Friday, September 16, 2011

"Dumb Love-a Poem"

#It’s a dumb love.
   Wrapped in a plastic glass.
   Closed tight, tight, very tight,
   on the pretty garnish of pain.
   Fake smile blanket soul.
   How rigidity of the tongue!
   Did not reveal.

#If he can read me,
   who can not afford ... … …
   Now, already too late to reveal.
   Troubled hearts helpless.
   Look at your hand, arm in arm with his.
   Side by side, spoiled your step.
   That’s my pain, honey.
   It’s a dumb love.
   Be totally mad in a dumb love to you.



*Panti, September 05, 2011
 Willy Firmansyah n Samsi Arpanurhi

Thursday, September 15, 2011

Dumb Love - a Strory "Short Story"

Dumb Love

#Watu Ulo-Jember
Minggu sore pukul 15.45 WIB
3 April 2011

“Aku tak sepenuhnya yakin ketika melepasmu untukknya. Karena aku tahu, aku masih terlalu lemah ketika nantinya aku harus melihatmu bergandeng tangan dengannya. Tapi aku juga tahu, terlalu menyedihkan ketika aku tetap menahanmu yang sepertinya tak akan pernah bisa mencintaiku. Dumb Love, lupakan! Aku hanya butuh waktu.”
                  Setelah puisi itu ter-posting dalam notes facebooknya, kalimat puitis itu kembali berkecamuk dalam hati Zatha ketika mendengar cerita kebahagiaan Diandra melalui ponselnya. Terlihat di seberang sana gelak tawa Diandra sambil meloncat kegirangan di atas tempat tidur di dalam kamarnya karena ia baru saja mendapat konfirmasi permintaan pertemanan facebook dari pria yang sebulan lalu disarankan oleh Zatha untuk menjadi temannya. Diandra merasa inilah waktu yang tepat untuknya memulai catatan kisah cintanya, cinta pertamanya.
                  Zatha mengambil nafas perlahan dengan hembusan lembut bermaksud mengatur detak jantungnya agar kembali normal. Ia tidak mampu menyandangkan sebutan yang pas untuk perasaan yang sedang ia alami saat ini. Tidak ada jalan keluar lain selain menjadi pendengar yang baik untuk mendengar setiap lajur cerita tentang perasaan Diandra. Matanya masih sibuk memperhatikan layar laptopnya yang dipenuhi dengan status-status terbaru dari teman-teman facebooknya. Sembari terus mendengarkan celotehan Diandra dari ponsel yang bertandang di telinga kirinya, sekali lagi ia berniat memastikan sesuatu, ia membaca ulang pemberitahuan pertemanan dalam jejaring sosial yang telah masuk dalam akun facebooknya.
                  Trust Diandra dan Ilham Kurniawan sekarang berteman sesuai saran anda. Anda bisa menyarankan lebih banyak orang yang dikenal Ilham Kurniawan.
Itulah konfirmasi yang tengah ia baca saat ini dengan serius tingkat tinggi dan debaran jantung yang terus-terusan melompat tupai.
“Kamu udah lihat pemberitahuan dalam fecebook kan?” tukas Diandra dengan sedikit penekanan.
“Iya, ini aku memastikannya lagi.” Jawab Zatha datar.
“Makasih ya saiang, kamu memang dewi penolongku.”
“Huek! Any way, sejak kapan sih kamu jadi tukang memuji seperti ini?” sontak melankolis Zatha lenyap ketika mendengar pujian basa-basi Diandra untuknya.
“Hehehehe sejak kamu mengenalkan dia ke aku.” Jawab Diandra.
“Heudeh… di luar sana gerimis udah berubah jadi hujan deras. Narsismu membuat petir terusik sampai mengeluarkan kilatan hebat. Apa kamu masih berniat bernasis ria di telepon ini?” tukas Zatha sembari mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela kamarnya.
                  Diandra menutup teleponnya tanpa salam. Hal itu membuat Zatha harus berulang kali mengambil nafas agar tekanan darahnya tak meninggi gara-gara ulah serabutan temannya itu. Belum ada sebutan yang pas untuk hubungan Zatha dan Diandra sejauh ini. Yang pasti mereka berdua berteman akrab sejak SMA hingga kini mereka masing-masing berstatus mahasiswa semester tua.
                  Semasa SMA, mereka berdua classmate yang duduk sebangku, teman akrab dan teman curhat sejak kelas dua. Yang pasti lagi, mereka berdua tidak pernah bersaing dalam urusan pria atau sebut saja cinta. Kini, mereka beda jurusan, beda fakultas, beda kampus, beda kota. Namun ada yang masih belum berbeda dalam pertumbuhan mereka. Yaitu pendapat mereka tentang kepribadian masing-masing.
                  Menurut Diandra, Zatha lebih diincar oleh banyak pria itu wajar. Karena Zatha memang rajin bersolek, setiap bulan pasti ada jatah uang saku untuknya pergi ke salon. Ia juga wanita yang kalem, perhatian, serta punya senyum yang menawan dengan rambut panjangnya yang berandan dan hitam pekat. Ia juga romantis walau tidak jarang melankolis. Hanya saja, boros sempat menjadi kebiasaan buruk yang sulit ia musnahkan.
                  Sedangkan pendapat Zatha tentang Diandra adalah sebaliknya. Apa yang dimiliki Zatha tak semuanya tersandang untuk Diandra. Kadar kepedulian Diandra merawat penampilannya masih tergolong rendah. Ia terkenal galak dan cuek terhadap pria manapun yang berniat mengenalnya lebih dalam. Yang sangat berbeda dari keduanya, keromantisan dan keahlian Diandra dalam hal memasak jauh lebih “Mantab”. Sejauh ini, tomboy setengah aneh adalah sebutan yang pas untuk Diandra.
*******
                  Liburan panjang menunggu wisuda menjadi alasan aman untuk Diandra mendekati Ilham. Diandra mempunyai banyak waktu untuk tinggal di rumah Zatha di pulau Dewata yang sekaligus menjadi pulau pilihan Ilham untuk menyambung hidupnya. Sekitar Dua Bulan lebih, sejak pertemanan facebook pada waktu itu hingga saat ini, Diandra dan Ilham masih sibuk mengenal karakter masing-masing.
                  Selama berada di Bali, Ilham dan Diandra kerap kali bertemu, touring ke berbagai tempat exotic yang ada di pulau Bali. Bahkan setelah mereka resmi berpacaran sejak seminggu lalu, secara tidak langsung  Ilham sukses mengubah sisi lain dari Diandra “Easy going to be Caring”. Diandra selalu ingat kapan waktunya Ilham istirahat sejenak dari pekerjaannya untuk makan siang. Di saat itulah, ia akan muncul membawa serantang makanan yang ia masak sendiri sesuai dengan menu-menu kesukaan Ilham yang sempat ia tahu dari Zatha.
*******
                  Ruang kerja Ilham dipenuhi dengan album-album foto dan Marketing Report yang berserakan di atas sofa dan meja kerjanya. Buku bacaan serta tumpukan data-data penting terlihat berhamburan di lantai. Sekalipun Diandra berniat tulus merapikannya, Ilham selalu melarang si tomboy melakukannya dengan alasan ada petugas yang nanti akan membantunya.
“Memangnya sebegitu sibuknya ya mas, sampai-sampai nggak ada sedikit saja waktu buat makan siang dengan tenang hari ini?” Diandra mendengus sambil menyuapkan nasi ke mulut pria idaman yang ada di depannya.
“Hemmm…” Ilham hanya mengangguk tanpa menatap Diandra sembari terus memainkan jemarinya di atas keyboard laptopnya.
“Apa ya yang membuat aku suka sama mas Ilham, pria pekerja keras yang kadang jadi pegawai super sibuk dibandingkan dengan bosnya.”
                  Celetukan Diandra yang serabutan itu sontak mengalihkan perhatian Ilham. Ia menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi kerjanya. Menghela nafas sambil melipatkan kedua lengannya di depan dada bidangnya
“Jawabannya ada di hati kamu. Tapi yang jelas, aku tahu pasti kenapa aku memutuskan menjadi kekasih cewek tomboy super aneh seperti kamu.”
“Kenapa coba? Jangan bilang kalau aku berbeda dengan cewek-cewek lain! Aku udah terlalu sering denger kegombalan cowok dengan basa-basi itu.” Diandra melipat kedua tangannya ke depan, berlagak seperti Ilham seolah menantang pasangannya itu.
                  Ilham sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, sejenak ia memperhatikan dalam-dalam wanita yang ada di hadapannya itu. Lantas ia tertawa geli sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Sontak kening Diandra berkerut melihat tingkah Ilham.
“Hemmm… ledekan apalagi nih yang akan mas gunakan sebagai senjata untuk membuatku speechless di hadapan mas?” cibiran sinis ringan serta kerutan kening Diandra mulai menyambar.
“Aku baru sadar kalau kamu terlihat semakin manis dengan lipstick itu. Apa itu termasuk caramu menarik perhatianku, memikatku?” ledekan Ilham berhasil mengurai kerutan kening Diandra.
“Huft…selalu saja mengalihkan pembicaraan dengan cara meledekku.” Diandra bangkit dari tempat duduknya sambil berkacak pinggang menatap Ilham.
“Ayolah gadisku…aku udah sedikit bahagia melihat perubahan penampilanmu. Jangan buat aku tersiksa lagi dengan kegalakanmu itu. Please!” Rayuan Ilham terdengar hambar.
                  Sikap Ilham masih sangat santai dengan posisi sandarannya dan lipatan tangannya. Diandra tidak sepenuhnya masuk dalam perangkap rayuannya itu. Kedua tangannya tegas menggebrak lembut meja kayu jati yang membentang di tengah posisi tubuh mereka berdua.
“Apa mas Ilham nggak punya cara lain buat merayuku. Dengan sikap santai, merasa nggak punya dosa seperti yang mas lakukan sekarang, mas yakin bisa membuatku menyerah pasrah menuruti permintaan mas itu?” tatapan tajam Diandra membuat sebelah alis Ilham terangkat berat.
                  Ilham bangkit dari duduknya, ia mengambil sikap yang tak jauh berbeda dengan sikap Diandra tadi, berdiri lantas menggebrak meja. Kini Posisi wajah mereka sangat dekat, sangat dekat. Mata mereka saling bertatapan, tajam. Suasana menjadi hening, dan mereka serasa menikmatinya.
“Apa perlu aku bersikap cuek terhadap segala perubahan-perubahan baik yang terjadi pada perempuan yang selama dua bulan ini telah rela memanjakan hatiku?”
“…” Diandra mematung dan membisu dalam keadaan tubuh sedikit membungkuk.
“Aku hanya berharap kamu berhenti menanyakan alasan kenapa aku menyukaimu. Bukankah bagimu cinta itu nggak butuh alasan! Kamu pernah memaksaku menerima pendapatmu itu. Dan kini aku bisa menerimanya tanpa merasa terpaksa. Lantas kamu berniat mementahkannya lagi?”
“…” terbungkam rapat. Kini Diandra tak punya daya untuk berkelit.
                  Ilham menghela nafas panjang, menghembuskannya perlahan. Terasa hangat merasuk ke dalam pori-pori kulit wajah Diandra.
“Aku hanya berusaha menjaga separuh jiwaku yang udah kamu curi. Aku menjaganya dengan cara menjagamu, karena separuh jiwaku itu ada dalam genggamanmu.” Imbuh Ilham.
                  Detak jantung Diandra mulai tak beraturan.
“Rasanya posisi kita berdua saat ini jauh dari zona aman.” Diandra sedikit cemas.
                  Kedipan mata Diandra terlalu kerap berhamburan. Ilham meringis mendengar ungkapan itu sekaligus melihat tingkah konyol yang timbul dari mata Diandra. Gelak tawa kecilnya memekik keheningan.
“Hegh... hegh…huahahahaha kalau aku mau, aku udah mencium kamu sejak kamu mengusik pekerjaanku siang ini. Tapi sayangnya, kamu nggak begitu membuatku bernafsu.” Ledekan konyol melesat dari mulut Ilham.
                  Seolah tidak perduli dengan sikap apa yang terjadi pada Diandra setelah mendengar ledekannya itu, Ilham kembali pada kesibukannya. Diandra mencibir kesal melihatnya. Merapikan rantang yang berisi sisa-sisa makanan buatannya. Sesekali ia melirik keberadaan Ilham yang masih saja mengacuhkannya.
                  Setelah memastikan rantangnya rapi serta sisa-sisa makanan telah bersih dari meja kerja Ilham, dengan langkah gontai Diandra melengos pergi tanpa pamit pada kekasihnya itu.
“Hey… mau kemana?” cetus Ilham yang sebenarnya ingin sekali menahan kepergian Diandra.
“Mau mencari seseorang yang bisa membuatku bersikap lembut.” Diandra menghentikan langkahnya, sambil menekan gagang pintu ruang kerja Ilham, ia menjawab santai dari balik bahunya.
“Apa! Siapa orang itu?” Sahut Ilham cemas.
                  Tanpa sadar ia melonjak dari tempat duduknya hingga kursi yang ia duduki sedikit bergeser menjauhinya. Senyum kemenangan terkibar dari bibir Diandra yang tengah menikmati sikap aneh Ilham itu. Diandra sengaja membiarkan Ilham penasaran. Ia keluar dan menutup pintu tanpa memberikan jawaban tentang siapa orang yang akan ditemuinya.
                  Awalnya ia hanya ingin membalas ledekan Ilham yang selalu bisa membuatnya bungkam. Bahkan, ia sama sekali tidak punya tujuan pasti ketika keluar dari ruang kerja Ilham. Tapi akhirnya, setelah membuka short message dari seseorang, ia tahu kemana kakinya harus melangkah.

