Tuesday, December 13, 2011

[cerpen] Karena suka, jadi salah tingkah.

Aku tergesa-gesa mengeluarkan motor dari garasi rumah sembari merespon telepon mas Agam melalui headset yang tersemat di telingaku.

“Nanti langsung duduk di kursi paling depan aja, ya. Aku udah nyiapin kursi itu buat kamu. Okey?”
“Siap boz! Hem… mas Agam nanti bisa gabung beneran, kan?” ada sedikit harapan yang tertekan di balik kalimatku itu.
“Su paste. Kalian kopdar intinya pengen ketemu aku, kan. Kurang sopan banget aku kalau nggak ikutan gabung.” Cetusnya tanpa malu. Kebiasaan narsisnya mulai nampak.
“Hahahahaha… itu cuma salah satu dari sekian banyak inti kopdar ini, Boz. Don’t make your style noisy like that. Jangan ke-GE ER-an broda!”
“Hahahaha… ya udah, buruan berangkat. Kalo nggak bisa datang on time, setidaknya masih in time lah. Get it?”
“Yep, got it well.” Jawabku sigap.

Saat ini aku memang masih sanggup merespon ungkapan narsisnya dengan santai. Terang saja begitu, semua karena aku tidak berhadapan langsung dengannya. Tapi nanti ketika kami bertatap muka, bisa dipastikan aku akan salah tingkah. Yang akan terjadi biarlah terjadi. Sekarang motor sudah siap kutunggangi. Let me find you, mas Agam.



Setelah memarkir motor, aku bergegas menuju Hunt Cafe yang ada di pelataran radio Probalingga—tempat kopdar para penikmat Lagu Lawas—program andalan radio Probalingga. Tadinya aku sudah melewati tempat itu sekilas ketika melajukan motor menuju tempat parkiran—sepertinya sudah banyak yang berdatangan. Sejak roda motorku memasuki halaman tempat ini, sejak itu pula isi dalam dadaku mulai melompat-lompat. Antara penasaran dan takut salah tingkah, kakiku memilih untuk tetap melangkah ke sana.

Aku berjalan dengan terus mengatur napas. Pandanganku berkeliaran ke segala arah—mencoba mengakrabkan diri dengan setiap sudut tempat ini. Sebenarnya tempat ini tidak terlalu asing bagiku, karena setiap berangkat dan pulang kuliah, aku selalu melewatinya. Tapi memang ada banyak alasan kenapa aku bilang ini bukan kondisi yang biasa. Pertama, meski terbilang sering melewati tempat ini, saat ini adalah kali pertamanya aku datang menjelajahi setiap sudutnya. Kedua, aku benci datang sendirian. Tidak ada orang dekat yang bisa kuajak ngobrol dalam usahaku beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan yang ketiga karena aku akan bertemu dengan orang-orang baru yang selama ini hanya akrab melalui udara saja. Lantas alasan selanjutnya—ini memang bukan alasan terakhir, tapi cukup bisa mengakhiri ketenanganku—merubahnya menjadi salah tingkah. Alasanya… karena aku akan bertemu dengan mas Agam.

Sudah barang tentu aku akan salah tingkah. Selama ini—sebut saja aku pengagum rahasianya. Ia adalah penyiar andalan radio Probalingga—penyiar program Lagu Lawas yang selama hampir lima tahun ini kunikmati. Sejak awal bergabung dalam acara on air-nya, ia memang sudah berhasil memikat hatiku. Suaranya exotic, caranya menghidangkan program juga sangat luwes. Orangnya rame, bersahabat, pokoknya sangat menarik dalam anggapanku. I think, I have bit heart for him.

Program yang awalnya hanya mengudara melalui indra pendengaran, perlahan sejak setahun lalu mulai mengepakkan sayapnya melalui jejaring sosial ‘facebook’. Berawal dari situlah, aku bisa saling bertukar nomor ponsel dengan mas Agam. Aku lupa bagaimana ceritanya hingga aku mendapat nomornya. Yang jelas, aku yang pertama kali memintanya. Ada yang bilang, wanita butuh aktif sedikit untuk mempertahankan sesuatu agar tidak terlepas begitu saja. Dan aku adalah salah satu yang membenarkannya.

“Selamat datang, Mbak. Harap isi daftar hadir dulu, ya.” Seorang wanita berusia sekitar 25 tahunan—berdiri melempar senyumnya tepat di hadapanku. Sepertinya aku sedikit mengenali suaranya—mungkin ia salah satu penyiar yang bekerja di radio ini juga.

