Friday, September 14, 2012

[puisi] Cukup 'senja kala itu' Saja


Senja kala itu,
Hasratku telusuri 'lagi' jejakmu dalam penat.
Meski teramat berat,
Sedikit pun hasratku enggan menghujat.
Senja kala itu,
Senyumku tergurat,
Sadari hati yang kembali tersekat.


Papuma_Wuluhan_Jember

Jika jejakmu tak layak 'lagi' hadir,
Lantas mengapakah hasratku tentangmu belum juga tersingkir?
Namun, jejakmu memang tak layak 'lagi' hadir.
Jika nantinya hanya membekas sendu,
Dan mengakar hingga damaiku luruh.

Senja kala itu,
Mengoyak naluri,
Dan menikam setiaku pada satu hati.
Senja kala itu,
Kutawan 'lagi' jejakmu di hamparan ilalang gersang.
Agar pesonamu tak lagi berpendar,
Dan hasratku perlahan memudar.
Dalam pekur yang tersembunyi,
Kupulihkan hati dari hasrat memilikimu, lagi.



Surabaya, 13 September 2012
Samsi Arpanurhi

[poem] Pesan di Balik Bilik Hati

Aku nggak peduli,
Seberapa lamanya kau pergi dariku.
Aku nggak peduli,
Seberapa seringnya kau menghindariku.
Aku juga nggak peduli,
Seberapa kerapnya kau berusaha lupakanku.
Yang aku peduli hanya satu,
Kau tak pernah bisa tuk berhenti mencintaiku.



*Hikshikshiks...numpang pose di tulisan ini ^_^


Aku nggak tahu,
Sebesar apa kejenuhanmu menerimaku.
Aku nggak tahu,
Sekuat apa rasa engganmu menerimaku.
Aku juga nggak tahu,
Sehebat apa caramu mengusir perasaanku.
Yayayaya… memang aku nggak tahu itu.
Yang aku tahu hanya satu,
Selalu ada aku dalam hatimu.




Banyuwangi, 23 Agustus 2012
Samsi Arpanurhi

[poem] Kau Untuk Aku

Katakan saja,
Dalam lugu diam-diam kau memikat.
Jelaskan,
Diantara ria kau pun sempat terbujuk gundah.
Aaah... Lantangkanlah,
Dengan cukup bersamaku 'saja' kau berbahagia, tepiskan gundah.



Aku tak memaksa apa yang kau rasa.
Tak menahan pilihan yang kau simpulkan.
Bahkan jika kau gontai melenggang tanpa kesan,
Menghadang jalanmu pun aku enggan.
Hanya saja, naluri tetap upayakan kau bertahan.
Bertandang dalam hati yang awam, hingga cukup kasihku yang kau genggam.

Dalam setiap detak napas, kubalas slalu genggamanmu.
Tak terlepas, hingga kau rasa slalu kasih sayangku.
Lantas, tak ada lagi yang patut kau akui.
Kecuali, kasih sayangmu mendewasa dalam hatiku tanpa duri.
Akhirnya, atas kehendak Illahi,
Kau dan aku pun saling melengkapi.



Surabaya, 6 September 2012
Samsi Arpanurhi

[puisi] Amburadul


Aku menunggu,
Termangu diantara jeda tak tentu.
Aku merajuk,
Tekoyak di sela hiruk-pikuk.
Aku meratap,
Dalam diam penuh harap.
Dan aku terpekur,
Meramu hasrat dalam syukur.

Ini bukan tentang prasangka,
Bukan pula kepastian logika.
Ini sepetak kondisi jiwa,
Dalam pemasrahan menerima.



Surabaya, 15 Agustus 2012
Samsi Arpanurhi

Selayang Sajak Pengabdian


Di suatu sudut pengabdian,
Tergolek nyawa menyingsing senyuman.
Raut wajah nanar semburat,
Tawa sembab menyengat,
Remuk gundah wajah kian tergurat.

Ada wajah-wajah,
Ada beberapa jiwa di sana.
Di sudut pengabdian,
Nyawa tanpa dosa meliuk-liuk dalam kandungan.

Mereka menerobos berlapis gerbang kehidupan.
Mengolah kecemasan ibu jadi kekuatan.
Tergurat perjuangan penuh harap.
Terpekur bathin mengharu senyap.