*******
“Tumben, jam segini kamu nggak keberatan pulang ke rumah?” Tukas Zatha setengah meledek sembari membuka pintu kamarnya untuk kedatangan Diandra.
“Lah memangnya ada apa di jam segini sampai aku harus berlama-lama di luar sana dan mengabaikan sms kamu tadi?” Diandra balik tanya.
“Hemft… apa kabarnya si mas Ilham kebanggaanmu itu? Kita udah jarang ngobrol berdua gara-gara dia. Aku ke kampus, kamu masih tidur. Aku pulang, kamu lagi pergi sama dia. Pas malam hari, kita sama-sama capek. Tidur semuanya.” Zatha melempar tubuhnya ke sofa yang ada di dekat jendela dalam kamarnya.
                  Masih dalam keadaan berdiri di ambang pintu kamar, Diandra berkacak pinggang santai. Setelah melesatkan cibiran tipis, barulah dia menanggapi pertanyaan Zatha.
“Apa selama ini aku udah nggak sebegitu perdulinya sama kamu?” Diandra sok merasa bersalah.
“Hemft… salah satu alasan kenapa aku merasa kalian berdua itu cocok adalah… kalian terlampau pintar mengalihkan setiap pembicaraan orang.” Zatha menelentangkan tubuhnya di seluruh bagian sofa panjang itu. Lantas sejenak ia menelakupkan kedua tangannya ke wajah halusnya.
“…” Diandra mengangkat sebelah alisnya, heran.
“Buruan jawab! Aku nggak punya banyak waktu buat menunggu jawaban kamu itu, atau menjawab pertanyaan sok bersalahmu barusan. Masih banyak pertanyaan lain yang akan aku tanyakan.” Sentak Zatha dengan nada meninggi yang dibuat-buat.
                  Diandra menghampiri posisi Zatha. Ia menyeret kedua kaki sahabatnya itu, berusaha meminta agar Zatha kembali duduk dan berbagi sofa dengannya. Zatha hanya mendengus, terpaksa harus berbagi sofa padahal ia sedang menikmati posisi nyaman itu.
“Kabarnya baik banget. Ditambah lagi dia sekarang semakin pintar mengambil celah buat meledekku dan membuatku bisu di hadapannya”
“Jiahahahaha… bagus donk!” Zatha seolah menikmati ungkapan itu.
“Kok bisa?” sontak pandangan sengit Diandra melesat ke arah Zatha.
“Kalian berdua juga sama dalam hal itu. Kamu juga pintar kok dalam urusan meledek dan membuatku bungkam ketika berdebat sama kamu.” Zatha menjulurkan lidahnya sambil mengkerlingkan matanya pada Diandra.
                  Diandra melengos cepat ke arah jendela yang ada di belakangnya. Seperti ada magnet yang menarik pandangannya. Dengan cepat, ia berbalik badan lantas memandangi pemandangan yang ada di luar jendela.
“Mumpung mangganya belum begitu masak, kita rujakan yuk. Rujak mangga manis, gimana?”
                  Gelengan kepala dengan hembusan nafas lemah Zatha mewakili jawaban atas keberatannya untuk menerima tawaran Diandra. Ia tidak rela menderita diare dadakan karena makan rujak “Vampir” buatan Diandra. Bukannya membuat bumbu yang manis sesuai dengan sebutan “rujak manis”, Diandra lebih sering membuat bumbu seenak kamauannya. Rasa pedasnya seperti vampir penghisap darah manusia. Bisa langsung Diare bonus pucat pasih setelah makan rujak buatan Diandra.
“Udah deh… nggak usah menghindar dari pertanyaan-pertanyaanku selanjutnya!” Zatha berusaha memfokuskan temannya itu pada pembahasan awal. Selain karena ia punya banyak pertanyaan, ia juga bermaksud menghindari paksaan Diandra untuk membuat rujak “vampir” itu.
“Yang menghindar aku atau kamu ya?” Diandra berhasil menyudutkan Zatha.
“…” bola mata Zatha melebar. Ditambah lagi mulutnya menganga, kehabisan amunisi kata-kata untuk berkelit.
“Duh… kasian banget sih kamu saiang, saking takutnya dengan ajakanku, reaksimu jadi sebego itu.” Diandra mengelus punggung Zatha dengan kelembutan yang sengaja dibuat-buat.
“Cup cup cup, sini peluk bunda, saiang!” Diandra memeluk Zatha dengan gaya basi-basi ledekannya.
“Apa pelukan seperti ini juga pernah kamu berikan untuknya? Hemft…aku tak ingin melihat semua perlakuanmu padanya, karena aku tahu, aku masih terlalu lemah menyaksikan semua itu. Aku tak ingin kamu tahu keluhanku ini. Beginikah cara terbaik mencintai seseorang? Menyalahkan perasaanku sendiri, perasaan yang tak sepatutnya ada diantara kamu dan dia. Atau mungkin aku saja yang salah memperlakukan perasaan ini? Aku tak tahu. Sekali pun sebutan sebagai orang ketiga itu ada, aku tak akan pernah pantas menyandangnya. Dumb Love, lupakan! Aku hanya butuh waktu untuk melenyapkan perasaan ini.”
                  Deretan kalimat puitis itu berkecamuk hebat dalam hati Zatha yang sedang bergemuruh ketika menerima pelukan basa-basi Diandra. Zatha cemburu? Iya. Ia cemburu melihat kedekatan Diandra dengan Ilham. Demi melihat Diandra tersenyum bahagia sepanjang waktu dan membalas semua kebaikan temannya yang selalu melindunginya, mungkin hanya itu alasan Zatha menyembunyikan perasaan pribadinya.
“Ya udah, cukup. Maafin aku ya saiang, abisnya kamu gampang banget masuk perangkap ledekanku. Piz!” kali ini kelembutan Diandra benar-benar tulus.
                  Senyum simpul serta acungan dua jari tanda perdamaian juga ia layangkan untuk temannya yang sempat mellow sewaktu berpelukan tadi. Zatha membalas senyuman itu dengan wajah merah meronanya karena ledekan tadi. Ups… sepertinya itu bukan karena ledekan, tapi karena perasaan Zatha yang aneh itu, mungkin.
“Okelah saiang, pertanyaan apalagi nih? Mumpung aku baik hati siap diinterview. Aku janji deh, akan menjawab dengan super serius, nggak ada ledekan lagi.” Si tomboy aneh merasa bersalah berat.
                  Si melankolis mendongakkan kepala ke langit-langit kamarnya yang bercat hijau. Sejenak ia menikmati kesejukan warna itu dengan maksud menghilangkan kegugupannya. Lalu ia mengambil ponsel dalam kantong sweater miliknya. Segera ia membuka menu mobile internet dalam ponselnya sembari mendengar celotehan rasa bersalah Diandra.
“Kita berteman udah berapa lama sih?” celetuk Zatha tiba-tiba.
“Hemmmm berapa lama ya? Hemmm sekitar enam tahunan, mungkin. Hehehe…” jawabnya sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuknya.
“Apa selama itu kamu merasakan sesuatu yang aneh dariku?”
“…” Diandra melesatkan pandangan bingungnya ke arah temannya itu.
                  Ia menyanggah kepalanya dengan tangan kanan. Lalu melambaikan tangan kirinya di depan wajah si melankolis.
“Aku dalam kondisi sadar kok. Buruan deh, jawab!” Si melankolis agak terusik.
“Hemmm gimana ya? Aku bingung maksud pertanyaanmu itu apa. Bisa lebih spesifik lagi?”
“Nggak bisa…” Zatha mendengus kesal.
“Kamu jawab sepemahaman kamu aja deh. Buruan!” Imbuhnya penuh paksa.
                  Sejenak Diandra menelakup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia mendengus kecil dalam telakupan tangannya itu. Lantas mulai menjawab pertanyaan itu.
“Aku hanya merasa kamu masih nggak bisa jujur sepenuhnya sama aku. Mungkin itu alasannya nggak ada status yang lebih pas dari status sekedar teman akrab buat kita. Akrab, teman. Hahahahaha… bahkan aku masih terlalu bodoh buat menjabarkan perbedaan kedua hal itu.” Ia merebah pasrah ke punggung sofa.
“Apa kamu pernah merasa bosan berteman sama aku?”
“Meski aku orangnya moody, tapi anehnya aku nggak pernah bosan berteman sama kamu. Selalu ada sisi unik dari dirimu yang selalu membuatku betah berhubungan terus sama kamu. Dan anehnya lagi aku masih belum bisa menjabarkan keunikanmu itu. Kamu hebat!” Ia mengacungkan kedua jempolnya untuk si melankolis.
“Lantas apa aku pernah menyakitimu dan membuatmu sedih?”
“Kamu ini kenapa sih, Tha? Dari tadi pertanyaanmu itu mirip pertanyaan-pertanyaan sepasang kekasih yang lagi berusaha saling mengerti satu sama lain. Kamu merasa nggak nyaman berteman sama aku?” Diandra mulai merasa terusik.
“Bukan itu maksudku, Di. Pliz… jawab pertanyaanku itu ya?” Zatha bersikap memohon seperti anak kecil yang meminta uang jajan pada ibunya.
“Oke.” sahut Diandra tegas.
“Dulu, semasa SMA, dari ambang jendela kelas, aku menemukan seorang gadis cantik yang lagi nangis bombai di belakang kelasku, tepatnya di bawah jendela tempatku menikmati lamunan. Waktu itu, awalnya aku malas memperhatikannya, bahkan aku merasa menyesal karena membiarkan mataku yang nggak sengaja melihatnya. Tapi karena mataku terlalu manusiawi, akhirnya aku putuskan keluar menghamipirimu. Setelah basa-basi garing, akhirnya aku tahu alasanmu menangis. Semua karena cinta, cinta monyet yang waktu itu kamu anggap sebagai cinta sejati. Aku meringis ketus mendengar alasanmu itu. Tapi setelah mendengar penjelasanmu lebih jauh, sontak aku melayangkan janji buatmu. Kamu masih ingat kan janji itu?”

