Di pagi itu, kali pertamanya aku bertemu denganmu. Mungkin terlalu cepat jika akhirnya, saat itu aku menjabat tanganmu. Bermodal ramah, pun aku bisa dengan mudah mengetahui nama dan nomor ponselmu. Pagi itu, aku dan kamu bertemu di sebuah taman kota. Kita berpapasan—lengan kita saling beradu dalam ketidak sengajaan. Tubuhku sempat sempoyongan kala itu, lantas kamu berusaha menopangnya dengan lengan kirimu—ketika kamu menyadari tubuhkuu hendak terjatuh.
Aku tak pernah keberatan jika di pagi-pagi berikutnya Tuhan mempertemukanku lagi denganmu. Bahkan jika perlu, aku ingin Tuhan mempertemukan kita berdua setiap waktu. Pandu—kamu pria pertama yang membuat isi di dadaku kembali bergemuruh setelah sekian lama membeku. Ternyata, keingananku memang bukan sekedar angan. Tuhan benar-benar meluruskan apa yang menjadi kemauanku. Setelah pagi itu, seperti sudah menjadi takdir—hubungan kita semakin akrab dan mengalir. Hingga sekarang kita begitu dekat, saling mengenal lebih dalam satu sama lain.
“Niar, mendadak hari ini aku nggak bisa menjemputmu. Kamu bisa pulang sendiri, kan?”
“Astaga, Pandu. Selama ini kamu terlalu memanjakanku. Seandainya setiap hari kamu membiarkanku pulang sendiri, pun aku juga pasti bisa menjalaninya kok.”
“Hehehe iya juga sih. Tapi kamu nggak pernah merasa terikat kan dengan perlakuanku itu?”
“Tenang saja, kamu sudah kenal aku, kan. Kalau memang aku merasa terikat, tanpa pikir panjang akan segera kugunting saja pengikatnya. Bukankah komitmen itu sudah ada, dan kita juga saling menyepakatinya. Iya, kan?”
“Heeemmm… kamu ini. Kamu memang paling bisa membuatku merasa nyaman.”
“Sudahlah, ya. Rayuannya ditunda dulu, aku masih harus fokus merampungkan pekerjaanku ini. Aku nggak mau kalau harus lembur gara-gara menghabiskan waktu kerjaku buat mendengar rayuanmu.”
“Hahaha… okelah kalau begitu. Selamat bersibuk, Niar. See you tomorrow! Besok pagi, jangan lupa bawa jus Apel buat kita berdua.”
“Siap, Komandan!”
Kita selalu meluangkan waktu untuk sekedar jogging berdua setiap pagi. Rumah kita juga tidak begitu jauh dari taman kota—kita menyebutnya alun-alun kota. Kita mempunyai kesepakatan yang telah didiskusikan sejak sebelum kita menjalin status berpacaran. Salah satunya, harus selalu ada jus buah yang berbeda setiap harinya sebagai penghilang dahaga setiap pagi setelah jogging berdua.
**********
“Kok cuma bawa satu botol jus?”
“Pandu, sesekali kita butuh belajar berbagi. Right? Sejak pacaran, sepertinya kita terlalu kaku menjalani komitmen dan aturan yang telah kita sepakati berdua.”
“Hahahaha… bukankah itu idemu juga? Kenapa sekarang kamu jadi merasa seperti itu? Bosan? Nggak nyaman, ya?”
“Huft… enggak semuanya. Ingin belajar berbagi saja kok, bukan yang lainnya.”
“Pagi ini agak mendung, udaranya juga nggak serenyah biasanya. Sekarang dinginnya nggak enak banget. Mendingan kita pulang saja. Minum jus di rumahmu akan jauh lebih baik.”
“Di rumah nggak ada orang. Ayah tugas ke luar kota, ibu ke rumah nenek di Surabaya.”
“Oh begitu, ya. Tapi, kita masih bisa menghabiskan pagi di rumahmu, kan?”
“Kenapa enggak!”
Udara memang sedang tak bersahabat. Saranmu memang layak untuk diikuti. Aku juga tak mau jika harus bolos kerja gara-gara masuk angin setelah jogging pagi ini. Rencana awal untuk belajar saling berbagi melalui sebotol jus Apel, belum sempat terlaksana ketika kita beristirahat di taman kota. Kamu hanya memutar-mutar sebotol jus Apel itu, lalu memberikannya lagi padaku. Yang ada di pikiranku, aku tak akan meminumnya sebelum kamu mengawalinya. Pantang bagiku meminum sesuatu sebelum kamu meminumnya lebih dulu. Lancang, begitu aku mengenalnya dalam adat jawa keturunanku.