Di sana para jiwa berjuang.
Di suatu sudut pengabdian,
Ada pengabdian untuk mereka,
Untuk sang ibu dan nyawa tanpa dosa.


Denpasar, 9 Juni 2012

LAPUT Untuk Ayah

Bercerita adalah salah satu kelebihanku selama berprofesi sebagai pribadi Nurul Hidayatu Samsiah. Diantaranya bercerita tentang cerpen (cerita penting), dan cerbung (cerita gak nyambung). Selama ini aku memakai 2 cara untuk mengatraksikan kelebihan itu, yaitu secara Orali (obrolan lidah) dan Oratu (obrolan tulisan). Biasanya aku bercerita melalui salah satu cara saja. Dalam artian begini, ketika sudah orali maka tidak butuh oratu, begitu sebaliknya. Tapi kali ini khusus untuk ayahku (alm), kedua cara itu kubutuhkan untuk diterapkan berbarengan.

Ayah, inilah Laporan Utama (Laput) yang kupersembahkan untukmu. Seorang Ayah yang kini menyaksikan sisa-sisa kisah anaknya melalui dunia di seberang sana.

Jember 13/06/07,salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Desa Pecoro kec. Rambipuji kab. Jember yang akrab dengan sebutan SMARA (SMA Rambipuji), telah berhasil menetaskan beberapa pemuda/i calon penerus bangsa (harapnya), salah satunya adalah pemudi yang memiliki nama lengkap Nurul Hidayatu Samsiah, sebut saja Aku.

Sesuai dengan standar nilai UN "lupa berapa standartnya waktu itu," aku (anak bungsumu) termasuk salah satu siswa berhuntung yang memboyong nilai rata-rata UN 23,20. Dengan spesifikasi nilai pada setiap mata pelajaran UN sebagai berikut: Bahasa Indonesia (8,00), Bahasa Inggris (7,20), dan Matematika (8,00).

Kelulusan itu menyenangkan sesaat, Yah. Selebihnya malah sangat menyenangkan sekali, Yah. Rasanya benar-benar bebas, terlebih bebas dari tuntutan nilai dan bebas menentukan kenyamanan dalam menggamit semua pengetahuan.

Terlalu banyak kasus yang terjadi selama setelah kelulusan itu. Aku adalah anakmu yang tingkat kad`r lupanya cukup bisa diposisikan pada stadium 1 dari 1 stadium lupa yang tersedia. Oleh sebab itu, aku biasanya bisa bercerita secara utuh di waktu musim Kemarau (ketika marah dan galau). Sedangkan saat ini aku sedang dilanda musim yang aku belum sempat menamainya. Pada intinya aku hanya bisa bercerita beberapa bagian saja, Ayah. ^_^

Setelah lulus SMA empat tahun lalu, Si Mas memboyongkku ke tempat lain yang kunamai sebagai tempat NGULIAH (Ngumpulin Ilmu-ilmu Bahagia) di Univ. Islam Jember. Waktu itu Si Emak sangat mendukung aku, Yah. Emak berpesan agar nantinya dengan ilmu itu aku bisa memproduksi kebahagiaan bagi orang lain dan diri sendiri tentunya.

Selama empat tahun terakhir, Alhamdulillah aku sudah bisa memproduksinya. Senang sekali ketika diri ini menjadi berkah bagi semua makhluk Allah. Aku merasa benar-benar hidup dan sangat nyaman.

Tapi ternyata 4 th itu hanya produk dasar saja yang masih kuolah. Sekarang aku sudah bukan lagi seorang mahasiswa. Tepatnya sejak bulan Oktober 2011, anakmu ini resmi menjadi Sarjana dengan IPK 3 koma sekian-sekian. Aku yakin Ayah juga sudah tahu kabar itu. Karena aku masih ingat, kala itu aku mengontak ayah untuk ikut hadir dalam ruang wisuda.

Sesuai dengan sebutannya "wisuda" yang berarti kelulusan. Ingatanku segera meluncur ke masa akhir SMA. Dulu senang sekali karena bisa lolos dari aturan nilai-nilai rumit UN. Itu dulu, sewaktu aku belum tahu ilmu-ilmu bahagia. Sekarang lain lagi ceritanya. Lulus dengan setumpuk ilmu-ilmu bahagia namun masih sedikit memproduksi kebahagiaan, rasanya hidup terserang musim Kemarau berkepanjangan.