“Nggak tahu diri banget tuh cowok. Memangnya siapa dia sampai-sampai berani menuntutmu melakukan hal keji demi pembuktian cintamu. Berani menikahimu setelah melakukan hal itu, janji apaan itu. Dengar ya kawan, aku Diandra Oktaviani berjanji akan selalu melindungimu dan melindungi cewek-cewek sepertimu dari kekerasan  lahir batin dalam pacaran seperti yang kamu alami saat ini.”
                  Zatha berusaha mengingat janji itu.
“Aku masih ingat. Bahkan dari situlah keakraban kita dimulai. Dan selama ini kamu selalu menepati janjimu itu, bahkan sampai detik ini. Lalu apa hubungannya janjimu dengan pertanyaanku tadi?” Zatha terserang lemot dadakan.
“Banyak hubungannya. Diantaranya, ketika kamu terluka maka aku juga ikut terluka. Ketika kamu sedih, aku juga ikut sedih. Tapi bukankah selama ini, setelah kejadian itu, nggak ada luka dan kesedihan yang menimpamu! Itu artinya aku nggak pernah merasa terluka, tersakiti, atau pun sedih karenamu.”
“Tapi bukan itu yang aku maksud.” Zatha bersih keras menolak jawaban Diandra.
“Lalu maksud kamu apa, Tha. Kamu tadi nyuruh aku menjawab sesuai pemahamanku. Ya itulah jawaban yang pas dari pemahamanku.” Si tomboy mulai kesal.
“Ya udah deh, lupakan saja. Aku hanya butuh waktu.”
“Buat apa?” sahut Diandra bingung.
“Apanya?” si melankolis balik tanya.
“Kamu butuh waktu buat apa saiang?” si tomboy mulai mengeluarkan ledekan genitnya.
“Butuh waktu buat jujur sama kamu.”
“Memangnya kamu merahasiakan apa dariku?”
“Bukannya tadi kamu bilang, aku belum bisa jujur sepenuhnya sama kamu. Makanya aku butuh waktu buat full jujur sama kamu saiang.” Zatha membalas ledekan temannya itu. Lantas kembali mengotak-atik menu mobile internet dalam ponselnya. Sedangkan Diandra lebih memilih memanjakan tubuhnya di atas spring bed dalam kamar itu.