“Selesai… ada dua gelas jus Apel dan sebotol di tanganmu.”
“Jadi, itu tujuan utamamu ke rumahku? Tanpa permisi masuk ke dapurku, membuat jus Apel dan memakai gelas serta blender tanpa seizin pemiliknya. Nggak…,”
“Nggak sopan banget, kan? Memang! Tapi, ini jauh lebih segar dan memuaskan dibanding sebotol jus itu.”
“Berarti kita nggak jadi belajar berbagi melalui sebotol jus ini?”
“…”
Kamu terpatung sesaat setelah mendengar pertanyaanku itu. Kenapa wajahmu mendadak menegang seperti itu? Padahal pertanyaanku itu sederhana saja. Apa mungkin aku salah melontarkannya padamu. Aku linglung menanggapi reaksimu. Suasana hening dan tegang, aku sangat membenci suasana ini.
Keheningan hanya akan menimbulkan kecanggungan—yang berefek pada ketegangan. Akhirnya semua berujung pada penegasan. Aku trauma, kejadian di masa lalu itu mendadak merasuki pikiranku lagi. Aku tak merasa nyaman dengan suasana ini. Tolonglah Pandu, bukankah kamu juga sudah tahu. Keheningan, ketegangan, juga penegasan yang dulu pernah membuatku kehilangan sesuatu. Kehilangan hati seseorang yang selama kurang lebih empat tahun aku cintai. Aku sangat tak mengharapkan suasana seperti ini. Bicaralah, pudarkan kekakuan di wajahmu itu. Katakana sesuatu agar suasana kita kembali santai.
“Hemft… apa kita ini orangnya sama-sama pelit, ya? Sudah hampir setahun pacaran, tapi kita masih sulit untuk berbagi. Sepertinya kita memang…,”
“Niar, apa kamu benar-benar siap untuk belajar berbagi?”
Syukurlah, akhirnya kamu bicara. Meski masih ada guratan kekakuan dalam wajahmu, tapi aku sudah sedikit lega.
“Ya jelas siap, Komandan. Kan sejak awal tadi aku sudah bilang, aku ingin belajar berbagi.”
“Okelah kalau begitu. Kita muali belajarnya dari mana?”
Kali ini, suasana diantara kita kembali santai. Bahkan lebih santai dari sebelumnya. Hembusan napasku ringan perlahan, menyamarrkan sedikit kecemasan yang sedari tadi telah menguasai pikiranku. Sungguh aneh. Kini, kamu yang membuatku terpatung. Melihatmu menghabiskan dua gelas jus Apel di tanganmu—rakus, saat ini hanya itu sebutan untukmu yang cukup tergumam dalam hatiku.
“Sekarang gelasnya sudah kosong semua. Sini, biar aku yang menuangkan jus dalam botol itu ke dalam masing-masing gelas kosong ini.”
Aku hanya pasrah membiarkanmu menjarah jus Apel dari genggamanku. Kuperhatikan kesibukanmu itu. Kamu sangat berhati-hati menakar jus itu ke masing-masing gelas agar sama volumenya.
“Selesai. Sudah terbagi, dua gelas dan sepersekian mili pada botol. Bagaimana menurutmu?”
“Pandu, kok ada tiga bagian?”
“Yup. Sepertinya memang harus kujelaskan tentang sesuatu padamu.”
“Iya, aku bingung.”
Kamu meletakkan kedua gelas dan botol berisi jus Apel itu di atas meja makan, lalu kamu duduk di hadapnya sembari terus memperhatikan dalam-dalam ketiga benda itu. Aku mengikuti caramu, sesekali kuperhatikan keseriusanmu memandanginya—semakin membuatku bingung.
“Niar, kali ini memang sudah saatnya kamu tahu segalanya. Tentang berbagi jus, juga tentang diriku selebihnya.”
“Ciye… apa selama ini pengetahuanku tentangmu memang masih terbatas, ya?”
“Hemhemhem… sepertinya memang begitu.”
“Lalu, apa hubungannya jus yang terbagi tiga bagian itu dengan dirimu?”
Aku melihat senyum merekah terpaksa dari bibirmu. Kamu menjulurkan segelas untukku, lalu mengambil jus dalam botol untukmu sendiri. Lantas, untuk apa segelas jus yang masih tersisa itu?
“Pandu…. Kamu nggak sedang berniat rakus lagi, kan! Apa segelas jus itu sengaja kamu takar untuk cadangan kehausanmu berikutnya? Hemmm kenapa mendadak kamu jadi rakus begini?”