Ayah, apa ini kehidupan yang sesungguhnya? Dulu sebelum meninggalkan aku, ayah sempat menuntunku dalam mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Sehingga sampai sekarang aku bisa tanpa cemas berkeliling ke tempat-tempat yang pernah ayah datangi, meski sekadar untuk melempar dengusan pada ayah di sana. Dan sekarang aku tetap ingin ayah menemaniku mendapatkan SIM yang lain. Surat Ijin Menikah? Itu memang salah satunya. Tapi yang lebih kubutuhkan sekarang adalah SIM B alias Surat Intens Memproduksi Bahagia. Ayah, tolong bantu aku menyampaikan permohonan SIM B pada Allah ya. I love you, Ayah ^_^


Jember, 17 Mei 2012

Monday, March 5, 2012

Just Dreaming

             Aku kembali bertemu malam. Kebiasaanku tetap sama, masih saja mengenangmu di sana yang entah. Remang kian membungkam pikiran, menyeretnya menjelajah disket memori yang penuh dengan sosokmu di dalamnya. Mungkin aku memang belum benar-benar menghapusnya, hingga sampai malam ini histori itu masih saja mendominasi. Aku terseret jauh, semakin jauh, lalu tersungkur. Disket itu terputar perlahan. Aku sangsi malam jenuh bertemu denganku. Meski faktanya, aku sengaja membuat malam terus mengulum memori tentangmu. Mengamatimu dari jauh, mengintai gerak gerikmu pelan-pelan, merangkul jiwamu melalui dunia yang  sendu. Dan itu adalah duniaku tanpa kamu, hanya di huni setumpuk angan. Sepertinya malam mulai menggerutu, mencerca melaui hembusan angin, dan semua itu tertuju padaku. Sebelum malam ganti mengutuk, kupercepat historimu agar disket itu segera berhenti berputar. Lalu kupejamkan mata dan kusambut pagi seolah malam datang hanya dalam mimpi. Lantas semua tentangmu kembali tak berarti, meski tak ayal semuanya tersimpan rapat-rapat dalam hati. 