*******
                  Cuaca di pulau Bali semakin sulit ditebak. Akhir-akhir ini langit lebih sering mendung di pagi hari, terang benderang di siang hari. Dan acap kali hujan lebat datang di malam hari, diiringi gerimis manja di tengah malam. Ada yang bilang semua karena efek global warming. Lalu bagaimana dengan perasaan Zatha yang mirip dengan perubahan cuaca juga. Seminggu lalu ia sibuk dengan aktivitas baksos di kampusnya. Lalu, kemarin hingga hari ini ia sangat bersemangat ingin mengorek informasi tentang hubungan Diandra dengan Ilham. Lantas kemana Diandra saat ini? Bisa dipastikan, ia dalam perjalanan menuju kantor Ilham.
                  Sesuai rasa penasarannya yang siang ini semakin membeludak, ia mengambil ponsel di himpitan bantal di atas tempat tidurnya. Menuju ke menu kontak, lantas menekan tombol call pada sebuah kontak pria bernama Abang.
“Halo halo gimana kabarnya si Abang di sana ya?”
“Hey…hey... Sangat baik buat hari ini.” Jawab pria di seberang sana dengan bangganya.
“Tumben? Setelah hampir dua minggu nggak nelepon aku, sekarang…” imbuhnya.
“Sekarang… gimana kabar hubungan kamu dengan teman tomboy-ku? Udah sejauh mana sih hubungan kalian?” Zatha menancap gas cepat menyambung kalimat yang belum sempurna dari pria itu.
“Mau tahu urusan oraaaaang saja kerjanya. Baik-baik kok. Sejauh apa ya? Sejauh bentangan sungai Begawan Solo mungkin. Hehehe…”
“Ah…kamu ini, jangan bercanda! Hemmm nanti malam bisa nggak kita ketemu?”
“Ahay… seorang Zatha Elsabilla yang selalu menolak tawaran nge-date dari aku, sekarang mendadak menawarkan diri dinner bareng aku. Ada udang apaan nih?”
“Hey hey hey… cowok super…super apaan ya? Super narsis saja deh. Siapa juga yang menawarkan dinner sama kamu? Aku cuma mau ketemu kamu saja, nggak ada dinner, nggak ada nge-date plus nggak ada tujuan lain selain menguras kabar-kabar tentang hubungan kamu dengan Diandra. Aku tunggu kamu di pantai, posisi dekat tempat kerjamu. Jeeeeelaaaas!” Ekspresi gregetan si melankolis nampak sangat aneh.
“Hahahahaha aku belum begitu jelas melihat ekspresimu yang passtinya aneh sambil mukul-mukul bantal guling di atas tempat tidur yang kamu umpamakan sebagai diriku. Hahahahaha sayangnya aku nggak bisa dengan jelas menyaksikan muka meronamu itu, nona Zatha.” Ledekan itu sontak membuat muka Zatha memerah seperti kepiting rebus. Tebakan Ilham tidak terlalu meleset.
“….” Zatha terdiam, terbungkam.
“Ilhaaaaaaaaaammm…..” teriakan supersoniknya melesat bercampur dengan emosinya.
“Okeeeeeee!” sahut Ilham dengan sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya.
*******