“Rakus? Apa mungkin selama setahun tinggal di kota ini, keadaan mengubahku menjadi pria yang rakus, ya?”
“Pandu, jangan basa-basi deh!”
“Aku memang rakus, Niar. Karena itulah pagi ini aku mau belajar berbagi, agar nggak ada hati yang nantinya tersakiti karena kerakusanku itu.”
“Hati yang tersakiti? Kamu ini bicara apa sih? Aku nggak paham.”
“Niar, awalnya aku nggak berniat sedikit pun mengajarimu untuk berbagi. Tapi, setelah setiap pagi dan setiap hari kamu memasuki hidupku. Secara nggak sadar, aku sudah memaksamu untuk belajar berbagi sejak setahun kita pacaran.”
“Kamu membahas apa sih, Ndu? Pembahasan jus, tapi kok kesannya jadi serius dan berat begini!”
“Segelas jus untukmu, itulah sebagian hatiku yang sudah kuberikan padamu. Yang ada di botol ini, inilah sebagian hati yang masih kumiliki. Dan segelas lainnya, akan kuberikan untuk wanita yang selama setahun ini sudah kutinggalkan karena pekerjaanku di kota ini. Wanita itu, Meike namanya. Dia istriku yang sekarang sedang mengandung anak pertamaku di kota Magelang sana.”
Keindahan berbagi yang sempat bertandang di benakku, perlahan meluruh berubah menjadi bintik-bintik hitam buram yang menggelapkan apa saja yang ada di sekitarku. Begitu polosnya aku, hingga dengan mudahnya kuterima sebagian hatimu—pria milik wanita lain yang selama ini terduakan. Aku yakin, untuk beberapa detik saja—detak jantungku sempat tersendat ketika mendengar pengakuanmu itu. Saat ini, aku berharap tubuhku menjadi lemas. Pingsan, mungkin itu kondisi terbaik yang harusnya datang padaku. Sepertinya aku akan bolos kerja untuk hari ini, mungkin juga untuk beberpa hari berikutnya. Tapi, Tuhan tak menghendaki aku pingsan. Aku cukup terpatung saja, bahkan gelas di genggamanku ini tak terlepas—semakin erat kugenggam.
“Maafkan aku, Niar. Aku sama sekali nggak bermaksud mempermainkanmu. Sungguh, semakin lama aku semakin nggak bisa untuk tidak memberikan hati ini padamu.”
“Tapi kamu juga nggak akan bisa untuk tidak memberikan hatimu pada Meike. Iya, kan?”
“…”
“Asal kamu tahu, Pandu. Saat ini aku nggak tahu seberapa besar kadar kepahitan yang tengah menyebar dalam hatiku. Tapi aku tahu, kadar kepahitan yang Meike rasakan akan jauh lebih besar dariku saat ini, ketika nantinya aku tetap mempertahankan hatimu untukku.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan? Tolong beritahu aku, Niar!”
Aku tak pernah tahu jawaban terbaik seperti apa yang harus kuberikan padamu, Pandu. Munafikkah aku jika aku mengaku rela melepasmu? Kejamkah aku jika aku tetap mempertahankanmu? Cukup. Ini sudah terlampau pahit untuk diterima oleh hati wanita—hatiku juga hati istrimu.
“Pulanglah, temui istrimu yang sedang menguatkan hatinya untuk tetap mempercayaimu. Dia lebih membutuhkanmu. Sekali pun nggak bisa kupungkiri, aku masih belum siap kehilanganmu.”
“Apa kamu masih ingin berbagi, Niar?”
“Biarkan Tuhan saja yang mengajariku tentang ilmu berbagi itu.”
“Baiklah. Terimakasih sudah pernah ada dalam hidupku.”
“Sama-sama, Pandu.”
Keheningan hanya akan menimbulkan kecanggungan—yang berefek pada ketegangan. Akhirnya semua berujung pada penegasan. Kondisi masa lalu yang menurutku paling kejam—ketika tunanganku dengan tegas memutuskan untuk menggagalkan pernikahannya denganku di detik-detik menjelang pernikahan kami. Aku pikir tak akan ada lagi masa kejam setelahnya. Tapi ternyata, pagi ini bergemuruh. Memberitahuku tentang sesuatu, cermin itu berasal dari masa lalu. Tak seharusnya aku terlalu polos mempercayai sesuatu, apalagi menumpukan harapan besar pada sesuatu selain kehendak Tuhan pemilik hidupku.
TAMAT
Samsi Arpanurhi
Jember, 27 Oktober 2011