Thursday, March 24, 2011

PEDIH

Kalau saja ada hari yang lebih tepat daripada hari ini untukku menyimpan pedih, aku akan menyimpannya di luar hatiku.
Kalau saja ada masa yang lebih tepat daripada masa kini untukku mengakui “Hatiku pedih”, mungkin aku tak akan merasakan kebahagiaan ini. Tapi nyatanya sebesar apapun kebahagiaanku saat ini, aku tetap saja terperangkap dalam keheningan yang pedih.

Mungkin memang terlalu cepat jika semua ini ku artikan bahwa aku mencampakanmu. Tapi memang tak ada kata yang lebih pantas ku ucapkan selain “Maaf. Maafkan aku”
Kalau saja ada hati yang lebih indah daripada hatimu, aku akan menghampirinya cepat dan berbagi cinta tanpa derai air mata bersamanya.
Tapi sayangnya tak ku temui hati itu selain hatimu yang pernah Tuhan hidangkan untukku beberapa waktu lalu.
Serasa semua hanya impian yang hadir perlahan. Sangat tenang, masuk kedalam angan kesendirian.
 Pedih!

Bumi berotasi tak lepas dari kehendakNYA, begitu pula rotasi cinta yang terjadi dalam hidupku.
Kalau pun detik ini aku tergeletak tak berdaya dalam cinta yang kau tuai, itu juga kehendakNYA. Kehendak Tuhanku *Allah SWT*
Kau pernah berbisik merdu di telingaku tentang kalimat yang menerangkan bahwa Tuhan menitipkan cinta untukku melalui hatimu. Seketika itu, mulutku membisu, aliran darahku membeku, bahkan aku lupa bagaimana caranya menyeka keringat dingin yang mengalir di keningku. *Bengong*
Tapi kini semua telah berlalu. Kata-kata itu menghilang tersapu oleh derai air mata yang mengalir bersama kepergianmu.

Lantas, patutkah aku dipersalahkan atas keadaan ini?
Sedikit pun aku tak bermaksud menciutkan hatimu. Aku tak berniat mengkerdilkan perasaanmu.
Tahukah kau kini?
Tanpa kau sadari, kau telah menyudutkanku ke lembah penyesalan. Dan kini aku terjerembab dalam kepedihanku sendiri.


*heart_light*
Samsi Arpanurhi

No comments:

Post a Comment