“Selesai. Aku pulang dulu ya, mas.” Diandra mengangkat rantang bekas makan siang Ilham sambil melempar senyum termanisnya.
“Dian!” Ilham menghampiri keberadaan Diandra yang tengah berdiri di depan meja kerjanya.
“Mulai besok kamu nggak usah ngirim makan siang lagi ya. Aku udah pesan langganan di resto sebelah kantor. Lagian jarak rumahmu dengan kantor ini kan cukup jauh. Aku…”
“Aku nggak keberatan kok mas dengan jarak itu.” Sontak Diandra memenggal kalimat Ilham.
“Ya udah. Tapi mulai besok nggak ada suap-suapan lagi ya. Aku kan masih punya tangan buat nyendok makanan sendiri. Hehehe…” intonasinya lembut, seolah sangat berhati-hati agar Diandra tidak tersinggung. Ilham hanya tidak suka terlalu dimanjakan.
“Aku juga nggak pernah keberatan kok mas buat melakukan hal itu. Mas ngerti aku kan!”
“Ya. Karena aku ngerti banget kamu seperti apa sebelumnya dan sekarang, makanya aku nggak mau kamu melakukan itu. Aku nggak pernah menuntut perhatian sehebat itu. Be your own self, itu udah cukup buat bukti kalau kamu perhatian sama aku.”
                  Ilham mengusap kepala Diandra, sedikit mengacak-acak rambut cepaknya perempuan “tomboy” itu. Senyuman mautnya berhasil membuat Diandra menyerah dan menganggukan kepala tanda setuju pada penawarannya tadi.
“Nanti malam Zatha ngajak aku ketemuan.” Tukas Ilham mengalihkan pembicaraan.
“Aku udah tahu, tadi sewaktu di jalan Zatha nelepon aku. Katanya dia mau ngintrogasi mas Ilham soal hubungan kita ya?”
“Ternyata dia nggak kalah anehnya sama kamu.”
“Hahahaha… mungkin iya. Ini lagi mas, aku heran, kok iya Zatha sampai berani-beraninya nyomblangin mas ke aku, padahal waktu itu kalian berdua baru saling kenal kan. Apa itu juga termasuk keanehannya?.” Ia berucap sambil mengetuk-ketuk dagunya.
“He’em… mungkin.” Jawaban datar terasa ada sedikit keraguan untuk mengakuinya.
*******
#Pantai Kuta
Sabtu, 19.15 WITA
18 Juni 2011
                  Setelah mengirim short message pada Ilham, ia bersantai duduk berselonjor di atas pasir pantai yang membentang di tepian pantai dengan jarak 500 meter dari Hard Rock Hotel.
“Aku nggak membuatmu terlalu lama menunggu kan?”
                  Lima belas menit kemudian, dari arah belakang posisinya, terdengar suara khas milik seorang pria idaman Diandra menggelegar, serak-serak basah dan penuh penegasan paksaan. Zatha menoleh cepat ke arah suara itu berasal.
“Menurutmu?” sahutnya dari balik bahu saja. Lalu kembali fokus pada hembusan ombak yang ada di hadapannya.
                  Ilham segera duduk di samping kiri Zatha. Ia sengaja mengambil posisi yang sangat dekat. Entahlah apa tujuannya, tapi yang pasti ia sempat memperhatikan dalam-dalam wajah Zatha dari arah samping.
“Kok nggak ngajak Diandra? Jangan bilang kalau kamu mau kencan berdua sama aku ya!” ledekan datar itu mulai bertandang dalam basi-basinya.
                  Mata mereka bertemu pada satu titik. Lalu, ups… apa yang mereka lihat saat ini. Ilham seolah sengaja mengikuti kemanapun tatapan Zatha berkelana. Senyuman! Ilham tak biasanya tersenyum kalem seperti itu. Bahaya!
“Apa kamu juga memberikan senyum itu sama cewek-cewek lain selain aku dan Diandra?” tidak habis akal, ucapan Zatha membuyarkan kegenitan Ilham.
“Cuma sama kamu saja aku bisa melakukan itu,” desus Ilham lirih sembari memalingkan wajahnya ke arah pantai.
“Kenapa? Kamu tadi bilang apaan sih?”
                  Ternyata Zatha tidak mendengar jelas ucapan Ilham itu. Syukurlah, karena mungkin Ilham bisa dibunuh saat ini juga kalau sampai Zatha mendengar rayuan gombal itu. Tunggu dulu! Tadi bukan rayuan gombal. Lebih tepatnya pengakuan jujur dari pria yang sudah hampir 3 bulan terakhir berhubungan special dengan Diandra, teman akrab Zatha.
                  Ilham bangkit dari duduknya ketika melihat ada penjual jagung bakar berjuta rasa yang mengambil stand tak jauh dari tempat duduknya. Cukup lama, sekitar 10 menit, ia baru kembali lagi pada tempatnya duduk tadi. Kedua tangannya terisi dengan jagung bakar siap makan. Ia memberikan satu untuk Zatha. Tanpa senyuman, wanita melankolis itu mengambil cepat jagung untuknya.
“Tumben di awal tadi kamu nggak langsung tanya perkembangan hubunganku dengan temanmu itu?” Ilham berkata dengan kondisi sebagian mulut terisi biji jagung gigitannya.
“Yang sopan kalau bicara, temanku itu pacar kamu.” Jawab Zatha agak ketus.
“Iya iya, hemmmm. Ya udah, kenapa tadi hobimu ngintrogasi hubunganku itu mendadak nggak muncul?”
“Nggak ada yang dadakan kok. Bukannya tadi siang aku udah tanya lewat telepon? Lagian aku juga mem-planning pertemuan kita ini buat membahas hubungan kalian berdua kan. Jadi buat apa basa-basi lagi.” Kali ini, si melankolis benar-benar hebat. Sejak awal pertemuan ia bisa membalas basa-basi atau pun ledekan Ilham.
“Pertama kali lihat kamu, aku mikirnya kamu itu orangnya lembut. Lugu, sabar juga. Sampai-sampai waktu itu aku berpikir kalau kamu nggak pantas jadi adiknya mas Adi. Secara mas Adi sahabat kakakku sekaligus kakak semata wayangmu itu punya kebiasaan gila, orangnya keras, tegas, rame dan punya beribu alasan buat berkelit. Tapi lama kelamaan, saat ini aku semakin yakin mengakui, kamu mirip banget sama mas Adi. Cocok jadi adiknya. Hehehem…”
                  Meski sedikit bingung dengan maksud perkataan Ilham, aksi Zatha menghabiskan jagung bakarnya tidak tertunda sedetik pun. Selama hitungan yang sulit di jelaskan, mereka sibuk sendiri menghabiskan jagung yang ada di tangan masing-masing.
“Cepat katakan, penasaran seperti apa yang membuatmu mengundangku ke sini?”
                  Ilham berputar badan menghadap kanan, ke arah posisi Zatha. Melipat kedua kakinya dan menyanggah kepala dengan kedua tangannya. Zatha masih tetap pada posisinya, sesekali ia menoleh, memperhatikan wajah Ilham, mencoba berbicara melalui bahasa tubuhnya.