*5/3/12*
Edisi memanjakan insomnia ^_^ 

Sunday, January 8, 2012

Pedagang Durian vs Pembeli Brutal

           Pagi tadi teman saya bercerita tentang sepenggal kisah tahun barunya di hadapan saya yang pada waktu itu masih sedang asyik tiduran sambil menikmati sayupnya mendung melalui lubang ventilasi rumah. Teman saya bercerita dengan semangat yang menggebu-gebu diiringi dengan tawa mencurigakan yang sulit saya gambarkan, tawa antara senang dan sesal.
“Rul, aku udah pernah cerita ke kamu belum ya tentang pedagang durian yang menyebalkan itu?” Ujarnya sambil menggaruk-garuk kepala.
“Sepertinya sih belum, lah kenopo karo pedagang itu?” responku masih santai.
“Kejadiannya baru-baru ini aja, kalo nggak salah pas awal Januari kemarin…,”
“Hemm…,” responku datar sambil mengangguk-anggukan kepala—tanda mulai penasaran.
“Aku belum cerita ya?” Ia mengulangi pertanyaan yang sama. Perlu saya beritahu, ada beberapa hal dari teman saya itu yang sering membuat saya sebal ketika mendengar cerita atau curhatannya—suka mengulang pertanyaan yang sudah ditanyakan dan sudah juga saya jawab. Itu masih salah satu hal, dan masih banyak lagi hal lain yang membuat saya mendadak geram, lihat saja nanti.
“Kamu ini niat cerita atau sekedar main tanya jawab toh? Aku belum dengar cerita itu, ayo kenopo, Dulur?” Rasanya saya memang mulai sebal.
“Hehehehe… iya iya, yo wes sekarang kamu dengarkan ya!”
            Saya mulai memperhatikan sikapnya yang pada waktu itu tertawa sarat makna, seperti yang sudah saya bilang sejak awal—tawa antara senang dan sesal.
“Kapan mau ceritanya?” Penasaran ini sudah memuncak, sementara ia masih saja asyik tertawa.
“Kapan hari aku benar-benar jadi orang brutal, Rul. Pemarah iya, egois iya, songong juga iya.” Ia menelakupkan kedua tangan di wajahnya.
“Memangnya kenapa sih?” Responku agak memaksa.
“Pas tahun baru kemarin, mendadak aku pengen banget makan durian. Akhirnya aku pergi ke tempat penjualan durian. Waktu itu berbagai jenis durian dengan varian harga berbeda-beda ditawarkan ke aku. Akhirnya aku memutuskan untuk membeli tiga buah durian seharga empat puluh ribu rupiah. Pedagangnya itu ibu-ibu separuh baya. Dia bilang duriannya itu bagus, enaknya nggak kalah dengan yang harga lima puluh ribu…,”
“Terus?” Penggal saya sekilas sebagai tanda saya masih mendengar ceritanya.
“Ucapannya yang muluk itu membuatku berani menanyakan sesuatu pada orang itu. Aku tanya, beneran Buk durian ini bagus?
“Terus ibu itu jawab apa?”
“Dia bilang, iya nduk, durian ini bagus, rasanya enak… manis-manis pahit.
            Reflek saya bangkit dari tiduran. Rasanya manis-manis pahit, kalimat itu sempat membuat saya terpingkal kecil. Mengingat pengakuan bahwa durian itu bagus, tapi kok rasanya manin-manis pahit. Pahitnya itu lho yang membuat telinga saya tergelitik. Untung saja kata-kata manisnya terbilang dua kali ‘manis-manis pahit’, sehingga cukup meyakinkan pembeli bahwa rasa durian itu lebih banyak manisnya dibanding dengan pahitnya. Coba saja jika pedagang itu bilang ‘pahit-pahit manis’, sudah barang tentu tidak ada orang yang mau membeli duriannya.
            Teman saya juga ikutan terpingkal, ia juga merasa ada humor yang perlu dinikmati dalam kalimat itu.
“Batinku, mana ada durian enak berasa manis-manis pahit,” imbuhnya sambil menamatkan tawanya.
“Terus apa reaksimu?”
“Ya aku geli sekaligus kaget aja. Akhirnya aku bertanya lagi, sekedar ingin memastikan kalo durian itu beneran bagus dan rasanya enak.”
“Terus?” Tukas saya sambil membatin emang pada dasarnya kamu itu orangnya suka mengulang pertanyaan, mekso.
“Terus jawaban ibu itu masih sama, bahkan lebih meyakinkan kalo aku nggak akan rugi membeli duriannya.”
“Akhirnya kamu beli?” Saya mengambil posisi bersila, dan duduk lurus menghadapnya.
“Karena aku udah mulai yakin, akhirnya aku beli.”
“Terus rasanya beneran enak?” Saya semakin tidak sabar mendengar kesimpulan ceritanya.
