aku jaga untuk Rina—sejak dua tahun sebelum pernikahanku dengannya, benar-benar telah membuatku gila. Begitu gampangnya aku memutuskan hukuman yang mungkin memang benar akan menyakitkan. Dua tahun sebelum pernikahan kami—aku tak tahu berapa lama menit-menit yang Rina miliki untuk mencintaiku. Tapi jelasnya, selama itu hingga saat ini, aku tak pernah lelah mencintainya. Selalu mencintainya.

Malam di wilayahku kali ini terasa berbeda. Biasanya, awan tak seramah ini mempersilahkan bintang berhamburan memberi kilaunya—mendung tebal hingga pagi—bahkan kerap kali hujan lebat tanpa henti. Tapi malam ini memang berbeda dengan malam-malam yang biasanya itu. Aku lebih memilih menghabiskan waktu di halaman belakang rumah—duduk di pinggiran kolam renang sembari merendamkan separuh kakiku.

Malam ini—malam Kamis. Aku ingin membebaskan pikiranku dari segala jenis deadline pekerjaanku sebagai Psikiater. Sementara saja, kusisihkan dulu tentang para pasienku yang sedari tadi sepertinya bingung mencariku—meneleponku—sms—bahkan sempat beberapa diantaranya sengaja datang ke rumah. Tapi tak satu pun kuhiraukan. Aku menenggelamkan ponselku ke dalam tas kerjaku yang sejak tadi siang kuletakkan di atas meja kerja—di ruang kerjaku—di ruangan pojok kanan depan yang ada di rumahku.

Kebebasan ini sengaja kupersiapkan untuk Rina—istriku. Tepatnya, untuk membicarakan sesuatu dengannya. Keterdiamanku di pinggir kolam sejak setengan jam lalu, berhasil menarik perhatian istriku untuk menegurku sembari membawa dua cangkir kopi hitan panas di tangannya.

“Kopi. Cukup asik minum kopi di suasana penuh bintang seperti malam ini? Apa nggak ada kebiasaan lain yang lebih nyaman selain merendam kaki di malam hari? Kamu terbiasa melakukannya setiap malam. Kamu bisa masuk angin, Dim.”

Aku tak berpindah dari posisiku. Aku hanya melempar senyum simpul untuk perhatian Rina yang mendadak terdengar sederhana di telingaku. Ia mengikuti caraku, duduk di sebelah kananku dengan membuat sedikit jarak dari posisi dudukku.

“Rin, sebenarnya aku nggak pernah lelah mengulur layang-layang itu. Bahkan aku masih punya banyak stok senar untuk setiap saat mengulurnya. Tapi sepertinya, layang-layang itu mulai berlubang. Apa mungkin layang-layang itu akan segera rusak?”
“Kamu udah tahu jawabannya sejak sebelum kita hidup bersama. Tapi toh kamu tetap bersih keras mengulur layang-layang itu. Kenapa sekarang kamu jadi cemas seperti ini?”
“Dulu, aku masih nggak bisa percaya dengan pengakuanmu tentang hati pria lain itu. Saat itu, yang ada di otakku hanya kamu yang mencoba pergi karena aku udah jatuh miskin. Saking besarnya cintaku untukmu. Aku bisa kuat bejuang lagi, hingga aku benar-benar bisa mencukupi kebutuhan lahirmu. Bahkan semua ini lebih dari yang kupunya sebelumnya. Meski aku tahu, ini masih nggak sepenuhnya mencukupi kebutuhan batinmu. Sekarang aku semakin paham. Ternyata, aku memang salah menilaimu. Harta memang bukan tujuan utamamu. Buktinya, akmu tetap nggak bisa mencintaiku lagi sekali pun hartaku udah lebih dari cukup.”
“Hahahahahaha…..ternyata kamu orangnya picik juga ya. Dodol.”
“Aku nggak pernah merasa tersiksa dengan perlakuanmu selama ini. Aku bahagia, Rin. Hidup bersama orang yang aku cintai, sekali pun sulit bagiku untuk mendapat balasannya. Tapi, dari situlah aku belajar rela.”
“Weits…kamu nggak bermaksud menghukumku lagi, kan?”
“Nggak kok. Bahkan sepertinya udah saatnya hukumanmu berakhir.”
“Maksudmu?”
“Kamu siapkan saja segala keperluan perceraian kita.”
“………”
“Fandi memang pria yang baik, sekali pun aku nggak yakin dia bisa membuatmu bahagia. Tapi dia nggak kalah baikknya sama aku.”
“Dalam kondisi yang seperti ini, kamu masih saja narsis. Baik? Seenaknya ngasih hukuman, seenaknya mau melepaskan hukumannya, tanpa kompromi dengan pasal-pasal lainnya atau terdakwanya. Itu yang disebut baik? Kamu yakin, kamu ini orang yang baik?”
“May be…”
“Kalau kamu nggak yakin Fandi bisa membahagiakanku, lalu kenapa kamu ingin menghentikan hukuman ini? Bukankah menurutmu, memilikiku adalah salah satu caramu untuk melindungiku?”
“Entahlah.”
“Lalu…”
“Aku siap melepasmu, Rin.”
“……”

Satu yang nggak bisa aku lakukan selama ini—memeluk, menyentuh hangat tubuh Rina—istriku sendiri. Aku bisa dengan mudah mencium keningnya ketika ia lelap dalam tidur panjangnya. Tak lebih dari sekedar cium kening saja. Tapi kali ini, aku harus melakukannya sebelum nantinya aku benar-benar tak bisa menyentuhnya.

“Biarkan aku memelukmu untuk yang pertama dan yang terakhir dalam pernikahan kita.”

Hangat sekali. Aku merasa damai dalam pelukannya saat ini. Terasa semakin hangat, damai, dan nyaman ketika ia membalasnya. Aku berharap pagi esok hari malas untuk menyapa wilayahku. Sehingga aku bisa dengan puas memeluk istriku—yang sebentar lagi akan menjadi mantan istriku.

“Adim, aku ingin kamu berjanji sesuatu sama aku.”
“Tolong jangan minta apapun yang membuatmu melepas pelukan ini, Rin.”
“Berjanjilah….”
“Tolong jangan katakana, Rin!”
“Berjanjilah kamu…..”
“Aku mohon jangan, Rin!”
“Berjanjilah kamu nggak akan pernah melepasku sampai kapan pun. Begitu banyak hati yang kutemui, hanya hatimu yang terbaik untuk cintaku ini, Suamiku.”

Hampir pingsan aku dibuatnya. Kalimatnya itu membuat tulangku remuk. Aliran darahku seakan hendak terhenti, tapi jangan. Aku tak akan membiarkan darahku berhenti mengalir karena aku masih ingin menikamati hidup bersamanya—bersama istriku—hanya bersama Rina dan cintanya.


TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 24 Oktober 2011