Astaga, apa selama perjalanan tadi aku menghabiskannya dengan melamun. Ternyata aku sudah ada dalam kerumunan para tamu yang masih sibuk saling sapa satu sama lain—tepatnya aku berdiri di bagian depan di dekat podium utama pembawa acara.

“Ouegh… i-iya, Mbak. Makasih udah diingatkan. Maaf, ngisi daftar hadirnya di mana ya, Mbak?” akhirnya keterkejutanku membuatku semakin salah tingkah.
“Di sana, Mbak.” Wanita itu menunjuk ke arah meja yang ada di belakangku—dengan jarak sekitar 15 meter dari posisiku. Terlihat di sana ada seorang pria tengah berdiri sambil memutar-mutar bulpoin dengan jemarinya. Ia mengenakan jumper berwarna coklat susu—dengan bawahan jelana jeans biru tua press body—hingga terlihat jelas ia begitu seksi. Rambut panjangnya di ikat ke belakang, menambah pesona elok fisiknya. Aku cukup terhenyak ketika mendapati pandangannya tertumpu lurus padaku.
“Mari saya antar,” ujar wanita tadi ramah.
“Hem makasih. Ah… ehm biar saya sendiri aja, Mbak.” Jawabku agak gugup—efek dari tragedi saling memandang itu. Wanita itu melempar senyum tanda setujunya dengan sangat lembut.

Aku mengerahkan sisa-sisa kepercayaan diriku. Berharap semua akan baik-baik saja. Satu, dua, tiga … lantas selesai sudah. Aku harus segera pergi dari meja tamu ini sebelum aku semakin salah tingkah karena pria itu terus memperhatikanku.

“Soraya Pambudi alias Aya, bukan?” pria itu menyebut nama lengkapku yang baru saja kutulis di buku tamu—sekaligus inisialku ketika on air dalam acara Lagu Lawas. Ia melesatkan senyumnya padaku. Jangan-jangan pria ini mas Agam. Oh God! Betapa sempurnanya ciptaan-Mu ini.
“I-i-iya, benar. Mas ini… Mas… ” aku tidak bisa menyembunyikan kecanggungan ini.
“Mas Agam. Penyiar Lagu Lawas yang tadi sempat ngobrol sama kamu lewat telepon.” Dengan santainya ia menyela kalimatku sambil menepuk sebelah pundakku.

Iya iya iya, aku percaya kalau pria ini memang mas Agam. Segala sesuatu yang ada dalam imajiku kini terlihat jelas. Ia ramah, bersahabat, rame, satu lagi… mempesona. Ternyata segala sesuatu tentangnya memang tidak kalah exotic dari suaranya yang selama ini mengudara. Oh God, apa aku salah jika tertarik pada ciptaan-Mu ini?
“Sendiri?” tanyanya lagi.
“Ya iyalah, Mas. Mau sama siapa, singgel singgel bebas gitu lho.”

Ups, kamu terlalu cepat mempromosikan dirimu, Soraya! Bisa turun image-mu di hadapannya. Ckckckck

“Wou… imajiku tentang sosokmu selama ini ternyata nggak jauh beda sama kenyataannya. Gokil. Ya udah, di sana ada mbak Ajeng, dia tahu di mana kamu harus duduk. Okay!”
“Okay,” aku membalas senyumnya. Jantungku mendesir, bulu kudukku merinding, sangat terpesona.

Mbak Ajeng, aku cukup hapal wajahnya, karena ia sering datang ke kampusku—lebih tepatnya datang sebagai pemateri di beberapa acara Lembaga Pers Mahasiswa yang ada di kampusku.

Aku tidak segera menududuki kursiku. Seperti kebanyakan orang yang hadir di sini, aku berkeliling menjabat satu persatu para pengunjung—yang tidak lain adalah para penikmat lagu lawas. Aku juga bercengkrama dengan mereka. Saling berbagi cerita tentang sesi ‘sapa salam’ dalam lagu lawas. Setelah menyimak cerita para penikmat, akhirnya ada kesimpulan menggemaskan dalam program yang di bawakan Mas Agam ini. Ternyata bukan aku saja yang mengaku terpesona dengan sang penyiar—baik secara maya atau pun nyata. Nampaknya akan ada banyak pesaing untuk meraih perhatian mas Agam.