“Huaaaem… baru saja aku mengakui kamu orangnya rame. Tapi sekarang kamu membuatku menyesal udah berkata seperti itu. Apa kamu udah kehabisan pertanyaan? Ya udah, aku pulang saja kalau begitu.” Ilham beranjak dari duduknya.
                  Setelah menghela nafas. Ia berusaha melangkah, memancing reaksi Zatha.
“Aku udah merelakan Diandra buat kamu. Bahkan aku dengan sengaja mengenalkan kalian, dan kadang menjadi penasehat buat hubungan kalian. Sebut saja barusan aku narsis membanggakan diriku sendiri atas harmoni hubungan kalian.”
                  Sekali berkata, ucapannya mampu membuat Ilham terpatung. Masih tetap pada posisi masing-masing. Zatha mendongakkan kepalanya ke wajah polos Ilham yang masih tegak berdiri.
“Caramu memulai pembahasan boleh juga.” Ilham melipat kedua tangannya di depan dadanya yang mulai bergejolak karena serangan kalimat sigap itu.
“Hanya karena berniat membalas kebaikan Diandra selama ini, aku rela mengorbankan perasaanku sendiri. Itu alasan pendukung kenapa aku memperkenalkanmu padanya.”
“Alasan pendukung, perasaanmu sendiri. Apa maksudmu?” cukup sulit bagi Ilham memahami maksud kata-kata Zatha.
“Aku udah jatuh cinta sama orang yang salah? Hanya dengan membiarkannya bersamamu, aku piikir itulah cara terbaik menghilangkan perasaan itu.” Zatha mulai beranjak dari posisinya.
                  Mereka berdiri berhadapan, namun tetap saja postur tubuh Ilham masih terlalu tinggi. Sehingga Zatha harus tetap sedikit mendongak untuk menatap wajahnya.
“Maksud kamu?” nada bicara Ilham terasa sebagai penekanan. Keningnya berkerut.
                  Zatha menunduk, memilih bungkam. Perlahan posisi tangan Ilham menurun ke samping tubuhnya.
“Sewaktu aku datang ke rumahmu bersama mas Adi empat bulan lalu, waktu itu pertama kalinya aku melihat wajahmu. Segera mungkin pendapat-pendapat tentangmu seperti yang kukatakan tadi berkecamuk dalam hatiku. Waktu itu aku berharap bisa mengenalmu lebih jauh, lebih dekat dari sekedar perkenalan singkat sesaat.”
                  Zatha merasa Ilham salah memahami maksudnya. Kerutan kening yang tadi dialami Ilham, kini berbalik menyerang Zatha. “Cowok ini membahas apa sih?”
“Awalnya aku bingung kenapa kamu malah mengenalkanku pada temanmu. Padahal waktu itu aku hanya berniat mengenalmu saja, hanya kamu, bukan Diandra.”
“Apa maksud cowok ini?” Zatha berdesus dalam hati.
“Akhirnya aku memahami hal itu sebagai usahamu membuat Diandra senang. Melihat umur Diandra yang semakin dewasa tanpa seorang pria special, membuatmu merasa Diandra butuh seseorang selain kamu. Dan barusan kamu bilang, kalau kamu merelakan Diandra buat aku hanya karena kamu berniat menghilangkan perasaanmu sendiri yang kamu anggap salah. Kenapa kamu merahasiakan ini semua selama ini. Kamu memulai permainan perasaan gilamu yang semakin buta, dan kamu melibatkanku tanpa perduli perasaanku. Apa kamu berhasil melenyapkan perasaan itu?”
“Aku nggak tahu pasti.” Zatha menggeleng keras.
“Lantas apa sekarang kamu akan memaksaku lagi agar aku tetap menyukai Diandra?”
“Maksud kamu apa?” Zatha mendongak kembali.
“Secara langsung kamu memang nggak pernah memaksaku. Tapi aku udah merasa terpaksa mendekatinya sejak awal. Aku merasa terpaksa, akhirnya kini aku telah terbiasa berbagi rasa dengannya.”
“…” lidahnya kelu, hanya bola matanya yang bicara menuntut penjelasan Ilham lebih jauh.
“Hentikan semua ini sebelum nantinya kamu benar-benar nggak bisa memiliki salah satu diantara kami. Kamu selalu bilang, butuh waktu. Dan sekaranglah waktunya kamu mengakhiri permainan ini.”
                  Zatha terpatung memperhatikan punggung Ilham yang perlahan menjauh membelakanginya.
“Jangan bilang kalau kamu suka sama aku!”
                  Langkah pria idaman si tomboy terhenti mendengar pertanyaan penegasan si melankolis yang berdiri pada jarak sekitar 7 meter di belakangnya.
“Apa perlu aku menghianati Diandra hanya demi menjawab pertanyaanmu itu? Seharusnya kamu bisa melihatnya sejak dulu. Harusnya kamu memintaku sebagai pria yang akan membantumu berjuang menyingkirkan perasaanmu itu. Bukan malah memintaku buat melukai Diandra melalui permainanmu ini. Kamu tahu? Saat ini aku ragu apa Diandra bisa menerima fakta ini. Tapi, aku yakin aku masih bisa membantumu tanpa melukai Diandra.” Ilham bicara membelakangi Zatha yang masih terpatung.
“Ka-kamu…”
“Aku selalu siap membantumu! Aku suka puisi, terutama puisi-puisimu. Dan aku suka mendramatisir sesuatu serta mengkait-kaitkan satu titik ke titik lainnya. Akhirnya, aku temukan jawabannya melalui status dan notes puisi yang ada di facebookmu.”
“Jadi kamu… semua kata-kata tadi, kamu tahu perasaanku yang sebenarnya?”
                  Zatha bergegas cepat berdiri di depan Ilham. Gugup, bingung, ia tak tahu harus menjelaskan apalagi.
“Aku tak sepenuhnya yakin ketika melepasmu untukknya. Karena aku tahu, aku masih terlalu lemah ketika nantinya aku harus melihatmu bergandeng tangan dengannya. Tapi aku juga tahu, terlalu menyedihkan ketika aku tetap menahanmu yang sepertinya tak akan pernah bisa mencintaiku. Dumb Love, lupakan! Aku hanya butuh waktu.” Ilham mengucapkan puisi itu dengan sangat jelas. Perfect.
“Aku hampir kecewa karena ternyata kamu nggak punya perasaan special buat aku. Aku cukup terkejut, ternyata kamu cemburu sama aku, bukan sama Diandra. Sebelum semua semakin gila, cepat beritahu Diandra tentang siapa yang berperan sebagai aku, kamu dan dia dalam puisi-puisi kamu itu.”
                  Mereka berdua saling bertatapan tajam sesaat. Tanpa disengaja, mereka menghela nafas bersamaan.
“Jangan membuatku semakin merasa bersalah karena nggak bisa merangkulmu sejak awal. Dumb love, itu alasan utama kamu memulai permainan ini kan!”

