Monday, November 7, 2011

*touch-and-go* [may become a lyric]

You gazed into my eyes,
Touch and go...touched me flow.
You beat into my heart,
Touch and go...touching in slow.

Your faithful came in a hide way.
To scold me softly.
Just arrived,
You carried me.
You took me back to slay.
In a dark way I sought.
Entered that spot I couldn't move.
Rose a bravery...Hurt me deeply.

You made me out of breath.
Spent my faith then sold.
Touch and go...touched me flow
Touch and go...touching in slow.


Samsi Arpanurhi
Panti, 3 Nopember 2011

#Everything was going on,I made it special for someone "Partner of mine in my English community--CRES" who already invited my bravery to wrote this lyric.Thanks so much guys... ^_^

[cerpen] Oh Rasa…

Oh… rasa, kau datang merapat tanpa celah.
Sajikan makna, dalam hati menderu mesra.
Oh… rasa, kau hadir hempaskan lara.
Mengisi jiwa, raga menguat, perkasa tiba.

Aku nggak bisa mengelak lagi, kalimat yang terbungkus rapi dalam pusinya memang telah membuatku sulit melupakannya. Icha—wanita pendiam yang memiliki kebiasaan menghabiskan waktu senggangnya di pinggir sungai di belakang rumahku—perlahan telah menjarah hatiku selama beberapa bulan keberadaanku menetap di desa terpencil ini—desa Kemiri di kecamatan Panti di daerah Jember Utara. Yang membuatku tertarik padanya adalah penampilannya yang selalu sederhana tapi sukses membuat pandanganku bergeming lama. Sikapnya padaku yang terkadang dingin, terkadang hangat pun mampu membuatku bertahan lama menjelajahi setiap jengkal kepribadiannya.

Pertama kali aku menemukan keberadaannya di balik bebatuan besar di sekitar sungai—beberapa tahun silam, mataku ini seolah enggan berpaling ke arah lainnya. Padahal, waktu itu niatku meluncur ke sungai nggak lain hanya untuk mencuci mukaku dengan dinginnya air sungai pegunungan—muka kusutku setelah tidur lelap menjelang sore tiba. Tapi setelah melihatnya, rasanya nggak perlu lagi aku mencuci muka kala itu. Aku hanya nggak ingin jejaknya yang telah terpaut dalam wajahku menghilang bersama basuhan air sungai yang membasuh mukaku. Dengan sedikit bersikap berlebihan—terlalu sok ramah, aku menegurnya ringan. Seolah ingin memastikan bahwa yang kulihat memang benar-benar wanita menawan yang sosoknya nyata.

“Kata orang sih, nggak baik lho diem sendirian di pinggir sungai. Apalagi sambil bengong-bengong gitu.”
“…”
“Suka nulis ya?

Icha hanya melihatku sekilas, tanpa senyum sedikit pun—cuek. Lalu melengos cepat membuang wajahnya jauh-jauh dari perhatianku. Setelahnya ia beranjak, mencoba pergi menjauhiku yang mungkin dianggapnya orang gila—muka kusutku masih belum disetrika. Aku nggak tinggal diam, sontak aku mengejar langkahnya. Berusaha menahan kepergiannya, sebisa mungkin.

“Kalau suka nulis, dikembangkan aja melalui media. Kurang seru lho kalau tulisannya dikurung terus dalam binder. Kasian juga kan tulisannya, dia teriak-teriak pengen keluar tuh.”
“Hey Pria muka kusut. Kamu maunya apa sih? Sok paham!”

Sikapnya membuatku merasa tertantang. Merasa ingin terus mengejarnya, terlebih menjadi orang yang bisa mengobrak-abrik hidupnya. Ia pendiam, tapi sekali bicara mampu membuatku terpojokkan.

“Maaf… maaf! Any way, memang nggak banyak lho orang yang suka baca dan nulis di jaman sekarang ini.”
“Kamu semakin sok paham, Pria.”
“Iya, beneran lho. Nggak banyak orang yang melakukan hal itu.”
“Oh iya? Kamu bilang gitu karena kamu termasuk orang dalam daftar itu, kan?”
“Hehehehe… tepat banget. Aku memang nggak suka baca, apalagi nulis. Apalagi…,”
“Berarti aku memang harus pergi. Bukankah kamu nggak suka dengan nulis atau membaca. So…,”
“So… aku harus belajar menyukai keduanya melalui kamu, wanita.”
“…”
“Kata orang sih, kalau pengen pintar dekatilah orang pintar. Kalau pengen baik, dekatilah orang baik. Nah kalau pengen terbiasa membaca dan menulis maka dekatilah orang yang biasa membaca dan menulis juga. Iya, kan?”
“Kamu suka banget ngikutin kata orang, ya? Apa kamu nggak punya pendirian, Pria?”

Kala itu ia semakin pandai membuatku tersudut sebelum akhirnya ia menuliskan sesuatu pada secarik kertas untukku—coretan alamat rumahnya. Sembari menjulurkan secarik kertas itu, ia menawarkan tantangan padaku—lalu pergi tanpa menunggu responku.

“Di rumahku ada banyak buku. Kamu bisa meminjamnya, asal jangan lupa mengembalikan.”