Acara kopdar ini begitu santai. Setelah acara formalitas usai, kami semua dijamu dengan lagu-lagu dari beberapa indie band lokal, juga pembacaan puisi dari beberapa penyiar radio Probalingga—termasuk mas Agam.

Tunggu sebentar, saat ini mas Agam membacakan puisi di atas podium. Lebih tepatnya ia tidak tampil sendirian—ia tampil berdua dengan mbak Ajeng. Ah… mereka terlihat serasi—ditambah lagi dengan ramuan puisi yang mereka bawakan. Mereka sangat menjiwai pembacaan puisi itu. Ketika mata mereka berdua beradu, seperti ada makna yang tersirat di dalamnya. Oh God, mereka bertingkah layaknya sepasang kekasih.

Syukurlah kini bait-bait puisi mereka telah tamat. Aku tidak perlu menerawang terlalu jauh tentang setiap ekpresi mereka sewaktu pembacaan puisi. Membawakan puisi dengan penuh penjiwaan bukanlah perkara sulit bagi mereka. Karena yang sempat kutahu, mereka berdua sama-sama lulusan fakultas sastra di kampusnya. Meski ada sedikit perbedaan, mas Agam lulusan sastra Indonesia, sedangkan mbak Ajeng sastra Inggris.

“Terimakasih buat semuanya yang udah hadir di sini. Merupakan sebuah kehormatan buat saya bisa berada di tengah-tengah penikmat lagu lawas. Ini nyata lho ya, akhirnya saya bisa bertemu dengan penikmat setia lagu lawas khususnya, dan Probalingga umumnya. Luar biasa, ini adalah kopdar pertama lagu lawas. Saya berharap akan ada kopdar berikutnya buat menjaga kebersamaan kita. Sekali lagi, terimakasih banyak.” Keluwesannya tidak berubah, semua terdengar sama seperti suara mayanya.
“Terima kasih juga buat Soraya alias Aya, yang selama hampir lima tahun ini nggak ada bosan-bosannya mengirimkan puisi-puisinya buat semua para penikmat, melalui sms atau facebook. Saya heran, sepertinya idenya nggak pernah mati dalam merangkai puisi. Sip.” Ia mengacungkan kedua jempol serta menebar senyum exotic-nya pada ku.
“Ah iya, di kesempatan yang luar biasa ini. Saya juga telah meminta ijin pada pimpinan saya buat menyampaikan kabar sederhana tentang hubungan saya dengan Ajeng. Yaaaa siapa tahu… luar biasa itu akan menular pada hubungan kami berdua, dari kabar sederhana menjadi kabar yang luar biasa. Hehehe…”

Wait! Apa maksud kalimat panjang kali lebar kali tinggi itu? Perasaanku jadi nggak enak.

“Mohon do’anya juga, rencanya bulan depan kami berdua akan menikah. Merupakan sebuah kehormatan lagi bagi saya kalau para penikmat sudi hadir dalam pernikahan kami berdua. Tapi ya gitu deh… karena di bulan kurban ini sapi dan kambing banyak yang di sembelih, kemungkinan besar bulan depan jatah daging buat acara pernikahan, saya ganti dengan roti bakar saja. Hehehehe…”

Aku bisa merasakan gelak tawa semua orang yang ada di tempat ini. Mereka tergeletik dengan kalimat mas Agam, terkecuali aku. Pandanganku terfokus pada sikap mas Agam yang terus menggenggam erat tangan mbak Ajeng—di atas podium—tepat lurus di depanku. Terjawab sudah, sainganku untuk meraih perhatian mas Agam tidak begitu banyak, cuma satu tapi terlanjur membekukan hati mas Agam. Harapanku kandas.

Sepertinya aliran darahku memanas, meluruhakan tulang-tulangku, mengerutkan daging dalam tubuhku. Hatiku menciut, napasku terengah-engah. Aku jengah dengan kondisi yang seperti ini. Rasanya waktu berjalan melamban, padahal tadi terasa cukup cepat. Aku ingin segera pergi dari tempat ini. Aku tidak tahu, setelah ini apa aku masih bisa berdiri tegap, berjalan santai melenggang seolah tanpa luka.

Sejak awal aku sudah salah tingkah karena pesona mas Agam. Lantas bagaimana dengan sekarang? Sepertinya aku akan semakin salah tingkah, karena hatiku telah terluka. I’m crazy in heart to you, mas Agam.

TAMAT
Jember, 13 Desember 2011
Samsi Arpanurhi