*******
                  Tanpa basa-basi lagi, Diandra memeluk Ilham dengan erat ketika menyadari pria yang ia tunggu sejak setengah jam lalu, kini telah datang menemuinya yang tengah duduk di atas bentangan bebatuan putih di tepian danau Bedugul.
“Akhirnya kamu melakukan hal ini juga. Di depan umum pula.” Ilham membalas pelukan itu dengan hangat.
“Jangan ke-ge-er-an… aku hanya butuh pelukan mas buat menyembunyikan air mataku yang mungkin nanti akan mengalir deras.” Selalu saja berkilah. Seolah ingin membuat Ilham mati kutu.
“Bugh!” Diandra memukul punggung pria yang kini dalam pelukannya. Pukulan yang cukup keras.
“Au! Kamu memelukku hanya demi sebuah pukulan kasar seperti itu?” Ilham berusaha melepaskan diri dari pelukan Diandra. Namun, usahanya gagal.
“Huhuhuhu katakan apa yang harus aku lakukan, mas?” isak tangis Diandra belum sepenuhnya lepas. Ia masih berusaha menahan air matanya meski tenggorokkannya mulai kelu.
                  Ilham mendongak ke langit sesaat sembari mengelus punggung Diandra yang semakin erat memeluknya. Lantas ia mulai menemukan jalan keluar.
“Kamu nggak akan melakukan apapun sendirian. Sebelum kamu berurusan sama aku, kamu udah lebih dulu berurusan sama Zatha. Selesaikan dulu urusan kalian, lalu kita bahas hubungan kita berdua. Kamu harus berlaku layaknya wanita berkarakter pada umumnya. Dan Zatha, dia butuh bantuan kita. Terapi dari psikiater dan tokoh agama. Saat ini, itu yang ia butuhkan. Dia butuh dukungan kita. Dan kita harus membantu menyembuhkan penyakit seksualnya itu. Aku akan selalu ada buat kamu dan dia.”
“Memangnya wanita pada umumnya itu seperti apa?” si tomboy melepas pelukannya cepat. Sikapnya benar-benar membuat Ilham gregetan.
“Setidaknya mereka nggak segalak kamu, nggak sok kuat seperti kamu, dan nggak tomboy seperti kamu.”
                  Ilham menjawab sambil mengibaskan tanggannya pada kemeja yang menutupi dada bidangnya. Seolah bekas pelukan Diandra harus dibersihkan. Diandra hanya bisa mencibir ketus membalasnya.
“Apa mas Ilham nggak bisa bersikap normal memperlakukan bekas pelukanku?”
“Owowow… ini udah sikapku yang paling normal, Diiiiaaaan-dra”
                  Wajah Diandra kembali murung. Ia menelakupkan kedua tangan ke wajahnya. Lantas tiba-tiba kembali memeluk Ilham dengan erat.
“Huhuhuhuhu aku mencintai Zatha layaknya teman dekat, sahabatnya, bahkan seperti saudara kandungku sendiri. Nggak ada cintaku buat dia yang lebih daripada itu. Tapi kenapa dia malah membalasnya lebih dari itu semua. Cinta macam apa ini?”
“Kamu ini sebenarnya nangis atau tertawa sih?”
“Dua-duanya.” Jawabnya ketus.
                  Pelukan Diandra semakin erat. Hemft…air matanya menetes bersama gelak tawa kecilnya. Sedangkan Ilham, ia terus berusaha mengatur nafasnya demi tetap bersikap tegar di hadapan Diandra.
*******
#Suwung Kauh-Bali
Minggu siang pukul 13.25 WITA
3 Juli 2011