Rasa, kau hadir mencumbu jiwa.
Membelai nyawa, mengurai lelah.
Penantian kini mereda.
Ruang kosong dalam raga, kau jamah seutuhnya.

Setelah hari itu, ia dan aku semakin akrab, semakin dekat. Kami kerap menghabiskan waktu senggang di sekitar sungai—duduk di atas bebatuan besar di sekitar sungai—membaca dan menulis. Kebiasaan itu telah menjarah waktu kami berdua. Ia berhasil membuatku jatuh cinta pada dunia menulis serta membaca. Hingga sampai sekarang, aku resmi menjadi pembaca setia untuk tulisannya yang masih tersisa.

Oh rasa, tetaplah bertahan.
Seperti ini, tempati jiwa, tinggallah lebih lama.
Setiap sudut raga berkilau cerah.
Pun jiwa mulai bercahaya.
Sekali lagi, bertahanlah lebih lama.

Oh rasa, ilalang dalam jiwa mulai berhamburan.
Menyambutmu ramah, agar kau enggan menghilang.
Bunganya berterbangan.
Mengitarimu, sematkan sebongkah harapan.

Oh rasa, biarkan saja.
Ilalang itu menjarah, menjerat pekat keberadaanmu yang tak terlihat.
Oh rasa, tetaplah tinggal.
Di setiap ruang, dalam jiwa separuh nyawa.
Oh rasa, kaulah cinta.
Menerkam gundah, hadirkan bahagia.


Saat ini, aku hanya bisa mengulas satu puisinya yang masih tersisa. Duduk di tepian sungai sembari membaca puisinya berulang kali. Sungai ini—sungai yang dulu sempat menjadi tempat favorit kami berdua—tempat di mana ia bisa menyudutkanku di awal pertemuanku dengannya. Tempat ketika ia meluberkan perasaannya melalui tulisan-tulisannya—cerpen serta puisinya. Tempat ketika ia dengan tanpa rasa bersalah—seenaknya bersikap dingin dan hangat padaku. Tempat di mana ia bisa meledekku yang nggak begitu update dengan buku apa saja yang ia punya. Sekaligus tempat di mana ia harus menarik napas terakhirnya.

Malam itu hujan begitu deras—sejak sore hingga tengah malam pun hujan seolah enggan mereda. Hujan itu membalut kota Jember seutuhnya. Selanjutnya, ia berhasil melemahkan benteng pertahanan Gunung Pasang yang ada di desa Kemiri—Jember Utara, desa tempat tinggalku juga Icha. Lumpur dan bebatuan besar meluap dari arah gunung—menerjang desa Kemiri tanpa permisi. Semua penghuni desa bertaburan menyelamatkan diri, nggak terkecuali aku yang waktu itu hanya tinggal seorang diri sebagai pendatang baru. Icha, aku nggak bisa menemukannya meski rumah kami terbilang cukup dekat. Yang sempat kutahu malam itu, rumahnya telah luruh di terjang lumpur. Dan aku hanya bisa mencuri-curi pandang pada kejadian itu sembari terus berlari sekuat tenaga menjauhi rumahku yang sepertinya segera akan menjadi korban lumpur berikutnya.

Pagi sesudahnya, aku mendapat kabar dari tim SAR tentang keberadaan Icha. Ia ikut terseret derasnya aliran lumpur yang menerpa rumahnya. Icha dinyatakan meninggal setelah tim SAR melakukan evakuasi dan menemukan jasadnya di timbunan lumpur di bawah bebatuan—lima ratus meter dari rumahnya. Bagaikan jatuh tertimpa tangga. Banjir bandang melanda—lalu tinggal di pengungsian. Naas, aku juga harus kehilangan sosok Icha—wanita yang sempat membuat hidupku berwarna.

Puisi ini—hanya pusi ini yang masih bisa kubaca dalam binder miliknya yang kutemukan dalam timbunan lumpur di sepetak tanah bekas rumahnya—beberapa tahun lalu. Bagaimana pun juga, aku dan Icha pernah meramu perasaan cinta dalam singgasana yang cukup tersirat saja. Icha terlalu pendiam—terlalu sulit mengungkap perasaannya dalam bentuk tersurat. Sedang aku—Setio Dewa, aku memang terlalu lambat memahami perasaannya yang selalu ia tawarkan melalui cerpen dan puisinya. Bukankah sejatinya aku memang terpukau padanya? Tapi sayang, aku nggak seberani itu untuk melesatkan hatiku pada wanita super cuek macam Icha. Aku nggak sepandai itu untuk memaknai segala tindak tanduknya yang kuanggap sebagai rasa solidaritas antar teman saja.

Oh rasa…akankah kau membuatku terluka?
Jika nanti ia tak mampu peka.
Akankah kau mendekapnya?
Bersbisik, memikat hatinya.
Oh rasa…mampukah ia membaca?
Hatiku kian merona karena sosoknya.
Oh Rasa…aku hanya ingin kau bertahan.
Tetap bertahan, untukku juga untukknya.

#TAMAT#

Samsi Arpanurhi
1 Nopember 2011

*Hujan sore td di awal Nopember ini--->mnghasilkan Cerpen yang trinspirasi dr puisi sblumnya "Oh Rasa..." skaligus tringat lg pd tragedi banjir bandang yg prnah mengguncang Kemiri-Jember skitar 5th lalu.Selamat membaca ^_^