“Bentar dulu, ceritaku belum selesai. Kamu harus sabar, ceritanya masih panjang dan penuh kejutan nih.”
            Saya menghela napas panjang dan dalam, batin saya mulai menggerutu kesal. Ini adalah hal lain darinya yang membuat saya geram ketika mendengar ceritanya, panjang lebar sebelum mencapai inti cerita—sekaligus agak khawatir ceritanya akan berujung menyebalkan.
“Pas sampai rumah, aku langsung membawanya ke dapur. Ada ibuku di sana, bapak belum datang, adikku langsung berangkat kerja pakai motor yang baru saja kubawa.”
            Batin saya mendengus kesal, apa hubungannya ya bapak, ibu, adik, dan motor dengan cerita durian ini? Sepertinya rasa penasaran saya mulai tidak terkontrol. Ini juga merupakan unsur cerita yang sempat membuat saya geram.
“Hemmm…,” dengusan saya ringan sambil menyanggah dagu lemas.
“Aku belah durian pertama, kumakan juga, pedagang itu benar. Ras durian itu memuaskan. Manis manis manis, pokoknya enak, ibuku cuma memperhatikan aja. Belum habis durian pertama, perasaanku jadi penasaran dengan durian lainnya. Buru-buru kubelah keduanya, coba tebak apa yang kulihat?”
“Hemm… ya durian lah…,” jawabku enteng.
“Iya, durian bosok. Dua-duanya busuk dan nggak bisa dimakan sama sekali,” matanya melotot lurus ke arah saya. Reflek saya memalingkan wajah, lalu segera membaringkan tubuh kembali ke kasur.
            Diantara beberapa hal yang membuat saya geram, nyatanya memang masih ada hal darinya yang membuat saya betah mendengar cerita panjang lebar darinya. Hal itu adalah semangat bercerita serta berbagai macam gesture yang ia terapkan untuk menghidupkan ceritanya—semisal pelototan matanya itu.
“Langsung aku jadi brutal, Rul. Waktu itu juga, yang ada di pikiranku adalah aku harus mendatangi pedagang itu, melempar duriannya ke orang itu sambil marah-marah.” Jelasnya lagi dengan semangat tingkat tinggi sambil meremas-remas jarinya hingga setiap remasan mengeluarkan bunyi. Saya tersentak dari rebahan, lalu duduk lagi menatap wajahnya.
“Terus… kamu melakukannya?”
“Iya…,” jawabannya kali ini membuat saya sebal pangkat kecewa terhadap tindakannya. Saya mendengus sambil menggeser duduk hingga punggung menempel di dinding kamar. Mudah marah, emosi, adalah hal lain dari teman saya yang kerap kali membuat saya geram.
“Puas?” Tanya saya datar.
“Waktu itu motor udah dibawa adikku, yang tersisa di rumah cuma motor butut, itu pun rusak. Aku cari ojek ke sana ke mari, nggak nemu juga. Akhirnya ibuk beraksi. Ibuk ngasih aku uang ganti pembelian durian agar aku nggak merasa rugi…,”
“Ibu bilang apa?”
“Dia memegang tanganku, memberikan uang seharga durian itu sambil menasehatiku. Ini ibuk ganti uangmu, tapi nggak usah pergi menemui pedagang itu ya. Pakai uang itu buat beli durian yang baru. Nggak baik komplain kalo pikiran masih emosi. Kamu perempuan, harusnya bisa lebih santun.
“Nah aku lebih sepakat sama ibuk, kamu juga?” Respon saya santai.
“Emosiku sedang memuncak jadi aku nggak setuju sama ibuk.”
“Hemm…,” berdeham lebih damai ketika merespon bait-bait kalimat dalam cerita teman saya itu.
“Sampai malam aku masih belum menemukan cara untuk pergi menemui pedagang itu. Besok paginya, aku mengantar ibuk ke pasar, sekalian deh niatku yang kemarin kulanjutkan. Ternyata pedagang itu belum datang. Ibuk sempat bilang kalo kondisi seperti itu adalah tanda Tuhan nggak mengijinkan aku untuk marah-marah ke pedagang menyebalkan itu.”
“Aku juga sepakat sama ibu…,”
            Ia hanya tertawa ringan melihat respon saya yang semakin melemas, sekaligus mungkin terbilang latah—jadi pengikut ibunya. Mungkin ia merasa senang ketika melihat saya berusaha menyembunyikan sebal dan geram ketika mendengar ceritanya.
“Pas siangnya, waktu itu hujan deras. Niatku ternyata masih belum berubah…,”
“Kamu berangkat?”
“Iya. Aku kan masih punya jas hujan.”
“Ketemu sama orangnya?” Entah apa sebabnya, padahal saya hanya mendengarkan cerita, tapi saya sangat khawatir teman saya akan malakukan tindakan yang iya iya melalui kemarahannya nanti.