“Kalian punya rencana apalagi sih? Apa alasan kalian memboyongku ke rumah ini?” Ilham berontak dengan nada meninggi ketika memasuki rumah Zatha.
“Nggak ada alasan yang perlu di jelaskan.” Tukas Zatha sembari menutup pintu rumahnya.
“Apa! Nggak ada alasan. Buat Ilham, semua hal butuh alasan. Lagian rumah kok sepi sih? Mas Adi dan mbak Niar ada di mana?” kedua bola mata Ilham berkeliaran ke semua sudut rumah.
“Mereka pergi Rafting acara kantor tahunan, rafting on holiday.”  Imbuh Zatha.
“Kalau semua butuh alasan, berarti juga ada alasan atas pertanyaanku waktu itu. Kenapa mas Ilham bisa menyukaiku?” sahut Diandra cepat.
                  Ketiga manusia itu saling termangu sesaat. Lantas berhamburan memandang satu sama lain. Ilham mencoba mengingat pertanyaan yang dimaksud Diandra.
“Kenapa harus membahas itu lagi sih. Dian, ini semua nggak ada kaitannya... …”
Ada dong. Bukannya bagi mas Ilham semua hal tetap butuh alasan.” Kebiasaan buruk yang tidak patut dilestarikan. Diandra menyambar kalimat lawan bicaranya.
                  Ilham mendengus menundukkan kepalanya.
“Nggak usah dibahas lagi.” Ilham bersih keras bungkam.
Ada baiknya kalau kalian membahas ini setelah aku sembuh.” Zatha keceplosan.
                  Tatapan Ilham dan Diandra melesat lurus ke titik yang sama, wajah si melankolis.
“Sepakat! Setelah Zatha kembali normal, barulah kita selesaikan masalah kita berdua. Ah… itu bukan sebuah masalah. Maksudku, aku hanya akan memberitahumu alasannya apa. Itu saja.” Pria ini lagi-lagi menemukan celah untuk berkilah.
“Baiklah. Janji udah terbungkus rapat dalam memoriku. Catch you!” Diandra menunjukkan gaya tangannya untuk mencekik seseorang. Ilham merinding ringan.
                  Zatha melangkah ke arah dapur. Sedangkan Diandra mengajak Ilham duduk dan berbincang tentang film Korea favoritnya.
“DOOOOOORRR….” Suara letusan balon dari arah dapur membuat perbincangan film Korea terhenti. Pandangan mereka melesat ke arah dapur.
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Abang, semoga panjang umur.”
                  Zatha dan Diandra bersamaan menyanyikan lagu itu dari posisi yang berbeda. Zatha bernyanyi, sambil membawa kue tart buatan Diandra, ia berjalan dari arah dapur menuju ruangan tempat Ilham dan Diandra berada. Sedangkan Diandra bernyanyi sembari bersorak di hadapan Ilham. Lantas bagaimana dengan Ilham? Ekspresi wajahnya membingungkan. Sesekali mengusap wajahnya sendiri, sesekali menghela nafas, sesekali tertawa geli. Ia sangat senang dengan kejutan itu.
“Ayo make a wish dulu sebelum meniup lilinnya!”
                  Ilham menganggukan kepala tanda setuju terhadap saran Diandra. Ia memejamkan mata, menunduk hikmat.
“Tuhan. Aku nggak ingin melukai siapapun atau meninggalkan siapapun. Aku ingin tetap bersama mereka. Merangkul melindungi mereka. Walau semua butuh alasan, tapi dalam kondisi ini, aku nggak punya alasan untuk memilih salah satu dari mereka. Beri aku kekuatan dan ilmu-Mu agar aku bisa adil memperlakukan keduanya. Tapi sebelum itu, aku mohon sembuhkan Zatha. Tunjukkan jalan-Mu agar dia bisa menjadi wanita normal yang mencintai lawan jenisnya.”
                  Lantas ia meniup lilin-lilin di atas kue tart itu. Genap sudah usianya menjadi 27 tahun. Kedua wanita di hadapannya saling mengucapkan selamat dan memberi kado. Kebahagiaannya kini sulit untuk dideskripsikan. Sejenak ia memperhatikan Diandra tanpa sepengetahuan Zatha atau pun si tomboy itu.
“Bagiku, semua butuh alasan. Kalau pun nanti aku memikatmu karena sebuah alasan, aku nggak mau hatiku mengakui bahwa aku memikat hatimu karena terpaksa. Aku mau hatiku berkata, aku membutuhkanmu karena aku mencintaimu seutuhnya. Cewek tomboy super aneh, apa benar kamu telah mengambil separuh jiwaku? Hemmm…”
Desusnya dalam hati. Lalu, ia memejamkan mata seolah berniat merasakan canda tawa antara Diandra dan Zatha melalui mata hatinya saja.
TAMAT
Jember, 13 September 2011
Samsi Arpanurhi