Jalanan ini tak seperti dulu.
Dulu, kakiku terayun bebas menapaki setiap jengkal jalan ini.
Ayunan tanganku tak bisa menolak tuk mengimbangi langkah kaki.
Mataku tersenyum genit menyaksikan pemandangan sekitar jalan ini.
Bisikan angin pun tak enggan bermelodi di telingaku, seksi.
Tapi kini, semua tampak berbeda.
Jalanan ini tak lagi lega.
Mawar yang seharusnya mekar di atas tangkainya, kini terserak hampir di sepanjang jalan.
Pemandangan tak lagi memancing kegenitan mata, bisikan angin pun terdengar sayup tak bernada.
Andai tangkai itu ada, pastilah mawar kan mekar menawan.
Hiasi pemandangan sekitar jalanan, indahkan dunia dengan warnanya, harumkan indonesia dengan wanginya.
Mawar-mawar tak bertangkai itu bukanlah sampah, tak seharusnya mereka terserak sia-sia.
Adakah tangkai yang luang untuk mereka?
Layaknya makhluk lain yang ingin bahagia, mereka berhak dapat tempat yang mulia.
Cukuplah, jalanan ini sudah cukup melukiskan kisah.
Kisah penguasa yang sedang lupa berbagi tawa.
Kisah penguasa yang seolah menutup mata dari mawar tak bertangkai yang masih terserak sia-sia.
Jember, 10 April 2011
Samsi Arpanurhi
Dulu, kakiku terayun bebas menapaki setiap jengkal jalan ini.
Ayunan tanganku tak bisa menolak tuk mengimbangi langkah kaki.
Mataku tersenyum genit menyaksikan pemandangan sekitar jalan ini.
Bisikan angin pun tak enggan bermelodi di telingaku, seksi.
Tapi kini, semua tampak berbeda.
Jalanan ini tak lagi lega.
Mawar yang seharusnya mekar di atas tangkainya, kini terserak hampir di sepanjang jalan.
Pemandangan tak lagi memancing kegenitan mata, bisikan angin pun terdengar sayup tak bernada.
Andai tangkai itu ada, pastilah mawar kan mekar menawan.
Hiasi pemandangan sekitar jalanan, indahkan dunia dengan warnanya, harumkan indonesia dengan wanginya.
Mawar-mawar tak bertangkai itu bukanlah sampah, tak seharusnya mereka terserak sia-sia.
Adakah tangkai yang luang untuk mereka?
Layaknya makhluk lain yang ingin bahagia, mereka berhak dapat tempat yang mulia.
Cukuplah, jalanan ini sudah cukup melukiskan kisah.
Kisah penguasa yang sedang lupa berbagi tawa.
Kisah penguasa yang seolah menutup mata dari mawar tak bertangkai yang masih terserak sia-sia.
Jember, 10 April 2011
Samsi Arpanurhi
No comments:
Post a Comment