“Ketemu, bahkan waktu itu pas dia melayani pembeli.”
“Kamu jadi marah-marah sama dia?” Saya berharap ia memberi jawaban ‘tidak’.
“Jelasnya begitu,” jawabnya santai.
            Saya mendengus sambil memukul kening pelan. Gelengan kepala saya reflek membuat ia menyeringai lebar. Sepertinya ada kelucuan dari reaksi saya yang perlu ia tertawakan.
“Kamu asli sinting, Dulur. Apa respon pedagangnya?”
“Waktu itu aku komplain ringan, Buk, kok ternyata durian jualan ibuk luput dengan penjelasannya ibuk ya. Dari tiga durian yang kemarin saya beli, cuma satu yang berasa enak, yang lainnya busuk nggak karuan. Eh ibu itu malah sok melempar kesalahan, Oalah nduk, itu bukan durian saya, itu duriannya pak Holil. Iya, nanti saya bilangkan ke orangnya. Aku semakin emosi, kulemparkan durian busuk itu ke arahnya. Waduh Buk, saya nggak peduli itu duriannya pak Holil kek, pak presiden kek, pak polisi kek, yang jelas kemarin saya belinya sama Ibuk. Njenengan masih ingat kan, Buk? Ibu itu menunduk, mungkin kesal. Suaminya ada di sebelahnya, kayaknya sih dia pengen marah sama aku. Golok yang dia pegang buat menata-nata durian seolah udah siap dihadapkan ke arahku, Rul.”
“Serius? Apa reaksimu?” Saya benar-benar tidak habis pikir pada teman ini.
“Bermodal emosi, aku menantang suaminya juga. Saya nggak takut sama golok itu, Pak. Kalo mau, cepetan sini lempar golok itu ke wajah saya. Nggak usah ambil ancang-ancang sambil melotot seperti itu. Anehnya si bapak malah ikutan menunduk. Nggak tahu apa sebabnya, mendadak aku mengelus dada, ingat Tuhan.”
“Halah… lagakmu, Nduk.” Saya kembali membuang muka.
“Semua pembelinya pada kabur. Akhirnya ibu itu minta maaf sambil bilang begini, Nduk, kalo mau komplain jangan begitu caranya, apalagi di depan pembeli yang lain. Bisa nggak laku nanti jualan saya. Ya udah, sekarang kamu ambil dua durian sebagai penggantinya, pilih terserah kamu. Kalimat itu yang aku tunggu-tunggu sejak awal, aku pengen tahu seperti apa sih tanggung jawab orang itu.”
“Akhirnya kamu puas?” Pertanyaan saya bernada paksa agar ia segera menyimpulkan perasaannya.
“Puas, karena akhirnya ibu itu juga merasakan sakit hati seperti apa yang aku rasakan pas mendapat durian busuknya. Tapi…,”
“Tapi…?
“Aku menyesal, aku nggak habis pikir kenapa aku bisa melakukan semua itu. Aku nggak suka sikap masa laluku muncul lagi, aku nggak suka dikendalikan emosi. Kalo dipikir-pikir semua kan masih bisa diomongkan baik-baik juga sih.”
“Hahaha selama aku kenal kamu, nggak tahu udah berapa lama, yang jelas sikapmu yang seperti itu selalu jadi penutup setiap cerita yang kamu suguhkan ke aku. Aku udah biasa dengar pengakuan sesal itu, tapi ya… tetap kamu ulangi kan, lagi dan lagi.” Sebenarnya ingin sekali saya mengumpat habis-habisan pada teman saya itu, tapi percuma juga, ia sudah terlanjur kebal dengan apapun ucapan saya.
“Menurutmu aku jahat ya?” Tanyanya dengan mimik polos.
“Kira-kira?”
“Aku cuma pengen ngasih pelajaran aja sama mereka-mereka yang seenaknya mengumbar janji, pembohong, dan curang. Dan ibu itu salah satunya” Masih saja ia berusaha membela diri.
            Saya hanya menyeringai tanpa kata menanggapi pembelaannya itu. Jujur, saya memang kehabisan amunisi kata untuk menjawab pertanyaannya ‘Menurutmu aku jahat ya?’
            Meskipun demikian, terima kasih banyak buat teman saya yang sudah berbagi kisah menariknya tadi pagi. Gara-gara ceritanya, saya bisa menahan kantuk yang sering menyerang saya di pagi hari. Selebihnya, cerita itu juga memberikan pesan-pesan tersendiri bagi saya yang sepertinya memiliki sikap dan sifat yang hampir mirip dengannya—sebelas dua belas lah. Hahahahahaha


Notes: Kata-kata berikut ini adalah kata bahasa Jawa yang dipakai dalam percakapan sehari-hari sebagian besar warga Jember.
Kenopo = Kenapa
Karo = Dengan
Dulur = Saudara
Nduk = Nak
Njenengan = Anda
Yo wes = Ya sudah
Mekso = Maksa
 Bosok = Busuk