Friday, September 14, 2012

LAPUT Untuk Ayah

Bercerita adalah salah satu kelebihanku selama berprofesi sebagai pribadi Nurul Hidayatu Samsiah. Diantaranya bercerita tentang cerpen (cerita penting), dan cerbung (cerita gak nyambung). Selama ini aku memakai 2 cara untuk mengatraksikan kelebihan itu, yaitu secara Orali (obrolan lidah) dan Oratu (obrolan tulisan). Biasanya aku bercerita melalui salah satu cara saja. Dalam artian begini, ketika sudah orali maka tidak butuh oratu, begitu sebaliknya. Tapi kali ini khusus untuk ayahku (alm), kedua cara itu kubutuhkan untuk diterapkan berbarengan.

Ayah, inilah Laporan Utama (Laput) yang kupersembahkan untukmu. Seorang Ayah yang kini menyaksikan sisa-sisa kisah anaknya melalui dunia di seberang sana.

Jember 13/06/07,salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Desa Pecoro kec. Rambipuji kab. Jember yang akrab dengan sebutan SMARA (SMA Rambipuji), telah berhasil menetaskan beberapa pemuda/i calon penerus bangsa (harapnya), salah satunya adalah pemudi yang memiliki nama lengkap Nurul Hidayatu Samsiah, sebut saja Aku.

Sesuai dengan standar nilai UN "lupa berapa standartnya waktu itu," aku (anak bungsumu) termasuk salah satu siswa berhuntung yang memboyong nilai rata-rata UN 23,20. Dengan spesifikasi nilai pada setiap mata pelajaran UN sebagai berikut: Bahasa Indonesia (8,00), Bahasa Inggris (7,20), dan Matematika (8,00).

Kelulusan itu menyenangkan sesaat, Yah. Selebihnya malah sangat menyenangkan sekali, Yah. Rasanya benar-benar bebas, terlebih bebas dari tuntutan nilai dan bebas menentukan kenyamanan dalam menggamit semua pengetahuan.

Terlalu banyak kasus yang terjadi selama setelah kelulusan itu. Aku adalah anakmu yang tingkat kad`r lupanya cukup bisa diposisikan pada stadium 1 dari 1 stadium lupa yang tersedia. Oleh sebab itu, aku biasanya bisa bercerita secara utuh di waktu musim Kemarau (ketika marah dan galau). Sedangkan saat ini aku sedang dilanda musim yang aku belum sempat menamainya. Pada intinya aku hanya bisa bercerita beberapa bagian saja, Ayah. ^_^

Setelah lulus SMA empat tahun lalu, Si Mas memboyongkku ke tempat lain yang kunamai sebagai tempat NGULIAH (Ngumpulin Ilmu-ilmu Bahagia) di Univ. Islam Jember. Waktu itu Si Emak sangat mendukung aku, Yah. Emak berpesan agar nantinya dengan ilmu itu aku bisa memproduksi kebahagiaan bagi orang lain dan diri sendiri tentunya.

Selama empat tahun terakhir, Alhamdulillah aku sudah bisa memproduksinya. Senang sekali ketika diri ini menjadi berkah bagi semua makhluk Allah. Aku merasa benar-benar hidup dan sangat nyaman.

Tapi ternyata 4 th itu hanya produk dasar saja yang masih kuolah. Sekarang aku sudah bukan lagi seorang mahasiswa. Tepatnya sejak bulan Oktober 2011, anakmu ini resmi menjadi Sarjana dengan IPK 3 koma sekian-sekian. Aku yakin Ayah juga sudah tahu kabar itu. Karena aku masih ingat, kala itu aku mengontak ayah untuk ikut hadir dalam ruang wisuda.

Sesuai dengan sebutannya "wisuda" yang berarti kelulusan. Ingatanku segera meluncur ke masa akhir SMA. Dulu senang sekali karena bisa lolos dari aturan nilai-nilai rumit UN. Itu dulu, sewaktu aku belum tahu ilmu-ilmu bahagia. Sekarang lain lagi ceritanya. Lulus dengan setumpuk ilmu-ilmu bahagia namun masih sedikit memproduksi kebahagiaan, rasanya hidup terserang musim Kemarau berkepanjangan.

Ayah, apa ini kehidupan yang sesungguhnya? Dulu sebelum meninggalkan aku, ayah sempat menuntunku dalam mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM). Sehingga sampai sekarang aku bisa tanpa cemas berkeliling ke tempat-tempat yang pernah ayah datangi, meski sekadar untuk melempar dengusan pada ayah di sana. Dan sekarang aku tetap ingin ayah menemaniku mendapatkan SIM yang lain. Surat Ijin Menikah? Itu memang salah satunya. Tapi yang lebih kubutuhkan sekarang adalah SIM B alias Surat Intens Memproduksi Bahagia. Ayah, tolong bantu aku menyampaikan permohonan SIM B pada Allah ya. I love you, Ayah ^_^


Jember, 17 Mei 2012

No comments:

Post a Comment